
Cemburu
Kana POV
Malam ini juga kami harus ke Korea, Korea Selatan lebih tepatnya. Kei sudah siap dengan segala barang bawaannya.
Kei: “Ayo sayang, pesawat kita sejam lagi.”
Kana: “Kita nanti teleport saja ke bandaranya, aku masih harus menelfon Janet.”
Akupun segera menelepon Janet. Janet tak kunjung mengangkat teleponku. Ah apa yang sebenarnya ia lakukan.
Akhirnya setelah menunggu beberapa menit, Janetpun mengangkat teleponku.
Kana: “Hallo, Janet? Maaft mengganggu leburanmu.”
Terdengar suara dari seberang sana, suara desahan, aku yakin sekali itu suara desahan. Karena teleponnya kuspeaker, pasti Kei mendengarnya juga, akupun menoleh ke arah Kei, kamipun langsung saling berpandangan.
Terdengan suara dari seberang sana “Sa-yang, ehhemmmmgghh... sab-bar dulu, ini Ka-na yang menel-fonku.” Tersedangar juga suara lelaki, “Ka-takan pada Ka-na kita sedang si-buk.” “Huuhuuummmehhmmm... say-yaang... aaahhhhhahhhhh...”
Aku pun langsung mematikan teleponnya begitu saja.
Keima POV
“Huuhuuummmehhmmm... say-yaang... aaahhhhhahhhhh...”
Sial, desahan dari seberang sana membuatku gerah. Janet pasti sedang bercinta dengan kekasihnya. Aku masih saling berpandangan dengan Kana, pipi Kana tampak merah sekali. Pasti ia sangat malu. Kana langsung mematikan teleponnya.
Kana: “Ma-maafkan aku... aku tak sengaja.” /ia langsug menutup mukanya dengan kedua tangannya/
Kei: /kudekati dia, kurengkuh tubuhnya/ “Apakah kau merasakan kegerahan yang sama sepertiku sayang? Rasanya aku ingin memakanmu sekarang juga.”
Kana menangkup kedua pipiku menghentikan aku yang hendak memeluknya.
Kana: “Ki-kita harus segera ke bandara, kalau tidak kita ketinggalan pesawat nanti. Ayo kita pergi.” /mengecup bibirku sekilas dan segera berdiri/
Akupun sadar diri juga kalau memang kami tidak boleh berbuat mesum dulu kali ini. Ada urusan yang harus segera kuselesaikan.
Kei: “Sayang tau tempat aman teleportasi ke bandara kan?”
__ADS_1
Kana: “Iya aku tahu, karena aku sering melakukannya.”
Kugenggam erat tangan kanannya setelah memastikan semua barang2 yang mau di bawa sudah dalam genggaman kami.
Kei: “Yuk, bawa aku teleport bersamamu sayang...”
Kamipun akhirnya teleportasi ke suatu ruangan khusus yang sepertinya memang di khususukan untuk tujuan teleportasi vampir ke bandara.
Kei: “Tunggu sebentar ya sayang, aku akan mencheck-inkanmu sekalian.”
Kana POV
Akupun menunggu Kei dengan duduk di bangku tak jauh dari loket check in. Tba-tiba da orang yang tidak asing duduk di sebelahku.
Pria: “Kana? Ini beneran kamu kan Kana?”
Kana: “George?”
George: “Sudah lama sekali kita tak bertemu. Bagaimana kabarmu? Kau tampak tambah cantik saja.”
Tubuh George yang tinggi besar membuatku susah menghindarinya, ia langsung cipika-cipiki denganku dan memeluk tubuhku.
George: “Kana, kukira tak akan pernah bisa menemukanmu lagi. Kukira kau masih menetap di Jepang, bertemu denganmu di Paris, sungguh aku tak menyangka.”
Kei: “ehem, ehem...”
Aku langsung buru-buru melepaskan pelukan george.
Kana: “Sa-sayang, kenalkan, ini adalah kakak kelasku sewaktu sekola menengah, namanya George, kami baru bertemu kembali setelah 6 tahun.”
George: “Ah, siapa dia Kana? Apa dia kekasihmu?”
Kei: “perlu kau ketahui tuan George, Kana ini adalah istriku.” /ucap Kei dengan nada mengintimidasi, tampaknya ia merasa tidak nyaman karena keberadaan George.”
Kana: “Ah iya George, Keima adalah suamiku, kami beru menikah 10 hari yang lalu. Maaf tak mengundangmu, aku tidak tahu kau tinggal di mana. 6 tahun ini kita benar-benar lost contact.”
Kemudian ada panggilan untuk segera memasuki pesawat.
George: “Aku sudah mendapatkan panggilan, aku pergi dulu ya Kana.”
__ADS_1
Kana: “Itu juga pesawat kami.”
George: “Kalian mau ke Korea Selatan juga?”
Kana: “iya. Termnyata kita punya tujuan yang sama.”
George: “Senangnya aku masih ada kesempatan untuk mengobrol denganmu.”
Keima POV
Perasaanku mulai tak enak. Sebenarnya siapa pria yang begitu akrab dengan Kana ini. Sekilas kumelihatnya ia adalah seorang darah murni seperti Kana. Tapi ia tampaknya adalah vampir yang 90 persen hidup seperti manusia, sudah tidak peduli dengan darah murninya.
Kei: “Sampai kapan kalian akan terus mengobrol dan kita akhirnya ketinggalan pesawat?”
Akupun langsung menarik tangan Kana untuk ke pesawat.
Beberawa waktu akhirnya kami sudah di pesawat dan duduk bersama.
Kana tiba-tiba tertawa cekikikan.
Kei: “kenapa tertawa-tertawa begitu?”
Kana: “Saat sayang cemburu lucu sekali.”
Kei: “Aku tidak cemburu, hanya kesal saja, masak kubela-belain antre panjang begitu malah sayang cipika-cipiki, pelukan, ngobrol asyik bareng lelaki lain.”
Kana: “Maaf-maaf... jangan ngambek ya...”
Kerena kami membeli tiket eksekutif sehingga tempat kami sangat privat bahkan bisa tiduran.
Kana: “Sayang tidak ingin tahu George itu siapa?”
Kei: “Siapa memangnya, ia mantan pacarmu?”
Kana: “Enak saja. Aku tak punya waktu untuk pacaran. Aku tak pernah punya pacar sayang...”
Kei: “ Lalu?”
Kana: “Dulu kami mengambil ekskul yang sama sewaktu sekolah. Dia satu tahun di atasku, tapi kami hanya sesekolah setahun saja, naik ke kelas akhir dia pindah ke Amerika. Sudah habis itu kami tak pernah berkomunikasi lagi. George itu banyak membantuku dulu di ekskul, ia jago main biola dan piano, ia banyak mengajariku. Sepertinya sampai sekarang ia masih aktif bermain musik.”
__ADS_1
Kei: “Yakin Cuma sebatas itu saja?”
Kana: “Iya sayang...” /tertawa lagi/ “Aku senang sekali sayang cemburu padaku. Cemburu adalah tanda cinta bukan? Terima kasih telah mencintaiku...” /kupeluk ia erat-erat, aku tahu ia sedang gusar karena ternyata kami dan George punya tujuan yang sama/