
Daniel Rinaldy
Kana POV
Sudah sebulan aku kembali tinggal di Paris. Aku mulai bisa mengontrol diri dan perasaanku dengan berbagai macam kesibukanku. Hari ini aku sedang menunggu seseorang di cafe tak jauh dari apartemenku. Di Paris aku benar2 hidup selayaknya manusia, memakan hampir semua makanan manusia kecuali sayur, ku tak suka sayur. Di sini, teman vampirku hanya sedikit. Sepanjang aku berkuliah di sini, aku hanya mengenal seorang vampir berdarah murni dan 5 orang vampir level B.
Nah yang hendak kutemi ini adalah mantan kakak tingkatku di kampus. Kami sempat sekampus selama setahun, dan katanya dulu keluarganya pernah tetanggaan dengan kekuargaku sewaktu ia tinggal di Jepang. Karena aku tengah mengorek informasi mengenai kemungkinan adanya saudaraku, kurasa bertemu Kak Dani adalah pilihan yang tepat. Namanya adalah Daniel Rinaldy, vampir berdarah murni keturunan Jepang-Italy.
Dani: "Hai cantik apa kabar?"
Kana: "Hai ganteng, kabar baik."
Dani: "Ih genitnya... Rasanya pipimu tambah embul." /menjewer kedua pipiku/
Kana: "Aduh... aduh... pipiku kendur nanti..." /kusingkirkan tangan Kak Dani dari pipiku/
Aku dan Kak Dani sangat dekat memang. Walau Kak Dani telah kembali ke Italy, kami masih terus menjalin komunikasi. Dia sudah seperti kakakku.
Dani: "Senang sekali bisa melihatmu lagi Kana. Kau tambah dewasa dan semakin kelihatan cantik." /meraih buku sketsa dan pensil dari tanganku, kemudian menutup buku sketsaku dan menyimpannya/ "Aku tak ingin tersaingi dengan seonggok buku."
Kana: /menggembungkan pipi/ "Hufth! Selalu saja."
Dani: "Jangan ngambek ya, nanti kakak traktir es krim sebanyak yang kamu mau."
Kana: "Beneran?" /mataku berbinar, jelas aku sangat senang. Kapan lagi aku dimanjakan seperti ini/
__ADS_1
Dani: "Tentu, kakakmu ini sekarang telah sukses. Tunjuk saja apa yang kau mau, kan kuberikan."
Kana: "Ku rasa memiliki suami sepertimu pasti menyenangkan kak. Hidupku akan sangat bahagia dan semua keinginanku akan tercapai. Hahaha..." /entah apa yang kukatakan, ku nyeletuk begitu saja/
Dani: "Yakin mau menikah denganku? Aku akan menelfon ayahmu sekarang ya, pernikahan kita minggu depan."
Kana: "Eh! Jangan!" /kurampas HPnya/
Dani: "Apa kau kecewa dengan calom suamimu itu sehingga berfikir untuk menjadi istriku? Sampai detik ini aku masih free. Aku tak keberatan menghabiskan sisa hidupku bersama adik manja sepertimu."
Kana: "Ish! Bohong! Memangnya siapa yang tidak bisa melupakan gadis dalam mimpinya hah? Gadis manusia cantik yang selalu kakak ceritakan itu? Apakah sudah hilang dari pikiran kakak?"
Dani: "Ah kau benar. Akan sangat kejam jika aku menikahimu tapi ketika bercinta denganmu justru aku membayangkan wajah dan tubuh gadis itu."
Dani: "Eits, lagi2 Kana membuliku?" /berbisik/ "Apakah kau tak percaya dengan kejantananku? Kau ingin bukti?"
Kana: "Kurasa kakak tak akan berani membuktikannya"
Dani: /karena posisi bibirnya memang dekat dengan telengaku, ia tiba2 menjilat daun telingaku/
Seketika aku merasa merinding dan getaran aneh menjalar ke seluruh tubuhku. Refleks aku langsung mencubit perut kak Dani.
Dani: "Aduhhh. Ampun ampun..."
Kana: "Rasain tuh! Habis usil sih."
__ADS_1
Dani: /kembali ke posisi duduknya, tiba2 kayak berubah ke mode serius/ "Tapi ya, setelah kuperhatikan, gadis yang ada dalam mimpiku itu begitu mirip denganmu Kana. Terutama hidung dan mata. Mirip sekali denganmu. Hanya saja dibandingkan dengan dirimu, postur tubuhnya sedikit lebih mungil dan pipinya tak segembul pipimu."
Kana: "Hmmmm... ngomong2 tentang mirip. Mungkin dia saudaraku."
Dani: "Bukankah Kana anak tunggal???"
Kana: "Tadinya kupikir begitu. Tapi aku mulai curiga. Oh ya kak, kan kakak pernah tetanggan dengan keluargaku. Apa yang kakak ingat dari keluargaku?"
Dani: "Tak ada!"
Kana: "Kok tak ada sih?!Sebel deh! Ingat2 lagi!!!"
Dani: "Kana sayang, kan kekuargaku tetanggaan dengan keluargamu saat kakak masih dalam kandungan, bagaimana kakak bisa mengingat sesuatu." /menunjukkan ekspresi seperti mengingat sesuatu/ "Tunggu, tunggu, berapa umurmu tahun ini Kana?"
Kana: "Umurku 20, beberapa bulan lagi 21."
Dani: "Eh??? Bukannya 24?"
Kana: " Enak saja. aku ini masih muda ya... kakak itu yang 24"
Dani: "Tapi mamaku bilang, ketika mama mengandungku, tante Lily juga sedang mengandung anak pertamanya. Makanya ketika itu mereka saling berjanji untuk menjodohkan aku dan anak yang di kandung tante Lily. Berarti anak yang di kandung oleh tante Lily waktu itu bukan Kana?"
Kana: "Memang bukan aku. Umurku bahkan belum genap 21 tahun sekarang. Jelas itu bukan aku. Berarti, aku punya seorang kakak perempuan? Tapi kemanakah dia? Apakah dia? Mungkinkah kakakku sudah meninggal?"
Dani: "Itu artinya jodohku sudah tidak ada???"
__ADS_1