
Inikah Surga?
Keima POV
Rasanya aku tak pernah terbangun dari tidur dengan kondisi sesegar ini. Apakah ini surga? Ah, bagaimana mungkin vampir sepertiku layak untuk masuk surga. Kupandangi sekelilingku, bukanlah tempat yang kukenal. Kulihat ada sofa besar dan nampak sesosok gadis sangat cantik tertidur di sana, wajahnya tampak sangat polos dan menawan, bibirnya yang mungil tampak sangat menggoda. Apakah ia bidadari? Kebaikan apa yang telah kuperbuat semasa hidupku sehingga aku layak mendapatkan bidadari secantik itu? Akupun mengerjapkan mataku, mencoba mencari jawaban tentang keberadaanku. Kubangkit dari kasur. Mataku langsung terbelalak begitu aku sadar dan mengingat semua yang terjadi tadi malam. Termasuk ketika aku menghisap darah Kana. "Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Aku terus mengutuk dan memaki diriku sendiri atas apa yang telah terjadi. Kudekati wanita yang telah menyelamatkan nyawaku itu. Kupandangi ia dengan seksama. Aduh, semakin dipandang, semakin cantik saja kamu ini. Mungkin aku benar2 jatuh cinta kepadamu. Tapi setelah apa yang terjadi, ku semakin merasa tidak pantas.
Kusingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya dengan lembut, aku tak ingin membangunkannya. Entah setan apa yang menjerumuskanku, tiba2 kumendekatkan wajahku ke wajahnya, kukecup lembut bibir mungilnya. Manis sekali. Ini adalah bibir wanita pertama yang kucium, ini adalah ciuman pertamaku. Apakah bibir setiap wanita selalu semanis ini? Ah tidak, kurasa hanya bibirnya yang semanis ini. Seketika itu aku tersadar dengan apa yang kulakukan, namun ketika aku hendak melepas ciumanku dan mengangkat wajahku. Kana malah mengalungkan tangannya ke leherku. Dan malah memperdalam ciuman kami. Kupikir dia terbangun, tapi ternyata tidak, dia masih nyenyak, ini semacan ngelindur. Bodohnya aku, ku malah menikmatinya, kusesap bibirnya, bahkan kumencoba untuk mengulumnya. Betapa gilanya aku. Aku berbuat hal seperti ini kepada seorang wanita yang tidur kelelahan karena memberikan banyak darahnya kepadaku. Lama berselang, kesadaranku kembali, ku perlahan berhasil melepaskan tangan Kana dari leherku dan mengakhiri ciuman yang rasanya mulai memanas itu. Entahlah, mungkin Kana sedang bermimpi berciuman dengan Arai atau bagaimana. Rasanya sedih, jika ia menganggapku sebagai Arai. Ya, aku tak ada artinya jika dibandingkan dengan Arai, tak ada harapan sama sekali untukku.
Hari sudah semakin gelap, Kana pasti akan segera bangun, agar Kana tak mencurigaiku, aku pun berpura2 tidur kembali di kasur.
Sekitar pukul 19.00 Kana benar2 bangun. Buru2 kupejamkan mataku.
Kana: "Kau sudah sadar?" /tanya Kana sambil bergegas berdiri mebghampiriku/
__ADS_1
Kei: "i-iya. Bagaimana anda bisa tau kalau aku sudah sadar?"
Kana: "Kau tentu tidak bisa menipu seorang level A sepertiku."
Kei: "maafkan kelancanganku."
Kana: "ah sudahlah, tidak apa2. bagaimana perasaanmu? Masih ada yang sakit?"
Kei: "aku tak pernah merasa sebaik ini. Semua berkat anda." /duduk/
Kei: "Ba-baiklah Kana. Aku sudah tidak apa2. Ini semua berkat darah Kana yang luar biasa. Maafkan atas kelancangan saya mengambil darah Kana begitu banyak."
Kana: "hmmm... kau kan memang sedang tidak terkendali, jadi kumaafkan."
__ADS_1
Kei: "Semudah itu?" /wajah heran/
Kana: "Iya, lantas kenapa? Kau mau dihukum?" /pura2 melotot dan mendengus kesal/ Rasanya tercabutnya nyawamupun tak akan menjadi hukuman yang setimpal.
Kei: /begidik ngeri/ "Ampunilah aku Kana. Bagaimana mungkin Kana yang menyelamatkan nyawaku hendak mencabut nyawaku?"
Kana: /tertawa renyah/ "hahaha... tenang saja. Aku hanya bercanda. Ummm..." /tampak sedang berfikir/ "bagaimana untuk balas budi, kau mentraktirku ke restoran steak terenak di kota ini akhir pekan nanti?"
Kei: /berfikir sejenak/ "Ok. Asal Arai mengizinkan."
Kana: "Baiklah."
Kei: "Sepertinya aku harus ke kamarku. Dan segera melaporkan apa yang terjadi kemarin kepada Arai. Apakah aku boleh menceritakan seluruh kejadian ini ke Arai?"
__ADS_1
Kana: "No! Apa kau cari mati? Kau bisa saja dijatuhi hukuman mati oleh asosiasi vampir ketika mereka mengetahui perbuatanmu kepadaku. Biarlah ini menjadi rahasia kita? Ok? /meletakkan telunjuknya dibibir, sambil tersenyum sangat manis/
'Gawat nih, lama2 di sini, pertahananku bisa jebol.' Batinku. Tanpa banyak babibu lagi, kupun segera kembali ke kamarku, membersihkan diri dan menyiapkan laporan untuk diserahkan ke Arai.