
Dia Tunanganku
Kana POV
Setelah semua yang terjadi, aku merasa sangat lega. Akhirnya ibu merestui hubunganku dengan Keima. Dengan satu syarat, yakni untuk mengurangi penolakan dari keluarga besar ayah dan ibu maka saat pernikahan seluruh keluarga dari ibu keima harus datang, kata ibu jika tidak, maka keima akan dipandang rendah oleh keluarga besar kami. Akupun memutuskan untuk datang langsung ke rumah keima memberi tahunya secara langsung. Sekaligus ingin memberi salam kepada ayah dan ibunya. karena sejak kembali ke Jepang aku belum sempat memberi salam.
Alangkah terkejurnya aku saat melihat seorang gadis vampir level B gelendotan di lengan Kei tepat di samping rumah kei yakni tempat biasa kei berlatih kemanah.
Kana: "K-kei? Siapa dia?"
Kei: "Oh ini, kenalkan, sahabat masa kecilku Rei-"
Belum selesai Kei berbicara perempuan itu langsung menyambar saja.
Perempuan: "Namaku Reina, aku adalah sahabat Kei dari kecil sekaligus tunangan Kei."
Kana: "Apa??? Tunangan?" /akupun langsung menampar pipi Keima dan berlari pergi meninggalkan tempat itu/
Hatiku sangat sakit. Bukankah Kei sudah lama dia telah memutuskan pertunangannya? Bahkan ia berkali2 menolak kencan buta? Apa maksudnya ini? Apakah aku telah ditipu oleh seorang pria? Apakah aku telah dipermainkan?"
__ADS_1
Akupun meneleportasikan diriku ke sebuah taman tak jauh dari rumah kei.
Keima POV
Kei: "Reina, kenala kau mengatakan itu? Pasti kana telah salah faham. Aku akan mengejarnya."
Reina: "Apa yang salah dari ucapanku. Kau memutuskan pertunangan kita secara sepihak, ku belum menerima pembatalannya. Aku masih menganggapmu sebagai tunangaku."
Kei: /kusingkirkan tangan Reina dari tubuhku, ku langsung mengikuti Kana/
di taman
Kupeluk kana yang sedang duduk di bangku sambil menangis dari belakang.
Kana: "Hikz... hikz... aku telah menentang keluargaku demi bisa bersamamu. Tapi kau malah sibuk bermesraan dengan wanita lain. Sungguh setidak berarti itukah perjuanganku kei?"
Kei: "Kau salah paham sayang. tadi itu aku sedang asyik bermain panah, terus Reina datang membujukku untuk mengantarkannya berbelanja, ku menolaknya, tapi ia terus membujukku bahkan memeluk lenganku seperti yang kau lihat tadi. Tadi itu aku mau menyingkirkan tangannya. Tapi belum sempat kulakukan, kau sudah datang, dan terjadilah seperti tadi itu."
Kana: "Lalu apa maksudnya dengan mengatakan bahwa kau adalah tunangannya?"
__ADS_1
Kei: "Dulu kami memang pernah bertunangan. tapi keluargaku sudah membatalkannya. Hal tersebutpun sudah diterima oleh keluarga besar Reina. Dia saja yang masih ngotot seperti itu."
Kana: "Kau begitu pandai mengarang cerita"
Kei: /sudah berdiri menggunakan lututnya dihadadapanku. Posisiku yang duduk di bangku, membuat sangat pas berhadapan dengannya/ "Kana sayang, bukankah kau bisa membaca pikiranku? Silahkan diperiksa jika perlu, apakah aku mengarang cerita atau tidak, kau akan tau jawabannya." /mendekatkan dahinya ke dahiku/
Muncullah kejadian yang sebenarnya didalam ingatanku yang sudah terhubung dengan ingatan kei.
Kei: /sedikit menjauhkan wajahnya/ "Skarang kau percaya sayang? Sudah ya nangisnya... cantiknya ilang lho kalau nangis." /mengusap air mataku dan diakhiri dengan mengecup keningku/
Setelah ku merasa lebih tenang, akhirnya aku mulai membuka obrolan dengan Kei.
Kana: "Ibuku telah menerumamu. Tapi dengan syarat, saat kita menikah, yang jadi perwakilan ari keluargamu adalah keluarga dari pihak ibumu. Ibu bilang, ia tak ingin engkau diolok2 atau direndahkan oleh keluarga besar kami. Keluarga ibumu cukup ternama jadi ibu akan cukup untuk menyelamatkan muka ayah dan ibuku dihadapan keluarga besar. Apakah kau bisa memenuhi syaray tersebut?"
Kei: "Hmm... mungkin keluarga ayahku akan sedikit tersinggung tapi seharusnya mereka memahami bahwa calon menantu keluarga mereka adalah seorang putri berdarah murni sehingga mereka pasti bisa menerimanya."
Kana: "Benarkah? Baiklah kalau begitu. 3 hari dari sekarang, bawalah orang tuamu untuk datang ke rumahku. Kata ayah, kalian bisa langsung menentukan tanggal pernikahannya."
Kei: /tampak sangat terkejut/ "Ta-tanggal pernikahan? Kita langsung menikah tanoa bertunangan?"
__ADS_1
Kana: "Kenapa? Kau tidak mau? Hmmmm... ayah takut ibu berubah pikiran jadi semua harus dilakukan dengan cepat."
Kei: /berfikir sejenak/ "Baiklah."