
Siang yang Indah
Keima POV
Aku terbangun ketika hari sudah siang, kulihat Kana masih nyenyak di sampingku. Kenapa ia tambak sangat lelah? Aku mencoba merasakan apa yang ada di sekitarku. Ternyata sepanjang malam ia membuat dinding pelindung dan terus berusaha mempertahankannya hingga sekarang, pantas saja tenaganya snagat tekuras.
Kei: /kuusap pipinya lembut/ “Sayang, hentikan pertahananmu. Dari sini, aku yang akan mengambil alih.”
Kana: “Kau sudah bangun?” /mengucek matanya/
Kei: “Kenapa tidak membangunkanku saat ingin membuat perlindungan?”
Kana: “Sayang tidurnya terlalu nyenyak.”
Kei: “Maafkan aku… tidurlah lagi sayang, aku akan mandi lalu membuatkanmu makanan.”
Kana: “Aku ingin sup iga.”
Kei: “Ummm… aku tak telalu yakin dengan sup iga buatanku. Tapi akan kucoba.”
Kana: “Aku tidur lagi ya… mungkin 2-3 jam. Aku masih merasa sangat lelah…”
Kei: “Silahkan sayang…” /kukecup bibirnya sekilas lalu kurapikan selimutnya/
Tak lama, ia langsung kembali tertidur, kukenakan boxerku lalu kuambil satu per satu pakaian kami yang berserakan. Malu sekali kalau ingat apa yang tejadi malam tadi. Bisa-bisanya aku tetidur begitu cepat. Seharusnya kupastikan dulu bahwa Kana tertidur dengan baik.
Akupun segera mandi lalu menyapkan beberapa file untuk dibawa ke kantor besok.
Setelah kurasa Kana cukup lama tidurnya, akupun menyiapkan makanan untuknya. Seperti pesanannya, aku membuat sup iga.
Setelah semuanya siap, kuputuskan untuk membangunkan Kana.
Kei: “Sayang, yuk bangun, sup iganya sudah siap.”
Kana: /membuka matanya perlahan/ “huuummm… aromanya sedap sekali…”
Kei: “Mau mandi dulu apa makan dulu?”
Kana: “Aku sangat lapar, bolehkah aku mandi dulu sayang?”
Kei: “Tentu boleh.”
__ADS_1
Kana langsung bangun dan berlari ke arah tempat makan. Langung saja tubuhnya yang masih telanjang bulat itu terekspos langsung.
Kei: “Sayang, apa kau ingin menggodaku?” /aku langsung menyahut selimut dan mengejar Kana/
Kana: “Memangnya kenapa?”
Ia langsung menunduk memperhatikan tubuhnya.
Kana: “Ah, maafkan aku.” /ia langsung reflex menutupkan kedua tangannya ke dada dan merapatkan pahanya.”
Kei: “Tenang saja, aku sudah melihat semuanya.” /melilitkan selimut ke tubuh Kana/ “Sekarang aman, aku takut tiba-tiba menerkammu jika kau telanjang seperti tadi sayang…”
Kana pipinya sangat merah, jelas ia merasa sangat malu.
Kei: “Sudahlah, bukankah Kana mau makan? Ini sayang makanlah…”
Kuambilkan Kana semangkuk sup. Mungkin juga untuk menutupi rasa gugup dan malunya, ia langsung menyantap supnya.
Kei: “Bagaimana? Enak?”
Ia hanya berkata “Hu.um” sambil menganggukkan kepalanya.
Kei: “Pelan-pelan saja makannya sayang, tak akan ada yang merebut makananmu.” /kuusap puncak kepalanya lembut/
Kei: “Mau nambah lagi?”
Kana: /menggeleng/ “Tidak sayang, aku kenyang sekali. Terima kasih supnya enak. Tapi lain kali mungkin harus dikurangi garamnya sedikit karena aku tak terlalu suka asin.”
Kei: “Apakah masakanku tadi keasinan?”
Kana: “Untuk orang lain mungkin tidak, tapi untukku iya.” /tesenyum/ “Aku mandi dulu ya? Aku malu, suamiku sudah rapi dan tampan eh aku malah masih kucel dan bau acem kayak gini.”
Kana pun bergegas mandi. Agak lama ia di kamar mandi. Akupun selesai mengganti sprei, selimut dan segala yang ada di kasur. Tenyata darah yang Kana keluarga tadi malam banyak, aku yakin aku sudah telalu kasar sehingga ada bagian lain yang turut terobek. Syukurlah Kana adalah vampire kalau manusia mungkin aku perlu membawa istriku ke rumah sakit untuk mendapatkan beberapa jahitan.
Kana: “maaf, membuatmu harus mengerjakan semuanya sayang.”
Kei: “Tak perlu minta maaf, kita harus bekerja sama bukan? Apa itumu masih sakit sayang?” /mendekati kana/
Kana: “Tenang aku adalah vampire, sel-selku akan beregenerasi dengan cepat. Sudah tidak sakit sama sekali.”
Kei: “Syukurlah. Maaf tadi malam aku agak kasar. Aku telalu bahagia dan menjadi kalap karena merasa senang sekali menjadi yang pertama.”
__ADS_1
Kana: “tentu saja sayang yang pertama, aku bahkan tak pernah punya kekasih sebelumnya. Tadi malam itu yang keberapa bagimu?”
Kei: “Itu juga yang pertama.”
Kana: “Bohong. Rasanya kau begitu ahli.”
Kei: “Itu karena aku membaca sayang, aku tak ingin mengecewakanmu di malam pertama kita.”
Kana: “apakah aku mengecewakanmu?”
Kei: “Tentu tidak.”
Kana: “Syukurlah… Oh iya, sayang tidak ke kantor?”
Kei: “Hari ini khusus untukmu sayang. Seminggu ke depan mungkin aku akan sangat sibuk. Jadi hari ini aku ingin menghabiskan waktu bersamamu.”
Kana: “Benarkah?” /tampak sangat senang/ “Kalau begitu kita akan berjalan-jalan ke mana?”
Kei: /mendekatkan bibir ke telinga Kana lalu berbisik/ “Bukankah menghabiskan waktu di ranjang jauh lebih menarik?”
Kana POV
Menarik? Menarik apanya. Dibandingkan dengan rasa nikmatnya tentu bagiku semalam rasa sakitnya lebih besar. Dan sekarang ia memintaku menghabiskan seharianku di ranjang, tidak, tidak, tidak.
Kana: “Dasar mesum!” /mencubit pinggang Keima/
Kei: “AWW! Sakit sayang… Kenapa? Tidak mau seperti semalam lagi? Apa sayang takut sakit?”
Kana: “Huu.umm… rasanya sakit sekali. Kau seperti menghujamikun dengan seribu pisau.”
Kei: “Orang bilang itu hanya yang pertama sayang. Kedua dan seterusnya akan bekurang sakitnya hingga nanti sudah tak sakit lagi dan sayang hanya dapat merasakan kenikmatan.”
Kana: “Benarkah?”
Kei: “Tapi sebelum itu kita harus sering-sering melakukannya. Agar *****mu itu tebiasa dengan kehadiran senjataku.”
Kema POV
Pipi kana kembali menjadi sangat merah. Sepertinya aku harus berhenti menggodanya sebelum ia benar2 menjadi kepiting rebus.
Ya benar saja, tak lama kemudian aku sudah berhasil membujuknya, kubuat ia mencapai puncaknya berkali-kali, ia tampak masih sedikit kesakitan namun ia bisa mengontrolnya. Walau ia masih pasaf dan seperti aku main sendiri, tak apa. Lama kelamaan pasti ia akan belajar dan bisa saling beradu denganku.
__ADS_1
Menjelang sore, kami berdua malah tertidur dengan saling berpelukan. Rasanya sangat damai…