Putri Vampir

Putri Vampir
9. Undangan Makan Malam


__ADS_3

Undangan Makan Malam


Kana POV


Sudah sebulan aku di asrama. Tapi aku jarang sekali melihat Arai. Bahkan akhir-akhir ini akupun sangat jarang melihat Kei. Dia tampak sangat sibuk. Aku hanya ditemani oleh Lea.


Lea: "Kana, nanti malam Arai mengajakmu makan malam di ruangan pribadinya." /mengabari dengan antusias/


Kana: "Benarkah?"


Lea: "Iya benar. Alangkah bahagianya menjadi dirimu Kana, bisa menjadi kekasih seorang Arai Takahashi. Semua wanita mengidamkan berada di posisimu."


Kana: "Bagaimana mungkin kalian ingin bersama seorang pria kaku dan dingin seperti balok es itu? Sejujurnya aku lebih suka pria yang supel dan hangat."


Lea: "aku kenal seorang pria yang seperti itu, hanya saja biasanya pria yang supel dan hangat bukanlah seorang darah murni."


Kana: "Iya kau benar. Pria2 berdarah murni cenderung terlalu berwibawa sehingga tampak kaku sekali."


Lea: "Bagaimanapun kaulah wanita paling beruntung Kana. Ok, sekarang kita luluran yuk agar nanti kamu fresh saat bertemu Arai. Kamu harus mempersiapkan diri untuk bertemu kekasihmu itu. Kamu harus memberikan penampilan terbaik. Ehem, siapa tau... /berbisik/ kau akan kehilangan mahkotamu malam ini.


Kana: "Hus! Kau pikir aku semurahan itu? Kau pikir juga Arai pria yang kurang ajar?"

__ADS_1


Lea: "maafkan mulut lancangku ini Kana, ku hanya bercanda. Hanya saja, todak ada seorangpun yang pernah memasuki ruangan Arai selain Keima dan seorang pelayan khusus. Kali ini Arai mengundangmu ke sana, tentu akan ada hal luar biasa yang terjadi."


Kata-kata Lea terus terngiang-ngiang dalam pikiran Kana. Ia belum siap jika apa yang dikatakan Leas adalah benar. Lagipula aku belum mencintainya. Kurasa dia juga belum mencintaiku. Bagaimana mungkin bisa berbuat seperti itu tanpa cinta?


malam hari di ruang pribadi Arai


Sudah tersedia berbagai macam makanan olahan daging. Mulai dari steak, bacon, hingga gyutan. Semuanya tampak enak dan menggoda. Suasananyapun pas seperti suasana makan malam romantis.


Arai: "Makanlah sebelum aku membicarakan sesuatu denganmu"


Kana: "Baiklah"


Akupun mulai menyantao beberapa makanan. Semuanya terasa sangat enak. Seandainya suasananya lebih santau dan tak setegang ini, mungkin akan terasa lebih nikmat. Entah kekuatan seperti apa yang dimiliki oleh pria dihadapanku ini sehingga ia memiliki aura yang semengintimidasi ini. Auranya sangat kuat. Sampai aku saja yang juga level A, tak kuasa melawan atau menolak kehendaknya.


Kana: "Apa kau membaca pikiranku?"


Arai: "Jadi benar ya? Aku tidak membaca pikiranmu. Semua jelas dari ekspresimu."


Kana: "Ah maaf, aku hanya belum terbiasa bersama pria yang memikili aura menyeramkan seperti dirimu."


Arai: "Oh, jadi aku menyeramkan ya?"

__ADS_1


Kana: "Ah bukan begitu maksudku. Sudahlah lupakan saja." /mengelap mulut dengan tisu/ "Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"


Arai: "To the poin saja, aku ingin mengundur pertunangan kita. Mungkin sebaiknya kita bertunangan setelah kau kita lulus saja. Aku akan lulus 3 bulan lagi. seharusnya kita menikah 3 bulan lagi bukan? Tapi kau baru akan lulus 9 bulan lagi. Maka biarlah kita bertunangan 9 bulan lagi saja." /ekspresi datar/


Kana: "Tapi kenapa? Bukankah waktu pertunangan kita sudah ditentukan dari jauh2 hari? Kenapa tiba2 kau ingin menundanya?"


Arai: "aku tahu kau belum siap kan? Sebaiknya kau nikmati saja waktumu sekarang-sekarang ini. Setelah bertunangan apa lagi setelah menikah, tentu Kana tak akan bisa sebebas ini."


Aku memperhatikan ekspresi wajah Arai, aku tak menemukan keanehan di sana. Aku penasaran tentang alasan sesungguhnya dari permintaannya ini. Aku yakin aku hanya dijadikan alasan. Tapi kenapa aku tak melihat sedikitpun ekspresi kebohongan atau ekspresi meragukan dari wajahnya. Alakah pria di hadapanku ini adalah seorang pembohong sejati?


Arai: "Tolong sampaikan keputusanku ini kepada orang tuamu. Jika aku sempat aku akan berkunjung ke kantor ayahmu untuk menyampaikan langsung."


Kana: "Baiklah. Aku akan menyampaikannya. Apakah aku boleh kembali ke kamarku sekarang."


Arai: "Satu hal lagi. Jangan pernah mengharapkan kehangatan dariku. Mulailah beradaptasi dengan sikap dinginku. Karena aku tak mungkin menjadi seperti harapanmu. Aku mengucapkan ini agar kelak kau tak terlalu kecewa."


Kana: "setidaknya belajarlah untuk tersenyum tuan balok es." /memegang kedua ujung bibir Arai dengan kedua tangan, menariknya ke atas membentuk senyuman/ "setidaknya belajarlah untuk tersenyum." /meneleportasi diri ke kamar/


di kamar Kana


Dasar pria miskin ekspresi. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu. Memangnya apa yang aku harapkan dari pria sepertinya?

__ADS_1


Tapi aku bersyukur, aku belum yakin dengan perasaanku. Tadinya aku ingin memohon padanya untuk menunda pertunangan. Untungnya dia memikirkan hal yang sama denganku. Setidaknya 9 bulan ini aku bisa benar-benar fokus menyelesaikan kuliah dan memahami perasaanku yang sebenarnya.


__ADS_2