
Catur
Author POV
Keima terpaksa menunda kepergiannya ke Inggris bersama Kana karena tiba2 ayah Kana memajukan pertandingan caturnya.
Karena ayah meminta kei yang menentukan tempatnya. Jadilah kei mengajak ayah kana ke rumahnya yang di tepi danau buatan.
Ayah: "Sepertinya kau sudah cukup mapan diusiamu yang baru 25 tahun."
Kei: "Ini adalah rumah impian sy. Rumah yang kelak sy ingin Kana dan anak2 kami tinggal di sini."
Ayah: "Impianmu masih terlalu jauh Nak. "
Kei: "Ah iya anda benar. Masih ada perjuangan yang panjang bagi sy untuk mendapatkan Kana." /mempersiapkan papan catur dan segala perangkatnya/
Ayah: "Baiklah, kita mulai sekarang ya. Jika kau menang, kau boleh minta satu permintaan kepadaku dan jika kau yang menang, aku bisa meminta satu permintaan kepadamu."
Kei: /menarik nafasnya agak dalam lalu menghembuskannya/ "baiklah."
Pertandingan merekapun di mulai.
Ayah: "Kita sambil ngobrol ya agar tidak bosan."
Kei: "Silahkan Tuan..."
Ayah: "Kenapa kau begitu nekad ingin menikahi putriku?"
Sebenarnya ayah Kana tau kalau demi Kana kei telah lebih dulu membatalkan pertunangannya dengan seorang gadis sahabat masa kecilnya.
Kei: "Karena sy jatuh cinta pada putri anda. Sejak pertama sy melihatnya, sy merasa ia tidak asing bagi sy. Seolah sy sudah sangat sering bertemu dengannya. Setelah pertemuan pertama kami, sy terus memimpikannya. Bahkan sy berapa kali mimpi bercinta dengannya." /ungkap kei jujur/
__ADS_1
Ayah: /agak terkejut/ "Ternyata kau adalah pria yang cukup frontal. Bisa2nya kau cerita tentang mimpimu berhubungan intim kepada ayah sang gadis yang ada di mimpimu."
Kei: /merasa sangat malu, tak mengira, dengan terpecaknya konsentrasi antara main catur dan ngobrol, membuatnya benar2 tak bisa mengontrol ucapannya./ "Ma-afkan sy tuan. Itu hanya sebuah mimpi."
Ayah: "Asal kau tidak melakukannya dalam keadaan sadar saja. Jika itu terjadi, ku bisa membunuhmu." /berbicara tentang membunuh tapi ekspresinya tetap biasa saja. Namun hal tersebut cukup membuat Kei begidik ngeri."
Kei: "Sy tak akan berani jika tanpa persetujuan Kana."
Ayah: "Maksudmu jika Kana bersedia, kau akan melakukannya?"
Kei: "Tentu." /menjawab santai/
Ayah: "Beraninya kau!" /menatap Kei tajam."
Kei: "Ta-tapi anda tenang saja. Kana bilang tak ingin aku menyentuhnya sebelum kami menikah. Dan, kami sudah saling berjanji bahwa tak lebih dari ciuman sebelum menikah."
Ayah: "Hahaha..." /tertawa renyah/ "tenang saja, aku percaya putriku bisa menjaga kehormatannya."
Ayah: "Jadi, apa yang paling kau sukai dari putriku?"
Kei: "Bibirnya" /refleks/ "Mak-sud sy senyuman bibirnya" /gugup, mengarang jawaban/
Ayah: "Hahahaha... aku suka pemuda yang begitu jujur sepertimu."
Kei: "Maafkan sy tuan."
Ayah: "Kei, apakah kau pernah berfikir, 'Seandainya sy adalah darah murni maka segalanya akan jauh lebih mudah?' "
Kei: "Tidak pernah sedikitpun. Karena hadirnya sy adalah karena cinta ayah dan ibu sy yang dipersatukan. Tanpa seorang ayah yang level B dan ibu yang levek A, mungkin tak akan jadi sy. Tak ada yang sy sesali atas ketidakmurnian darah sy."
Ayah: "Bukankah ketika kau adalah seorang berdarah murni, akan sangat mudah bagimu mendapatkan kana?"
__ADS_1
Kei: "Jika sy seorang level A, mungkin kana sama sekali tak akan melirik sy. Karena awal benih2 cinta kami adalah ketika kana menyelamatkan sy yang tengah sekarat."
Ayah: "Jadi kau percaya dengan menentang tradisi leluhur, mengabaikan kemurnian darah, akan menghadirkan kebahagiaan dan masa depan yang baik?"
Kei: "Menurut sy kemurnian darah tetao harus dipertahankan, bagaimanapun keberadaan seorang pure blood sangat dibutuhkan di dunia ini. Namun, jika pernikahan vampir darah murni selalulah karena perjodohan yang mengabaikan perasaan, bukankah itu hanya akan memperpanjang penderitaan?"
Ayah: "Ya kau benar. Seorang darah murni, tentu butuh kebahagiaan pula."
Kei: "apakah anda tidak ingin Kana bahagia?"
Ayah: "Tentu aku ingin dia bahagia, mungkin akulah orang yang paling menginginkan kebahagiaannya. Tapi tentu aku perlu menilai, apakah pria pilihannya benar2 layak dan akan bisa membuatnya bahagia?"
Kei: "Sy mungkin tak bisa menjanjikan kana selalu bahagia. Namun sy akan berusaha terus untuk membahagiakannya."
Ayah: /tersenyum/ "Lebih dari siapapun, Kana pasti begitu ingin menikah dengan pria yang ia cintai. Ia tau betul bagaimana tidak enaknya hidup bersama orang yang tidak kita cintai. Ia sangat tahu betapa merananya menikah tanpa cinta. Karena seprti itulah keluarganya. Ada sebuah cerita yang ingin kuceritakan kepadamu, ibu Kana tidak pernah mencintaiku, bahkan tak pernah menganggapku sebagai suaminya. ia hanya menghormati statusku sebagai ayah dari anaknya." /menarik nafas agak berat/ "Dalam hal ini, ku juga bersalah, karena aku tak tahu bahwa ketika dijodohkan denganku Lily ibunya Kana sebenarnua telah memiliki kekasih. Kekasihnya seorang manusia. Manusia yang terhebat diantara manusia yang lain. Manusia yang dengan usahanya bisa membuat manusia bisa melawan vampir. Saking cintanua Lily kepadanya, bahkan 30 tahun pernikahan kami tak membekaskan apapun di hati Lily, ia seolah telah mematikan hatinya dari segala perasaan simpati, empati atau sekedar rasa kasihan kepadaku. Selama 30 tahun itu pula, aku memendam sakit dari tidak terbalasnya cintaku kepada Lily."
Kei: "Lalu, bagaimana bisa ada Kana?"
Ayah: "aku baru mengetahui bahwa Lily pernah memiliki kekasih manusia adalah setelah pernikahan kami. Ketika aku tau, aku langsung mengajaknya bercerai, karena aku merasa kasihan melihatnya menangis setiap malam, terutama ketika bercinta denganku. Walau ia tak pernah mencintaiku, ialah yang selalu mengajak untuk berhubungan intim, keren tuntutan dari kekuarga kami agar kami segera memberi keturunan. Bagi Lily, dengan berhasil punya anak, membuatnya merasa tak sia2 menikah denganku, karena ia bisa melanjutkan kemurnian darah keluarganya. Dan dia akan menjadi lebih mudah menghindariku ketika sudah punya anak. Setelah punya anak, dia tak pernah mau kusentuh, dia selalu menghindari intraksi berdua denganku. Tapi ia tak pernah mau bercerai denganku dengan alasan putrinya berhak mendapatkan kasih sayang orang tua yang utuh. Bodohnya aku, aku malah sepemikiran dengannya. Satu-satunya alasan untuk kami tetap bersama adalah Kana. Dia begitu ingin Kana segera menikah karena ia ingin segera benar2 terbebas dariku. Kemingkinan kami akan segera bercerai begitu Kana menikah."
Kei: "Sungguh konyol jalan yang anda berdua pilih. Terlalu besar harga yang dibayar untuk menjaga kemurnian darah. Apakah anda berdua tidak pernah menyadari, bahwa pengorbanan kalian berdua itupun melukai Kana, memberinya trauma akan perjodohan."
Ayah: /menarik nafas berat lagi/ "tadinya kami berfikir kana tak tahu apa2 terkait ketidak harmonisan kami. Ternyata Kana tahu banyak hal."
Kei: "Perasaa tak bisa dibohongi, Kana pasti merasa bahwa ayah dan ibunya tan pernah saling berbahagia."
"Skak!"
Ayah: "aku menang." /tersenyuk licik/ "Sepertinya aku berbicara terlalu banyak. Aku pulang dulu ya. Jangan lupa untuk mengabulkan 1 permintaanku ya. Aku pergi dulu." /menteleportasikan dirinya ke tumah/
Kei: /termenung, masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia hadapi. Ia terbawa suasana dalam cerita sehingga tak terlalu fokus ke permainan caturnya. Bisa-bisanya ia di kalahkan dengan begitu mudah./
__ADS_1