
Hujan Romantis, Petir Pemanis
Kana POV
Masih di restoran, tiba2 hujan turun sangat lebat.
Kei: "Aku juga mencintaimu Kana..."
Pernyataan macam apa itu? Jadi bagaimana sekarang. apakah kami resmi berpacaran atau bagaimana? Aku bingung. Yang jelas setelah peristiwa saling menyatakan perasaan tadi, Kei sudah tak membahas mengenai perasaan lagi.
Kei: "Hujan di luar sangat lebat. Kulihat Kana tadi masih membawa koper. Apakah kana belum mendapatkan tempat tinggal?"
Kana: "Iya. Kau benar. aku lupa belum mencari hotel. Apa kau tahu hotel yang nyaman?"
Kei: "Tak perlu ke hotel. Menginaplah di rumahku. Banyak kamar kosong di sana."
Kana: "Benarkah?"
Kei: "Benar. Aggap saja ini juga bayaran atas baju karyamu yang sangat kusukai tadi."
Kana: "Baiklah kalau begitu."
Setelah menempuh perjalanan agak panjang, tibalah di rumah Kei. Rumahnya cukup megah. Cocok memang untuk image ibu Kei yang level A. Sungguh istana yang sangat layak untuk seorang level A.
Hujan semakin lebat saja. Petir terus menyambar2. aku malu sekali. Karena aku takut petir, jadi pas di mobil aku sering tiba2 memeluk Kei saat suara petir menggelegar.
Kei: "Ini kamarmu."
Kana: "Bisakah Kei menemaniku di kamar? A-ku takut petur. Aku punya sedikit trauma dengan petir."
Keima POV
Melihat Kana yang terlihat begitu ketakutan, aku benar2 tak tega untuk membiarkannya di kamar sendiri.
__ADS_1
Kei: "Baiklah. akan kutemani. Aku akan mengambil selimutku dulu di kamarku."
Akupun ke kamarku untuk mengambil selimut dan bantal, tentu nanti aku akan tidur di sofa, tak mungkin aku tidur di kasur yang sama dengan Kana kan?
Setalah semua sudah kuambil, akupun kembali ke kamar Kana.
Kuketuk pintu kamarnya, terdengar siara pelan "masuk". Akupun langsung masuk karena memang pintunya tidak dikunci.
Kulihat Kana menutup tubuhnya dengan selimut sambil berjongkok memeluk lututnya. Ia gemetar, sepertinya sangat ketakutan.
Kei: "Ka-na!" /langsung berlari ke arahnya, kujatuhkan begitu saja semua bawaanku/
Kurengkuh tubuhnya dan segera kudekap ia dalam pelukanku. Aku tak mengira kalau traumanya separah ini.
Kei: "Tenanglah, ada aku di sini. Petir itu tak kan mampu melukaimu. Tenanglah Kana..."
Kana: "A-aku melihat orang2 itu hangus tersambar petir. Aku melihatnya..."
Kei: "Petir hanya akan menyambar orang jahat, kana gadis yang baik, tak akan tersambar petir."
Kuusap rambutnya, kubuat ia merasa senyaman mungkin. Untunglah petirnya sudah tak sekencang tadi. Hujannyapun mulai reda. Tapi aku takut begitu petirnya berhenti, ia akan melepaskan pelukannya dan tak mau kupeluk lagi.
Kana sekarang berbaring menyamping denagn berbantalkan lenganku, ia membenamkan wajahnya ke dadaku sambil tangan kanannya memelukku erat2. Tiba2 ia mendongakkan kepala, matanya yang agak sipit menatapku.
Kana: "Kei, apa boleh?"
Kei: /refleks aku langsung mengangguk begitu saja/
Boleh apa? Aku tidak mengerti.
Kei: "Bo... Hmmmppp..." /belum kulanjutkan pertanyaanku, bibir mungil Kana telah mendarat di bibirku/
Ciuman yang sangat lembut. Seolah seluruh perasaanmua mengalir ke dalam diriku. Akhirnya aku benar2 percaya bahwa ia memang mencintaiku. Aku harus memperjuangkannya. Aku akan memilikinya. Aku akan membahagiakannya.
__ADS_1
Beselang beberapa waktu, Kana melepas ciumannya, mungkin ia merasa kurang nyaman, arena memang posisi kami agak kurang nuaman untuk berciuman. Begitu kana melepaskan ciumannya, aku langsung mengambil inisiatif untuk berada di atas tubuh kana. Kugunakan lututku sebagai tumpuan dan kedua telapak tanganku kugunakan sebagai alas kepala Kana. Kana malah menggigit bibirnya. Aku tak tahan. Kucium bibirnya yang begitu menggoda karena agak basah efek dari ciuman sebelumnya.
"Heemmmppp...." Suara decapan ciuman kami cukup nyaring terdengar. Tak ada penolakan dari Kana. jadi kuasumsikan bahwa iapun menginginkan ciuman ini. Ia malah mengakungkan kedua tangannya ke leherku. Ia mengangkat sedikit kepalanya seolah menginginkan lebih. Akupun segera menurutinya. Kusesapi bibir atas dan bawahnya bergantian, rasanya manis sekali.
Saat aku memunta akses untuk memasuki mulutnya ia melah melepaskan ciumannya. Oh iya. Aku lupa. Kami harus bernafas. Kana tampak hampir kehabisan nafas. Mata sayunya menatapku dengan tatapan yang sangat teduh. tatapan yang rasanya menghipnotisku untuk masuk ke dalam bola matanya. Apakah ini pesona seorang vampir berdarah murni?
Tak menunggu lama, akupun kembali menghujaminya dengan ciuman. Kali ini ciuman yang lebih bergairah dan panas. Ia memberiku akses untuk memasuki mulutnya sehingga lidahku bebas mengeksplor. Kuabsen gigi2nya satu persatu, lidah kami beberapa kali saling membelit, ia mulai terbawa suasana dan mengikuti alur permainan lidahku, ini pertama kalinya bagiku. Jadi akupun masih belajar.
Tubuh Kana mulai bereaksi, sesekali tubuhnya tampak menggelinjang dan mulutnya mengeluarkan suara yang begitu menggoda. Membuatku semakin bergairah.
Takut Kana kehabisan nafas, akupun menyudahi permainanku di sana. Ciumanku sedikut turun ke leher jenjang Kana.
"Huhhhmmm..." sensasi yang kuberikan membuat Kana mulai sedikit mendesah. Tapi sepertinya ia menahan suaranya agar tak terlalu keluar.
Kutinggalkan banyak tanda kepemilikan di leher Kana. Tubuhnya semakin menggeliat dan menggelinjang tak karuan. Sepertinya leher Kana sangat sensitif.
Tiba2 aku mencium bau darah.
Senangnya sudah sampai episode 20.
Ini awal dari kisah romantis penuh perjuangan Keima dan Kana ya...
Akankah mereka bisa sukses meperjuangkan cinta mereka ataukah mereka harus menyarah dengan takdir vampir?
Nantikan di episode2 yang akan datang ya...
See you bye bye...
Ditunggu kritik dan sarannya...
Terima kasih telah membaca cerita sy...
__ADS_1
~ Sera ~