
"Aldo sama Geisya mana?" tanya Gevano saat tak melihat antensi Aldo dan adiknya sejak tadi.
Mereka menggeleng tak tau. Sejak tadi mereka juga tak melihat Aldo maupun Geisya. Kemana dua orang itu?
"Dam, coba lo priksa mereka di kamar nomor lima," perintah Gevano kepada Adam.
Pemuda yang dipanggil namanya itu mengangguk. Lalu keluar dari kamar Gevano menuju kamar nomor 5. Ia membuka pintu itu dengan kunci cadangan. Karena dia yakin pintu ini akan terkunci.
Setelah terbuka ia masuk ke dalam, tapi mata pemuda itu membulat melihat Aldo yang tergeletak pingsan di samping tempat tidur.
"Bang Aldo!" teriaknya berlari menuju Aldo.
Dia menepuk Aldo agar sadar. Tapi pemuda itu tak kunjung sadar. Ia akhirnya membawa Aldo ke tempat tidur. Matanya menatap ke penjuru arah, hanya ada Aldo dan dirinya di sini. Itu berarti adiknya Gevano tak ada di sini. Gawat.
Adam kemudian keluar dari kamar itu dan kembali ke kamar tempat para anggota Xevior kumpul. Kamar milik Gevano.
Adam sampai di kamar Gevano, ia mengatur nafasnya sejenak. Kemudian menatap mereka.
"Lo kenapa kayak lari-lari orang habis dikejar zombie aja?" tanya Aksel heran.
"Huh, ini lebih parah dari pada dikejar sama hah zombie!" balas Adam ngos-ngosan.
"Ha? Lo sebenernya kenapa si? Aldo sama adek gue mana?" Kali ini Gevano angkat bicara sambil menatap Adam.
"Bang Aldo pingsan, Bang."
Mereka sontak menatap Adam terkejut.
"Pingsan?" beo mereka.
Adam mengangguk.
"Terus adek gue mana?!"
"Geisya-- emm, Geisya." Adam jadi gugup sendiri, mau ngomong tapi takut. Nggak ngomong tambah takut. Dia pengen ngomong, tapi takut salah.
"Geisya kenapa anjir! Jangan belibet napa si?!!" kesal Gevano dan menatap tajam Adam.
"Gue nggak tau Geisya di mana, Bang! Soalnya pas ke sana gue taunya cuma ada Bang Aldo yang pingsan. Waktu gue nyari adek lo di situ nggak ada apa-apa!" Mendapat tatapan tajam dari Gevano membuatnya lancar berbicara dengan sekali tarikan nafas.
Tanpa banyak kata lagi Gevano berdiri. Tapi luka tembakan itu membuatnya meringis ngilu. Namun tak ia hiraukan rasa itu. Gevano berjalan beberapa langkah. Tapi Rafael menghentikannya.
"Biar gue yang liat dan cari tau ini semua. Lo istirahat aja, lukanya masih belum kering."
"Nggak. Gue juga mau---"
"Jangan keras kepala, Gev! Lo baru kena tembak, jangan bandel bisa nggak? Gue sama Vino aja udah cukup!" sela Rafael.
"Bang Rafa bener, Bang. Lo harus banyak istirahat. Mending lo di sini aja. Lagian ini belum tentu benerkan? Bisa aja Geisya masih ada di sekitar sini. Kayak nggak tau aja lo sama tingkah Geisya," ucap Arga ikut memberi pengertian.
Gevano akhirnya menurut, ia kembali duduk di ranjang. "Cari adek gue sampai ketemu! Gue nggak mau dia kenapa-napa."
Ketiga pemuda itu mengangguk.
"Ya udah kita ke sana dulu. Kalian tunggu di sini." Setelah berpamitan Arga, Vino, Rafael dan Adam melangkah menuju kamar nomor 5.
__ADS_1
Gevano membuang nafasnya lelah. "Kalian keluar. Gue mau istirahat dulu," ucap Gevano pada anggotanya yang masih ada di kamarnya.
Beberapa anggota Xevior yang ada di sana mengangguk. Lalu keluar dari kamar Gevano.
Setelah pintu tertutup, Gevano membaringkan tubuhnya perlahan. Ia tidak bisa asal tidur saja. Bahunya masih sakit.
Ia berbaring terlentang, matanya melirik Thania yang tertidur lelap. Gadis itu masih belum sadar juga dari pingsannya. Ia tidak tau Thania masih pingsan ataukah tidur?
Tapi, sudah lah. Gevano tak ingin berpikir banyak kali ini. Mau Thania masih pingsan atau tidur. Gevano tidak peduli, yang terpenting gadis itu sudah baik-baik saja. Hanya tinggal menunggu ia sadar dari pingsan atau tidurnya.
Gevano bergerak mendekat, lalu mendekap Thania dengan tangan kanannya yang tak terluka. Ia tersenyum kecil melihat Thania terlihat nyaman saat ia dekap. Gevano mengecup rambut wangi Thania sekilas.
Lalu kembali memandang ke atas. Ia berharap semoga saja setelah ini semuanya baik-baik. Ia juga berharap bahwa Geisya masih ada di sekitar sini dengan keadaan baik.
Ia tak bisa membayangkan jika adik satu-satunya itu diculik oleh musuhnya. Gevano menggelengkan kepalanya. Tidak. Geisya tidak mungkin diculik! Ia harus berpikir positif! Buang jauh-jauh pikiran negatif itu!
"Mending gue tidur," gumam Gevano mulai memejamkan matanya.
Tak butuh waktu lama Gevano sudah terjun ke alam mimpi. Efek obat yang diminumnya bekerja dengan cepat.
...[][][]...
Nathan memijat kepalanya yang berdenyut pusing. Baru ditinggal beberapa jam Thania sudah hilang entah ke mana. Ia tidak habis pikir, mengapa adiknya itu sering hilang tanpa kabar?!
Apakah gadis itu tak berpikir bahwa ia cemas ketika tak melihat atensi gadis itu di rumah?!
"Lo itu sebenernya ke mana si? Di chat nggak dibales, di telfon nggak diangkat!" kesal Nathan.
"Kalo mau pergi setidaknya kabari gue dulu kek. Kasih kabar ke gue biar gue nggak sepanik ini! Kalo bisa nggak perlu pergi biar gue tenang!"
"Apa jangan-jangan Thania ngambek ya gara-gara nggak gue beliin seblak level pedas?" gumamnya saat teringat tentang wajah cemberut Thania ketika ia menolak membelikan gadis itu seblak pedas lantaran baru sembuh.
Nathan menatap beberapa menit seblak yang dibelinya tadi. Kemudian membuka plastiknya dengan tak sabaran. Mengambil ponsel lalu menyalakan kameranya.
Cekrek.
Ia membuka hasilnya. Kemudian membuka apk WA, dan mengirim foto seblak hasil jepretannya ke nomor Thania. Bibirnya menyunggingkan senyum puas.
"Kita liat, lo bakal pulang apa nggak!"
Setelah beberapa saat tak ada balasan apapun dari Thania. Ia mengirim pesan kembali, tapi tetap sama. Bahkan sekarang nomor itu centang satu.
Nathan yang kesal langsung menelfon nomor adiknya. Tapi yang terdengar malah suara operator.
"Mohon maaf nomor yang anda hubungi tidak aktif. Dimohon untuk mencoba lagi beberapa saat kemudian."
"Tadi gue chat nggak dibales. Sekarang nomornya malah nggak aktif!!!" Nathan memandang geram ponselnya.
"Sebenarnya tu bocah ke mana si?!!"
"Baru sembuh udah keluyuran aja!! Arrghh! Punya adek satu sukanya ngilang mulu!" Nathan mengusap wajahnya frustasi.
Ia sudah menelfon semua teman Thania yang ia kenal. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang tau keberadaan gadis itu. Bahkan sahabat dekat Thania pun juga tidak tau ke mana perginya gadis itu.
"Apa perlu gue lapor polisi?"
__ADS_1
Nathan nampak berpikir, lalu matanya melirik ke jam dinding.
"Tapi adek gue ngilang belum dua puluh empat jam. Gue ngelapor ya tetep aja percuma. Mereka nggak akan nyari sampai dua puluh empat jam kemudian."
Hela nafas lagi. Kali ini Nathan benar-benar menyerah dengan sikap Thania yang sering kali menghilang saat ia tinggal.
"Mending gue cari di luar. Siapa tau ketemu."
Nathan berdiri lalu mengambil kunci motornya dan bergegas keluar lagi untuk mencari sang adik.
...[][][]...
Geisya menatap berbinar makanan di hadapannya. Ia terkikik pelan dan bertepuk tangan gembira. Seolah menemukan sebuah harta karung.
"Camilannya banyak banget!!!" pekiknya gembira.
Tangan kecilnya mengambil semua makanan dan beberapa minuman yang ada di dalam kulkas besar tersebut. Kulkas itu menjadi kosong, hanya tersisa sebotol air dingin saja.
Geisya menutup pintu kulkas dengan susah payah menggunakan kakinya. Kemudian berjalan pelan dengan membawa banyak makanan di kedua tangannya.
Karena terlalu banyak ia menjadi kewalahan, lalu kakinya tersandung hingga semua makanan dan minuman itu jatuh mengotori lantai.
Geisya menatap makanannya yang jatuh dengan pandangan sendu. Ia berjongkok kemudian memungut makanan yang masih utuh, lalu menaruhnya di atas meja makan. Sedangkan yang sudah jatuh mengenai lantai ia biarkan saja.
"Kalo Geisya bawanya pake tangan pasti nanti jatuh lagi," ujar Geisya.
"Geisya harus bawa pake apa ya biar nggak jatuh?" Pandangan mata Geisya menatap sekitar untuk menemukan benda yang sekiranya bisa membantunya untuk membawa makanan dan minuman ini.
Geisya pun berjalan ke sekitar untuk mencari benda tersebut. Sampai matanya tertuju pada sebuah hodie putih yang ada di atas sofa.
Geisya tersenyum cerah, ia berjalan mengambil hodie tersebut. Lalu pergi dari sana tanpa memikirkan siapa pemilik hodie ini.
Tak lama si pemilik hodie itu berjalan menuruni anak tangga dengan kaos putih polos dan bokser selutut. Ia mendudukan dirinya di sofa. Kemudian melirik ke samping kirinya.
"Hodie gue mana? Kayaknya tadi gue taruh di sini deh," ucapnya menatap samping kiri dan kanan tapi hodie itu tak ada.
Pemuda itu masih sibuk mencarinya hingga tak menyadari kedatangan seseorang.
"Lo nyari apa, Gib?" tanya orang itu.
Pemuda yang tak lain adalah Gibran itu menoleh. "Gue lagi nyari hodie gue. Tadi gue taruh di sini, terus gue tinggal bentar. Tapi waktu gue ke sini lagi hodie udah ngilang," kata Gibran panjang lebar.
"Lo liat nggak?" tanyanya pada Zidan.
"Gue aja baru dateng."
Zidan duduk di sofa. "Luka lo udah diobatin?" tanyanya.
"Udah," balas Gibran tanpa melihat Zidan.
Pemuda itu berdecak kesal. "Ck, udah lah Gib. Mungkin lo lupa kali naruhnya. Nggak mungkin kan kalo hodie lo dicuri," dengusnya malas.
Gibran tak menggubris ucapan Zidan, ia tetap mencari hodienya. Sialan. Siapa orang yang mengambil hodie itu! Tak tau apa kalau itu adalah hodie kesayangannya. Lihat saja apa yang akan ia lakukan pada orang yang telah mencuri hodie kesayangannya!
Semoga hodienya itu baik-baik saja. Tidak lecet dan kotor. Oh, hodienya yang malang ke kaja engkau pergi?
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain Geisya membawa makanannya dengan langkah riang menggunakan hodie yang ia ambil dari sofa tadi. Hodie itu sekarang menjadi tas pembawa makanan bagi Geisya.
Bersambung...