
Ayah dan Anak
Author POV
di rumah Keima
Kei tak henti2nya menarik busur panahnya. Begitu busur panahnya habis, berganti dengan pistol, tembakan demi temkan ia tujukan ke boneka kayu. Rasanya dengan begini, perasaannya menjadi sendikit lega.
Tiba2 ayah kei datang menghampiri.
Ayah: "Kenapa dari tadi tembakanmu meleset? Panahmupuntak sejitu biasanya." /duduk sambil menyedot sebatang rokok/
Kei: /Langsung menghentikan aktivitasnya dan menghampiri ayahnya/
Ayah: "Mau rokok?"
Kei: "Tidak untuk ayah saja. Kan ayah tau aku tidak merokok."
Ayah: "Siapa tau kau mau, lumayan mengubah suasana hati."
Kei: "Aku tidak butuh racun seperti itu.,"
__ADS_1
Ayah: "Hahahahaha..." /tertawa lepas/ "ok2. Ayah tak ingin anak ayah menghisap udara beracun." /mematika rokoknya/ "Ok. Ayah siap mendengar ceritamu.
Kei: "Apakah level B seperti kita, memang tak berdaya menghadapi level A?" /berbicara tanpa nenatap ayahnya, matanya menerawang jauh ke langit/
Ayah: "Secara teori begitu."
Kei: "Prakteknya?"
Ayah: "Juga begitu. Hahahaha..." /kembali tertawa lepas/
Kei: "Aku bertanya serius!" /mendengus kesal/
Ayah: "Untuk ayahmu ini yang memang level B dari nenek moyang. Ayah memang tak berdaya di hadapan level A. Itulah mengapa aku selalu menjadi bahan olok2an ayah ibumu. Kadang ayah merasa kesal. Tapi jika dipikir2 lagi, itulah kenyataannya. Level B tak bisa mengalahkan level A." /tersenyum kepada Kei/
Ayah: "Tunggu dulu, ayah belum selesai bicara Kei."
Kei: /mengurungkan niatnya, duduk di samping ayahnya/
Ayah: "Ayah tidak mendidikmu untuk menyerah pada takdir. Mungkin sudah saatnya sistem kasta berdasarkan kemurnian darah ini berakhir. Ayah ingin menununjukkan pada dunia bahwa putra ayah bisa melakukannya."
Kei: "Ternyata aku tak bisa Yah. Bahkan di hadapan Arai saja aku tak bisa berkutik."
__ADS_1
Pletakk
Ayah: /menjitak kepala Kei hingga berbunyi/ "Tentu saja kau kalah jika dengan tangan kosong. Gunakan otak dan kemampuanmu. Kau bisa menggunakan panah, bisa menggunakan pistol, bahkan kau ahli menggunakan pedang dan tombak. Sayangnya kau tidak pernah menggunakan kemampuanmu itu untuk melawan vampir lain."
Kei: "percuma saja jika itu senjata biasa."
Ayah: "Kau belum tau teknologi terbaru yang membuat senjata anti vampir bisa dipegang oleh vampir? Mereka menambahkan lapisan khusus pada pegangannya. Kurasa itu cocok untukmu."
Kei: "di mana aku bisa mendapatkan senjata seperti itu Yah?"
Ayah: "Tidak semudah itu. Kamu harus membenahi dirimu dengan ilmu bela diri yang mumpuni. Kuasailah beberapa jenis ilmu bela diri." /ingat/ "oh iya kau sudah menguasainya bukan? Maka pertajamlah."
Kei: "Ayah, bolehkan aku mengurus bisnis ayah yang di luar negeri? Aku ingin meninggalkan Jepang untuk beberapa tahun ayah."
Ayah: "Hum, kalau begitu kau bisa ke Ingris. Ada perusahaan kita di sana. Dan ada teman lama ayah, seorang manusia yang telah lama meneliti tentang senjata anti vampir. Dan kebetulan ibumu sedang di sana. Kau bisa tinggal bersama ibumu"
Kei: "Baiklah. Kurasa aku sedikit menyukai Inggris."
Ayah: "Tentu saja kau sangat menyukai Inggris. Kau bahkan lahir di sana."
Kei: "Baiklah ayah, besok aku akan berangkat ke sana. Tolong ayah hubungi ibu ya..." /berlari pergi ke kamar mandi. Dia sangat bersemangat karena merasa punya semangat baru/
__ADS_1
Ayah: "Kei... kei... tunggu! Kau bahkan belum menceritakan masalahmu!"
Kei: "Tunggulah Kana, aku akan memperjuangkanmu sekali lagi." /batinnya/