
**Ikut ke Kantor
*Author POV***
Pada hari berikutnya Kana bangun duluan, menyiapkan sandwich untuk dirinya dan Keima. Sepertinya Keima juga sudah selesai mandi.
Keima ke dapur, langsung memeluk Kana dari belakang, mencium tengkuk Kana lembut.
Kana: “Iiish, sedikit lagi ini selesai, tunggulah di tempat makan.” /melepaskan tangan Keima yang melingkar di perutnya/
Kei: “Kan mau manja-manja dulu.”
Kana: “nanti tidak selesa-selesai.”
Kei: “Oke2. Aku duduk dan menunggu dengan sabar.” /duduk di tempat makan/
Tidak lama Kana selesai menyiapkan sarapan.
Kana: “Ini sayang, makanlah.” /duduk lalu menggigit apel yang sudah dicuci/
Kei: “Tumben? Biasanya tak suka buah dan sayur.”
Kana: “Aku harus mulai memperhatikan kulitku, aku harus menjaga kesegarannya. Aku tak mau kulitku pucat, nanti aku kalah besinar dengan manusia.”
Kei: /tetawa renyah/ “Bagaimana bisa kalah dengan manusia hem? Bahkan vampire saja tak ada yang mengalahkanmu sayang…”
Kana: “Ah, gombalanmu basi sayang. Bahkan Karin-nee saja lebih cantik dariku kan?”
Kei: “ummmm…”
Kana: “Jujur saja.”
Kei: /menyahut apel dari tangan Kana langsung menggigitnya/ “Kalau boleh jujur, Karin memang lebih cantik darimu sayang, kulitnya seputih salju, namun justru itu kekurangannya, Karin terlihat sangat pucat.”
Kana: “Apelku…. Ish, kei kan bisa ambil apel yang lain masih banyak tuh. Jangan ambil apelku dong…”
Kei: “Apel bekas gigitan Kana rasanya lebih enak.”
Kana: “Gombal lagi.” /ku mengupas jeruk lalu memakannya/ “Mau jeruk juga?”
Kei: /menggeleng/ “Kalau jeruk kan tidak ada yang bekas gigitan Kana.”
Kana: /menepok jidat/ “Pagi ini sayang kenapa sih? Kehabisan obat? Atau lupa minum obat? Aneh sekali/”
Kei: “Mulai sekarang, Keima seperti inilah yang akan selalu menemanimu sayang…”
Kana: /tersenyum/ “Sudah ah gombalan2nya simpan dulu. Sayang makan dulu.”
Akhirnya mereka berdua pun makan.
/selesai makan/
__ADS_1
Kana: “Hari ini aku ikut ke kantormu ya?”
Keima POV
Kei: /tersedak/ “Uhukk, uhukk.”
Kana: “Ini minum.” /memberikan segelas air putih./
Sebenarnya aku tak siap membawa Kana ke kantor, suasana kantor sangat tidak bersahabat, sekalipun para pegawai tak berpihak kepadaku, tapi hampir seluruh pemegang saham tak menganggapku. Aku takut kana tak akan merasa nyaman di kantor.
Kei: “Bagaimana kalau sayang di apartemen saja?”
Kana: “Aku akan sangat bosan. Aku ingin ikut saja sayang. Aku janji tak akan mengganggu pekerjaanmu. Aku akan mengerjakan pekerjaanku sendiri,”
Kei: “Tapi bejanjilah untuk tidak bersedih ketika ada perlakukan2 yang kurang menyenangkan di kantor.”
Kana: /berfikir sejenak lalu mengangguk yakin./ “Sayang, kita ini suami istri, sudah selayaknya kita saling berbagi masalah. Jangan menyimpan semuanya sendiri.”
Kei: “Aku hanya tak ingin sayang terlalu khawatir.”
Kana: “Jadi, kita ke kantor jam berapa?”
Kei: “Jam 10. Aku ada meeting jam setengah 11, jadi jam 10 kita harus sudah di kantor.”
Kana: “Berarti setengah 10 kita jalan ya? Kita naik apa?”
Kei: “Tentu motor.”
Kana: “Ah baiklah. Seharusnya aku tak perlu bertanya.”
Kana POV
Begitu memasuki kantornya, mulai terdengar desas-desus karyawati tukang gosip.
Karyawati 1: “Lihat itu Pak Hiroshi. Ia membawa perempuan dari negaranya. Mungkinkah itu sekretaris barunya?”
Karyawati 2: “Iya, Pak Hiroshi kemarin memecat sekretaris lamanya karena bersekongkol dengan Tuan Yuuki membocorkan informasi penting perusahaan.”
Karyawati 3: “Hari ini Pak Hiroshi tampan sekali ya? Setelan jasnya begitu cocok. Aku rela melemparkan diriku ke dalam pelukannya…”
Karyawati 4: “Aku yakin Nona Reina sangat beruntung memiliki tunangan seperti Tuan Hiroshi.”
Aku ini vampire, bisa mempertajam pendengaranku kapanpun aku mau. Tentu aku bisa mendengar seluruh isi percakapan para karyawati itu dengan jelas. Aku refleks langsung menggandeng tangan Keima. Keima langsung menoleh ke arahku.
Kei: /kaget/ “Kenapa tiba2?”
Kana: “Tidak apa2.”
Tiba-tiba.
Bugg!
__ADS_1
Ada yang bertabrakan dengan Keima, karena postur tubuh Kei cukup tinggi dan besar, sesosok perempuan yang bertabrakan dengan Keima itu pun terjatuh dan seluruh dokumen yang ia bawa berserakan.
Kei: /menunduk hendak membantu perempuan itu merapikan dokumen/
Kana: “Tidak usah, aku saja yang membantunya. Sayang masuk saja dulu ke dalam ruangan.”
Akupun membantu perempuan itu memunguti dokumen yang tercecer.
Kana: “Maaf. Kami berjalan tidak hati-hati, sehingga benabrakmu.”
Karyawati 5: “Biar kubereskan sendiri.” /merampas semua dokumen yang ada di tanganku/
Kana: “Lain kali kau perlu trik yang lebih baik untuk menggoda seorang lelaki terhormat. Trikmu terlalu murahan.” /kuberdiri lalu berlalu mengikuti Kei masuk ke dalam ruangan/
Karyawati 1: “Hei Hana, kau sengaja kan menabrak Pak Hiroshi? Kau cari-cari perhatian sekali.”
Oh, jadi perempuan yang nekad menabrak Kei namanya adalah Hana.
Hana: “Bagaimanapun aku adalah kandidat tekuat sekretaris Pak Hiroshi berikutnya.”
Karyawati 2: “Ngimpi kamu. Pak Hiroshi membawa seorang gadis tadi, mungkin itulah sekretarisnya.”
Karyawati 3: “Kurasa tidak begitu Hyona, gadis itu tampak masih sangat muda, usianya mungkin masih 20 tahun, Pak Hiroshi tak akan begitu ceroboh dalam memilih sekretaris, kurasa ia akan memilih yang berpengalaman.”
Dan karyawati 2 ternyata namanya Hyona.
Karyawati 1: “Apapun itu, orang yang Pak Hiroshi pilih pastilah orang yang sangat dipercayanya.”
Akhirnya aku memutuskan untuk mengabaikan obrolan mereka lagi. Dasar karyawati2 tukang gosip.
Kini aku sudah di dalam ruangan Keima.
Kana: “orang-orang di kantor tidak ada yang tahu kalau sayang sudah menikah?”
Kei: “Belum, hari ini aku akan mengumumkannya di rapat pemegang saham. Sayang ikut masuk ke ruang rapat ya?”
Kana: “Baiklah.”
Kei: “Kenapa wajahmu tak seceria tadi? Hum? Ada yang mengganggu pikiranmu.”
Kana: /menggeleng/ “hanya saja karyawanmu semuanya bermulut besar.”
Kei: “Ohhh jadi itu yang membuatmu tiba2 menggengam tanganku tadi sayang?”
Kana: “hehehe… iya.”
Kei: “Padahal tadi siapa yang bilang jangan terlalu mengumbar kemesraan.”
Kana: “Habis ucapan mereka membuat telingaku panas.”
Kei: “Abaikan saja. Mulut mereka gatal kalau tak bicara sembarangan.”
__ADS_1
Kana: “Mereka tahunya kamua dalah tunangan Reina. Harus bagaiamana lagi aku untuk menghapus semua tentang Reina dalam hidupmu?”
Ku mendekat ke Kei, kutangkupkan kedua tanganku ke kedua pipi kei lalu akupun mencium bibir Kei lembut.