Putri Vampir

Putri Vampir
44. Kekesalan Keima


__ADS_3

Kekesalan Keima


Kana POV


Kami pun akhirnya tiba di sebuah apartemen mewah ukuran minimalis, dengan satu kamar, ruang tamu sekaligus ruang tengah segaligus dapur menyatu, kamar mandinya pun minimalis. Kurasa aku menyukainya. Ranjangnya cukup besar sehingga sangat nyaman ditempati olehku dan Keima.


Kana: "Kau membeli apartemen ini sayang?"


Kei: "Tidak, aku hanya menyewanya selama 1 bulan. Tapi jika kau menyukainya, aku akan membelinya sayang..."


Kana: "Tidak usah membelinya. Lagipulang siapa yang akan menempati ketila kita kembali ke paris atau UK."


Kei: "Iya kau benar. Bagaimana? Suka kah sayang?"


Syukurlah keima sudah biasa saja ketika tiba di apartemen ini. Dia sudah tidak badmood lagi karena George. Mungkin karena tadi ia berhasil membawaku pergi dari bandara sangat cepat tanpa bertemu dengan George.


Kana: "Aku sangat suka. Sangat pas untuk kita sayang... Terima kasih... " /mengecup pipi keima singkat/


Kei: "Kurang sayang... pipi yang satunya dong..."


Cup...


Akupun langsung mengecup pipi kei yang satunya.


Tiba2 keima langsung merengkuh tubuhku, ia menciumi kedua pipiku, hidungku, dahiku kedua mataku dan bibirku tanpa terkecuali.


Kei: "sudah seminggu lebih ku menahan rasa untuk bisa merengkuhmu sayang... aku benar2 tersiksa jauh darimu. Aku tak akan memaafkan Re-"


Aku langsung meletakkan satu jari telunjukku di bibir keima.


Kana: "Jangan menyebut namanya. Itu bisa merusak moodku."


Keima langsung memelukku. Aku refleks meremas kemeja bagian belakang keima.


Kana: "Aku takut dengan obsesi perempuan itu... aku bahkan hampir kehilanganmu."

__ADS_1


Kei: "Mulai sekarang aku akan selalu bersamamu sayang... percayalah padaku bahwa di hatiku hanya ada kamu..."


Karena perjalanan ke Seoul lebih dari 10 jam, selisih waktu di sini dan tempat tinggalku adalah 19 jam. Jadi sekarang waktu di sini adalah siang hari.


Kana: "Oh ya, kau akan ke kantor jam berapa? Biar kusiapkan pakaianmu."


Kei: "Jam 2 siang. Masih ada 2 jam lagi."


Tiba2 hpku berdering.


Kana: "Ada telepon dari Janet, kuangkat dulu ya sayang..."


Setelah ia mengangguk, akupun mengangkat teleponnya.


Janet: "syukurlah akhirnya nomermu bisa dihubungi. Maaf tentang tadi malam..."


Kana: "Aku baru tiba di Seoul. Aku memutuskan untuk ikut dengan suamiku."


Aku sengaja tak ingin membahas yang tadi malam karena kuyakin Janet sangat malu. Aku saja merasa malu.


Janet: "Kenapa tiba2? Bukankah hari ini kau ada janji dengan maneger perusahaan itu?"


Janet: "Lalu, apakah aku harus mempercepat liburanku?"


Kana: "Tak perlu. Lagipula liburanmu hanya tinggal 2 hari bukan? Aku hanya ingin minta segera handle semuanya begitu kau kembali ke paris ya? Sepertinya aku agak lama di Seoul."


Janet: "manfaatkan waktumu Kana. Kau butuh kebersamaan dengan suamimu. Kunantikan kabar baiknya, mungkin akan segera ada Kana kecil."


Kana: "Kurasa aku belum akan punya anak dalam waktu dekat ini. Kau tahu kan, banyak targetku setahun ke depan. Lagipula aku masih sangat muda."


Janet: "Ya itu bagus. Perempuan berbakat sepertimu haruslah mengejar kariernya dulu."


Kana: "Selamat menikmati liburanmu ya Janet, mungkin akan ada Jose Jr. Hehe... Jangan lupa untuk segera menikah."


Janet: "Oh iya, kau sedang di korea kan? Jangan lupa ke Pulau Jeju ya..."

__ADS_1


Kana: "Akan kupertimbangkan. Da..."


Akupun mematikan teleponnya.


Keima ternyata tangah menatapku tajam sepertinya ia menantikan suatu penjelasan dariku. Akupun tak sadar kenapa begitu.


Kana: "Kenapa sayang?"


Kei: "Kau beneran ingin menunda punya anak?"


Hadduh, ku lupa belum membahas ini dengan Kei. Sepertinya ia marah.


Kei: "Jawab aku Kana!"


Kana: "Kenapa kau membentakku?"


Kei: "Karena kau tak segera menjawab."


Kana: "Iya. Aku belum ingin punya anak. Lagipula umurku baru 21 tahun. Impianku masih banyak."


Kei: "Ya, tuan putri ini memang masih sangat muda dan keluarganya tak butuh anak dari seorang level B seperti itu."


Keima langsung masuk ke kamar mandi dengan membanting pintunya.


Aap salahku? Aku hanya salah karena aku belum berbicara dengannya terkait kebelum siapanku punya anak. Tapi kenapa ia semarah ini? Ia membentakku. Ia bahkan tak mau berbicara lebih lama lagi denganku.


Keima POV


Mungkin seharusnya ku tak semarah ini padanya. Karena sekali lagi umurnya masih sangat muda. Aku tak bisa meminta lebih darinya. Tapi bukan berarti ia bisa mengambil segala keputusan sendiri. Apakah ayah dulu juga diperlakukan oleh ibu seperti ini?


Aaahhhg... kuacak2 rambutku. Kenapa langkah awal kami terasa begitu sulit. Apakah aku memang terlalu tidak pantas untuknya. Atau dia merasa aku terlalu rendah untuk bisa mengontrol atau segedar membuat keputusab bersamanya.


Akupun segera mandi dan bersiap ke kantor.


Saat kelhar dari kamar mandi, kulihat dia sedang merapikan pakaiannya.

__ADS_1


Kei: "Aku akan pulang malam. Jika ada yang kau perlukan chat saja. Akan kubelikan. Janagn ke mana2. Aku tak suka istri yang tidak patuh."


Aku pun segera pergi begitu saja meninggalkan Kana. Entah apa yang ia pikirkan. Tadinya kukira ia menangis. Kalau ia menangis, ku berniat minta maaf atas sikap kasarku. Tapi melihat ia yang tak tampak bersedih dan tak ada rada bersalah, justru hanya ada amarah. Aku semakin kesal.


__ADS_2