Possesive Boyfriend

Possesive Boyfriend
Bab Enam Puluh Enam


__ADS_3

Thania sudah diperbolehkan untuk pulang karena keadaannya cukup membaik. Janinnya pun turut membaik.


"Gevan, kita mampir ke toko kue dulu ya? Aku tiba-tiba pengen makan cake," ucap Thania.


Gevano menoleh sekilas, kemudian kembali menatap ke depan sambil menganggukkan kepalanya.


"Toko cake biasanya 'kan?" tanya Gevano yang diangguki oleh Thania.


Dengan begitu Gevano membelokkan mobilnya ke kiri. Tak jauh dari sini ada sebuah toko kue yang lumayan laris meski toko tersebut tak lah sebesar toko cake lainnya.


Gevano menepikan mobilnya, kemudian turun dan membukakan pintu untuk Thania. Wanita itu keluar dari mobil, lalu berjalan meninggalkan Gevano menuju toko kue seberang jalan.


Pria muda itu menutup pintu mobil, kemudian menyusul Thania yang sudah lebih dulu masuk ke dalam toko.


Ia melihat istrinya yang sibuk memilih kue. Tangannya merangkul mesra pinggang Thania membuat wanita itu terlonjak kaget. Tapi setelah tahu itu tangan suaminya, Thania menjadi rileks.


"Menurut kamu kuenya enakkan yang mana?" tanya Thania tanpa menoleh.


Gevano mengedikan bahunya, "Enak semua mungkin."


Thania berdecak kesal, "Ya kalo itu aku tau!"


"Kalo tau ngapain nanya?"


Thania berdecak lagi, "Menurut kamu enakkan yang mana? Coklat, Vanila, Strawberry atau pelangi?" tanyanya lagi.


"Dari pada bingung mending beli semuanya."


"Gak ah. Nanti kalo beli semua gak ada yang makan," ujar Thania menolak.


"Tinggal dibuang," jawab Gevano santai.


Thania menoleh dengan tatapan tajam setajam silet. "Mubazir! Jangan mentang-mentang kaya, kamu mau seenaknya aja buang makanan!"


Gevano membuang nafas kasar. Kenapa dia serba salah?


"Ya udah terserah kamu aja deh. Capek aku," gumam Gevano menyerah.


Thania tak peduli akan gumaman Gevano. Ia menatap si penjaga toko, "Mbak, saya pesen Macaronnya ya. Tapi yang warna hijau doang. Bisa gak, Mbak?"


"Bisa kok. Mbaknya mau pesan berapa box?" tanya si wanita ramah.


"Lima box aja, Mbak."


"Dimohon untuk menunggu sebentar ya." Setelah berkata seperti itu, wanita penjaga toko tersebut bergegas mengambil pesanan pelanggan.


Sedangkan Gevano sendiri memegang kepalanya pusing. Tadi katanya ingin cake, tapi ujung-ujungnya malah membeli Macaron. Untung Gevano sabar.


Tak lama kemudian wanita itu datang dengan membawa sekotak berisi pesanan yang Thania inginkan.


"Berapa totalnya, Mbak?" tanya Thania


"Seratus lima puluh ribu, Mbak."


Thania melirik suaminya, "Bayar gih. Aku mau ke mobil dulu." Thania mengambil kresek berlogo toko cake. Lalu menjinjingnya keluar meninggalkan Gevano.


Gevano merogoh sakunya, mengambil dompet dan mengeluarkan uang merah senilai 100rb dua lembar. Meletakkan di atas meja kasir dan bergegas pergi menyusul istrinya.


"Mas, uangnya kelebihan!" teriak wanita itu mengejar Gevano. Tapi pria muda itu sudah lebih dulu masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya.


"Gev, itu mbaknya teriak manggilin kamu loh. Gak mau berenti dulu apa?" tanya Thania melihat di kaca spion yang menampilkan penjaga toko tadi berteriak memanggil Gevano.

__ADS_1


"Biarin aja. Gak penting juga 'kan?"


"Emang kenapa Mbaknya manggilin kamu?" Thania menatap penuh Gevano.


"Cuma karna uangnya kelebihan doang dia sampai ngejar aku. Padahal aku aja gak peduli tuh kalo uangnya kelebihan. Toh kembaliannya cuma lima puluh ribu," jawab Gevano acuh.


Thania menggelengkan kepalanya, "Jangan gitu ih. Aku tau lima puluh ribu termasuk murah bagi kamu. Tapi gak baik loh kalo dihambur-hamburin."


"Aku gak ngehamburin uang, by. Itung-itung buat sedekah. Lagi pula ini juga salah kamu. Ngapain pergi dulu, ya aku ogah lah nunggu lama gara-gara kembalian doang. Mending susulin kamu, bisa cepet-cepet pulang. Terus manja-manja'an sama kamu."


"Udah besar kok masih manja. Malu sama otot tuh!" cibir Thania.


"Ya gak papa lah. Manja ke Istri sendiri emang salah?"


"Enggak. Tapi ya--"


"Enggak 'kan? Ya udah berarti gak masalah aku manja ke kamu," sela Gevano menoleh sejenak hanya untuk memberi senyum usil kepada istrinya.


Thania hanya membuang nafasnya. Berdebat dengan Gevano tak akan ada habisnya. Lebih baik dia diam dan memakan Macaron nya.


...***...


Thania berlari masuk ke dalam rumah. Membuat suaminya panik.


"By, jangan lari-lari hei!" teriak Gevano panik yang tentunya tak dipedulikan oleh Thania.


Gevano berlari menyusul Thania. Kemudian menggendongnya tanpa aba-aba ala bridal style. Membuat Thania terpekik.


"Turun Gev! Turun!" ronta Thania.


"Gak mau. Salah siapa tadi lari-lari? Gak inget kalo di dalam ada anak kita?"


Thania cemberut, "Maaf. Aku udah gak sabar pengen makan es krim sama macaron sambil nonton film." Ia memberi tatapan memelas kepada Gevano.


Thania menganggukkan kepalanya. Mengerti kekhawatiran Gevano. Lagi pula ini bukan salah Gevano, melainkan salahnya.


"Maafin aku." Thania bergerak mengecup rahang Gevano. Kemudian menyamankan diri dalam gendongan Gevano.


Gevano sendiri balas mengecup Thania di surai wangi itu.


...***...


"Gev, bangun! Udah shubuh nih, kamu gak mau sholat apa?" ujar Thania membangunkan Gevano.


Perlahan mata tajam itu terbuka, "Jam berapa, by?" tanyanya dengan nada serak khas bangun tidur.


"Udah setengah lima. Ke kamar mandi gih, aku tunggu," suruh Thania.


Gevano bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan sikat gigi sekaligus mengambil air wudhu.


Sedangkan Thania menyiapkan sarung dan baju juga peci untuk Gevano. Wanita itu memakai mukenahnya sambil menunggu Gevano.


Tak lama kemudian Gevano keluar, ia mengambil sarung dan baju yang sudah siapkan Thania. Yang terakhir memakai peci. Gevano bertambah kali lipat lebih tampan saat memakainya. Thania memuji ketampanan sang suami dalam hati.


Sedangkan Gevano sendiri tak berbeda jauh. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari sang Istri yang terlihat sangat cantik dengan mukenah berwarna putih. Tampak suci dan bersinar. Gevano tak henti mengucapkan syukur memiliki Istri seperti Thania.


Mereka sholat subuh bersama dengan Gevano sebagai imam.


Sungguh keluarga yang sempurna bukan?


...***...

__ADS_1


"By, kamu yakin mau kuliah?" tanya Gevano yang entah ke berapa.


Thania lama-lama jadi jengah sendiri mendengar pertanyaan Gevano. Hampir 10 kali lebih Gevano bertanya dengan pertanyaan yang sama. Bagaimana tidak kesal Thania?


"Ck, iya, Gev. Aku mau kuliah. Udah gak perlu tanya itu lagi! Kamu udah sepuluh kali lebih nanya itu-itu mulu," malas Thania.


Gevano tentu tidak peduli dengan ucapan Thania. Yang harus ia lakukan sekarang adalah menahan Thania agar tidak pergi ke kampus. Bukan apa, Gevano hanya khawatir.


Apalagi tadi pagi Thania muntah-muntah. Thania bilang ini adalah hal biasa diawal kehamilan. Tapi tetap saja Gevano khawatir. Bahkan Gevano sampai menelfon dokter pribadinya jam 5 pagi. Untung saja si Dokter tak marah.


"By, mending kamu diem di rumah aja. Gak perlu ke kampus, aku takut kamu kenapa-napa," bujuk Gevano.


"Gak mau. Aku hari ini ada kuis, Gev. Aku gak mau ketinggalan, tolong ngerti ya?" ucap Thania mencoba bersabar.


"Kamu bisa nyusul, by. Kesehatan kamu itu lebih penting dari kuis-kuis itu."


Thania menghela nafas panjang, berbalik dan menatap Gevano. "Aku kuliah cuma bentar, Gevan. Aku jamin gak akan terjadi apa-apa. Jadi biarin aku berangkat ke kampus ya? Bentar lagi kelasku mau dimulai."


Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07.40 WIB. Tinggal beberapa menit lagi kelas akan dimulai. Dan Thania tak memiliki banyak waktu untuk meladeni Gevano yang sedang mode rewel.


"Bodo amat! Emang itu tujuan aku, biar kamu gak kuliah!" Gevano memberi raut wajah cemberut dengan tangan terlipat di depan dada.


Thania memijit pangkal hidungnya pusing. Lalu ia menatap Gevano kesal. Ini tidak akan ada habisnya. Jadi lebih baik Thania langsung pergi saja dari pada meladeni bayi besar ini.


Thania berjalan cepat menuju pintu kamar. Sementara Gevano yang melihat itu melototkan matanya. Thania memutar knopnya dan menarik gagang pintu itu.


Pintu terbuka, tapi tak berselang lama Gevano datang dan menutup pintu kamar dengan keras. Hingga membuat Thania sedikit terkejut.


"Kamu apa-apaan si, Gev?" kata Thania terkejut.


"Kamu yang apa-apa'an! Udah aku bilang gak boleh kuliah!"


"Gevan, minggir!" ucap Thania penuh penekanan.


Gevano menggeleng keras, menolak. Kedua tangannya ia rentangan lebar, menghalangi Thania agar tidak bisa kabur dari sini.


Thania menekan amarahnya, Gevano akan semakin keras kepala jika ia marah. Diam-diam ia memutar otak agar bisa berangkat kuliah tanpa menyebabkan pertengkaran dengan Gevano.


"Ya udah aku gak akan berangkat kuliah," ucap Thania kemudian. Membuat senyum terbuat di belah bibir Gevano.


"Gitu dong, nu--"


"Tapi jangan harap aku mau ngomong sama kamu!" potong Thania membuat senyum Gevano meluntur.


Ketika hendak memprotes Thania melanjutkan ucapannya.


"Gak boleh tidur seranjang, gak ada pelukan, gak ada ciuman, gak ada kecupan kecupan manja, gak ada kata-kata manis, gak ada morning kiss. Intinya gak ada apapun yang biasa kita lakuin!" kata Thania penuh penekanan.


Mata Gevano membulat terkejut, "Gak! Aku gak mau! Mana bisa aku tidur sendiri tanpa pelukan sama ciuman dari kamu!" bantah Gevano.


Thania tersenyum smirk, "Ya itu bukan urusanku."


Gevano melongo melihat senyum miring Istrinya. Sejak kapan Thania bisa tersenyum seperti itu?! Tapi entah kenapa melihat senyum miring di wajah Thania, membuatnya terlihat berkali lipat lebih seksi di mata Gevano.


"Jadi gimana? Masih gak ngebolehin aku ke kampus?" tanya Thania menyadarkan Gevano dari pikirannya.


"Aku hitung sampai tiga, kalo kamu gak jawab. Berarti kita udah sepakat, aku gak jadi ke kampus. Dan kamu harus menerima konsekuensinya," sambung Thania.


"Satu... Dua... Ti--"


"Kita berangkat sekarang!" Gevano bergegas mengambil kunci mobil dan jaket hitamnya, memakainya dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


Sedangkan Thania tersenyum puas. Semudah itu membuat Gevano menuruti perkataannya. Jiwa bucin memang sudah melekat didiri Gevano.


Bersambung...


__ADS_2