Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 9 : Putra Mahkota.


__ADS_3

Edit : Revisi.


JING XUAN menatap tajam dua pria paruh baya utusan kaisar itu sengit. Tak cukupkah tadi pagi ia mengatakan kalau dirinya tak ingin memerima dekrit kaisar, tapi kenapa dua orang tua ini terlihat sangat memaksa.


"Katakan pada kaisar aku tidak bersedia," ujar Jing Xuan dingin. Bahkan aura dingin yang kerap muncul disaat ia sedang marah ikut serta. Membuat hari terpanas dalam musim panas tahun ini sontak berubah dingin akibat aura tak biasa yang ia keluarkan.


"Ampun yang mulia... tapi ini juga ada hubungannya dengan ibu suri, yang mulia." Pria berpakaian serba biru menunduk hormat.


"Ibu suri yang meminta raja untuk menyampaikan dekrit ini, yang mulia." Kali ini pria disebelahnya yang menunduk.



Semilir angin malam menerpa wajah seorang pemuda yang tengah berdiri menatap nanar seonggok tanah galian yang dimana terdapat sosok ibunya, ibu yang sangat ia sayangi dan banggakan sedang terbaring pucat didalam peti mati. Prosesi pemakaman sudah selesai saat langit beranjak senja. Namun Jing Xuan masih tetap kukuh akan pendiriannya untuk menemani ibunya malam ini.


Derap langkah pelan dan ringan terdengar dari arah belakangnya. Namun Jing Xuan tak menggubris. Pemuda itu masih pada pendiriannya menatap batu nisan dengan tatapan nanar.


"Ohh... cucuku kembalilah," ujar seorang wanita dengan hanfu putih sederhana namun terkesan mewah tengah memengang pundaknya. Jing Xuan sedikit menoleh, lalu kembali ke atensi awalnya. Batu nisan mendiang ibunya.


"Nenek, apa ibu baik-baik saja didalam? apa disana dia dilayani selayaknya seorang permaisuri kaisar? apa dia diberikan makanan enak? dia tidak kedinginan didalam sana 'kan?" Jing Xuan remaja bertanya banyak hal namun dengan nada datar.


Memang setelah ibunya dikatakan meninggal akibat telat melakukan pertolongan terhadap racun mematikan yang bersarang ditubuhnya membuat Jing Xuan merubah sifatnya.


Jing Xuan yang awalnya suka tersenyum dan peyanyang, kini menjadi Jing Xuan dengan muka datar serta kesan dingin yang menyeramkan dan beringas.


"Dia akan baik-baik saja. Apa kau tidak ingin pulang? kasihan adikmu." Jing Xuan menoleh sekilas.


"Rawatlah dia, aku masih ingin disini." Jing Xuan kekeh akan pendiriannya, membuat wanita itu menghela nafas pasrah lalu meninggalkan Jing Xuan sendirian yang sebelumnya berkata 'berhati-hatilah'



Jing Xuan melangkah gontai, kulit putihnya terlihat pucat, iris mata uniknya terlihat tidak bersemangat dan lagi ada lingkaran hitam yang tercetak jelas dibawah matanya.


"Ibu suri, pangeran Xuan tidak ada di pemakaman." Langkah Jing Xuan terhenti saat mendengar seseorang menyebut namanya.


"Cari dia! Aku tidak mau kehilangan dia."


"Baik Ibu suri."


Jing Xuan semakin mengeryit, kenapa mereka mencari dirinya yang sudah jelas-jelas berada di kediaman. Baru saja Jing Xuan terpikir untuk menemui Ibu suri, namun langkahnya terhenti saat suara neneknya terdengar membentak saat terdengar suara bayi menangis.


"Aihh... bisakah kau diam! aku sangat tidak menyukai bayi perempuan, jika bukan karena kakak mu dapat menguntungkanku aku tak sudi merawat bayi cengeng sepertimu." Hati Jing Xuan mencelos mendengar penuturan yang keluar dari neneknya. Jadi dia hanya dijadikan barang yang menguntungkan. Heh... iya juga, mana ada orang yang dengan ikhlas menerimanya yang aneh dengan membawa seorang anak kecil. Jing Xuan mendecih, kemudian berjalan santai menuju pendopo dimana terlihat Ibu suri tengah santai dengan tehnya dan adik perempuannya yang dibiarkan menangis di sudut kiri pendopo. Heh... sungguh miris.


Jing Xuan melangkah gontai, kulit putihnya terlihat pucat, iris unik miliknya menatap nanar terhadap gulungan kain putih yang membalut tubuh mungil adik kecilnya. Telinganya mendengar jelas raungan dari sana. Dan itu jelas membuat hatinya tertohok, menatap kenyataan yang tak seindah ekspektasinya.


Ibu suri hanya bisa terbelalak saat matanya menangkap sosok Jing Xuan.


"Ahh... Ji.. Jing Xuan, kapan kau kem..."


"Aku akan pulang ketempat ibuku, dan tinggal disana. Terima kasih atas perhatiannnya ibu suri, aku pamit."


Jing Xuan berjalan menjauh meninggalkan Ibu suri dipendopo terpaku sendirian.



Jing Xuan mendesah pelan, apa lagi yang di inginkan wanita tua itu. Menyeringai, Jing Xuan melirik dua pria itu dari ujung matanya.


"Aku-tak-akan-menarima-dekrit-itu," kata Jing Xuan dengan menekankan setiap perkataannya. Berbalik, Jing Xuan segera pergi meninggalkan dua orang tua yang masih setia membungkuk itu menuju kearah aula acara.

__ADS_1


"Bagaimana ini? apa yang akan kita katakan pada Ibu suri?" Pria berpakaian biru bertanya heboh.


"Tenang saja, Mo Liang Jie saat ini berada dikediaman ibu suri." Pria satu lagi terlihat menyeringai, menoleh kearah pria berpakaian biru. "Kita akan manfaatkan gadis kecil itu."



Jing Xuan sudah berdiri tepat dihadapan pintu dibelakang tubuh gadisnya yang sepertinya tak menyadari kedatangannya. Lama Jing Xuan berdiri menunggu agar gadisnya berjalan menuju meja yang disediakan namun tak kunjung jua. Ada yang tidak beres, diikutinya arah pandang mata gadis nya, sontak rahang Jing Xuan mengetat menahan rasa aneh didalam hatinya dan juga amarah. Berusaha tenang Jing Xuan mencoba memanggil Liwey.


"Putri Jing," ucap Jing Xuan dengan nada datar tak biasa. Liwey yang sedari tadi berdiri didepannya tersentak dan segera berbalik manatapnya, mata Jing Xuan yang menggelap seperti sedang kesal membuat Liwey menelan saliva gugup.


Jemari Jing Xuan mengait tangan Liwey, meletakkan jarinya ditiap sela jari Liwey.


Menarik Liwey menuju meja yang disediakan untuk mereka.


"Ka... kau kenapa?" tanya Liwey gagap, sungguh pengangan tangan kali ini tidak membuat Liwey merasa nyaman. Melainkan bulu kuduknya meremang saat suhu dingin mengalir dari tangan Jing Xuan kedalam tubuhnya. Membuat tangan yang digenggam Jing Xuan serasa beku dan mati rasa.


"Kau ingin membunuhku, ini dingin." Liwey mengerutkan alisnya, kenapa ruangan ini tetap hangat saat Jing Xuan sedang tidak dalam mood baik seperti ini? apa jangan-jangan Jing Xuan sudah dapat menguasai kekuatannya? Ini bisa gawat, Liwey pasti akan selalu di bully manusia spesial satu ini.


Kembali Liwey merinding saat dirasakannya suhu dingin mulai merambat kedaerah lehernya.


"Hentikan," lirih Liwey. Tangan kirinya yang bebas ia gunakan untuk membantu jarinya terlepas. Namun seakan tersengat listrik, Liwey mengibaskan tangannya yang terasa sangat dingin keudara. Memancing atensi seluruh orang yang berada disana menatap kearah Liwey yang kelihatan tidak nyaman.


"Xuanxuan..,"Liwey merengek meletakkan kepalanya kedada bidang Jing Xuan mencoba mencari kehangatan, karena sekarang kepala dan wajahnya juga sudah mati rasa akibat suhu dingin yang merambat dari genggaman tangan Jing Xuan. Menyurukkan kepala keceruk leher Jing Xuan, sontak membuat Jing Xuan melepas pengangan tangannya saat dirasakannya wajah gadisnya sangat dingin. Ahh... dia terlalu berlebihan menghukum Liwey hanya karena kecemburuannya? Benarkah Jing Xuan cemburu?


Jing Xuan menghembuskan nafas perlahan, Liwey benar-benar berbahaya. Dihari pernikahan mereka saja sudah membuat Jing Xuan ketar-ketir menanggapi perasaan dan jantungnya yang sering berdegup kencang.


"Kau dingin." Jing Xuan mengelus rambut Liwey lembut.


"Karena mu," ucap Liwey lirih. Membuat Jing Xuan sontak dihinggapi rasa bersalah.


Jing Xuan hanya tersenyum tipis kearah Wenhua, menanggapi perkataannya. Lalu kembali menatap Liwey yang masih asik menyembunyikan wajah nya diceruk leher Jing Xuan. Hembusan nafas Liwey menerpa leher Jing Xuan.


Oh... tuhan Jing Xuan lelaki normal dan sialnya Liwey sangat mudah meningkatkan libidonya hanya dengan sentuhan sedikit saja.


"Maafkan aku..." Jing Xuan terlihat mengambil nafas gusar, "tapi bisakah kau kembali duduk seperti biasa?"


Liwey menggeleng, "Dingin... di sini hangat,"ucap Liwey ngasal.


"Tapi kau membuatku tersiksa Liwey." Eh... Liwey mengerut di balik leher Jing Xuan bingung, "aku tidak bisa memakanmu disini, jadi tolong jangan dibangkitkan."


Perkataan Jing Xuan sontak membuat Liwey duduk tengak sembari menatap horror Jing Xuan yang terlihat mulai gelisah didepannya.


******, kenapa pria ini mudah sekali terangsang? apa dia tidak bisa mengendalikannya kah? seperti tidak pernah bercinta saja sampai sangat mudah memiliki hasrat' pikir Liwey masih dengan menatap Jing Xuan yang kini tengah menengak secangkir teh.


"Adik ipar, kau ternyata sangat manja pada adik Xuan." Perkataan pangeran mahkota mengalihkan atensi Liwey.


"Tidak, aku tidak manja dengannya," jawab Liwey cepat. Gimana ceritanya mau bermanja sama pria super sibuk seperti Jing Xuan' pikir Liwey.


"Jadi... yang kau lakukan tadi?"


"Ahh... itu hanyalah bukti kalau aku sangat mencintai suamiku, benar kan Xuan sayang." Liwey mengecup pipi kiri Jing Xuan kilat, mencoba membuktikan kalau dirinya dan Jing Xuan sangat serasi.


Dapat Liwey tangkap, lirikan mata tajam Yimin menatap kearahnya dan juga Huangli yang mendadak naik pangkat itu menggeram marah.


"Kau harus bertanggung jawab nanti," bisik Jing Xuan yang sontak membuat seluruh bulu roma Liwey berdiri, sontak Liwey menoleh kearah kiri hendak menatap wajah Jing Xuan, namun apa daya, sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Mata Liwey sontak melotot saat benda basah, kenyal dan lembut menyentuh bibirnya.


"Aku tidak melakukannya, itu tidak sengaja." Ahh... ingin Liwey tenggelamkan wajah polos pria didepannya ini sekarang juga. Menghela nafas, Liwey memilih diam malas berdebat dan langsung meraih gelas berisi teh diatas mejanya.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, pria beriris kelabu menaikkan sudut bibir kirinya. Matanya tak pernah lepas dari sosok Qu Liwey yang sudah seminggu ini membuatnya selalu kepikiran. Apa yang istimewa dari seorang putri Jing ini.


"Putri Jing." Panggil Yanzhi yang sontak mengundang pandangan dari setiap orang yang berada di sana, dan yah... kalian harus lihat bagaimana tatapan membunuh dari Yimin sekarang.


"Aku mendengar kau tak dapat mengartikan sebuah idiom mudah saat adik ke-4 bertanya waktu itu. Jadi... aku ingin menguji..."


"Aih..." Liwey mendengus, membuat Yanzhi tak lagi melanjutkan perkataannya..


"Waktu itu aku hanya lupa saja. Dan bukannya pangeran mahkota hendak melamar kakak saya 'kan? kenapa tidak bertanya pada dia saja." Liwey berucap malas, dengan santai mencomot satu buah dimsum daging di atas piring dan memasukkannya kedalam mulut, membuat pipi sedikit chubby Liwey semakin terlihat Chubby.


Ia tak terlalu peduli dengan tatapan semua orang yang tertuju kearahnya, bahkan tatapan membunuh pangeran mahkota tak lagi ia hiraukan. Menelan. Liwey menatap kedepan, meneliti tiap lekuk wajah Yanzhi yang kini memerah sempurna dengan guratan urat wajah yang tampak keluar.


"Dia kenapa?" tanya Liwey pada Jing Xuan yang masih setia dengan wajah plat andalannya.


"Pangeran mahkota tak menyukai perkataannya di sela. Hukuman mati, dicincang dan di jadikan makanan Lian."


"What...!" Liwey membelalak, bola matanya kembali menatap Yanzhi yang masih setia dengan wajah penuh guratan urat di leher dan dahi.


"Kau akan membunuhku hanya karena masalah sepele? apa dunia ini tidak sanyang pada nyawa." Ouhh... kemana Liwey yang tadi terlihat kedinginana dan lemah. Ah... akibat ciuman dari Jing Xuan membuat mood Liwey anjlok. Ia benar, ini karena Jing Xuan yang membuat Liwey menjadi putri pemarah sekarang.


Seakan ada asap yang keluar dari kuping dan hidung, Yanzhi menggeprak meja sampai terbelah dua. Amarahnya sudah benar-benar memuncak sekarang, aura kelam sudah menguar di seluruh penjuru aula membuat semua yang berada di sana kecuali Jing Xuan beringsut takut.


Bahkan Liwey yang berbuat ulah kini mematung ditempat masih setia menatap Yanzhi dengan kedua matanya.


'Aura ini kenapa sangat familiar' batin Liwey masih tak mengalihkan pandangannya dari Yanzhi.


"Heh..." Yanzhi berdecih, "Aku masih mengahargaimu sebagai adik iparku... Jika tidak kau pasti akan mati ditanganku," lirihnya rendah.


"Aku permisi, lamarannya dibatalkan." Yanzhi langsung bergerak keluar ruangan aula, meninggalkan semua orang yang tengah mematung disana.


Sedetik setelah pintu aula tertutup, Yimin sontak menangis histeris sembari menunjuk Liwey sebagai perusak suasana.


"Kau j*l*ng. Kenapa kau membuat pangeran mahkota tersinggung. Sekarang kau harus dapat pelajaran." Liwey menatap Yimin datar. Membuat gadis yang masih menangis histeris itu sontak mundur lalu pergi keluar ruangan diikuti Huangli.


Liwey masih terpaku, aura kelam itu... dimana dia pernah merasakannya. Dia seperti dejavu sesaat. Tapi...


"Liwey.." Panggilan dari Wenhua mengalihkan atensi Liwey dari dunia pikirannya. Ditatapnya Wenhua dalam, lalu berganti menatap Jing Xuan yang kini tengah menatapnya datar. Dia tidak tahu kemana hilangnya tatapan usil pria itu, tapi ini bukan saat yang tepat untuk membahas ekspresi.


"Aura itu..." bisik Liwey lirih dan sedetik kemudian hilang di telan kegelapan.



Hohoho... lama ya..


pasti kan.


sebelumnya Audhi mo minta maaf karena lama gak update


sekilas info


Qu Liwey bakalan Audhi lanjutkan awal bulan April, jadi bagi kalian yang suka sama cerita yang audhi tulis terus pantengin ya... dan nantikan terus. .


oh ya.. Audhi juga butuh vote dan dukungan kalian buat cerita audhi yang ikut kontes fiksi remaja... kalian jangan lupa baca ya..


judulnya summer


__ADS_1


__ADS_2