
...Klik 👍 sebelum membaca dan klik 💜 untuk menjadikan Qu Liwey menjadi list favoritmu....
...Audhikim...
...🤓...
..._____________...
Iris amber Tan'er terbuka, dadanya sontak merasa sakit yang teramat sangat. Tidak, ini tidak mungkin, waktunya belum tepat. Segera wanita yang selalu mengenakan hanfu putih itu keluar dari tempat peristirahatannya. Pintu kayu ia dobrak paksa. Semoga firasatnya tidak benar-benar terjadi.
Liancheng yang juga baru keluar dari ruangannya segera menghampiri Tan'er. "Kenapa? Guncangan ini?" Liancheng menatap lekat wajah pucat istrinya, dengan segera dibaliknya tubuh Tan'er menghadap kearahnya. Kedua lengannya meremas pelan kedua bahu wanita itu. "Tan'er, kamu tak apa?"
Sungguh, Liancheng khawatir. Ekpresi yang di tunjukkan oleh sang istri membuat berbagai spekulasi di otaknya mulai bertimbulan. Namun, ada satu yang hal yang tak sanggup ia pikirkan. Dan semoga, spekulasi itu tidak benar.
Tan'er menatap mata Liancheng, mulutnya membuka namun kembali menutup saat tak tahu harus mengatakan apa. Dadanya semakin sakit dan sesak, seakan ada tangan tak kasat mata yang tengah menekan kuat dadanya. Tangan kanan Tan'er meremas kerah hanfunya keras. Nafasnya satu-satu dan itu berhasil membuat Liancheng panik.
"Tan'er, kamu kenapa?" tanya Liancheng panik. Tan'er tak menjawab, wanita itu merosot jatuh ke lantai, kedua tangannya menapak lantai kayu menumpu berat badannya.
"Sa ... kit." lirih Tan'er, kini wanita itu sudah meringkuk, Liancheng panik segera dibawanya kepala istrinya itu kepangkuan.
"Kenapa? Mana yang sakit?" Tan'er masih tak menjawab, rasa sakit dan sesak yang menghimpit dadanya membuat tenggorokannya tercekat, mengakibatkan suaranya tertahan.
Brak.
Suara pintu utama ruangan itu terbuka, terlihat sosok seorang pria berjanggut putih masuk tergopoh-gopoh menuju keduanya. Jubah emasnya berkibar, menyebarkan aura tegas dan berwibawa.
"Apa yang terjadi? Mengapa terjadi guncangan hebat?" Suaranya terdengar menggelegar dan berat. Pupil matanya membesar saat mendapati kondisi Tan'er tengah menahan sakit. "Apa yang terjadi padanya? Jangan-jangan ..."
"Tidak, dia tidak mungkin bisa keluar begitu saja. Segel yang menguncinya sangat kuat."
"Tidak lagi, setelah reinkernasi Tan'er membunuh seseorang."
Tan'er masih berusaha menahan rasa sakit di dadanya, iris amber miliknya menatap sayu pada sosok pria paruh baya dengan jubah emas berdiri menjulang di hadapannya.
"Yang ... Mulia Kaisar ... langit, di ..." Tan'er menarik nafas kuat, dadanya terasa semakin sakit saat mencoba untuk bersuara. "Dia ... be ... bebas." Suara Tan'er sangat lirih sampai-sampai Liancheng harus mendekatkan telinganya ke arah bibir istrinya itu.
Matanya melotot sempurna, kepalanya menoleh menatap sang Kaisar Langit. "Dia ..."
__ADS_1
Hah. Kaisar Langit menghela nafas pelan, dia sudah yakin ini. Lalu entah darimana, sebuah suara tawa menggelegar di seluruh penjuru ruangan. Liancheng mendongak menatap langit, berusaha mencari seseorang yang sudah menghasilkan tawa barusan.
"Apakah sakit Dewi Bulan. Sekarang kau tengah merasakan rasa yang sama saat kau menolakku dan memilih untuk menyegelku dahulu."
Asap hitam mengepul di sudut kiri ruangan. Menjalar dari bawah keatas, membuat sulur-sulur yang saling menarik satu sama lain. Menyatu, membentuk sosok tubuh transaparant dan semakin lama semakin pekat lalu beranjak sempurna.
Iris merah darah menatap lurus kearah tiga sosok yang masih mematung menatapnya. Tidak, bukan tiga, lebih tepatnya dua, sementara Tan'er masih berusaha kuat untuk menahan rasa sakit yang semakin dan semakin menghimpit dadanya.
Sosok itu menoleh kearah Kaisar Langit. "Lama tak bertemu, Kaisar Langit. Bagaimana hari-harimu eoh? Sudah menikmati masa-masa tua dengan baik?" seringai nakal tercipta di sudut kiri bibir pria dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.
Kini iris merahnya bergulir menatap tubuh lemah Tan'er yang kini tengah di pangku oleh Liancheng. Mendecak lidah tiga kali, pria itu menggeleng pelan kemudian menjentikkan jari. Dalam sekejap, tubuh Tan'er sudah berada di dalam pelukannya, layaknya magnet menarik benda yang terbuat dari besi.
"Apakah sakit?" Pria itu menunjuk tepat di tengah-tengah dada Tan'er, menekan area itu dengan jari telunjuknya kuat. Tan'er menjerit nyaring, setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Dirinya sangat kesakitan, kali ini dirinya merasa ada ribuan tangan tak kasat mata menekan dengan paksa dadanya. Bahkan Tan'er juga merasakan ada yang mencoba untuk menarik organ hatinya.
Pria itu kembali menekan kuat area tengah dada Tan'er tepat di tengah tulang belikat wanita itu. Suara teriakan nyaring bergema dan beradu dengan tawa menyenangkan si pria.
Liancheng ingin melawan pria kurang ajar yang telah berani melukai istrinya, namun gerakannya terhenti. Pria misterius itu menaikkan sebelah alisnya menatap Liancheng datar, kemudian pandangannya menatap kearah Kaisar langit yang kini wajahnya sudah memerah menahan amarah.
Ya. Pria misterius itu juga menahan gerakannya. Pria itu terkekeh, kemudian melempar tubuh ringkih Tan'er hingga membentur dinding, suara derak kayu yang patah dan juga teriakan Tan'er memenuhi ruangan. Liancheng sudah mengepalkan tangan geram, namun dia tak bisa apa-apa, dirinya masih tak bisa bergerak.
"Heh, kau menikahi pria lemah Tan'er, sayang sekali kau menolakku waktu itu." Pria misterius itu menatap lurus kearah Liancheng kemudian beralih kearah Kaisar Langit.
"Cih, aku masih tak bisa mengalahkanmu Pak tua." Pria itu berdecih, "Kalau begitu aku pergi dahulu. Selamat tinggal." Setelahnya sosok itu menghilang, menjadi kepulan asap yang perlahan terbang keluar ruangan.
Liancheng terlepas dari pengaruh pria itu, dan segera melajukan langkah menyusul Tan'er yang sudah terkulai lemas di tengah-tengah dinding ruangan yang rusak.
"Tan'er kau tak apa?" tanyanya panik.
"Bodoh, bawa dia ke dewa pengobatan sekarang juga." Suara Kaisar langit mengelegar, Liancheng segera menarik Tan'er dalam pelukannya dan melesat pergi menuju kediaman sang dewa pengobatan.
Kaisar langit menatap lurus kearah tempat pria tadi muncul, seperempat siku terlihat di dahinya, tangannya terkepal, urat-urat bermunculan di kepalanya pertanda emosinya sudah di puncak.
"Anak itu ternyata semakin kuat, ini bencana."
...°♡°♡°...
Liwey menggelengg kecil ke kiri, kepalanya berat. Mengerjabkan mata, Liwey menyipit menyesuaikan kontras cahaya yang menerobos masuk kedalam retina matanya.
__ADS_1
Hah. Liwey menghela nafas pelan.
"Kau sudah sadar?" sebuah suara terdengar kedalam indra pendengaran Liwey. Menolehkan kepala ke kanan, Liwey mendapati Jing Xuan yang sedang menatapnya khawatir.
Liwey tersenyum tipis, kemudian mengangguk menjawab pertanyaan Jing Xuan.
Hah. Jing Xuan menghela nafas lega, tangannya mengenggam tangan Liwey lembut. "Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkanmu."
Liwey tersenyum, iris ambernya menatap lekat iris beda warna Jing Xuan. "Kau ingin sesuatu? Pangsit? Teh jasmine? Atau apa?"
Kali ini Liwey terkekeh, perlahan wanita itu bangkit duduk di ranjang. "Terima kasih telah mengkhawatirkanku," ujarnya.
Liwey menatap Jing Xuan sekilas. Menghembuskan nafas, ingatan dirinya berkelana pada kejadian tadi malam. Kejadian saat dimana dirinya dengan mudahnya menghabisi dua nyawa sekaligus. Dirinya sudah layak di katakan sebagai pembunuh. Selama di sini dirinya sudah menghilangkan tiga nyawa dan membuat satu orang lumpuh.
"Aku ... pembunuh," ujarnya lirih. Jing Xuan meremas pelan jari jemari Liwey. Kepalanya menggeleng, seolah mengatakan jika apa yang Liwey katakan itu tidak benar. "Kau bukan pembunuh," ujarnya. "Kau hanya menyelamatkan dirimu sendiri, itu bagian dari penyelamatan."
"Tapi tetap saja ... aku pembunuh."
Jing Xuan meremas kedua bahu Liwey pelan, jari telunjukkan menarik dagu Liwey agar menatapnya. "Tidak. Apa yang kau lakukan itu adalah bukti untuk menyelamatkan diri. Itu bukan suatu kesalahan." Jing Xuan semakin meremas pelan bahu Liwey.
"Di dalam perang, bagi yang lemah maka akan kalah. Begitu juga dalam kondisi dirimu saat ini, kau sedang dalam kesulitan. Di satu sisi kau tersudutkan, jika tidak melawan maka kau yang akan kalah. Jadi, apa kau lakukan murni sebagai pertahanan diri."
"Tapi tetap saja, aku ..."
"Shhht." Jing Xuan meletakkan tangannya di depan bibir Liwey. "Jangan dipikirkan. Di luar sana, ada banyak orang yang sengaja membunuh orang yang ingin menyakitinya demi menyelamatkan diri sendiri. Jadi tak perlu khawatir."
"Jing Xuan ..." Liwey sudah hendak menangis, baginya perbuatan dirinya ini sudah layak untuk mendapatkan hukuman. Mengikuti hukum pada masa ini, siapa yang membunuh maka akan dibunuh juga. Dan Liwey takut, dia tak siap untuk mati yang kedua kalinya. "Aku takut di hukum."
Jing Xuan tersenyum menenangkan. "Kau tak akan di hukum, Kaisar berada di pihakmu. Lagipula ..." pandangan Jing Xuan menyipit, rahangnya mengeras menahan amarah. "Aku akan mengungkap siapa yang telah berniat jahat padamu."
"Ailin," lirih Liwey tanpa sadar. Jing Xuan kembali tersenyum, berusaha untuk menenangkan istrinya.
"Aku tahu, dan aku sudah siapkan hukuman apa yang pantas untuknya." Liwey menatap dalam wajah Jing Xuan yang kini tengah tersenyum menenangkan dirinya. Bagai virus menular, Liwey juga ikut tersenyum.
Brakk ...
"Putri Jing, aku dengar kau di culik?!"
__ADS_1
...°♡°♡°♡°...
TBC ...