Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 41 : Perasaan di Awasi.


__ADS_3

Sudah seminggu sejak kejadian dimana Liwey menghilang dan ditemukan di gudang penyimpanan istana. Dan sudah lima hari pula Liwey kembali ke kediaman Jing Xuan.


Liwey duduk di atas pagar gazebo di halaman belakang, lima meter di depannya pemandangan batang-batang bunga matahari menghijau di hadapan. Biji-biji yang ia tanam dua minggu lalu memberikan hasil bagus sejauh ini, Liwey menantikan tunas itu sepenuhnya mekar menjadi bunga kuning yang sangat disukai olehnya.


Liwey menoleh kesamping kiri. Entah perasaannya saja atau tidak, Liwey merasa jika dirinya selalu diawasi. Apa mungkin yang mengawasinya adalah salah satu dari sekian banyak pengawal bayangan yang di tugaskan Jing Xuan untuk melindunginya?


Ya. Sejak kejadian minggu lalu, Jing Xuan semakin over protektif terhadap Liwey. Dia menempatkan lima belas orang untuk menjadi pengawal bayangan yang akan melindunginya. Awalnya Liwey menolak, namun Jing Xuan tidak terima penolakan, dan pada akhirnya Liwey hanya bisa pasrah mendapati itu.


Dengan cepat Liwey menoleh kebelakang, perasaan diawasi oleh sosok tak kasat mata semakin hari selalu membuat Liwey harus siaga. Dia sadar, jika ini bukan dari pengawal bayangan yang di kirim Jing Xuan. Tapi sosok lain.


Liwey bisa merasakan aura familiar tak jauh dari keberadaannya sekarang. Bukan aura dingin milik Jing Xuan, tapi aura pekat mirip dengan Yanzhi namun kali ini auranya terlalu pekat. Sampai-sampai Liwey mual kalau berusaha untuk merasakan aura itu lebih lama.


"Kau kenapa, Kakak Ipar?" Liwey tersentak, pandangannya menunduk mendapati sosok Liang Jie sudah berdiri di depannya. Gadis kecil itu tengah mengendong Bobo, kucing hitam yang selama ini selalu menemani dirinya bermain.


Awalnya Liang Jie hanya berniat berjalan-jalan dengan Bobo mengelilingi kediaman. Lalu, iris biru gadis itu menatap sosok Liwey tengah duduk di atas pagar gazebo sembari menatap awas kesekelilingnya. Tentu saja Liang Jie penasaran. Apa yang tengah dilakukan kakak iparnya itu.


"Ah, Jie'er. Kau datang?" Liang Jie mengangguk, diturunkannya kucing abu-abu itu dari gendongannya kemudian ikut duduk di atas kursi yang tak jauh dari Liwey di gazebo tersebut. Teringin hatinya untuk ikut duduk di atas pagar gazebo, namun dia takut terjatuh. Pagar Gazebo itu terlalu tinggi untuk ukuran anak berumur delapan tahun seperti dirinya.


"Aku berniat mengajak Bobo untuk jalan-jalan, tapi aku melihatmu. Itu sebabnya aku mendatangimu," kata Liang Jie yang dibalas anggukan kecil dari Liwey.


Terdiam, hanya suara desau angin bertiup menjadi latar belakang situasi mereka sekarang. Hembusan lembut angin sore itu menggelitik wajah keduanya. Liwey masih menatap hamparan batang menghijau bunga matahari di hadapan dan Liang Jie yang kini kembali memangku Bobo sembari mengelus sayang bulu lebat kucingnya itu.


Liang Jie mengangkat pandangannya ke arah Liwey, sekali lagi dirinya mendapati tatapan awas dan siaga dari wanita yang duduk tak jauh darinya. Menolehkan kepala mengikuti arah pandang Liwey, gadis itu sontak mengeryit. Sejauh iris birunya memandang, hanya ada hamparan batang bunga matahari menghijau di depan sana, tapi mengapa kakak iparnya itu menatap batang itu awas dan siaga? Seakan disana ada bahaya yang tersembunyi.

__ADS_1


"Kau takut, Kak? Kenapa kau menatap awas hamparan batang bunga matahari yang belum mekar itu?" tanyanya.


Liwey tersentak dan itu membuat Liang Jie menaikkan alisnya. Ada apa dengan kakak iparnya?


Liwey menatap Liang Jie sesaat kemudian turun dari atas pagar gazebo yang setinggi pinggangnya itu perlahan. Liwey mendudukkan diri di kursi gazebo tepat di sebelah Liang Jie.


"Aku merasa di awasi," ucap Liwey cepat. Liang Jie kembali menaikkan alisnya, pandangannya teralih kearah pohon besar tak jauh dari mereka. Iris biru miliknya mendapati seseorang berpakaian serba hitam tengah duduk memperhatikan mereka dari atas sana.


"Pengawal bayangan kak Jing Xuan. Dia ada di pohon itu." Liang Jie menunjuk tepat pada pohon besar tadi, masih jelas di penglihatannya sosok pria itu masih di sana. Liwey mengikuti, samar-samar dapat dilihatnya pria berpakaian serba hitam di atas dahan besar pohon. Apa benar perasaan di awasi itu berasal dari pengawal bayangan Jing Xuan? Tapi, auranya berbeda. Ini bukanlah aura manusia pada umumnya.


"Kau sudah di awasi selama seminggu penuh kak, dan kau masih merasa awas karena pengawal kurang kerjaan itu?" Liwey mengerutkan kening. Bukan karena dirinya kesal akan ucapannya Liang Jie, tapi dirinya lebih ke ... terkejut?


"Pengawal kurang kerjaan?"


Liwey terkekeh kecil, Liang Jie memiliki kesamaan dengan Jing Xuan. Mulut mereka pedas. Perlu Liwey ingatkan akan Jing Xuan yang secara tak langsung mengoloknya di hari lamaran waktu itu, dan juga banyak kata-kata yang tak enak di dengar lagi keluar dari mulut pria itu.


"Kakak Ipar?" Liang Jie sudah berdiri di depan Liwey, tangan mungilnya menggenggam tangan Liwey. "Kapan kau akan hamil?"


Liwey tersentak. Apa maksud bocah delapan tahun ini, aish ... pipi Liwey pasti sudah memerah sekarang. Otaknya sudah berkelana, mengingat malam-malam panas yang telah ia lalui bersama Jing Xuan. Astaga.


Liwey menutup kedua belah pipinya dengan telapak tangan, ditatapnya Liang Jie yang juga tengah menatapnya. "Ke ... kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Liwey gagap.


"Ishh, tentu saja aku ingin teman bermain." Liang Jie mengerucutkan bibirnya sembari melipat tangan di depan dada, pipi bulat gadis itu mengembung lucu. "Kau sudah menikah dengan kakak hampir setengah tahun, dan juga kakak sering sekali tidur di kamarmu. Pasti kalian sudah melakukan itu kan?"

__ADS_1


Liwey membelalak mendengar penuturan Liang Jie. Bocah ini bagaimana bisa tahu, hei!! umurnya masih terlalu muda untuk tahu hal seperti ini. Liwey menggeleng samar, dirinya masih memikirkan bagaimana bisa gadis berusia delapan tahun tahu akan hal yang seperti itu. Belajar dari mana?


"Kakak ipar, kau bisa kan memberikanku keponakan yang lucu, yang bisa kuajak bermain bersama Bobo." Liwey mengalihkan atensinya kembali pada Liang Jie. Gadis kecil itu kini sudah mengulurkan tangan mungilnya di hadapan perut rata Liwey. Mengelusnya dengan gerakan memutar yang amat pelan, Liwey geli namun ada rasa nyaman juga yang meliputinya.


"Aku berharap keponakan kecilku akan tumbuh tak lama lagi." Senyum merekah di bibir Liang Jie saat mengatakan itu. Kepalanya mendongak menatap Liwey. "Aku akan mengatakan pada kak Jing Xuan untuk segera memberikan aku keponakan," ujarnya dan langsung berlari pergi meninggalkan Liwey yang mematung sebagai respon dari apa yang baru saja ia dengar.


Wanita itu menggeleng kecil kemudian terkekeh. Menunduk, Liwey menatap perut rata dibalik hanfu yang ia kenakan dengan sendu. Sedikit tidaknya, dirinya juga sudah memikirkan ini sejak lama, dirinya ingin hamil dan memberikan keturunan untuk Jing Xuan. Tak apa jika itu artinya Liwey tak bisa lagi kembali ke dunianya, asalkan disini dia juga bahagia dengan Jing Xuan dan juga anaknya.


"Benar kata bibimu, kapan kau akan muncul, Nak," lirih Liwey sembari mengusap pelan perutnya.


Deg ...


Perasaan diawasi kembali menimpa Liwey, kepalanya menoleh kekanan. Kosong, tak ada siapapun. Tapi perasaan diawasi itu semakin kuat Liwey rasakan.


Apa ini?


Liwey mengerutkan keningnya, kembali dirinya menolehkan kepala ke seluruh penjuru halaman belakang kediaman. Menelan saliva susah payah, Liwey perlahan berdiri. Sepertinya dirinya harus segera pergi dari sana secepatnya.


...°♡°♡°♡°♡°...


Tbc ....


Audhi back, ini part awal untuk tripple update yang Audhi janjikan ...

__ADS_1


So, happy reading.


__ADS_2