
Naik Motor
Kana POV
Sesuai janji Kei, akhir pekan ini aku akan makan steak dengannya. Oh iya, vampire seperti kami hanya bisa makan daging-dagingan, kami tak biasa makan nasi, buah-buahan atau sayur-sayuran. Hanya sesekali saja kami memakannya.
Entah bagaimana, Arai mengizinkanku pergi dengan Kei. Tanpa bertanya apapun. Mungkinkah Arai memang sebenarnya tak menginginkan pernikahan kami? Entahlah. Apakah ia tidak risih calon istrinya jalan dengan pria lain. Aku tak tau.
Aku hanya penasaran dengan apa yang terjadi dengan Kei. Ah, Kei itu, berani-beraninya ia mengambil ciuman pertamaku. Bisa-bisanya ia sampai mengulumnya dan bisa-bisanya juga aku meresponnya dengan *** yang serupa. Betapa bodohnya aku.
"Tok Tok Tok"
'Ah, itu Kei. Syukurlah aku sudah siap' /gumamku, ku langsung bergegas membukakannya pintu/
Kei: "Kau sudah siap rupanya. Pakailah ini." /memberikan helm kepadaku/
Kana: "Apa maksudnya ini? Kita naik mo-tor?" /ku menunjukkan ekspresi kaget sekaget2nya/
__ADS_1
Kei: "Bukankah kau ingin menikmati suasana kota ini? Naik motor adalah pilihan yang sangat tepat. Atau mau naik mobil saja?"
Kana: "Kukira kita akan langsung teleportasi saja." /sungut-sungut kesal/
Kei: "Tidak-tidak, itu tidak akan menarik."
Kana: "Tapi aku belum pernah naik motor sama sekali."
Kei: "Justru itu kau harus merasakan enaknya naik motor."
Kamipun bergegas pergi keliling kota, dengan tujuan utama ke restoran steak.
Kei POV
Ini pertama kalinya aku menikmati malam minggu bersama seorang wanita, biasanya aku hanya menjalankan tugas atau menemani Arai main catur atau mengecek perkembangan saham perusahaan. Sangat jarang aku punya waktu luang seperti ini. Mendapat tanggungjawab untuk mengurus perusahaan, kuliah, dan menjadi orang kepercayaan Arai Takahashi begitu menyita waktuku. Terkait kejadian Kana menolongku, tentu aku menceritakannya ke Arai, kecuali bagian aku mencium Kana. Arai tampak tampak biasa saja mendengar ceritaku. Jadi kuasumsikan tak masalah walau aku telah meminum darah calon istrinya justru malah ia berkomentar "darah murni Kana sangat baik untuk meningkatkan kekuatanmu. Kau sangat beruntung mendapatkannya secara cuma-cuma."
Kini Kana tengah kubonceng, tapi aku merasa dia sangat tegang n ketakutan. Ia sepertinya memang sangat tak terbiasa dengan naik motor. Kuharap dia mau berpegangan padaku. Aku takut dia jatuh.
__ADS_1
Kei: /mengambik tangan kiri Kana dan meletakkan ke pinggangnya untuk berpegangan/ maaf... aku takut kau jatuh.
Kana: "Ti-tidak apa2." /langsung memeluk erat Kei dengan kedua tangannya/
Kei: /terkejut dengan reaksi Kana tapi beberapa waktu kemudian ia tersenyum puas/ "Kana harus memandangi sekitar, lihatlah lampu yang kerlap-kerlip tampak sangat indah. Pemandangan kota di malam hari benar2 memanjakan mata."
Kana POV
Entah kenapa aku malah memeluknya erat. Apakah memeluk seorang pria selalu senyaman ini?
Kana: /menempelkan pipi kirinya ke punggung Kei sehingga ia miring ke kanan dan bisa melihat pemandangan di kanan jalan/ "kau benar. Indah sekali. Seolah lampu2nya menghipnotisku."
Kei: "Benarkah? Sebentar lagi kita akan sampai. Pasti kau sudah sangat laparkan?"
Kana: /semakin menyamankan diri di punggung Kei/ "Aku hanya sedikit lapar. Bagaimana jika kita memutari kota sekali lagi? Aku ingin melihat lampu-lampu itu lebih lama lagi."
Apa yang telah kukatakan? Bisa-bisanya aku meminta berkeliling lagi. Apakah aku semakin terlena dengan kenyamanan ini? Apa aku benar-benar menyukai Kei? Cobaan apa ini?
__ADS_1