Putri Vampir

Putri Vampir
32. Orang Tua dan Anak


__ADS_3

Orang Tua dan Anak


Author POV


Kini Karin sedang di kamar ibunya. Karin melihat ibunya sangat berantakan, dari kemarin tidak mau makan dan matanya sembab karena kelamaan menangis.


Karin: “Sebenarnya apa yang ibu tangisi? Batalnya perjodohan Kana? Ataukah ayah yang akan meningalkan ibu?”


Ibu: “Ibu hanya merasa ayahmu telah merusak perjuangan 27 tahun ibu. Rasanya ibu ingin marah, tapi mungkin ibu juga tak pantas untuk marah.”


Karin: “Hari ini perjuangan ibu rusak dan sia-sia tapi putri ibu dapat hidup bahagia bersama pria yang ia cintai. Apakah menurut ibu itu bukanlah perjuangan yang setimpal?”


Ibu: “Bagaimana kau tau bahwa ia akan bahagia bersama pria itu? Jika kau saja tidak mampu melihat masa depan. Dulu keluarga ibu selalu meyakinkan ibu bahwa semua vampir berdarah murni itu memang harus menerima perjodohan dan kelak merek akan bahagia bersama anak-anak mereka dan mereka tidak mengecewakan nenek moyang mereka.”


Karin: “Setidaknya ibu tidak memaksa. 15 tahun yang lalu bukannya ibu sudah hampir kehilangan Kana? Tapi pria yang tak ibu sukai itulah yang menyelamatkan Kana ibu. Dialah yang memberikan hidup kepada Kana. Ia pantas mendapatkan Kana ibu. Ia mungkin tak bisa menjamin Kana selalu bahagia tetapi ia akan selalu berusaha melindungi Kana dan kebahagiaan Kana. Jangan hanya karena ibu tak berhasil melindungi cinta ibu di masa lalu, ibu ingin hal yang sama terjadi pada Kana. Lantas apa bedanya ibu dengan orang tua ibu dulu?”


Ibu: /air matanya semakin membanjiri wajahnya/

__ADS_1


Karin: /memeluk ibu/ “Sekarang, apapun yang ibu lakukan mungkin ibu tak akan bisa menggagalkan pernikahan Kana, ibu mungkin akan kehilangan semuanya bahkan ayahpun akan meninggalkan ibu, tidakkah ibu ingin mempertahankan pernikahan ibu? Jika ayah sampai benar2 menceraikan ibu tentu perjuangan ibu akan benar2 sia2 bukan?”


Ibu: “Jika itu memang keputusan ayahmu, apa yang bisa ibu lakukan. Mungkin ayahmu sudah lelah dengan keegoisan ibu.”


Karin: “Keputusannya ada di tangan ibu. Jika ibu berfikir untuk kembali ke Papa Tatsu setelah cerai dari ayah, saat ini juga aku katakana itu tidak mungkin ibu. Papa benar2 sudah tidak mencintai ibu lagi, papa benar2 sudah mencintai ibu. Mungkin jika ibu sampai bercerai dengan ayah, papa justru akan sangat kecewa kepada ibu, tak menutup kemungkinan papa malah membenci ibu.”


Di paviliun, Kana tengah bercakap-cakap dengan ayahnya.


Kana: “Apa yang akan ayah lakukan setelah bercerai dari ibu?”


Ayah: “Tentu ayah akan menantikan kehadiran cucu ayah dong…” /merangkul kana/


Ayah: “Satu-satunya alasan ayah tetap bertahan adalah kamu nak. Ayah dan ibu ingin Kana tetap mendapatkan kasih sayang yang utuh dari orang tuanya.”


Kana: “Kalau Kana meminta ayah untuk berjuang sekali lagi, apakah ayah mau?”


Ayah: “Sekarang keputusannya ada di tangan ibumu, jika ibumu memang menyetujui perpisahan maka mungkin itulah takdirnya. Tak ada lagi yang bisa ayah lakukan. Ada masanya ayah merasa sangat lelah dan akhirnya menyerah seperti ini.”

__ADS_1


Kana: “Ayah…” /memeluk ayahnya/ “Terima kasih telah begitu mengutamakan Kana. Terima kasih atas segala perjuangan ayah selama ini. Kana tahu sebenarnya pasti berat bagi ayah untuk berpisah dari ibu kan? Walau ibu tak pernah mencintai ayah, ibu telah menjadi bagian dari hidup ayah dan selama ini telah menyatu sedemikian rupa sehingga pasti keputusan ini bukanlah keputusan yang mudah bagi ayah kan?”


Ayah: “Walau keputusan ini tak mudah, harus tetap ayah ambil karena tidak mungkin ayah dan ibu hidup tertawan seperti ini terus meneruskan. Mungkin dengan berpisah kami bisa saling meraih kebahagiaan masing-masih. Dan juga inipun kesempatan bagi ibumu untuk dapat bersatu kembali dengan Tatsu kan?”


Kana: “Apapun keputusan ibu nantinya, Kana tetap berharap ayah dan ibu tak akan berpisah.”


Ayah: “Ayah sudah merestui pernikahanmu dengan Kaima. Ayah rasa dia memang pemuda yang baik, iapun sangat jujur, ia kan menjadi suami yang baik untukmu.”


Kana: “Sebaiknya ayah jangan memikirkan itu dulu ya? Fokus dulu kepada rumah tangga ayah sendiri.”


Ayah: “Baiklah-baiklah… Karin mana nak?”


Kana: “Ia sedang ada urusan sebentar, mungkin sedikit lagi akan ke sini.”


Karin pun akhirnya datang.


Karin: “Apakah kalian bersenang-senang tanpaku?”

__ADS_1


Kana: “Ah tidak, mana mungkin begitu.”


Akhirnya mereka bertiga menghabiskan waktu bersama, dengan berkuda dan memanah, walau Karin tak berani menaiki kuda sendiri, ia cukup senang dengan menaiki kuda bersama ayahnya. Mungkin kebahagiaan mereka akan sangat lengkap ketika ibu mereka mau menurunkan egonya sedikit saja, mau mengalah sebentar saja. Mau jujur terhadap perasaan terdalamnyaa.


__ADS_2