
Gevano berhenti di halaman Rumah megahnya. Dia turun dari motornya dan berjalan santai masuk ke dalam rumah. Rambutnya sedikit acak-acakan, tapi tidak mengurangi kadar ketampanannya.
"Assalamualaikum, Ma! Pa! Vano pulang!" salam Gevano begitu masuk ke dalam Rumah.
Kiara yang tadinya sedang menatap telivisi berganti menatap Gevano. "Waalaikumsalam. Sini kamu! Mama mau ngomong!" kata Kiara melambai, menyuruh Gevano untuk mendekat.
Kening Gevano sedikit mengeryit mendengar nada datar mamanya. Tapi tanpa bertanya lebih, dia menuruti perintah Kiara untuk mendekat. Saat duduk di sofa single, dia menatap Papa dan adiknya yang ternyata ada di sana juga.
Dia tidak lagi terkejut melihat papanya, karena ini sudah jam Magrib, dan papanya pulang dari kantor pukul lima sore lalu.
"Ada apa, Ma?" tanya Gevano.
Kiara melirik datar ke arah Rey, lalu berdehem kecil. Rey yang mengerti akan kode deheman sang Istri pun berkata.
"Dari mana aja kamu?" tanya Rey datar dengan nada berwibawa.
Kiara yang di sampingnya mengangguk-angguk. Matanya kembali fokus ke telivisi yang menayangkan sinetron favoritnya, Ikatan Cinta. Tapi meski begitu telinganya tetep aktif mendengar obrolan suami dan anaknya. Nanti jika sudah saatnya dia akan berbicara.
"Sekolah," jawab Gevano datar.
"Jawab yang jujur!" sentak Rey dengan mata yang menyorot tajam layaknya burung elang.
Gevano yang melihat tatapan tajam papanya sedikit takut. Dia meneguk ludahnya, apa papanya tau ya kalau dia bolos? Eh, tapi nggak mungkin. Nggak ada yang tau kalau dia bolos, ya kecuali anak-anak Geng Xevior.
"Vano udah jujur, Pa," kata Gevano berusaha menutupi kegugupannya.
Rey memandang datar Gevano. Saat akan berbicara, Geisya sudah lebih dulu berteriak menyela.
"Ih, bo'ong! Abang nggak ada di sekolah! Bang Vano bolos kan?! Ngaku deh!" kata Geisya yang sejak tadi diam.
Gevano menatap tajam gadis kecil itu. "Diem lo bocil! Jangan sok tau lo!"
Geisya cemberut mendengar ungkapan sang Kakak. Dia menatap Kiara dengan pandangan memelas. "Mama, Abang bentak-bentak adek... Mana ngatain aku sok tau lagi..." rengek Geisya.
Kiara yang sedang asik menonton Mas Al dan Andin langsung menoleh tajam ke arah Gevano. "Abang! Jangan bentak-bentak adek! Orang yang salah kamu sendiri ngapain jadi nyalahin adek!" omel Kiara.
"Vano nggak nyalahin Geisya, Ma. Vano cuma ngomong kalo emang Vano nggak bolos!"
"Geisya nggak sok tau! Orang Geisya waktu itu nanya Bang Vino, terus Bang Vino ngomong kalo Abang bolos! Jadi Geisya nggak sok tau! Tapi Abang yang tukang bohong!" balas Geisya mendelik lucu.
Jadi biangnya si Vino? Gevano memberikan sumpah serapah untuk pemuda itu. Bisa-bisanya Vino memborkan rahasianya kepada adek embernya itu! Andai Geisya tidak pengadu, mungkin dia enjoy-enjoy aja.
Tapi nyatanya? Geisya ini tukang ngadu! Apalagi kalau nyangkut tentang dia, pasti Geisya semangat mengadunya ke orang tua mereka. Alasannya karena Geisya suka melihat abangnya menderita gara-gara diomelin sama Mama mereka. Dan dihukum sama Papa Rey dengan seribu satu hukuman. Adek jahanam memang!
"I- itu nggak be- bener, Ma! Vino bo'ong!" bela Gevano.
"Heh, cil! Lo- lo pasti dibo'ongin sama si Vino!" katanya menunjuk Geisya.
__ADS_1
Geisya menekuk bibir bawahnya, "ih enggak ya! Geisya nggak mudah ditipu-tipu! Lagian Bang Vino juga ngirim buktinya kok kalo Abang itu bolos!"
Gevano sudah keringat dingin. Kalah nih kayaknya kalau Geisya bener-bener punya bukti waktu dia bolos.
Geisya mengambil ponselnya lalu memperlihatkan sebuah foto seorang pemuda yang memakai seraga SMA Merdeka dengan dua kancing atas terbuka. Telinga kirinya terdapat satu percing. Pemuda itu sedang makan dengan khidmat, sebelah kakinya dinaikan ke atas kursi.
Dan pemuda itu adalah Gevano yang saat itu sedang menyantap nasi uduk!
Anjing! Nggak bisa ngelak lagi nih dia. Mukanya udah keliatan. Jelas! Pake banget! Tapi tetep aja, dia nggak akan nyerah gitu aja. Ini demi keselamatan jiwa raganya serta uang-uangnya bro.
"Jelaskan Ma, Pa kalo itu Bang Vano?" ujar Geisya setelah memperlihatkan foto itu.
Kedua pasangan suami istri itu mengangguk menyetujui. Mereka menatap Gevano yang sudah panas dingin.
"Nggak, Pa! Itu- itu bukan Vano! Pasti itu editan! Ya, pasti editan!" sangkal Gevano masih berusaha untuk mengelak. Ya siapa sih yang mau dengan mudahnya mengakui bahwa itu dia? Bisa mampus isi dompetnya kalau mereka sampai percaya bahwa dia bolos.
"Halah diem kamu! Nggak usah nyangkal-nyangkal lagi! Udah ketauan bolos, nggak mau ngaku lagi! Berapa kali Mama bilang, jangan bolos sekolah! Mau jadi apa kamu kalo bolos mulu? Emang kamu mau nggak sekolah? Mau jadi pengangguran? Mau kamu?!" ucap Kiara kembali mengomel.
Gevano yang mendengarnya meringis. Kupingnya pengang jika mendengar omelan Kiara. Dari pada makin panjang, mending dia diem aja. Percuma juga mau disangkal seperti apapun bukti nyata sudah terpampang jelas di depan mata kedua orang tuanya.
"Kalo Mama ngomong jawab! Kamu beneran mau keluar dari sekolah terus jadi gelandangan di pinggir jalan hah?!" Kiara kembali berucap saat Gevano hanya diam saja.
Gevano menghela nafasnya, lalu dia membalas ucapan Kiara dengan santainya. "Ya kalo Mama pengen Vano keluar dari sekolah ya Vano iklas lahir batin, Ma. Malah enakan kalo Vano nggak sekolah. Bisa bebas!"
Kiara yang mendengar itu sontak berdiri dan berkacak pinggang menatap putra sulungnya dengan wajah garang. "Ohhh, mau nggak sekolah kamu? Mau jadi berandal kayak di luar sana? Atau preman, hm?"
"Heh! Kata siapa kalo nggak sekolah bisa mimpin perusahaan?!"
"Kata Vano."
Kiara berdecih sinis, "ngimpi kamu! Jangan harap Papa kamu ngasih perusahaan itu atas nama kamu! Nggak akan pernah!"
"Loh kok gitu? Kan Vano ahli warisnya!" protes Vano tak terima.
"Ya emang kamu. Tapi kalo kamu nggak sekolah, siapa yang sudi ngasih perusahaan sebesar itu ke tangan kamu?!" garang Kiara.
"Mending Mama sumbangin aja ke panti asuhan atau panti jompo!" lanjut Kiara bersedekap dada.
"Itu kan perusahaan milik Papa, kenapa jadi Mama yang nyumbangin?" kata Gevano dengan lugasnya yang membuat Kiara melotot marah.
"Jawab aja ya kalo orang tua lagi ngomong!"
"Lah, tadi katanya Vano suruh jawab kalo Mama ngomong!" kesal Gevano.
"Itu kan tadi, bukan sekarang!"
Gevano menghembuskan nafasnya. Berbicara dengan perempuan memang menyusahkan! Dia melirik ke arah Rey yang diam dengan tenang. Dia berpikir, pantas saja papanya selalu nurut ucapan mamanya. Ternyata Mama kalau lagi marah nyeremin. Bisa ngomel sampai tujuh hari tujuh malam tu mulut nggak akan capek.
__ADS_1
Gevano menguap dengan bosan, Kiara yang melihat itu menghembuskan nafasnya. Melihat wajah lelah sang anak dia jadi tidak tega untuk mengomel lebih lanjut.
"Kamu kalo capek ke kamar gih. Mandi terus ganti baju. Nanti kalo udah jam makan malam kamu turun ya?" kata Kiara dengan lembut.
Gevano yang tadi menguap langsung menatap mamanya. Dia cengo melihat mamanya yang tiba-tiba menjadi lembut seperti semula. Tapi seperti tadi yang mengomel layaknya orang kesetanan. Ups.
Tak hanya Gevano, Rey dan Geisya itu cengo mendengar ucapan lembut Kiara. Sungguh, Kiara ini cepat sekali berubah. Tadi marah-marah, lalu mendadak jadi lembut lagi.
"Kenapa kamu bengong? Mama tau kamu capek, makanya Mama berhenti. Biar bagaimanapun Mama nggak mau kamu kelelahan, Vano," kata Kiara menyadarkan Gevano dengan cengonya.
Gevano menyengir lalu bangkit dan memeluk mamanya erat. "Hehehe, Vano sayang Ma--- aduh!"
Gevano meringis saat rambutnya ditarik mundur ke belakang. Menoleh dan mendapati delikan tajam dari sang Papa.
"Jangan peluk-peluk istri orang sembarangan!" sinis Rey mulai melepas jambakannya dari rambut sang anak dan memeluk pinggang ramping sang Istri posesif.
Gevano memutar bola matanya malas. Papanya ini selalu saja cemburu saat dia memeluk atau bahkan berdekatan dengan namanya. Padahalkan dia ini anaknya. Jadi wajar dong kalau memeluk mamanya sebagai tanda kasih sayang seorang anak kepada ibunya?
"Dia Mama aku, Pa," kata Gevano malas.
"Tetep aja dia Istri Papa!" jawab Rey galak.
"Terserah Papa deh." Gevano mendengus jengah.
Kiara mencubit pinggang suaminya keras. "Dasar! Dia itu anak aku, kenapa kamu harus cemburu?!" kesal Kiara pada sang suami.
Rey menolehkan kepalanya kepada sang Istri, "kalau dia masih kecil nggak papa. Tapi dia udah besar, ya aku cemburu wajarlah," balasnya.
"Terus kalo Geisya udah besar, lalu peluk aku. Kamu bakal cemburu juga?!"
"Ya nggak gitu!"
"Terus gimana?!"
"Pokoknya aku cemburu kalo kamu deket-deket sama Vano! Tapi kalo sama Geisya enggak. Mau dia masih kecil atau udah gede sekalipun, aku nggak akan cemburu sama dia," jelas Rey.
Kiara mengangguk-angguk paham. Lalu dia menatap wajah tampan suaminya. "Jadi kalo aku deket sama pria lain yang bukan anak aku, boleh dong?" tanyanya polos.
Rey langsung menatap tajam Kiara. "Ya enggak lah! Tambah nggak boleh malah! Enak aja mereka deket-deket kamu! Inget ya, kamu cuma milik aku!"
"Lah, tadi katanya---"
"Intinya kamu nggak bolek deket sama cowok lain selain aku! Paham?" potong Rey cepat.
Kiara tertawa kecil melihat wajah Rey yang sudah kepalang kesal. "Iya, iya aku paham."
Karena terlalu asik berbicara, mereka sampai tidak sadar bahwa kedua anak mereka sudah tidak ada di tempat. Tentu saja kedua remaja itu pergi. Memang siapa yang ingin menjadi obat nyamuk untuk kedua orang tuamu? Tidak ada! Maka dari itu mereka memilih pergi dari pada menjadi obat nyamuk.
__ADS_1
Bersambung...