Putri Vampir

Putri Vampir
38. Begitu Hancur


__ADS_3

**Begitu Hancur


*Kana POV***


Begitu sampai di kamar, aku tidak menemukan Keima di dalam kamar, aku hanya melihat Kasur yang sudah sangat berantakan. Kulihat ada bercak darah di kasurnya, memang tidak banyak tapi terlihat jelas karena spreynya berwarna putih. Pikiranku sudah ke mana-mana, rasanya aku tak bisa berfikir sehat kembali. Air mataku sudah sangat deras tak terbendung.


Tiba2 kembali ada pesan masuk di HPku.


Tepat foto seperti yang ada di ada di hadapanku, di foto tersebut kulihat suamiku yang berbaring dengan peluh yang begitu banyak di tubuhnya, dengan foto bercak darah itu yang di zoom. Kali ini tak hanya foto, melainkan ada pesannya.


“Keima mungkin suamimu, tapi ternyata ia lebih terarik untuk menikmati tubuhku. Malam ini aku telah memberikan kesucianku kepadanya. Rahimku begitu hangat karena benih-benihnya, lihat saja, aku akan mengandung anak Keima.”


Seketika aku langsung membanting HPku. Akupun langsung berteriak sekencang-kencangnya. Rasanya saat ini semua kebahagiaan telah diambil dariku. Aku benar2 kehilangan semuanya.


Aku membanting semua yang bisa kubanting. Aku frustasi, akupun merasa bersalah karena ini semua juga kesalahanku. Aku yang meninggalkannya lebih dulu. Tapi apakah hanya karena aku meninggalkannya sehinga ia menghabiskan waktu dengan wanita lain? Apa sebenarnya ia memang begitu mencintai mantan tunangannya itu?


Tak lama orang-orang mulai berdatangan.


Karin POV


Ketika aku ke luar dari kamar hendak ke kamar Daniel untuk mengantarkan HPnya yang ketinggalan, aku mendengar teriakan seorang wanita. Suaranya berasal dari arah kamar Kana dan Keima, akupun langsung berlari ke sana. Kulihat sudah ada seorang pelayan yang membuka paksa pintu kamar Kana dan Keima.


Kulihat banyak barang pecah di kamar itu.


Karin: “Tolong semuanya, biarkan ini menjadi privasi sy dan keluarga sy, maaf telah mengganggu waktunya, mohon untuk semuanya kembali ke kamar masing-masing.”


Aku meminta pelayan untuk memanggil ayah, ibu dan Daniel. Aku mencium bau hal-hal yang tidak beres telah terjadi.


Karin: “Kana, tenanglah, kakak di sini…” /kudekati ia dan kupeluk erat/


Kana terus berteriak dan berusaha menyingkirkan tubuhku dari tubuhnya.


Karin: “Jangan seperti ini. Ini tak akan menyelesaikan masalah. Tenanglah. Ceritakan semuaya kepada kakak…”

__ADS_1


Akhirnya ia tak lagi berteriak dan berusaha meningkirkan tubuhku, ia membalas pelukanku. Sekarang tangisannya begitu terdengar memilukan. Entah kenapa hatiku menjadi begitu sakit ketika mendengarkan tangisannya. Sampai-sampai aku ikut menangis.


Tak lama kemudian Daniel datang.


Daniel: “Apa yang terjadi, kenapa semua begitu berantakan?”


Karin: “Akupun belum tahu, Kana belum mau mengatakan apa-apa. Daniel, carilah HP Kana, mungkin kita akan menemukan jawaban di sana.”


Daniel pun memunguti HP Kana yang beberapa komponennya terlepas dan berantakan. Ia mencoba memasangnya kembali.


Daniel: “Ah ini bisa menyala.”


Danielpun memeriksa isinya, melihat beberapa pesan yang terakhir kali masuk.


Daniel: “Keima breng***! Tunggulah di sini. Aku akan menemukannya dan mebunuhnya.”


Entah bagaimana mungkin karena terlalu tertekan dan terlalu lama menangis, hingga Kana pingsan. Akupun meminta tolong pelayan untuk mengangkat tubuh kana ke kasur.


Akupun mengambil HP Kana, membuka pesan-pesan terbaru.


Total semuanya ada 3 foto yang dikirim oleh nomer tidak di kenal ke Kana. Foto pertama, ialah foto Keima yang sedang berpelukan dengan seorang wanita di atas ranjang, bila dilihat dari foto itu tampak mereka berdua sedang dalam kondisi telanjang. Foto kedua, ialah foto leher hingga bagian dada atas wanita itu yang dipenuhi dengan ruam-ruam kemerahan. Foto ketiga adalah foto bercak darah di kasur. Hanya foto yang ketiga yang disertai pesan.


“Keima mungkin suamimu, tapi ternyata ia lebih terarik untuk menikmati tubuhku. Malam ini aku telah memberikan kesucianku kepadanya. Rahimku begitu hangat karena benih-benihnya, lihat saja, aku akan mengandung anak Keima.”


Pantas saja Kana menggila, ini memang keterlaluan, bagaimana mungkin hal seperti ini terjadi di hari bahagia Kana. Terlepas dari siapa yang melakukan ini, Kei sengaja melakukannya atau tidak, ini memang sangat menyakitkan. Jika aku jadi Kana, mungkin aku akan sama gilanya.


Akhirnya ayah dan ibu pun datang, aku langsung menceritakan semuanya. Ibu langsung menangis.


Ibu: “Seharusnya aku tak pernah merestui pernikahan ini. Seharusnya aku tak begitu mudah percaya kepada pria itu. Lalu sekarang bagaimana? Bagaimana Kana akan menghadapi kehidupan pernikahannya ke depannya?”


Ayah: “Kita harus mendengarkan penjelasan Keima dulu sayang, jangan gegabah. Bisa saja ini hanya akal-akalan orang-orang yang tidak menyukai keluarga kita bahagia.”


Karin: “Iya ibu, Karin rasa Keima bukanlah pria yang seperti itu.”

__ADS_1


Ibu: “Putriku yang malang… ia sangat kasihan… bagaimana nasib pernikahannya?”


Kana: “Aku akan bercerai dengan Keima.” /ucapnya lantang, ternyata Kana sudah bangun/


Entah ke mana semua kepedihan dan deritanya tadi. Kali ini ia tampak sangat marah, wajahnya datar, air matanya seolah mengering, hanya ada amarh di wajahnya.


Ayah: “Kana, jangan gegabah Nak, bisa saja foto-foto itu hanya rekayasa. Kita harus mendendengarkan penjelasan Keima dulu.”


Kana: “Terlepas dari benar atau tidak foto-foto itu, sekarang Keima bahkan tak ada di sini, ia bukanlah pria yang lemah yang bisa dengan mudah diperdaya, apa lagi difoto dengan seperti itu.”


Tiba-tiba Daniel datang dengan membawa Keima.


Daniel: “Aku menemukannya dalam kondisi tak sadarkan diri di kamar paling ujung. Oh ya, di kamar paling ujung itu settingannya persis seperti kamar ini.”


Kei: “Ayah, Ibu, Kana, biarkan aku menjelaskan semuanya…”


Keima POV


Entah apa yang telah terjadi, aku terbangun karena dibangunkan oleh Daniel, itupun ia harus menyiramku dengan air satu gayung. Kepalaku terasa sangat pusing, ingatan terakhirku adalah aku menunggu Kana keluar dari kamar mandi.


Mendengarkan semua cerita dari Daniel membuatku langsung terfokus pada Kana. Pasti Kana sangat terpukul. Aku tak menyangka Reina akan punya rencana sebusuk ini. Entah obat apa yang telah ia berikan kepadaku hingga aku tertidur seperti orang mati.


Ibu: /langsung menampar Keima/ “Pria ba**! Tega sekali kau melakukan hel seperti ini kepada putriku. Kau pikir keluarga kami begitu mudah direndahkan? Kau pikir keluarga kami tak bisa menghancurkan keluargamu? Sekarang pergilah! Tak ada yang perlu kau jelaskan, putriku menghendaki perceraian darimu.”


Kei: “Ti-dak Kana, kau tidak bisa mengambil keputusan seperti itu sayang, dengarkan dulu penjelsanku.”


Kana: “Jika kau ingin berkomunikasi, berkomunikasilah dengan pengacaraku. Semua di antara kira selesai begitu kau menjamah tubuh jalang itu.”


Kanapun langsung meneleportasikan dirinya entah ke mana. Saat Keima dan Daniel hendak menyusul ayah menghentikannya.


Daniel: “Jangan dikejar, ia sangat terpukul. Biarkan ia sendiri dulu. Lagipula kau tak punya bukti apapun untuk membuktikan ketidakbersalahanmu. Kita harus mengumpulkan bukti-bukti.


Ayah: “Daniel benar Kei, percuma saja kau berusaha menjelaskan semuanya kepada Kana saat ini, ia sedang merasa sangat sedih, kecewa dan begitu hancur. Ia tak akan mau mendengarkan apapun yang kau katakan.”

__ADS_1


Akupun mendengarkan pendapat Daniel dan ayah. Kurasa apa yang mereka katakan semuanya benar.


__ADS_2