
Happy Steak
Author POV
Akhirnya Kana dan Keima tiba di restoran steak bertajuk "Happy Steak" setelah berputar-putar mengelilingi kota sebanyak 3 kali.
Kei: "Gimana? Sudah puas kelilingnya?" /menerima helm dari Kana/
Kana: "Be-lum maksudku sudah. Tentu aku sudah puas." /jawab Kana agak belepotan, langsung menunduk sambil berekspresi lucu/
Kei: "Jadi masih kurang ya? Nanti setelah makan kita keliling sekali lagi ya." /tanpa sadar mengelus kepala Kana lembut, tak tahan melihat ekspresi lucu Kana/
Kana: "Eh?" /keget, langsung mendongak dan mengambil tangan Kei dari atas kepalanya/
Kei: "Maafkan aku" /langsung menarik tangannya/
Suasana jadi canggung. Kana segera berusaha menghilangkan kecanggungan.
Kana: "Ayo kita masuk" /masuk ke dalam restoran duluan/
Kana dan Kei sama-sama memesan tenderloain setengah matang. Karena vampir memang lebih suka daging setengah matang daripada daging matang. Begitu pesanan mereka datang, Kei langsung bergegas memotong-motong steak dan memberikannya ke Kana.
Kana: "terima kasih. Tak usah repot-repot..."
__ADS_1
Merekapun mulai memakan steaknya.
Kana: "Kei, bisakah kamu menceritakan apa yang terjadi kepadamu tempo hari?"
Kei: "Kau yakin siap mendengar ceritaku?"
Kana: "Iya tentu."
Kei: "Apa kau tau jika tak semua vampir ingin hidup berdampingan dengan manusia?"
Kana: "Iya aku tahu, ayahku pernah bercerita sedikit."
Kei: "Apa Kana tau juga kalau mereka mulai bergerak? Dengan dipimpin oleh seorang raja berdarah murni?"
Kana: "uhuk uhuk uhuk" /tersedak karena kaget/
Setelah beberapa saat. Kana terlihat kembali siap mendengar cerita Kei.
Kei: "Kemarin mereka menyerang suatu perkampungan di pinggir kota. Pemburu vampi kuwalahan menangani mereka. Makanya Arai mengirimku bersama beberapa vampir lainnya untuk membantu pemburu vampir. Tapi ketika aku sampai di sana, sudah seperempat penduduknya berubah menjadi vampir. Seperempat lagi telah tewas dan setengah sisanya histeris ketakutan, dua pemburu vampir telah terbunuh." /menghela nafas/
Kana: /menyimak dengan seksama/
Kei: "Bahkan ada korban juga dari asrama kita, seorang level B yang sempat berhadapan dengan raja vampir itu. Padahal dia tau pasti akan kalah, tapi dia nekad menghadapinya agar tak menggigit lebih banyak orang lagi. Kutemukan jasadnya dalam kondisi yang mengenaskan, ada lubang di dadanya dan jantungnya telah diambil."
__ADS_1
Kana: /menggenggam erat tangannya sendiri, air matanya deras mengalir/
Kei: "Bahkan aku sendiripun hampir mati, jika kau tak menolongku."
Kana: "Ta-tapi lukamu itu bukanlah luka cabikan atau semacamnya, itu luka tembak dan itu berasal dari senjata anti vampir. Bagaimana bisa ada pemburu vampir yang menembakmu?"
Kana: "Aku lengah ketika menyelamatkan seorang anak dari cengkraman seorang vampir buas. Ada vampir yang mengambil senjata anti vampir untuk menembakku dari jauh. Aku telat menyadarinya, sehingga tak dapat menghindar dengan sempurna, pelurunya hampir mengenai jantungku, untunglah masih meleset sedikit."
Kana: "Bukankah vampir tak bisa menyentuh senjata anti vampir?"
Kei: "Kau benar, tapi itu berlaku berbeda terhadap level D, beberapa dari mereka bisa memegang senjata anti vampir bahkan cukup lihai menggunakannya."
Kana: "Lalu bagaimana raja vampir itu? Apakah ia kabur dengan mudahnya?"
Kei: "Iya. Aku hanya sempat sedikit menggires dadanya. Tapi kuyakin tidak sampai setengah jam ia sudah pulih kembali. Mungkin aku akan bernasib sama dengan temanku kalau Arai tidak datang."
Kana: "Bukankah engkau level B? Kenapa kau masih bisa berkutik melawan level A?"
Kei: "Mungkin karena ibuku adalah level A"
Kana: "Kalau saja ibumu level A juga..." /tanpa sadar kalimat itu terucap/
Kei: "Kenapa? Sehingga aku bisa bebas menjadi kekasihmu?" /ucap Kei terus terang. Kei adalah orang yang sangat jujur dan ceplas-ceplos/
__ADS_1
Kana: "A-pa maksudmu? Aku sudah punya calon suami. Kau ingat itu?"
Kei: "hahaha... aku hanya bercanda." /tertawa/