
Peragaan Busana
Kana POV
Janet: "Selamat ya Kana, akhirnya hari ini tiba juga, kuharap akan ada perusahaan ternama yang langsung mengontrak kita."
Janet adalah asistenku. Sebenarnya dia adalah temanku. Ia adalah vampir level B. Aku sengaja memilihnya karena kupikir bersama dengan sesama vampir akan membuatku lebih terbuka dan leluasa.
Kana: "Iya Janet, ini semuapun berkat bantuanmu. Terima kasih telah menghandle beberapa hal selama aku sibuk dengan persiapan pernikahanku."
Janet: "Tak masalah. Asal kau memberikanku cuti untuk berlibur dengan kekasihku begitu acara ini berakhir."
Kana: "Itu sih pasti. Ini untukmu dan kekasihmu." /memberikan dua tiket berlibur ke Dubai ke Janet/
Janet: "Ini beneran Kana? Kau yakin memberikan paket liburan yang begitu istimewa kepadaku?"
Tiba2 pikiranku melayang, itu sebenarnya adalah liburan yang sengaja kusiapkan untukku dan keima, aku belum pernah ke Dubai, aku ingin ke Dubai bersamanya. Tapi sekarang itu sudah tidak mungkin. Daripada sia2, mending kuberikan kepada Janet.
Janet: "Kana... kana... jangan melamun"
Kana: /tersadar/ "Ah maaf, terimalah saja."
Janet: "Terima kasih kana..." /langsung memelukku/
Kana: "Sama2..."
__ADS_1
Janet: "Apakah hari ini suamimu itu akan datang Kana? Aku tak bisa datang di acara pernikahanmu. Jadi aku sangat penasaran dengan wajahnya. Kau bahkan tak pernah mengenalkannya kepadaku."
Aah, sudah kuduga ia akan menanyakan ini. Aku belum cerita kepadanya tentang apa yang terjadi. Bagaimana mungkin aku bisa bercerita tentang kepiluanku, bercerai bahkan tak sampai sehari setelah menikah, tak sempat bermalam pertama, ah sungguh miris memang.
Kana: "Kurasa ia tak akan datang, ia sangat sibuk. Tapi ayah dan ibuku akan datang."
Janet: "Yaaaahhh... sayang sekali. Apakah ia tak bisa menyisihkan waktunya sehari saja untuk mendukung istrinya. Kalian berdua benar2 sama2 maniak kerja. Kau Kana meninggalkannya sehari setelah pernikahan, dan dia tidak datang untuk memberi dukungan pada projek besarmu. Entah pernikahan seperti apa yang sudah kalian bentuk. Kurasa aku tak akan pernag menikah."
Aku seolah tertohok dengan ucapan Janet. Akupun mungkin setelah ini tak akan menikah lagi Janet, aku trauma. Pernikahan hanya memberikanku rasa sakit.
Untunglah aku pribadi yang sangat ambisius terhadap cita2 sehingga aku bisa menyisihkan segala perasaanku demi fashion show seluruh hasil karyaku sendiri. Aku bisa memanage otakku untuk tak memikirkan Kei. Bahkan ibupun mendukungku untuk tetap fokus kepada impianku ini.
Aku senang semuanya berjalan lancar, banyak yang hadir, beberapa perusahaan tekstil dan busana yang kuundang, dosen2ku di kampus, teman2ku, beberapa artis dan model. Kurasa untuk pengalaman pertama, peragaan kali ini bisa dianggap sukses.
Aku tinggal memunggu umpanku dimakan oleh salah satu atau salah banyak perusahaan. Kalau banyak perusahaan yang tertarik, tentu akan memudahkanku untuk memilih kontrak yang paling pas.
Ayah dan ibu juga datang...
Begitu acara selesai, akupun sedikit berbincang dengan ayah dan ibu.
Ibu: "Selamat ya sayang, senang melihatmu begitu bersinar hari ini..."
Ayah: "Ternyata putri ayah memang benar2 hebat. Semua karyamu bagus sekali. Mungkin ayah harus punya perusahaan fashon sendiri untuk bisa mengorbitkanmu. Akan sayang jika bibit unggul sepertimu dipanen oleh orang lain."
Kana: "Perusahaan ayah sudah terlalu banyak. Ayah fokus saja dengan perusahaan2 yang sudah ada, kembangkan dan buka cabang yang banyak di luar negeri. Bekerja di perusahaan sendiri tak akan terlalu seru Yah, aku ingin orang lain mengakui karyaku lebih dulu. Suatu saat nanti, akulah yang akan membuka perusahaan baru atas namaku sendiri."
__ADS_1
Ayah: "Benar2 sama seperti ibunya."
Ibu: "Anak ibu pastilah seperti ini. ayah jangan mengecilkan perjuangan Kana dengan merekrutnya ke perusahaan sendiri. Bekerja di berbagai perusahaan akan memberinya banyak pengalaman, sehingga ketika ia punya perusahaan sendiri, ia sudah siap untuk menjadi lebih sukses dari perusahaan2 tempatnya bekerja dulu."
Ayah: "Baiklah2... kali ini ibu dan anak menang."
Janet: /tiba2 datang/ "Maaf menganggu waktunya. Ada perwakilah perusahaan yang ingin bertemu denganmu Kana."
Kana: /terkejut/ "Secepat ini? Baiklah. Ayah ibu, aku pergi dulu ya... ayah n ibu bisa menungguku di apartemen. Da..." /kukecup pipi ayah dan ibu bergantian, lalu akupun pergi bersama Janet/
Kana: "Tamu itu menungguku di mana? Di resto?"
Janet: "Tidak, beliau menghendaki ruangan yang lebih privat jadi aku memesan sebuah ruang pertemuan untuk 4 orang."
Kana: "Baiklah..."
Janet: "Pria yang menunggumu itu sangat tampan Kana, aku rela putus dengan pacarku jika ia mah berkencan denganku. Aku akan dengan suka rela merangkak ke dalam pelukannya Kana..."
Kana: "Janeeeettt... jaga mulutmu... atau aku akan melaporkanmu ke ke Steve."
Janet: "Jangan Kana, ia sangat posesif, ia bisa memberikan hukuman mengerikan kepadaku. Membayangkannya saja aku merinding."
Kana: "Hukuman seperti apa yang membuatmu begigik ngeri seperti itu?"
Janet berusaha menghundar untuk menjawab pertanyaanku ini. Ah mungkin memang ia tak ingin menjawabnya. Akhirnya kamipun tiba di ruang pertemuan.
__ADS_1
"Bisakah nona Janet meninggalkan kami berdua?"
Rasa2nya suaranya sangat kukenal...