Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Tujuh Puluh Delapan (Ending)


__ADS_3

Gevano menghela nafasnya dengan pelan. Dirinya kira menjadi seorang ayah itu mudah. Namun ternyata tidak. Dirinya selalu dibuat pusing akan tingkah putranya yang masih berusia 6 tahun!


Gavin sekarang sudah duduk dibangku Sekolah Dasar. Tingkahnya yang tak berbeda jauh dengan Gevano dulu membuat kedua orang tuanya pusing. Memang benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


Gevano sekarang mengalami apa yang dirasakan oleh orang tuanya dulu. Namun ini lebih parah, Gavin yang masih kecil saja sudah pintar membuat onar. Apa kabar jika dia sudah beranjak dewasa nanti? Sanggupkah Gevano menghadapi tingkah putranya itu?


Pagi ini dia mendapat telefon dari sekolah Gavin. Kata wali kelasnya, putranya itu membuat masalah dengan memukul temannya. Sekarang dia sedang dalam perjalanan menuju sekolah putranya.


Sesampainya di sana, Gevano langsung masuk ke ruang guru. Sebelum itu dia mengucapkan salam terlebih dahulu. Di sini sudah ada putranya, bocah laki-laki dan wanita paruh baya beserta wali kelas Gavin.


"Tuan Gevan, silahkan duduk," ujar Wali Kelas mempersilahkan.


Gevano melangkah dan duduk di samping Gavin yang nampak santai sambil menyedot susu kotaknya.


"Kali ini apa yang dilakukan oleh putra saya?" tanya Gevano dingin tanpa berbasa basi terlebih dulu. Gevano bukanlah orang yang suka basa-basi. Jadi dia langsung bertanya permasalahan yang terjadi.


"Gavin memukul temannya, Tuan," balas sang Wali Kelas.


"Putra anda memukul putra saya, Tuan!" Wanita yang dari tadi diam itu akhirnya angkat bicara. Dia adalah Ibu dari bocah laki-laki bernama Beno.


"Begitukah?" Gevano melirik sedikit ke arah Wanita itu.


"Ya! Lihat ini, wajah putra saya jadi lebam karna putra anda itu!" Wanita menunjukkan wajah lebam sang putra. Kemudian menunjuk Gavin yang masih tenang dengan emosi.


"Benar begitu, Son?" tanya Gevano pada Gavin.


"Hem, benar, Dad. Tapi Gavin bukannya sengaja mukul dia." Gavin melirik ke arah bocah laki-laki itu. Lalu beralih menatap Gevano.


Pria itu diam tanpa menyela ucapan, membiarkan Gavin menjelaskan kejadian yang terjadi padanya.


"Dia numpahin minuman ke jam tangan Gavin. Setelah itu Gavin suruh dia buat minta maaf. Tapi nggak mau, dia malah marah dan ngebuang kotak bekal buatan Mommy. Gavin marah, jadi mukul dia," jelas Gavin secara rinci tanpa adanya kebohongan.


Gevano dan sang Wali Kelas mendengar penjelasan dari Gavin. Sedangkan anak yang menjadi yang korban pukulan Gavin berseru tak terima.


"Bohong! Dia tiba-tiba mukul aku, Bu Guru!"


"Iya, Bu! Itu pasti hanya akal-akalannya saja untuk mengelak! Putra saya di sini adalah korban!" Ibu Beno berseru membela sang putra.


Gevano menatap anak laki-laki itu dengan pandangan tajam. Berani sekali bocah ini menyalahkan putranya? Dia jelas tau bahwa Gavin tidak mungkin berbohong padanya. Dan lagi, Ibu bocah itu malah mendukung kebohongan putranya?


"Lebih baik kita buktikan saja. Di masing-masing kelas ada CCTV bukan?" tanya Gevano dengan tenang.


Sang wali kelas mengangguk. "Ada, Tuan. Mari kita lihat untuk membuktikan siapa yang bersalah."


Terlihat raut panik di wajah bocah laki-laki itu. Gavin sendiri tersenyum miring. Dia bangkit dari duduknya diikuti oleh Wali Kelas dan Gevano. Wali Kelas Gavin memimpin jalan, memandu mereka.


Saat sampai, mereka segera melihat rekaman CCTV. Beno terlihat berjalan sambil membawa sebotol air. Lalu dengan sengaja menumpahkan air itu ke jam tangan Gavin.


Anak laki-laki itu bangkit dan berucap menyuruh Fero meminta maaf. Namun, bocah itu tidak mau dan malah membuang kotak bekal di atas meja Gavin. Tentu saja hal itu memicu amarah Gavin, sehingga dia tanpa segan menghajar Beno.


"Sudah lihat bukan siapa yang salah?" ujar Gevano memecah keheningan di ruang tersebut.


Wanita itu melotot tajam kepada putranya yang menunduk takut. "Beno! Jadi kamu yang sudah mulai keributan ini, hah?!"


Beno tidak berani menjawab lantaran takut. Bahkan ia sekarang sudah menahan tangisnya. Karena tak ada jawaban dari anaknya, si Ibu lantas menatap Gevano. Lalu meminta maaf atas kelakuan putranya.


"Astaga, maafkan atas kelakuan putra saya, Tuan! Saya benar-benar tidak tau itu!"


Dia begitu malu, karena diawal dia selalu menyalahkan Gavin. Padahal Beno lah yang salah.


"Beno, cepat minta maaf!" suruh wanita itu pada anaknya.


"A- aku mi- minta maaf, Ga- Gavin," ucap Beno dengan gemetar gugup. Ia mengulurkan tangannya, tapi dengan kepala menunduk.


Gavin sebenarnya enggan untuk menjabat tangan itu. Tetapi mengingat nasihat Thania untuk selalu memaafkan seseorang, dia dengan setengah hati menjabatnya sekilas.


"Sekali lagi saya minta maaf, Tuan dan Bu Guru."


Gevano mengangguk tanpa memperpanjang masalah ini. Begitupun dengan sang Wali Kelas. Kemudian wanita itu pergi sambil menjewer telinga Beno setelah berpamitan kepada sang Wali Kelas dan Gevano.


"Saya juga pamit pulang dulu."


Sang Wali Kelas mengangguk kaku. Aura Gevano memang menekannya, dia sedikit takut pada pria muda itu.


"Son, kamu ingin pulang atau tetap di sekolah?" tanya Gevano lembut.


Gavin mengangguk. "Gavin mau pulang aja, Dad."


Gevano pergi setelah mendapat persetujuan dari sang Wali Kelas.


...***...


Di dalam mobil terjadi keheningan. Baik Gevano maupun Gavin sama-sama diam tak bersuara. Sampai akhirnya Gavin membuka suara terlebih dahulu.


"Dad, Gavin mau pindah sekolah aja. Di sana nggak enak."


"Kenapa tiba-tiba pengen pindah sekolah? Kamu bahkan baru sekolah 2 bulan lalu."


"Cuma pengen aja."

__ADS_1


Gevano menyipitkan mata dengan pandangan lurus ke depan. "Kamu nggak lagi ngincer sesuatu kan, son?" ujarnya curiga.


Gavin tidak membalasnya, tapi dia tersenyum yang artinya tebakan Gevano benar. "Barang apa lagi yang kamu incer sekarang?"


"Ini bukan sekedar barang, Dad."


"Lalu apa?"


"Daddy nggak perlu tau. Yang penting Gavin mau pindah sekolah! Gavin udah nggak betah sekolah di sana."


"Jangan bilang masalah tadi hanya akal-akalan kamu? Kamu kan yang udah buat rencana ini supaya bisa keluar dari sekolah itu?"


Gavin mengedikan bahunya. "Anggap aja begitu."


Tebakan Gevano tak salah. Memang Gavin yang merencanakan ini. Bocah itu tau jika Beno iri terhadapnya. Sehingga dengan sedikit pancingan, Beno pasti akan masuk perangkapnya.


Kesempatan itu akan digunakan oleh Gavin dengan baik. Sehingga dia memiliki alasan jelas untuk pindah dari sekolah itu.


"Mau pindah sekolah dimana?"


"Eum, di sekitar rumah kakek. Di sana sekolahnya bagus, Gavin suka."


Kening Gevano mengkerut. "Itu jauh dari rumah, Gavin. Mending di sekitar sini aja."


"Nggak mau! Gavin mau di sana!"


Keras kepala, putranya itu keras kepala seperti ibunya.


"Ya udah terserah kamu. Nanti Daddy bantu ngomong sama Mommy."


Gavin tersenyum lebar, Daddy nya begitu memanjakan dirinya. Apapun yang dia minta, pasti Daddy nya itu mengabulkan. Meskipun Thania menentang, karena wanita itu tidak ingin terlalu memanjakan Gavin. Dia takut jika putranya akan menjadi sosok egois dimasa depan.


...***...


"Nggak! Jangan aneh-aneh deh, Mas!" Thania menggelengkan kepala dengan tolakan tegas akan permintaan Gevano.


Gevano menghela nafas dalam diam. Sudah dia duga reaksi Thania akan seperti ini.


"Sayang, ini demi Gavin juga. Dia mau pindah ke sekolah baru."


"Kebaikan apanya? Dia minta pindah ke sekolah baru dan kamu dengan mudahnya nurutin kemauan Gavin?" Thania berseru tak percaya.


"Mas, aku udah pernah bilang sama kamu, jangan terlalu dimanja! Nanti dia jadi kebiasaan!"


"Iya, sayang. Aku paham, cuma sekali ini aja deh aku nuruti kemauan Gavin," ujar Gevano berjanji dengan sungguh-sungguh.


"Lagipula, dia tadi baru aja terlibat masalah sama temen sekelasnya. Bocah itu nuduh anak kita yang nggak-nggak, sayang. Kamu tentu nggak mau Gavin depresi karna diganggu bocah itu, kan?"


Dia menghembuskan nafas pelan. "Oke. Aku setuju buat pindahin Gavin. Tapi janji jangan turuti kemauan anehnya lagi!"


"Iya." Dengan senyum lebar Gevano mengangguk, ia mendekat dan membubuhkan kecupan singkat di pelipis wanita itu.


"Aku mau masak buat makan malam dulu," ujar Thania bangkit.


Gevano mengangguk dan membiarkan Istrinya berlalu menuju dapur. Setelah perginya Thania, pria itu menoleh dan menyuruh Gavin yang bersembunyi di balik dinding untuk mendekat. Dengan senyum lebarnya Gavin berlari dan melompat duduk di samping Daddy nya.


"Makasih, Daddy!" seru Gavin dengan binar senang.


Gevano membalas dengan senyum. Kedua anak dan ayah itu melakukan tos dengan tawa bahagia. Mereka sangat kompak.


...***...


Pada malam hari ini, Gavin ditemani oleh kedua orang tuanya tengah menonton Film Zombie di kamarnya. Diumur yang begitu dini ini, Gavin memang sudah memiliki kamarnya sendiri. Bahkan ruang kamarnya itu cukup luas untuk seukuran anak berusia 6 tahun.


Fasilitasnya pun begitu memadai. AC, ruang game, telivisi, meja belajar, rak buku, sofa panjang dan Walk In Closet. Gavin benar-benar dimanjakan sejak kecil.


Anak laki-laki itu kini duduk ditengah Gevano dan juga Thania sambil memegang wadah Popcorn. Sesekali akan terdengar teriakan dari Thania kala sang Zombie tiba-tiba muncul.


Berbeda dengan Thania yang ketakutan, kedua pria itu sama sekali tak terganggu dan bisa dibilang bahwa mereka tidak merasa takut sedikitpun. Gavin memang bocah berani, dia mewarisi sikap ayahnya yang tak kenal takut.


"Wajahnya kok seram banget si?!"


"Mana jelek lagi! Giginya ompong, ih! Hitam!"


"Larinya lelet banget! Yang cepet dong!"


"Tu cowok kenapa bodoh banget, si?! Padahal dia bisa selamat kalo aja nggak ngerelain diri buat digigit sama pacarnya!"


"Dasar pria tua egois! Kok bisa si ada orang yang kayak dia?! Cuma mentingin keselamatannya sendiri!"


"Mampus, lo! Mampus! Kena gigit juga kan akhirnya? Egois sih jadi orang! Ujung-ujungnya juga kegigit! Makan tu karma!"


Selain suara dari film tersebut. Teriakan kesal Thania juga turut terdengar. Bahkan lebih mendominasi dibanding suara dari film itu sendiri.


Sepasang ayah dan anak itu hanya mampu menggelengkan kepala dengan wajah masam dan helaan nafas lelah. Telinga mereka benar-benar sakit mendengar teriakan Thania. Tapi diantara mereka tak ada yang berani untuk menegur wanita itu.


"Daddy, Mommy berisik sekali. Aku kan jadi nggak bisa fokus nonton Film," bisik Gavin kecil agar Mommy nya tak mendengar ucapannya.


"Sabar saja, Son. Kamu tau kan Mommy mu itu orang seperti apa? Daddy aja nggak berani buat negur. Jadi lebih baik diem aja, oke?"

__ADS_1


Gavin mendengus kecil. Tapi tetap menuruti perintah Daddy nya. Tentu dia tau bagaimana Mommy nya jika sudah berceramah.


"Hiks..."


Kini bukan teriakan Thania yang terdengar. Melainkan isak tangisnya. Kedua pria itu menoleh dan membulatkan mata melihat wajah Thania dibasahi air mata.


"Hiks... Srut. Hiks... Srut."


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Gevano cemas.


"Mommy kenapa nangis?" Gavin ikut bertanya.


Bukannya menjawab tangisan Thania semakin keras. Ia menutup mukanya dengan suara tangisan tersedu-sedu. Gevano perlahan bangkit dan memeluk Thania.


"Huwaa! Ayangku mati, Mas!"


"Hah?"


Thania menunjuk TV yang menampilkan seorang pria tengah menjatuhkan diri dari kereta. "Si ganteng mati!"


Gevano mengikuti arah tunjuk Thania. Seketika tatapannya mendatar. Dia kira ada apa, ternyata hanya karena pemeran utamanya meninggal.


"Udah, nggak usah nangis, ini kan cuma film," kata Gevano.


"Hiks, tetep aja. Aku hiks, nggak iklas kalo dia mati. Padahalkan hiks, tinggal dikit lagi dia pasti selamat sama anaknya. Kalo aja, kalo aja si pak tua itu nggak ngegigit!" kesal Thania meremas baju Gevano dan sesekali menggigitnya gemas.


Pria itu hanya mampu menahan ringisan akibat kekesalan sang istri. Gavin sendiri sudah masa bodo dengan apa yang Mommy nya lakukan.


Tak terasa waktu berjalan cepat. Kini jam menunjukkan pukul 9 malam, yang mana artinya Gavin harus tidur. Pemuda kecil itu sudah berbaring di tempat tidurnya setelah menyelesaikan ritual sebelum tidur, yaitu cuci wajah, gosok gigi, cuci tangan dan kaki.


Di sampingnya ada sang Mommy yang bernyanyi lembut sebagai pengantar tidur sambil mengelus pelan surai hitamnya. Sedangkan Gevano menatap keduanya dengan pandangan teduh.


Begitu lagu selesai, Thania melirik wajah Gavin yang sudah tertidur pulas. Senyumnya terulas lembut. Dia bangkit dan memberi kecupan manis di kening Gavin.


"Good night, putra Mommy."


Gevano yang duduk di sofa ikut bangkit dan mendekat. Berdiri di sebelah Thania dengan tatapan mata tertuju ke arah Gavin. "Cepet banget lelapnya. Tumben?"


"Kayaknya Gavin kelelahan. Makanya cepet tidur," sahut Thania. Gevano mengangguk setuju, ia membenarkan letak selimut Gavin lalu menyematkan kecupan di kening putranya.


"Selamat tidur, jagoan Daddy." Tangannya mengelus sayang rambut si putra.


Pasangan itu kemudian keluar dari kamar putranya setelah mematikan lampu tidur. Mereka berbaring di atas ranjang, tapi tidak untuk tidur. Hanya menikmati kehangatan yang disalurkan oleh tubuh masing-masing.


"Mas."


"Hem?"


Begitu Gevano menjawab, Thania terdiam. Sedikit berpikir untuk mengutarakan isi pikirannya. Pria itu membuka matanya kala tak mendapati jawaban istrinya. Ia melihat istrinya nampak merenung, Gevano dengan lembut mengusap kepala Thania.


"Kenapa?"


Thania sedikit mendongak, kemudian menggeleng. "Aku cuma nggak nyangka aja kalau kita bakal nikah dan punya anak," ujarnya.


Lipatan kening Gevano terlihat samar, sedetik setelahnya ia menormalkan wajahnya. "Aku juga nggak nyangka. Padahal dulu tu aku cuma main-main sama kamu, karna kamu cewek pertama yang berani nentang aku."


"Hahaha. Kalau diinget-inget emang lucu sih, dulu aku nggak suka banget sama kamu. Bahkan mungkin ada sedikit rasa benci di hati aku. Tapi sekarang malah sebaliknya." Thania berkata dengan menahan senyum di wajahnya.


"Makanya, jangan terlalu benci sama orang. Entar jadi cinta," goda Gevano.


Thania sedikit memajukan bibirnya, cemberut. "Itu juga bukan kemauan aku ya! Emang kamunya aja yang nyebelin. Baru kenal udah ngajak pacaran aja, mana awal-awalnya nggak ada sopan santun lagi!" ketusnya.


"Habisnya kamu--"


"Aku apa?! Ini salahmu ya, Mas! Jangan nyalahin aku!" sinis Thania menyela perkataan Gevano.


"Iya-iya, ini emang salah aku." Gevano mengalah.


"Ya emang salah kamu! Mana dulu kamu pemaksa lagi. Mau menang sendiri, egois, cemburuan, posesif abis!" omel Thania dalam pelukannya. Gevano meringis dalam hatinya, jangan sampai Thania melanjutkan ucapan ini. Jika tidak, wanita itu akan terus mengungkit hal yang lalu hingga ke akar-akarnya.


"Aduh, sayang. Aku kan udah minta maaf perihal masalah itu. Janji deh aku nggak akan ngulangin lagi. Ini juga bukan salahku sepenuhnya, salahin aja kamu yang terlalu cantik, aku kan jadi waspada. Takut kamu diambil orang lain," jelas Gevano sambil membela diri.


Thania mendengus keras-keras. Tapi kepalanya semakin mendusel manja ke dada bidang Gevano, membuat pria muda itu menahan senyum gelinya.


"Sekarang tidur, ya? Udah malem, kamu pasti capek."


"He'em."


Thania menutup matanya dan bersandar nyaman di pelukan hangat suaminya. Tak berselang lama terdengar dengkuran kecil, Gevano tertawa kecil tanpa suara. Cepat sekali istrinya terlelap. Ia memandang paras cantik istrinya.


"Makasih udah mau bertahan denganku, dan maaf atas semua kesalahanku dulu." Gevano mengangkat tangannya, mengelus dengan hati-hati pipi halus Thania.


"I love you, my wife."


Gevano memberi kecupan kecil di wajah Thania. Lalu mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil itu. Menutup mata dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Dalam hati, ia bersyukur memiliki Thania sebagai istrinya. Meski pertemuan awal mereka terkesan menjengkelkan, tapi akhir kisah ini akan menjadi hal yang paling mengesankan bagi keduanya.


Apalagi dengan hadirnya Gavin di antara mereka. Semakin menambah rasa syukur di hati Gevano. Semoga keluarga kecilnya selalu harmonis dan akan terus seperti ini hingga nanti.


...TAMAT....

__ADS_1


****Akhirnya book ini selesai juga. Makasih atas dukungannya, dan makasih juga buat kalian yang udah mau nunggu cerita ini selama berminggu-minggu ataupun berbulan-bulan. Saya juga minta maaf karena sering lelet untuk update πŸ™


Saya juga berharap, semoga book saya yang lainnya tuntas hingga tamat seperti book iniπŸ™****


__ADS_2