
Berdamai
Kana POV
Karena kekesalanku kepada Keima, aku berusaha untuk tidak menghubunginya selama ia pergi. Aku memesan beberapa bahan makanan menggunakan jasa kurir online. Seperti biasanya pasti yang kubeli adalah daging sapi, itu favoritku. Aku memang tidak jago memasak, tapi adalah beberapa masakan yang kubisa. Kali ini aku hanya memanggang daging dan menggoreng kentang.
Aku sudah makan jam 8 tadi, kusisakan satu porsi untuk Keima, siapa tahu ia tak sempat makan. Sekarang sudah jam 10 tapi keima tak kunjung pulang. Walau aku masih kesal padanya, aku tetap saja khawatir.
Kuisi waktuku dengan membuat beberapa desain baru.
Tepat pukul 23.00, terdengar suara orang membuka pintu, kurasakan aura Keima. Ah, dia pasti pulang, langsung kubungkus tubuhku dengan selimut, akupun pura-pura tidur.
Sepetinya ia langsung membuka tudung saja di atas meja makan dan langsung makan. Setelah makan, sepertinya ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Berselang beberapa waktu, Keima akhirnya keluar dari kamar mandi, aku hanya merasakan gerakan dan langkah kakinya, aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut untuk mengelabuhinya bahwa aku sudah tidur.
Sepertinya ia melangkah mendekati ranjang, ia mengganti lampu kamar dengan lampu tidur.
Ia membuka selimut hingga sampai dadaku, sehingga ia bisa melihat wajahku, posisiku sekarang memunggunginya, kurasakan ia memasukkan tubuhnya ke dalam selimut.
Kei: /berbicara lirih/ “Maaf, sudah membentakmu. Seharusnya aku memaklumimu karena umurmu yang masih terlalu muda.” /ia memelukku dari belakang, ia kecup tengkungku lembut/ “Seharusnya aku tak melampiaskan kekesalanku kepadamu.” /ia kembali mengecum tengkukku, rasanya ada sengatan yang menjalar ke seluruh tubuhku, tapi aku berusaha tetap pura-pura tidur/ “Maaf, ku belum bisa membahagiakanmu di awal pernikahan kita ini, aku justru memberikan banyak rasa sakit.”
Agh, kurasa aku tak boleh pura-pura tidur lagi.
Kana: “Aku juga bersalah. Dengan sayang menyalahkan diri sayang seperti itu, membuatku semakin merasa bersalah…” /kubalikkan badanku dan langsung kupeluk ia erat/
Kei: /kaget/ “Kukira beneran sudah tidur.”
Kana: “Bagaimana aku bisa tidur, aku sangat mengkhawatirkanmu. Sayang sama sekali tak memberi kabar padaku.” /kueratkan pelukanku/
Kei: “Maaf, aku sangat sibuk tadi.”
Kana: /kulepaskan pelukanku, kutatap wajah lelahnya/ “walau terlihat sangat lelah dan penat, wajahmu masih saja terlihat tampan, itu curang sekali.”
Kei: “Curang bagian mananya? Hm?” /ia mengecup bibirku berkali-kali/
Kana: “Ihh, nakal.” /kupalingkan wajahku agar ia berhenti menciumi bibirku/
__ADS_1
Kei: “Jangan menghindar…”
Kana: “Ummm, sayang, tentang yang tadi siang. Maafkan aku. Aku sudah mengambil keputusan tanpa sepengetahuanmu. Bolehkan aku menunda kehamilan untuk sementara waktu? Paling tidak setahun ini saja. Bolehkah? Sungguh alasannya bukan karena anak darimu tidaklah berharga tapi aku baru saja memula karierki, setidaknya biarkan aku menikmatinya setahun ini. Lagi pula dalam setahun ke depan, aku belum bisa menetap bersamamu di UK, aku masih butuh tinggal di Paris untuk mengasah kemampuanku.”
Kei: “Beneran ya, hanya setahun? Aku ingin punya banyak anak untuk memperkuat keluarga Hiroshi. Sekalian lanjutkan kuliahmu saja sayang, kau bisa ambil S2. Bagaimana?”
Kana: “2 tahun ya? Tak apa memangnya jika menunda punya anak 2 tahun?”
Kei: “Tidak, tidak, Kana harus lulus dalam waktu 1,5 tahun. Bagaimana?”
Kana: “Ok baiklah.”
Kei: “Tapi ingat, setelah setahun, Kana harus melepas alat kontrasepsi, apapun itu. Semester terakhir hamil tentu tidak apa kan?”
Kana: /berfikir keras/
Kenapa pada akhirnya aku juga yang terpojok. Kukira ia mengalah padaku dngan memberiku kesempatan melanjutkan kuliah, eh ternyata sama saja.
Kana: “aku bertanya dulu, kenapa sayang tiba-tiba menawariku untuk melanjutkan kuliah?”
Bagaimana mungkin? Ia paham betul mengenai aku.
Kana: /tertawa/ “Kamu memang sangat memahamiku sayang… Tapi ada satu syarat lagi. Kan satu tahun dari sekarang aku harus melepas segala jenis alat kontrasepsi kan? Nah tapi jika aku tak kunjung hamil, mohon untuk tidak telalu menuntut, melakukan program ketat atau mengajakku ke dokter dsb. Biarlah semua berjalan secara alami hingga aku selesai kuliah, setelah kuliahku selesai, semua terserah kepadamu.”
Kei: “Ok, deal. Kita berdamai ya? Tak ada lagi bahasan mengenai ini, tak ada lagi tawar-menawar mengenai ini. Ini adalah keputusan kita berdua yang harus kita sampaikan kepada keluarga kita agar mereka pun tidak terlalu menuntut. Oke?”
Kana: “Oke!” /kami saling berjanji dengan saling melingkarkan jari kelingking.”
Akupun tersenyum kepadanya tampaknya ia pun puas dengan kesepakatan ini.
Kei: “Beri aku waktu 2 bulan, aku akan menyerahkan semua urusan di UK kembali kepada ibuku dan aku akan menemanimu di Paris, ku akan mengambil S2 juga.”
Kana: “S2 lagi?”
Kei: “Aku akan mengambil jurusan politik.”
Kana: “terserah kau saja sayang… aku senang kau mau mengalah denganku untuk sementara tinggal di Paris. Terima kasih…”
__ADS_1
Kei: “Satu lagi, aku mau ranjang di kamar apartemenmu di ganti.”
Aku merasa bingung, apa salahnya dengan ranjangku? Kenapa harus diganti?
Kana: “Ummm… boleh, tapi apa alasannya?”
Kei: “Ranjang itu terlalu sempit, akan susah bagiku berguling di sana. Sayang atau aku bisa jatuh jika terlalu seru.”
Keima POV
Tampaknya Kana sadar dengan apa maksudku. Pipinya kini bersemu merah.
Kana: “Dasar mesum!” /ia menonjok dadaku manja/
Kei: “Hahahaha…”
Kana: “Aku baru tahu kenapa ranjang kita di sini begitu besar.”
Kei: “Aku sudah berfikir 10 langkah ke depan sayang…”
Kana: “Kita bahkan belum pernah melakukannya sekalipun. Weeekk…” /kana menjulurkan lidahnya kepadaku/
Kei: “tunggu ya aku akan memakanmu. Kau akan minta ampun nanti.”
Aku mengelitikinya, karena gerakanku dan kana yang tak karuan, tersingkaplah selimut yang dikenakan Kana.
Kana POV
Tanpa kusadari tersingkaplah selimut yang sedari tadi kukenakan. Keima langsung menatapku tanpa berkedip, ia tampak menelan ludahnya.
Kei: “Sa-yang… apa malam ini kau hendak menyerahkan tubuhmu padaku?”
Kana: /mengangguk/
Aku hanya mengenakan lingerie, seperti ini…
__ADS_1