
Edit : Revisi.
"Tempat apa ini?" Liwey perlahan bangkit dari berbaringnya. Kepalanya serasa dihantam palu godam, sangat sakit dan berkunang-kunang. Dipejamkannya matanya kuat-kuat, berusaha menghilangkan sensani sakit yang berasal dari kepalanya. Menghembuskan nafas perlahan, Liwey mulai membuka matanya. Sakit dikepalanya sudah sedikit berkurang. Kini kerutan berhasil tercipta di dahi putih mulusnya. Liwey mengerjapkan matanya berkali-kali. Gelap, tempat yang ia tempati sekarang sangat gelap. Ada apa ini? apa dia mendadak jadi buta sekarang. Tidak... Liwey tidak buta. Itu terbukti karena dia dapat melihat titik cahaya tak jauh didepannya. Intinya matanya baik-baik saja, dia tidak buta.
Liwey mencoba untuk berdiri dari duduknya, dan sebuah keanehan menyadarkannya. Liwey mengambang, bagaimana bisa dia tak menyadari kalau sedari tadi dia tidak sedang berbaring atau duduk, melainkan mengambang layaknya tengah berada diruang hampa udara.
Panik, Liwey menggerakkan kedua tangan dan kakinya tak beraturan. Dan, satu keanehan lagi membuatnya semakin membulatkan mata tak percaya. Suara beriak air muncul saat ia menggerakkan tangan dan kakinya tadi. Dan jangan lupakan gelembung udara yang keluar dari hidungnya saat ia bernafas.
Liwey semakin panik, mendadak dirinya menjadi sulit bernafas. Padahal tadi ia merasa baik-baik saja. Bahkan dia beranggapan dirinya berubah menjadi mermaid karena dapat bernafas di dalam air.
Kepala Liwey bergerak kekanan dan kiri, rambut panjangnya melambai bak menari mengikuti gerakan kepalanya. Tangan dan kaki Liwey sudah tak tentu arah bergerak tak beraturan di dalam air. Dan Liwey semakin kalap saat mendapati dress putih yang sama seperti saat terakhir ia terjatuh di dalam danau sewaktu acara perpisahan melekat di tubuhnya. Apa ini menandakan dia kembali ke tubuh aslinya dan masih dalam keadaan tenggelam. Dan apa ini juga akan menjadi akhir dari kehidupannya. Liwey pasrah, tubuhnya berhenti bereaksi brutal. Menutup mata, Liwey menyerahkan segalanya pada sang pencipta sekarang.
Udara hangat langsung menyapa tubuhnya. Suara air yang jatuh dari ketinggian terdengar jelas, ditambah suara angin yang menerpa daun pepohonan yang rimbun menciptakan suara khas daun yang saling bergesekan, air mengalir juga tak ingin diam. Suara beriaknya seakan melengkapi simfoni yang dibuat oleh alam.
Liwey mengerutkan dahi. Matanya masih terpejam, suhu dingin air danau tak lagi ia rasakan digantikan dengan udara hangat dan sapuan lembut angin berhembus nan sejuk menerpanya. Liwey semakin bingung. Bukankah tadi dia tenggelam dan sulit bernafas? Tapi kenapa dia sekarang dapat bernafas dengan baik dan ya tuhan...
Liwey menganga tak percaya, apa yang ia lihat sekarang sungguh diluar dugaannya. Bagaimana bisa? Liwey menyapu pandang tempat dimana ia berdiri sekarang. Air terjun yang jatuh indah dari atas bukit hijau, sungai air jernih yang beriak deras, hamparan rumput hijau yang sialnya selembut bulu saat diinjak.
Liwey memainkan telapak kaki telanjangnya di atas rumput yang memiliki tekstur selembut karpet beludru di rumahnya. Apa ini surga?
"Liwey." Sebuah suara hinggap dipendengaran Liwey. Berbalik, dia tidak menemukan siapapun di sekitarnya. Bahkan dia sudah berputar-putar layaknya balerina namun juga tak menemukan seorangpun disekitarnya.
"Siapa?" tanyanya. Tak ada sahutan, semuanya hening. Hanya suara alam yang terdengar.
"Wei'er." Kali ini suara bariton dan terkesan maskulin menyapanya. Namun Liwey tak menemukan apa pun didekatnya. Mendadak bulu romanya berdiri, spontan Liwey menjadi penakut. Baiklah, siapa yang tidak takut dihadapkan dengan suara-suara yang memanggil namun tak ada wujudnya. Kalian juga pasti akan takut dan berlari pontang-panting, bahkan lebih parahnya kalian akan pingsan.
"Kami disini nak." Suara itu berasal dari dekat air terjun. Tidak, lebih tepatnya di dalam air terjun. Dapat Liwey lihat sepasang manusia berdiri di dalam air terjun. Siluet tubuh mereka terlihat samar dari tempat Liwey berdiri, namun masih dapat dilihat.
"Siapa?" sekali lagi Liwey bertanya.
"Kami disini sayang." Sekarang kembali suara maskulin itu terdengar, dan juga berasal dari air terjun. "Kemarilah!" Seakan terhipnotis, Liwey berjalan mendekat.
Pandangan matanya tiba-tiba kosong dan menatap tepat kesatu titik yang ingin ditujunya sekarang. Air terjun.
Sungai didepan Liwey tiba-tiba membentuk sebuah pusaran air yang kencang, sangat kencang hingga batu yang semestinya berdiam ditempat kini berangsur masuk kedalamnya.
Ini buruk!
Jiali masih setia menantikan nonanya kembali siuman, ini sudah seminggu semenjak nonanya jatuh pingsan di hari lamaran putra mahkota. Dan selama seminggu pula nonanya masih betah berkelut dialam mimpinya.
"Nona, apa anda tidak bosan tertidur terus." Jiali memeras kain putih yang barusan ia celupkan kedalam air, melipatnya lalu meletakkannya tepat di dahi Liwey. "Anda tahu Pangeran Jing Xuan sangat kerepotan karena anda, nona. Anda tak kunjung bangun." Jiali merapikan letak selimut Liwey.
"Sudah larut nona, hamba pamit," ucap Jiali lalu beranjak keluar dari kamar Liwey setelah sebelumnya ia membungkuk hormat.
__ADS_1
Cahaya terang langsung mengisi seluruh kamar Liwey setelah kepergian Jiali. Sepasang manusia dengan hanfu putih yang terlihat sederhana namun elegan berdiri dengan wajah panik tepat disamping tempat tidur Liwey.
Keduanya saling pandang sejenak lalu kembali menatap Liwey yang masih asik dengan tidur panjangnya.
"Ilusi mimpi." Liancheng berujar. Kepalanya menoleh kesamping kanan dimana wanita yang mirip dengan Liwey berdiri.
"Pria itu mulai beraksi rupanya." wanita itu berjalan melangkah mendekati pembaringan dimana Liwey masih asik terpejam. Diulurkannya tangannya tepat kedahi Liwey. Kedua matanya menutup, mencoba fokus akan apa yang ada di dalam otak Liwey sekarang. Keningnya berkerut dalam. Ini buruk.
"Ada apa Tan'er?" tanya Liancheng. Firasat buruk seakan menghinggapinya. Sejak awal
-lebih tepatnya sejak Liwey mengenal aura itu- Liancheng sudah mendapat pertanda bahwa gembok besi sudah mulai longgar. Kekuatan hitam perlahan-lahan mulai utuh, dan dunia akan terancam kedepannya. Itu tidak boleh terjadi, dia dan istrinya -Tan'er- sudah bersusah payah bernegosiasi dengan sang etensitas waktu untuk membuka jalur dimensi.
Memberikan pasokan cahaya pada sang etensitas mimpi agar membuka jalur pertemuan antara dia dan Tan'er untuk bertatap muka dengan Liwey. Serta harus memperkokoh kembali keseimbangan yang mulai goyang akibat merebut paksa seseorang dari dimensi berbeda masuk ke dimensi lain. Serta mendapat amukan dari sang kaisar langit karena melakukan hal tanpa izin darinya. Dengan semua hal yang dirinya dan Tan'er korbankan, ia tak ingin ada suatu kesalahan yang membuat semua rencananya gagal dan kegelapan berhasil menguasai dunia.
Liancheng menatap penuh harap kearah Tan'er yang masih berusaha fokus akan isi pikiran Liwey. Membuka mata, nafas Tan'er memburu. Apa yang dilihatnya didalam pikiran Liwey berhasil membuat dirinya cemas sekaligus takut.
"Ada apa?" Seakan tak bosan, Liancheng bertanya hal yang sama.
"Dia sudah memulainya, jiwa Liwey dalam bahaya." Tan'er bergumam, matanya masih lekat menatap lurus kecerminan wajah dirinya yang terlihat damai namun nyatanya tidak.
"Dia berhasil bekerja sama dengan Ilusi." Tan'er mendongak, menatap Liancheng yang juga tengah menatapnya. "Gemboknya sudah mulai longgar, tabir pelindung menipis, kegelapan mulai melaksanakan aksinya..." Tangan halus Tan'er mengelus sayang puncak kepala Liwey.
"Meski tak terlalu kuat, namun dapat berpengaruh buruk..." jeda sejenak, "Liwey diambang kematian, kita harus menyelamatkannya."
"Tapi bagaimana? kita tidak dapat masuk kedalam ilusi yang dibuat olehnya." Liancheng berseru khawatir. Terlihat dari tubuhnya yang berjalan mondar-mandir disana.
"Ilusi ya?" gumamnya. "Ilusi dan mimpi, keduanya memiliki kemiripan."
Liancheng berhenti dari aktifitas mondar-mandirnya. Keningnya berkerut menatap Tan'er yang juga tengah menatap kearahnya.
"Etensitas mimpi memiliki cahayaku saat kita bernegosiasi 'kan?" Liancheng mengangguk mengiyakan.
"Itu artinya, aku dan Etensitas mimpi terikat satu sama lain." Tan'er tersenyum menatap wajah tidur Liwey. "Aku bisa membantunya."
"Caranya?"
"Ilusi dan mimpi mempunyai kemiripan. Dua etensitas itu sama-sama meniru apa yang ada di dunia untuk menjadi dunianya mereka. Dan aku memiliki sedikit kemampuan mimpi karena keterikatan kami, aku akan masuk kedalam ilusi pikiran Liwey." Jelas Tan'er panjang lebar, jari tengah dan telunjuk kanan Tan'er dirapatkan. Ditempatkan tepat ditengah dahi Liwey. Perlahan cahaya putih keluar dari tangan dan dahi Liwei. Sedetik kemudian menghilang, menyisakan Liwey sendirian berbaring damai, namun ada tanda bulan sabit bercahaya di tengah dahinya menandakan Tan'er berhasil masuk kedalam.
"Semoga kau dapat membantunya, Tan'er"
Hallo....
Audhi comebackkkkk ....
__ADS_1
kemarin Audhi sempat umumin kalau Audhi bakal up cerita ini awal bulan april kan.
jadi...
sekarang....
Audhi cabut kata-kata itu...
Karena Audhi up hari ini...
Audhi lagi kejar target ini.
Akhir bulan April mendatang cerita ini harus sudah End... jadi mulai sekarang Audhi bakal usaha lebih keras lagi untuk selesain cerita ini.
Setelah ini selesai Audhi bakal up cerita bergenre..
Distopia and magical word gitu...
Audhi pen buat cerita tentang sekolah sihir...
Terinspirasi dari flim harry potter tentunya yang minggu kemarin Audhi tonton ulang.
Jadi bagi kalian yang suka cerita fantasi dan berbau magic... terus tunggu cerita Audhi update dan dukung Audhi terus dengan Vote, coment and like dari kalian..
jan lupa beri rating juga ya..
And klik ♡ buat list cerita Qu Lowey ke daftar favorit kamu...
oke deh..
cukup cuap-cuapnya...
Audhi pamit...
Ta...ta...
eits satu lagi...
periksa typo ya...
soalnya Audhi lagi malas ngerevisi..
niatnya bakal direvisi setelah selesai 5 chapter...
ntar ada pemberitahuannya kok... jadi terus pantengin cerita Gaje Audhi ya..
__ADS_1
warning**cerita tidak mengandung unsur sejarah. Just Time traveler and dimansion.