
Kembali ke Paris
Kana POV
Aku terbangun setelah tidur panjangku. Ku menatap wajahku sendiri di cermin, make upku yang berantakan sudah hilang. Siapa yang membersihkannya?
Tak lama ada yang mengetuk pintu kamarku. Ternyata itu ibu membawakanku makan malam.
Ibu: "Sayang, kau sudah bangun, mandi dan bersihkan dirimu lalu makanlah makan malammu. Ibu meletakkan makananmu di meja ya." /tersenyum seolah tak terjadi apa2/
Kana: "Terima kasih ibu. A-ku..." /air matanya mulai menetes lagi/
Ibu: "Sudah jangan mengatakan apapun jika belum siap, nanti saja ceritanya ya. Ibu hanya ingin melihat senyum anak ibu." /mengusap air mata Kana/ "Sudah, mandilah."
Akupun segera bergegas menjalankan perintah ibu. Aku harus bangkit. Ini semua salah. Kalau saja aku bisa mereset pikiran dan perasaanku, mungkin sudah kulakukan sedari tadi. Bisa2nya aku mencintai seorang level B parahnya ini adalah cinta pertamaku. Tiba2 ia ingat kata2 ibunya "seorang vampir, biasanya hanya jatuh cinta sekali. Kalaupun ia bisa jatuh cinta lagi, pastilah perjuangannya sangat berat". Aku menjadi takut. Bagaimana aku bisa mencintai Arai kelak? Aku bahkan sama sekali tak tertarik dengannya. Tapi kei? Semua tentangnya terukir jelas dalam ingatanku, senyumnya, tatapan matanya, hingga ciumannya, ia begitu hangat dan baik. /menggelengkan kepala/ Ah lupakan2. Aku harus bangkit. Aku harus fokus untuk menyelesaikan kuliahku dan target untuk mengadakan fashion show di akhir tahun depan.
Akupun telah selesai mandi dan merapikan diriku. Akupun memakan sedikit makan malamku. Tapi rasanya sangat tidak bernafsu makan.
Kupikir, aku harus segera menjelaskan apa yang terjadi kepada ayah dan ibu.
__ADS_1
Akupun turun ke bawah ke ruang tamu. Menemui ayah dan ibu. Mereka sedang duduk di ruang tamu, tampak sedang menungguku, tapi merasa seperti orang asing yang saling tidak bicara satu sama lain.
Begitu melihatku. Ayah langsung antusias.
Ayah: /menghampiriku dan langsung memelukku, beberapa waktu kemudian ayahpun mulai berbicara/ "besok berangkatlah ke Paris, ayah sudah menyiapkan semuanya. Kampusmu di sana dengan senang hati menerimamu kembali. Pokonya Kana tinggal naik pesawat saja ke sana. Barang2 Kana akan dibawakan oleh Pak Jo dan Bu Is. Pak Jo dan Bu Is akan ikut Kana ke Paris. Ayah ingin mereka mengurus Kana. Pak Jo mengantar Kana ke mana2 dan Bu Is menyiapkan segalanya untuk Kana di rumah."
Kana: "Ti-dak perlu Yah, Kana bisa mengurus diri Kana sendiri."
Ayah: "Tidak2, mereka ayah tugaskan untuk memantau Kana. Jadi mereka harus ikut Kana. Ini demi kebaikanmu juga Nak..."
Kana: "Baiklah2... lagi2 kana harus mengalah dengan keputusan ayah dan ibu."
Akhirnya akupun menceritakan semuanya ke ayah dan ibu. Kecuali tentang perasaanku. Kenyataan bahwa sebenarnya aku menyukai bahkan mulai mencintai Kei.
Ayah: "Berarti sekarang hal pertama yang harus ayah lakukan adalah membatalkan rencana pertunanganmu dengan Arai."
Ibu: "tidak tidak! Bagaimana kau bisa mengambil keputusan seperti itu? Itu terlalu gegabah. Kana bahkan tak ingin rencananya dibatalkan. Kenapa kau malah mengambil keputusan seperti itu?"
Ayah: "Apa kau ingin putri kita menderita seumur hidupnya seperti kita?" /ayah menggunakan suara tinggi, tidak pernag kulihat ayah berbicara dengan nada yang begitu kasar kepada ibuku/
__ADS_1
Selama ini ayahku tampak selalu mengala dengan ibu. Ayah tak ingin ribut, terlebih lagi ayah tak ingin aku atau ibuku merasa tidak nyaman.
Akupun menangis sejadi2nya.
Kana: "Jika kalian bertengkar karena aku maka lebih baik aku mati!" /aku mengeluarkan kuku2 panjangku. Kuarahkan ke jantungku/ "mungkin dengan aku mati kalian bisa hidup tanpa kepura2an. Kalian pikir aku tidak tau hah? Kalau kalian hanya bersikap manis di hadapanku. Pernikahan kalian hanya status hukum saja. Selama 20 tahun ini bahkan kalian tak pernah tidur sekamar kan?! Bagaimana bisa aku terlahir dari keluarga yang begitu mengenaskan seperti ini? Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kalian bohongi dengan begitu mudahnya. Biarkan aku mati saja!" /ketika aku hendak menancapkan kuku2 tajamku ke jantungku, ayah menghentikan gerakanku dengan kekuatannya, kekuatan yang begitu mengintimidasi tapi sangat jarang di gunakan./
Ibu: "aku tidak ingin kehilangan anakku lagi. Jika Kana meninggalkanku, maka akupun aka mengakhiri hidupku." /menangis berderai2 dan langsung memelukku/
Ayah: /menghentikan efek kekuatannya dan turut bersama ibu memelukku/
Jadilah kami bertiga saling menangis dan berpelukan.
Ayah: "maafkan kami yang tak bisa menjadi sosok orang tua yang ideal untukmu Nak..."
Sementara ayah terus meminta maaf dan bebicara, ibu hanya menangis tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Aku menjadi penasaran dengan maksud ucapan ibu tadi 'aku tak ingin kehilangan anakku lagi.'. Apa maksudnya? Bukankah anak mereka hanya aku? Apa sebenarnya aku punya saudara? Ah, ingin rasanya aku mengorek informasi. Tapi tampaknya waktunya tidak pas.
keesokan harinya
Seperti perkataan ayah, hari ini akupun kembali ke Paris bersama Pak Jo dan Bu Is. Selamat tinggal Kyoto... walau pengalamanku tak terlalu baik di sini. Aku bersyukur bisa bertemu dengan Kei dan merasakan cinta. Ketika kelak aku kembali ke sini. Kuharap perasaanku sudah berubah.
__ADS_1