Putri Vampir

Putri Vampir
42. Mulai Menyingkirkan Ego


__ADS_3

Mulai Menyingkirkan Ego


Keima POV


Kana baru terbangun dari tidur panjangnya pada malam hari berikutnya, jadi dia tertidur 2 hari 1 malam.


Bagi vampir seperti kami itu hal yang lumrah karena kami tidak terlalu butuh makan, jadi tidur lama hingga seminggu itu hal yang biasa.


Saat ini kana sudah terbangun tapi masih berbaring di tempat tidurnya.


Kana: "Ouch" /memegangi kepalanya/ "Kepalaku pusing sekali."


Akupun berhampirinya dengan lebih dulu meletakkan beberapa butir tablet darah ke dalam segelas air.


Kei: "pasti karena beberapa hari ini sayang tidak meminum darah ataupun tablet darah."


Kana: /masih memegangi kepalanya sambil sedikit memijit ringan/ "Iya. Aku sangat sibuk." /menerima segelas air yang sudah menjadi berwarna merah efek dari tablet darah. Langsung meminumnya, sejenak matanya memerah/


Kei: "Pasti sayang juga lapar kan? Ada burger, mau?"


Kana: "Bolehlah..." /menerima burger dari keima lalu memakannya/ "Sayang sedang mengerjakan apa? Tugas kantor?"


Kei: "Iya. Aku punya banyak PR. Sepertinya besok aku harus menyelesaikan beberapa urusan di Korea."


Kana: "Korea? Aku tak tahu kalau keluargamu punya perusahaan di sana."


Kei: "Ini perusahaan properti milik keluarga ibu. Sudah setahun ini aku yang mengurusnya. Sebenarnya aku bisa mengurusnya dari jauh. Tapi sedang ada masalah di sana."


Kana: "Sebaiknya sayang segera ke sana. Karema itu perusahaan keluarga, pasti perusahaan itu sangat penting."


Kei: "Sayang ikut aku ke sana kan?"


Kana: /berfikir/ "Besok ya? Aku tak bisa, aku ada janji ketemu dengan manager suatu perusahaan yang menawarkanku kotrak."


Kei: "Perusahaan Prancis?"


Kana: "Hu.um. Sebenarnya bisa diurus oleh Janet. Tapi Janet sedang kuberi cuti."

__ADS_1


Kei: "Sayang, bagaimana mungkin kau memneri Janet cuti saat sayang sendiri bahkan belum menikmati waktu sama sekali?"


Kana: "Aku sudah cukup tidur 2 hari ini. Kurasa aku sudah kembali fit."


Ya itulah Kana. Baginya kariernya sangat berharga. Mungkin lebih berharga dari pernikahan kami. Wajar sih. Usianya baru mendekati 21 tahun. Ia masih kurang eksplor diri sehingga ia masih ingin bebas ini itu. Kurasa aku memang harus memahaminya.


Kei: "Apakah sayang bisa mengambil libur di bulan depan?"


Kana: "Mungkin bisa kalau sehari atau dua hari. Kenapa sayang?"


Kei: /tersenyum masam/ "Kita belum menikmati hari pernikahan kita sama sekali."


Kana: "Kenikmati yang seperti apa?"


Kei: /berbisik/ "Aku bahkan belum mengambil mahkotamu."


Kana: /blush/ "i-tu..."


Kei: "Sayang belum siap? Aku baru akan melakukannya ketika sayang benar2 siap." /mengusap puncak kepala kana lembut/


Aku sadar menikahi seorang gadis yang masih sangat muda. Aku harus membuatnya benar2 menyerahkan dirinya sendiri kepadaku dengan tanpa paksaan.


Kei: "Apapun untukmu sayang..."


Kana POV


Kana: "Sayang, bolehkah lusa aku menyusulmu ke Korea?"


Kei: "Tentu boleh. Aku akan sangat senang. Tapi apa kau yakin sayang?"


Kana: "Hu.um... akan kuusahakan."


Kei: "Bagaimana dengan pekerjaanmu?"


Kana: "Ada kalanya di mana aku harus lebih mementingkan suamiku bukan? Aku takut, karena keseringan berjauhan, suamiku jatuh ke pelukan wanita lain."


Kei: /mengusap lembut pipi Kana/ "Kau tau sayang, aku bukan suami yang seperti itu."

__ADS_1


Kana: "Aku mandi dulu ya sayang... lanjutkan pekerjaanmu." /tersenyum lalu pergi ke kamar mandi/


Beberapa saat aku berada di kamar mandi. Memastikan bahwa aku sidah benar2 'bersih'. Jika memang keima memintanya malam ini, aku akan pasrah, itu adalah kewajibanku sebagai seorang istri. Tapi begitu mengingat padatnya agenda besok, rasanya jangan malam ini. Besok janji temuku jam 9 pagi. Ah sudahlah, yang terjadi biarlah terjadi.


Saat aku keluar dari kamar mandi, tampak keima sedang menerima telepon penting.


Kei: "Apa?! Bagaimana bisa? Siapa yang melakukan itu?"


Entah sedang ada masalah apa. Wajahnya memerah, tampak bahwa ia sangat marah.


Kei: "Aku akan ke sana malam ini." /mematikan teleponnya/


Kana: "Ada apa? Kenapa mukamu masam begitu sayang?" /memdekati keima lalu langsung memeluk keima/ "Aku takut, melihat wajahmu yang seperti itu, ada apa?"


Kei: "Salah satu sepupu ibuku berulah. Ia hendak mengambil alih perusahaan property keluarga yang ada di Korea."


Kana: "Mungkin ia tidak percaya kepadamu sayang, ia tak percaya kau bisa mengangkat perusahaan dari keterpurukan. Kamu harus membuktikan bahwa kamu bisa sayang..."


Melihat suamiku yang sepertinya sedang ada masalah yang berat mungkin kali ini aku harus benar2 menyingkirkan segala ego pribadiku.


Kana: "Sayang mau ke Korea hari ini? Hum?"


Kei: "Iya."


Kana: "Aku akan pergi denganmu."


Kei: "Bagaimana dengan janjimu?"


Kana: "Tak ada yang lebih penting dari suamiku." /sedikit kueratkan pelukanku/


Kei: "Terima kasih. Aku akan meminta sekretarisku mengurus semuanya."


Kana: "Terserah saja. Kali ini aku ikut kemanapun engkau pergi sayang..."


Kei: "Sekalipun kita ke Korea untuk waktu yang tidak dapat ditentukan?"


Kana: "Iya."

__ADS_1


__ADS_2