
...Klik 👍 sebelum membaca dan klik 💜 untuk jadikan Qu Liwey di list favoritmu....
...__________...
Wanita itu menggeliat dalam tidurnya. Aroma cendana menyeruak masuk kedalam indra penciumannya. Mengerjapkan mata. Iris amber keemasan miliknya menyipit menatap dada bidang seseorang di sana.
Sosok Jing Xuan memeluk dirinya.
Liwey sedikit ling lung pagi ini, dia tidak ingat kalau dirinya tidur bersama Jing Xuan. Tapi, jangan terlalu di pikirkan, karena sejatinya Liwey menyukai saat-saat dimana Jing Xuan melingkarkan tangan di pinggangnya dan mendekap tubuhnya erat.
Liwey bergerak semakin masuk kedalam dekapan Jing Xuan, berusaha sehati-hati mungkin agar tidur pria itu tidak terusik. Menyurukkan kepalanya di dada Jing Xuan, Liwey mengendus bau cendana yang menenangkan dari dalam tubuh suaminya itu.
Jika dulu, Liwey berkomitmen tidak akan pernah mau di sentuh Jing Xuan. Maka sekarang komitmen itu ia patahkan. Liwey tidak konsisten? Iya, dirinya memang tidak konsisten, dan Jing Xuan adalah orang yang memporak porandakan ke konsistenannya.
"Senang dipeluk." Suara serak Jing Xuan menyadarkan Liwey. Mendogak, iris amber miliknya bertabrakan dengan iris berbeda warna milik Jing Xuan yang langka, dan juga salah satu kesukaan Liwey.
Liwey hanya mengangguk dan kembali masuk kedalam dekapan Jing Xuan lebih dalam lagi. Jing Xuan terkekeh. "Kenapa kau sangat manja hari ini?" tanya Jing Xuan ditengah kekehannya.
"Entahlah, aku hanya ingin."
"Kau tidak takut membangunkannya." Liwey mengerutkan kening, masih dalam dekapan Jing Xuan Liwey menggeleng skeptis, namun langsung mendongak saat mengerti apa maksud dari perkataan Jing Xuan.
"Apa aku membangunkannya?" Mata Liwey membola menatap Jing Xuan dengan ekpresi panik. Dan itu malah memacu tawa Jing Xuan untuk keluar.
"Sepertinya olahraga pagi bagus untuk kesehatan," ucapnya ambigu. Liwey sontak memukul pelan lengan kokoh Jing Xuan yang masih memeluk pinggangnya.
"Dasar mesum."
"Mesum sama istri sendiri tak apakan." Ahh ... kenapa Liwey jadi malu, seharusnya dia marah akan perlakuan Jing Xuan yang seenaknya pada dirinya. Namun, saat dirinya berusaha untuk marah, maka kejadian malam lalu langsung menyentak Liwey. Dan itu berhasil membuat dirinya memerah.
Liwey semakin menyurukkan kepalanya ke dada Jing Xuan. "Jangan lakukan lagi, aku sudah kecapaian sekarang."
Jing Xuan tergelak sampai badannya ikut bergoyang akibat tawanya yang teramat keras. Kenapa Jing Xuan tertawa? Justru karena Liwey. Menurutnya Liwey itu sosok keras kepala jika berdekatan dengannya, namun kenapa saat ini malah menjadi manja seperti kucing. 'Kan Jing Xuan jadi pengen gigit.
"Ah ... istriku kelelahan ternyata, jadi tidak ada olahraga pagi hari ini." Dapat Jing Xuan rasakan kepala Liwey menggeleng di dadanya. Tersenyum, Jing Xuan mengeratkan pelukannya pada tubuh Liwey. Menikmati setiap sentuhan menenangkan dan juga menetramkan bagi keduanya.
Cukup lama mereka terdiam, masing-masing berkelana pada pemikirannya sendiri. Sampai tiba-tiba pintu kamar Liwey di buka dan menampilkan Jiali dengan nampan berisi segala keperluan pagi Nyonya-nya.
"Astaga," seru Jiali langsung berbalik, kedua pipinya memerah saat mendapati pemandangan mengejutkan pagi ini. Liwey dan Jing Xuan tengah berpelukan, masih memejamkan mata dan Jiali dengan lancang masuk kedalam.
Jiali berjinjit menuju pintu kamar, membukanya perlahan lalu segera keluar dari sana. Sungguh dia tidak ingin menganggu moment berdua antara Liwey dan Jing Xuan. Sebuah senyum langsung terpatri di wajah Jiali, dia senang akan hubungan Liwey dan Jing Xuan yang semakin hari semakin membaik.
Jing Xuan membuka mata perlahan, dia sadar jika seseorang sempat masuk kedalam kamar. Namun dirinya tetap diam. Jing Xuan tak ingin jika Liwey tahu maka istrinya itu akan sangat malu.
"Kau tak ingin bangun, istriku." Liwey menggeleng kecil.
"Tapi kau harus bangun, mandi dan sarapan. Kita akan berangkat ke istana sore nanti." Liwey sontak mendongak mendengar penuturan Jing Xuan. Dua alisnya hampir menyatu menandakan dirinya bingung dan bertanya tanya 'untuk apa mereka ke istana?'
__ADS_1
"Kaisar berulang tahun, dan istana mengadakan pesta untuk keberkatan umur panjang. Kita harus kesana."
Ouh ... pesta ulang tahun. Liwey mengangguk, lalu kembali menyurukkan kepalanya ke dada bidang Jing Xuan. Entah kenapa, Liwey tak ingin pergi jauh dari Jing Xuan hari ini.
"Kau masih ingin tidur, istriku? Kau tidak ingin mandi? Apa kau mau aku mandikan?" Pertanyaan terakhir yang keluar dari bibir Jing Xuan langsung membuat Liwey menjauhkan tubuh dari suaminya itu. Bahkan Liwey melepas paksa lengan Jing Xuan yang melilit pinggangnya.
"Tidak! Aku akan mandi sendiri. Aku tak bisa memastikan kapan kita selesai, kalau kita mandi bersama." Liwey langsung menarik selimut yang menutupi tubuhnya dan Jing Xuan. Melilitkan selimut itu keseluruh tubuh, lalu berjalan menuju pemandian.
Jing Xuan terkekeh kecil. Kenapa istrinya itu sangat menggemaskan hari ini, 'kan Jing Xuan jadi pengen makan. Baiklah, lupakan itu. Jing Xuan beranjak duduk dari berbaringnya, mengambil celana kain lalu mengenakannya. Tangannya menyambar jubah kebesarannya untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang telanjang. Setelah itu berjalan keluar dari kamar Liwey menuju kamarnya.
...°♡°♡°...
Jing Xuan menatap datar hidangan yang tengah diletakkan oleh para pelayan kemejanya. Daging sapi bakar, sup brokoli dan juga mie kuah sudah terhidang di tiap meja orang-orang yang berada di ruangan itu. Matanya melirik kearah kiri, Liang Jie sedang bermain dengan kucing abu-abunya.
Tersenyum, Jing Xuan mengelus lembut surai putih gadis kecil itu, membuat Liang Jie mengalihkan atensinya kepada Jing Xuan.
"Ada apa kak?" tanya Liang Jie. Jing Xuan hanya tersenyum kecil.
"Tak apa." Liang Jie mengangguk singkat, sedikit bingung dengan sang kakak namun tak terlalu ia hiraukan dan memilih bermain kembali dengan kucing abu-abu miliknya.
Pintu ruang makan kediaman terbuka, terlihat Ailin memasuki ruangan dengan hanfu kuning cerah berbordir perak memasuki ruangan. Rambutnya ia gerai kesamping. Berjalan perlahan dan anggun, Ailin berhenti sebentar di hadapan Jing Xuan untuk menyapanya.
Jing Xuan hanya mengangguk tanpa menatap Ailin. Menghela nafas, Ailin harus bersabar walau hatinya sakit saat dihiraukan Jing Xuan. Karena sebentar lagi, Jing Xuan hanya akan menjadi milik Ailin sepenuhnya. Sudut bibir wanita itu terangkat menunjukkan seringaian sinis tercipta di sana.
Tak lama setelah Ailin duduk di tempatnya, Liwey datang. Selalu sama, hanfu putih dengan gradasi warna biru dibagian bawah roknya. Motif bunga melati terlihat bertabur di bagian bawah rok, rambutnya ia biarkan tergerai dengan sebagian disatukan menggunakan pita kain lalu di jepit dengan jepit rambut tembaga bermotif kupu-kupu.
Tidak seperti Ailin yang sebelum duduk akan memberikan sedikit waktu untuk menyapa Jing Xuan. Liwey memilih langsung duduk, lalu menyesap ait teh yang baru saja di tuangkan oleh Jiali.
"Apa aku lama?"
"Iya."
"Maafkan aku. Aku sedikit kesulitan saat memilih pakaian tadi," jelas Liwey dan kembali menyesap teh dari cawan.
"Kenapa?" Pertanyaan Jing Xuan sontak membuat Liwey memutar bola mata. Haruskah Liwey mengingatkan pelaku yang sudah membuat dirinya lama dalam memilih pakaian?
Liwey menatap Jing Xuan datar, tangan kirinya menyibak sedikit kerah hanfu dan memperlihatkan tanda merah keunguan disana. "Kau yang membuatku lama, suamiku," ujar Liwey dengan penuh penekanan di tiap katanya.
Jing Xuan terkekeh pelan, tangannya bergerak merapikan kerah hanfu Liwey yang sedikit tinggi. "Maafkan aku, lain kali aku tidak akan membuatnya di lehermu." Jing Xuan berbisik, kini tangan yang awalnya merapihkan kerah hanfu Liwey bergerak mengelus surai coklat istrinya itu.
"Makanlah yang banyak, kau harus cukup nutrisi agar seseorang dapat tumbuh disini." Jing Xuan mengalihkan tangannya pada perut rata Liwey, "aku ingin darah daging kita akan datang secepatnya." Jing Xuan tersenyum lembut kemudian tanpa pikir panjang segera menarik kepala Liwey untuk ia kecup.
Semua orang yang berada di sana sudah tidak terkejut lagi akan hal itu. Perilaku Jing Xuan ke Liwey yang manis sudah menjadi makanan sehari-hari mereka tiap pagi. Bahkan Yubo sudah memantapkan hatinya untuk tidak iri akan kedekatan sang tuan dengan istrinya yang sering mengumbar kemesraan tanpa memikirkan nasib para jomlo yang melihatnya.
Liwey menahan nafas merasakan setiap detik kecupan Liwey pada dahinya. Entah kenapa jantung wanita itu tiba-tiba berdetak kencang. Bahkan bisa Liwey rasakan darah di seluruh tubuhnya mengalir ke wajah, dia yakin pipinya sudah seperti kepiting rebus sekarang.
Jing Xuan tersenyum lebih lebar mendapati sang istri tengah memerah malu. Sedikit demi sedikit Jing Xuan akan membuat Liwey jatuh cinta padanya. Bagiamana pun caranya.
__ADS_1
Mengambil sumpit, lalu mengambil satu buah brokoli dan memasukkannya ke mangkok nasi Liwey. "Makanlah yang banyak."
Liwey hanya mengangguk, perasaan gugup melingkupi dirinya. Ini entah sudah yang keberapa kali Jing Xuan berhasil membuat Liwey salah tingkah. Liwey tak tahu, dia lupa menghitungnya.
"Kau juga ma ... kanlah," ujar Liwey sedikit gagap. Liwey mulai memfokuskan atensinya pada makanan yang sudah terhidang di depan mejanya. Ia ingin mengalihkan perhatian Jing Xuan dari dirinya. Jika Jing Xuan terus-terusan menatapnya dan menciptakan degupan jantung tak teratur di dada Liwey, maka Liwey pastikan dia akan mati muda.
Kini keduanya sudah mulai asyik dengan makanan masing-masing sampai mereka tak menyadari ada satu sosok yang sedari tadi menggeram emosi melihat kedekatan keduanya.
Sabar Ailin, kebersamaan mereka hanya tinggal sebentar lagi.
...°♡°♡°...
Hari sudah beranjak sore, matahari bahkan sudah bergulir kebarat --seolah tengah bersiap untuk kembali ke peraduan. Liwey baru selesai menyiram tanaman yang seminggu lalu ia tanam. Hanfu putihnya penuh dengan noda saat tiba-tiba sebuah tangan melingkari pinggangnya posesif.
Hah. Liwey menghela nafas, ia tahu siapa yang tengah memeluknya sekarang.
"Jing Xuan, aku sedang kotor," ujar Liwey sembari tangannya berusaha untuk melepaskan lilitan tangan Jing Xuan dari pinggangnya.
"Kenapa kau belum bersiap sayang?" Liwey baru saja ingin memaksa tangan Jing Xuan untuk terlepas dari tubuhnya, namun urung. Mengerjapkan mata, sontak Liwey langsung berbalik menghadap Jing Xuan dalam keadaan tengan dipeluk oleh pria itu.
"Kau memanggilku apa?"
Jing Xuan menaikkan alis, "sayang?" ucapnya seolah bertanya pada dirinya sendiri. "Kenapa? apa aku tak boleh memanggil istriku dengan sebutan sayang?"
Liwey gelagapan, "bu ... bukan begitu, ak..." Liwey diam, dia tak tahu ingin mengatakan apa selanjutnya.
Jing Xuan menarik kepala Liwey kedalam dadanya. Mengelus pelan punggung istrinya itu dengan kepala yang menumpu di atas kepala Liwey. "Kau istriku. Aku tahu kalau kau belum bisa mencintaiku, tapi aku akan membuatmu agar mencintaiku." Jing Xuan melepas pelukan mereka, memberi jarak antara dirinya dan Liwey. Kedua tangannya memegang bahu istrinya itu lembut.
Iris beda warna Jing Xuan menyorot lembut kedalam retina berwarna amber istrinya. "Aku sedang berusaha membuatmu untuk jatuh cinta padaku Liwey, jadi kumohon jangan menolaknya," kata Jing Xuan lembut.
Liwey terenyuh, benar, dia belum mencin ... bukan, lebih tepatnya dirinya belum mengerti perasaan apa yang dirinya rasakan saat bersama Jing Xuan. Dia bingung, rasa nyaman yang ia rasakan terhadap Jing Xuan adalah sebuah rasa dilindungi atau mencintai. Bahkan kekhawatiran dirinya akan Jing Xuan kala itu juga ia tak mengerti. Hatinya menunjukkan kekhawatiran yang teramat besar pada Jing Xuan, tapi dia bingung itu menunjukkan rasa apa.
Liwey bingung.
Jing Xuan tersenyum lembut mendapati raut sendu Liwey. "Sudahlah, lebih baik kau bersiap-siap. Aku akan menyiapkan kereta untuk membawa kita ke istana nanti." Jing Xuan mengecup sekilas puncak kepala Liwey, mengelus lembut surai coklat istrinya itu sebelum pergi menuju kandang kuda.
Liwey mematung saat menerima perlakuan Jing Xuan. Liwey dapat merasakan ketulusan dalam setiap sentuhan yang Jing Xuan berikan padanya. Dan itu membuat hati Liwey sakit. Bukan karena dirinya merasa tersakiti akan perlakuan Jing Xuan namun lebih ke penyesalan akan dirinya yang sampai saat ini belum bisa membalas perasaan Jing Xuan.
Liwey bingung, dirinya masih bingung akan perasaan yang hatinya timbulkan saat bersama Jing Xuan. Apakah dirinya merasa dilindungi atau dicintai.
Liwey tak tahu.
...°♡°♡°...
TBC ....
Tolong dong manteman buat Liwey itu untuk mengerti akan perasaan dirinya sendiri. Kenapa dia gak peka banget sih ...
__ADS_1
Sudahlah ... Jangan lupa like and komennya ... terima kasih.
Salam Audhikim.