
Mulai dari Nol
Kana POV
Kana: “Apa yang kau lakukan di sini?”
Tak terduga bahwa yang datang untuk menawarkan kerja sama adalah Keima. Janet langsung keluar meninggalkanku begitu Keima memerintahkan.
Kei: “Aku menghadiri pameranmu sayang, aku sudah berjanji kepadamu untuk hadir bukan?”
Kana: “Aku tak butuh kehadiranmu. Jangan memanggilku sayang, kata itu membuatku sangat jijik. Tinggalkan tempat ini sekarang juga, aku tidak butuh kerja sama dengan perusahaanmu.”
Kei: “Bukankah ini begitu tak adil Kana? Kau memutuskan semuanya secara sepihak. Kana bahkan sama sekali tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan apapun.”
Kana: “Taka da yang perlu dijelaskan. Hatiku terlalu sakit.”
Kei: “Duduklah dulu, beri aku waktu 10 menit, aku akan menjelaskan semuanya. Beri aku kesempatan untuk membela diriku sendiri.
Kana: “Baiklah, waktumu 10 menit.”
Akupun duduk namun aku sama sekali tak ingin menatap wajah kei, aku begitu muak melihatnya foto-foto itu masih terukir jelas dalam ingatanku. Selalu membayangiku bahkan dalam tidurku. Semua yang terjadi membuatkan takut untuk tidur 5 hari terakhir ini. Terakhir aku tidur 6 hari yang lalu, mimpi-mimpi buruk terus hadir. Menyiksa batinku hingga ku merasa sangat frustasi.
Kei: “Kau ingat susu yang nenek berikan ketika kita hendak meninggalkan aula pesta?”
Kana: “Ya aku ingat, karena aku menolak untuk meminumnya, aku kurang suka minum susu.”
Kei: “Aku meminumnya, susu itu sengeja disiapkan oleh orang suruhan Reina yang menyelinap di pesta sebagai pelayan, susu itu telah diberikan obat tidur yang sangat kuat sehingga yang meminumnya akan tertidur sangat nyenyak selama lebih dari 12 jam. Karena meminumnya, makanya obat itu langsung bereaksi kepadaku. Malam itu, aku bermaksud menunggumu keluar dari kamar mandi, namun mataku sangat berat, hingga aku tertidur. Setelah itu aku tak ingat apapun hingga Daniel membangunkanku ternyata di kamar yang lain, kamar yang sama persis seperti kamar yang kita tempati.”
Kana: “Lalu? Kau bahkan tak bisa menjelaskan apapun yang terjadi selama kau tertidur bukan? Itulah yang membuatku merasa jijik terhadapmu. Aku membayangkan setiap inci tubuhmu adalah bekas sentuhan wanita jalang itu.”
Akupun menggenggam tanganku sendiri, rasanya aku sangat marah.
Kana: “Melihatmu saja aku merasa sangat jijik. Hentikan semua ini dan tanda tangani saja surat perceraian kita. Aku tidak kuat.”
Aku sudah tidak kuat lagi menahan air mataku untuk tidak jatuh, aku sangat ingin terlihat tegar dan tidak lemah tapi rasanya sangat sulit, di hadapannya rasanya hatiku kembali tercabik-cabik, hancur lebur, begitu sakit.
Akupun memutuskan untuk pergi meninggalkannya, saat aku berdiri, ia malah menahan tanganku.
Kei: “10 menitku belum habis, aku masih punya 6 menit lagi. Kau masih harus mendengarkanku sayang.”
Kana: /terisak/ “Aku tidak kuat. Semua ini begitu menyakitkan. Sampai hari ini, aku berharap semua itu hanya mimpi, tapi ternyata aku tak pernah bangun dari mimpi ini. Ini adalah kenyataan. Apa kau begitu membenciku sehingga kau menikahiku lalu memperlakukanku seperti ini. Hiks… hiks… hatiku sangat sakit Kei… dan rasa cintaku padamu membuat rasa sakitku menjadi 10 kali lipat. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai orang sepertimu…”
__ADS_1
Aku sudah tak bisa menahan tangisku. Tangisku pecah, tangis yang kutahan selama 6 hari ini. Ya selama 6 hari aku mempersiapkan eventku, aku sama sekali tak pernah menangis lagi, aku pura-pura tegar.
Tiba-tiba Keima menarik tubuhku dan memelukku.
Keima POV
Aku sangat tidak tega melihat Kana menangis begitu memilukan, dalam hal ini aku memang tidak bersalah, tetapi aku merasa wajar jika Kana sampai seperti ini. Reina ternyata benar-benar kejam. Ia melukai Kana tepat di tengah hati Kana.
Tanpa kusadari, aku turut menangis bersamanya. Ia terus meronta berusaha lepas dariku, namun aku tak membiarkan ia melepaskan pelukanku, tubuhnya yang memang jauh lebih kecil dari tubuhku, membuatku mudah saja merengkuh tubuhnya.
Kana: “Kenapa kau begitu jahat kepadaku, Ke-napa?” /ia memukul-mukul dadaku, dengan pukulan yang tidak terlalu kuat, tangannya bergetar/
Akupun mengambil tangannya dan menciumnya.
Kei: “Aku tidak jahat Kana, aku hanya bodoh, aku tak bisa melindungi diriku sendiri dari tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Maafkan aku…”
Kana: “Aku akan pergi. Lepaskan aku… orang-orang menungguku, wartawan-wartawan bahkan menunggu untuk mewawancaraiku. Aku harus menemui mereka.”
Akhirnya ia berhasil meloloskan dirinya dariku, tapi ketika ia hendak melewati pintu, Karin dan Daniel datang menghadangnya.
Karin: “Tidak Kana, masalah ini harus benar2 diselesaikan hari ini juga. Keima tidak bersalah.”
Karin: “Hush! Jangan bahas itu dulu.” /melototi Daniel/ “kita harus meyakinkan Kana bahwa Keima tidak bersalah, jangan memperkeruh suasana.”
Daniel: “Sorry, sorry, kelepasan.”
Kana POV
Saat aku hendak pergi Karin-nee dan Daniel-nii datang. Mereka bak menjadi mengacara pembela Keima.
Mereka menjelaskan semuanya. Jadi menurut keterangan mereka apa yang terjadi malam itu adalah Keima yang terkena pengaruh obat tidur, dibawa ke kamar yang lain, kamar yang settingan dan dekorasinya sama persis dengan kamar pengantin kami. Karena memang ada petugas hotel yang ternyata bersekongkol dengan Reina.
Semua foto-foto yang dikirim kepadaku hanya rekayasa, kepintaran pengambil gambar dna peragalah yang membuat foto-foto itu begitu nyata.
Secara medis, dapat dibuktikan bahwa malam itu Keima sama sekali tak melakukan hubungan intim dan ditemukan kandungan obat tidur yang kuat dalam darah Keima.
Diketahui juga bahwa darah yang terdapat di sprei kamar bukanlah darah keperawanan seperti yang dikatakan oleh Reina, itu hanya darah biasa saja.
Intinya malam itu Keima benar-benar tak sadarkan diri, namun Reina tak berani terlalu jauh menyentuh-nyentuh tubuh Keima karena takut Keima bangun.
Semua pelakunya telah di temukan dan bersaksi dan kesaksiannya direkam, ditunjukkan kepadaku. Reina sendiri ia dikurung di paviliun keluarganya oleh ayahnya.
__ADS_1
Aku mengetahui semua kenyataannya langsung terduduk lemas di lantai.
Keima langsung merengkuh tubuhku.
Kei: “Bangunlah sayang, seperti katamu, kita harus menemui wartawan-wartawan yang ada di luar.”
Kana: “Ternyata ini semua salahku, karena aku meninggalkanmu di malam pernikahan kita. Aku terlalu egois sehingga hanya memikirkan karierku saja.”
Kei: “akulah yang salah karena terlalu lemah dan ceroboh. Mulai sekarang aku akan lebih berhati-hati. Sekarang, mari kita mulai dari nol lagi ya sayang…”
Kana: “Kita bicara lagi nanti ya, aku sudah ditunggu media.”
Akupun langsung pergi ke toilet terdekat, memperbaiki make upku yang sudah sangat berantakan. Ternyata Janet mengikutiku.
Janet: “Sini kubantu merapikan rambutmu.”
Kana: “Terima kasih”
Janet: “Tunggu di sini aku akan mengambilkan baju ganti untukmu, bajumu ini sudah sangat kusut dan basah karena air mata.”
Janetpun mengambilkan pakaian ganti untukku, ia memperbaiki riasan wajahku. Pokoknya ia adalah dewi penyelamatku kali ini.
Begitu ke luar dari toilet, ternyata Keima telah menungguku di luar, dia langsung menggandeng tanganku.
Kana: “Aku malu…”
Kei: “Biarlah seperti ini, aku tak ingin dipandang sebagai suami yang kurang mencintai istrinya sehingga tidak hadir di acara penting istrinya.”
Bagitu kami keluar, ratusan pasang mata langsung tertuju pada kami, kilatan-kilatan kamera pun langsung menyoroti kami.
Acara ini menjadi seperti acan konferensi pers terkait pernikahan kami daripada tentang desainku. Ah tak apa, biar seluruh dunia tahu, bahwa ia Keima Hiroshi adalah suamiku.
Banyak suara-suara yang mengatakan bahwa “Suami Kana tampan sekali… mereka pasangan yang sangat serasi… bukankah suami Kana adalah CEO perusahaan fashion terkenal di UK? Dan blablabla…”
Ternyata Keima dan perusahaannya cukup terkenal. Hingga sampailah pada pertanyaan terakhir.
“Apakah anda akan mengambil kontrak dengan YH Fashion?”
Kana: “Kurasa tidak, aku akan menunggu tawaran kontrak dari perusahaan lain. Jika aku mengambil kontrak dengan perusahaan suamiku, mungkin orang-orang akan berfikir bahwa ini adalah nepotisme,”
Janet: “Sudah cukup ya untuk hari ini… Terima kasih kepada seluruh awak media yang telah datang. Terima kasih atas dukungannya…”
__ADS_1