Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 23 : Ingin bersaing dengan jujur di kompetisi?


__ADS_3

...Jangan lupa like dan komennya, and jadikan Qu Liwey di list favoritmu yah...


...__________...


"Nona, apa anda tidak ingin istirahat?" Entah sudah berapa kali Jiali bertanya akan hal yang sama kepada Liwey. Namun, seolah tuli. Liwey mengacuhkannya. Kini gadis itu tengah bereksperimen dengan sekop kecil dan juga biji bunga matahari.


Tangannya mencangkul tanah dengan sekop lalu meletakkan biji bunga di dalamnya setelah itu menimbun dengan tanah kembali. Sudah seharian Liwey bekerja di taman belakang kediaman.


Jika kalian bertanya mengapa Liwey tiba-tiba berinisiatif menjadi petani dadakan. Maka akan dijelaskan.


Awalnya Liwey dan Jiali seperti biasa, jika bosan berada di dalam kamar, maka mereka akan pergi keluar sekedar berjalan mengelilingi kediaman. Dan hari ini mereka melakukan rutinitas itu.


Lalu sampailah saat dimana Liwey mendapati lahan kosong berdiameter empat kali empat meter. Dan entah kerasukan apa, Liwey yang di kehidupan semula tidak tahu menahu akan hal bercocok tanam tiba-tiba menginginkan lahan itu di isi oleh bunga matahari.


Hingga berakhirlah dengan mereka berdua yang sudah seharian menggali dan menanam biji bunga.


Liwey berjalan mendekati wadah berisi air. Mengambil air dengan gayung kayu lalu menyiramkannya di tanah.


"Nona biarkan Jiali saja yang menyiramnya."


"Tenanglah, aku akan berusaha sebaik mungkin agar tidak berlebihan menyiramnya. Kau tak perlu khawatir kalau ladang bunga ini gagal tumbuh."


Ouh ... ingin Jiali mengatakan jika bukan itu maksud dirinya menawarkan diri untuk menyiram bunga. Kenapa Nonanya ini malah menyimpulkan akan seperti itu.


Hah ... Jiali menghela nafas. "Nona, bukan it ..."


"Ouh, ada apa ini? Apa Putri Jing sangat kurang kerjaan dan memilih bermain di tanah."


Liwey menatap seseorang yang baru saja bersuara. Terlihat Ailin tengah berdiri angkuh diapit dengan dua dayang di kiri kanannya.


"Cih." Liwey mendecih lalu memberikan gayung yang ia gunakan untuk menyiram bunga kepada Jiali kemudian menatap Ailin datar. Jika kalian tanya apakah Liwey membenci Ailin? Maka jawabannya iya, ingin rasanya Liwey mencakar wajah sok cantik Ailin itu setelah apa yang Ailin perbuat ada dirinya. Tapi, Liwey ingin sedikit bermain, tidak perlu terburu-buru.


"Setidaknya pekerjaanku lebih bermanfaat dan menyehatkan dari pada duduk diam sembari menikmati teh dan cemilan. Ingat, terlalu banyak menimbun kalori dapat menyebabkan kegemukan. Dan kau ... aih, bagaimana bisa ada bab* disini."


"Apa kau bilang? Aku bab*"


Liwey mengendikkan bahu, "kau yang bilang sendiri, aku tak merasa tuh," ujarnya acuh tak acuh.


Ailin sudah murka sekarang, wajahnya memerah menahan amarah yang ingin meledak. Menurutnya perempuan yang berdiri tak jauh didepannya ini sangat kurang ajar.


Liwey tak memperdulikan Ailin, malah kini gadis itu mengambil alih gayung dari tangan Jiali lalu melanjutkan menyiram biji yang baru ia tanam, sembari berharap biji-biji itu tumbuh.


"Kau." Ailin menunjuk Liwey, "sungguh tak pantas mendapatkan gelar Putri Jing."


Liwey menoleh. "Jadi siapa yang pantas? Dirimu? Aih." Liwey menggelengkan kepala dramatis.


"Setidaknya aku lebih paham etiket dan anggun, tidak seperti dirimu."

__ADS_1


"Aku tak peduli, toh Jing Xuan menyukaiku."


Skak Mat. Ailin terdiam, perkataan spontan Liwey tergiang-ngiang di telinganya. Lalu, kilasan kejadian saat sarapan pagi memasuki otak Ailin. Dimana ia melihat dengan mata kepala sendiri lelaki yang ia sukai selama bertahun-tahun menunjukkan sikap manis terhadap Liwey, bahkan mengecup kening Liwey.


"Sudah tersadar? Kalau begitu pergilah, aku tak ingin tanamanku gagal tumbuh hanya karena kau mengacaukan moodku," ucap Liwey datar. Bahkan gadis itu tak menatap Ailin saat mengucapkannya, tetapi malah fokus menyirami tanah.


"Kau ... jal*ng g*la sepertimu, jangan terlalu berharap dan melambung tinggi hanya karena pengeran ke-4 memperlakukanmu sedikit istimewa tadi pagi."


Mendengar ucapan Ailin dengan geram Liwey mencampakkan gayung yang masih terisi setengah air dengan keras ketanah. Berbalik, iris ambernya menatap tajam kearah Ailin.


"Yang seperti dirimu orang-orang agungkan mempunyai etiket tinggi, cih." Liwey berdecih, perlahan gadis itu berjalan keluar dari lahan bunga matahari yang ia olah lalu berdiri tepat di hadapan Ailin.


"Sepertinya mereka sudah buta." Ailin menggeram. Liwey masih tenang.


Liwey semakin mendekat, dan berbisik kearah Ailin. "Kau tak ada bedanya dengan pecundang yang rela melakukan kecurangan dalam kompetisi." Liwey tersenyum miring saat menatap Ailin mengerutkan kening. Bodoh.


"Jika ingin diperhatikan oleh Jing Xuan, berusaha menarik perhatiannya. Jangan mengirim orang untuk mencelakai kekasihnya." Liwey menekan kata mencelakai dalam perkataannya. Membuat Ailin tersentak hingga tanpa sadar mundur dari Liwey.


Jiali dan dua dayang yang mengikuti Ailin pun sama terkejutnya dengan Ailin. Liwey tersenyum miring, berjalan mendekat, Liwey menepuk bahu Ailin.


"Ingin bersaing dengan jujur di kompetisi?" Liwey menaik turunkan alisnya.


Ailin menggigit bibir bagian dalam, sungguh dia ingin mencakar wajah Liwey sekarang. Mengepalkan tangan, Ailin berbalik. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Ailin beranjak pergi meninggalkan Liwey dengan kaki dihentak-hentakkan.


Liwey tertekeh. "Aku tahu cinta bertepuk sebelah tangan itu sakit. Ouh Ailin yang malang."


"Kau mengagetkanku!!"


"Ah ... maafkan Jiali Nona." Gadis pelayan itu tertunduk.


"Sudahlah, antar aku kekamar. Aku merindukan air untuk berendam, badanku sudah lengket."


...•♡•...


Liwey baru ingin menutupi tubuhnya dengan selimut nyaman lalu berkelana di alam mimpi saat tiba-tiba pintu kamarnya di dobrak.


Terlihat Jing Xuan dengan tersenyum sembari menggaruk belakang kepala berdiri diambang pintu kamar.


"Kau ingin tidur?"


"Kau makhluk pintar Xuanxuan, bahkan aku masih ingat saat lamaran kau merendahkanku hanya karena aku bodoh. Tapi kenapa sekarang aku merasa kau juga bodoh."


Jing Xuan mengerutkan kening mendengar penuturan Liwey. Memutar bola mata. Liwey mendengus. "Pertanyaan macam apa yang kau lontarkan itu?! Apa kau tak melihat aku sudah ingin menarik selimut!!"


Jing Xuan kembali terkekeh, "maaf, tapi ... apa boleh aku tidur de ...."


"Tidak," jawab Liwey cepat.

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah aku suamimu?" Jing Xuan memasang wajah tak terima dengan memajukan bibir bawahnya. Ouh ... ini bukan seperti Jing Xuan.


"Jangan bertingkah seperti itu. Aku khawatir kau adalah makhluk jadi-jadian yang menyerupai Jing Xuan."


Mendengarnya Jing Xuan kembali memajukan bibir bawah dengan wajah yang dibuat agar imut? Ouh itu sangat tidak cocok Jing Xuan.


"Jing Xuan, jangan-jangan kau dirasuki makhluk halus?"


"Ya!! Putri Jing." Jing Xuan berujar geram. Namun tak lama ekpresi wajahnya di buat sok imut kembali.


"Izinkan aku untuk tidur denganmu, ya ... ya, ya, ya."


Hah ... Liwey menghelas nafas. Ada apa dengan Jing Xuan, dia aneh dan tidak seperti biasa. Dan, kenapa pula dengan ekpresi wajahnya itu, dia seperti anjing yang menginginkan manusia untuk mengadopsinya. Kemana sifat dingin, datar, dan sombong miliknya? Hilang ditelan arus sungai kah?


"Apa kau mengizinkanku tidur dengamu?" Liwey mengangguk, toh mereka juga suami istri, wajar bukan jika tidur bersama.


"Yeay." Jing Xuan langsung masuk keranjang Liwey lalu memeluknya layak bantal guling. Jujur, Liwey sesak nafas dibuatnya.


"Kau i--ingin mem---buatku untuk tidur se---lamanya. Ini sesak Jing Xuan!!!" Liwey berujar susah payah.


"Ah ... maafkan aku, aku terlalu senang hingga memelukmu seerat itu. Kalau begitu aku akan memelukmu dengan lebih berhati-hati."


"Tidak!!" Liwey menjauhkan tubuh Jing Xuan darinya. Lalu meletakkan bantal diantara mereka menjadikan sebagai pembatas. "Ini jarak yang tak boleh kau lewati, mengerti!"


"Tapi ini ...."


"Tidak ada tapi-tapian apalagi peluk-pelukan, kau hanya akan membuatku mati saat tidur." Ihh ... Liwey meringis membayangkan itu. Dia tidak ingin mati dua kali. Apalagi mati karena dipeluk seorang laki-laki. Sangat tidak etis sekali.


"Tapi ..."


"Diam dan tidurlah." Liwey sudah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Dia sedikit aneh akan sikap Jing Xuan, apa jangan-jangan Jing Xuan benar-benar dirasuki jin makhluk halus. Ih, kenapa Liwey jadi merinding.


...°♡°...


TBC ....


kenapa ame Jing Xuan yak ...


kok kesannya kayak bayi ...


Aihh ... Jing Xuan kalau udah jatuh cinta kok malah merepotkan?


Jing Xuan : Aku tidak merepotkan, hanya ingin mendapatkan kasih sayang Liwey saja.


Aku jomblo aku diam.


Baik lah seperti biasa ...

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2