Putri Vampir

Putri Vampir
5. Darah


__ADS_3

Darah


Kana POV


Lea: "Apakah Kana sedang mencari sesuatu? Perlu kubantu?" /tanya Lea membuyarkan lamunanku/


'Syukurlah Lea tak bisa membaca pikiranku' /batinku/

__ADS_1


Kana: "ah Lea, kenapa aku tak bisa merasakan hawa keberadaan Keima di manapun?" /akhirnya aku tak kuasa untuk tidak menanyakan hal ini/


Ekspresi wajah Lea tampak kaget, mungkin tak mengira aku akan bertanya tentang Kei.


Lea: "Oh, keima, dia sedang mendapatkan tugas penting dari Arai. Dari tadi siang dia sudah pergi. Apakah Kana ada perlu dengannya?"


Kana: "Ah tidak, aku hanya penasaran saja. Sudah dulu ya, aku ke kamar dulu."

__ADS_1


di kamar


Seperti biasanya aku menghabiskan malam dengan membuat desain pakaian. Aku punya target untuk mengadakan pameran dalam waktu 6 bulan ke depan, jadi aku harus bekerja keras. Sepanjang malam kuhabiskan waktuku untuk mendesain. Karena aku vampir, tqk ada kantuk di malam hari, yang ada malah sangat energik dan bersemangat.


Jam menunjukkan pukul 04.00, aku mencoba merasakan aura orang-orang asrama, nampaknya hanya ada sedikit orang saja, mungkin hanya 5 orang termasuk aku, Araipun belum kembali. Tapi aku merasakan aura ke 6. Sepertinya ada yang datang. Aku mencoba mengenali auranya, seperti aura Keima tapi kenapa lemah sekali. Akupun langsung berteleportasi ke halaman depan menghampiri sesosok yang baru datang itu.


Betapa kagetnya aku ketika kujumpai keima tergeletak di tanah dengan berlumuran darah. 'Ia vampir, bahkan dari auranya tadi siang, dia sangat kuat, lebih kuat dari level B pada umumnya. Kenapa dia bisa terluka sampai seperti ini? Siapa yang melukainya?' Tanpa berfikir panjang aku langsung menteleportasikan ia bersama diriku ke kamarku. Kubaringkan ia di atas kasurku. Kucoba menyembuhkan lukanya dengan kekuatanku. Tapi entah kenapa seliruh lukanya langsung menutup kecuali luka di dadanya, darahnya terus mengucur. Oh tidak, dia bisa mati jika seperti ini terus. Tapi aku tak tau bagaimana cara menolongnya. Kudengar suara Kei merintih2 kesakitan, kubuka kancing kemejanya, kuletakkan tanganku dilukanya yang bedarah, kucoba sekali lagi menghentiman pendarahannya. Kurasa aku bisa sedikit mengurangi volume darah yang keluar, tapi tidak kunjung berhenti.

__ADS_1


Tiba2 Keima membuka matanya, tapi ada yang bebeda, matanya merah, setauku vampir itu matanya merah dan akan keluar taringnya ketika tidak dapat mengontrol dirinya dan begitu menginginkan darah. Mungkinkah? Ah benar saja, Kei memunculkan taringnya, menarikku hingga terjatuh di atas tubuhnya, dan langsung menancapkan taringnya ke leherku. Saking kagetnya aku tidak sempat melawan, sebenarnya aku bisa melepaskan diri darinya. Tapi entah kenapa aku tidak tega. Mungkin darahku bisa membantunya untuk pulih, jadilah aku pasrah. Dia menghisap darahku sangat kuat, seolah ia sangat kehausan. Entah kenapa, bukan sakit yang kurasakan, malah seolah ada sesuatu yang berdesir dalam diriku, jantungku berdetak sangat cepat. Entah perasaan apa ini. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Rasanya aku ingin merengkuh tubuh pria ini dan memekuknya. Ia sedang menghisap darahku, tapi entah kenapa justru perasaan nyaman yang ada di hatiku. Berselang berapa lama, hisapannya serasa mengendur, dan kemudian sepertinya ia pingsan. Aku langsung bergegas bangun, menyembuhkan luka bekas gigitan di leherku, mengecek luka Kei. Ternyata luar biasa, pendarahannya telah berhenti dan lukanya berangsur menutup kembali.


Syukurlah... aku merasa sangat lega, kuselimuti Kei, lalu aku bergegas hendak mengganti pakaianku yang sudah belepotan kena darah Kei dan darahku sendiri. Tapi kepalaku terasa pusing. Aduh, betapa banyaknya darahku yang ia hisap sampai sempoyongan gini. Untungnya aku punya stok darah di penyimpanan. Kuambil 2 kantong dan langsung kuminun begitu saja seolah seperti anak kecil yang mengenyot susu bantal. Habis 2 kantong darah aku merasa sangat mengantuk dan akhirnya tertidur.


__ADS_2