
...Klik 👍 sebelum membaca dan klik 💜 untuk menjadikan Qu Liwey di daftar favoritmu....
..._______...
Mentari menerobos masuk dari cela-cela jendela kamar. Mengusik dua insan yang tengah berpelukan di atas ranjang. Ah ... bukan dua, hanya satu. Hanya Liwey yang terusik.
"Aih Jiali ... aku ingin tidur lebih lama, bisa kau tutup jendelanya!" Liwey berujar malas. Rasa nyaman dari sesuatu yang tengah ia peluk sungguh membuat Liwey tak ingin beranjak dari tidurnya.
Eh ... tunggu dulu. Sesuatu? Nyaman? Di peluk?
Seketika mata Liwey membuka sempurna. Ingatan akan malam dimana Jing Xuan meminta untuk tidur dengannya menyambangi otak Liwey. Bantal. Iya, kemana bantal yang ia jadikan pembatas semalam.
Tidak ada!!
Liwey menatap garang wajah damai lelaki yang sialnya sangat tampan saat sedang tidur. Liwey menggeleng. Tidak, dia tidak boleh mengagumi wajah orang yang telah merusak perjanjian awal.
Tangan Liwey terangkat, menjambak rambut putih Jing Xuan kuat.
"Apa yang kau lakukan, dasar mesum?! Bukannya tidak ada pelukan, kenapa kau memelukku!!"
"Astaga, rambutku!!" Jing Xuan meringis. Tarikan Liwey pada rambutnya pagi ini membuat Jing Xuan terkejut. Bagaimana tidak, saat kita masih enak-enaknya berlabuh dialam mimpi, tiba-tiba seseorang dengan tidak berperikemanusiaan menarik rambut kita lalu memaksa untuk keluar dari alam mimpi yang indah.
"Hei?!! Apa masalahmu, lepaskan rambutku?!!" Teriak Jing Xuan, sungguh tarikan yang menimpa rambut panjang miliknya itu sangat menyakitkan. Bahkan Jing Xuan yakin kulit kepala akan lepas jika saja Liwey menariknya lebih kuat dari ini.
"Kau melanggar perjanjian, 'kan sudah kukatakan tidak boleh melewati batas yang sudah ku buat."
"Siapa yang melewati batas?!"
"Kau!!."
"Aihh ... Hei, bisa berhenti menjambakku sekarang, kurasa kulit kepalaku akan terlepas."
Liwey langsung melepas jambakannya dari rambut Jing Xuan. Beranjak duduk, Liwey berkacak pinggang, menyorot Jing Xuan tajam.
Sementara Jing Xuan, laki-laki itu masih asik mengusap bagian kepalanya yang terasa panas akibat jambakan Liwey.
"Pantas saja Putri Ailin begitu menderita, ternyata jambakannya sekuat ini," gumam Jing Xuan.
"Kau bilang apa?!"
Hah ... Jing Xuan menghela nafas mendengar ucapan sarkas dari Liwey. Jing Xuan merasa dirinya sudah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Bagaimana istrinya ini bisa menjadi semengerikan ini.
"Apa masalahmu? Suami lain akan mendapatkan ciuman di pagi hari oleh istrinya, dan kau malah menjambak rambutku di pagi hari, ini kekerasan!!"
"Kau bertanya apa masalahku?! Kau sudah memelukku semalaman, Jing Xuan." Liwey melempar bantal kewajah Jing Xuan.
"Eh ... hentikan!!" Jing Xuan mengelak. Namun sepertinya Liwey tak ingin menghentikan kegiatannya memukul Jing Xuan dengan bantal.
Geram, akhirnya Jing Xuan menarik bantal dari tangan Liwey dan membuangnya sembarang arah. "Dengarkan aku." Jing Xuan memegang kedua bahu Liwey.
"Kau tidak mengingat apapun?" Lanjutnya.
Liwey mengerutkan kening, "apa maksudmu?"
"Aih, istriku sayang. Kau yang sudah memelukku bagaikan guling semalam, bahkan...." Jing Xuan menghentikan ucapannya, memeluk diri sendiri lalu memasang wajah ketakutan yang dramatis.
".... kau juga menciumi wajah dan bibirku," lanjut Jing Xuan lirih.
__ADS_1
Liwey membulatkan mata, apa itu artinya Liwey yang terlebih dahulu memeluk Jing Xuan tadi malam. Dan apa itu tadi, mencium pipi? bibir?
Sekarang bukan hanya mata Liwey yang membola, bibir gadis itu juga sudah terbuka sempurna. Liwey menjauh sedikit dari Jing Xuan, "k --- kau berbohong 'kan?"
Jing Xuan menahan senyum. Melipat bibir, Jing Xuan menggeleng sembari masih mempertahankan ekpresi seseorang yang baru saja dilecehkan.
"Kau melakukannya, bahkan jika aku tidak melawan dirimu tadi malam, hiks." Jing Xuan mempoutkan bibir dan berpura-pura menangis. Liwey panik, dari perkataan Jing Xuan barusan seolah mengatakan jika Liwey hampir melecehkan Jing Xuan.
"Apa ... apa aku hampir melakukan itu." Liwey memainkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk tanda kutip. Jing Xuan mengangguk, masih setia mempertahankan wajah dramatisnya. Walau sebenarnya ia sudah tak tahan ingin tertawa.
"Huwaaa ... yang benar saja?!"
Tak pelak, Jing Xuan tak sanggup menahannya lagi. Seketika tawa renyah Jing Xuan mengisi keseluruhan ruang kamar Liwey. Membuat Jiali yang baru saja hendak masuk kedalam kamar Nonanya, menghentikan langkah.
"Kau ternyata sangat bodoh." Jing Xuan masih saja tertawa, bahkan kini pria itu sudah berguling diatas ranjang sembari memegangi perutnya.
"Kau membohongiku?!" Sebuah pukulan Liwey layangkan ke kepala Jing Xuan. Membuat Jing Xuan meringis namun masih bisa tertawa.
Mengusap ujung kiri pelupuk mata, Jing Xuan menormalkan kembali deru nafasnya. Akibat tertawa terlalu keras membuat Jing Xuan sakit perut dan juga sesak. Untung saja pria itu tidak tersedak.
"Kau hanya memelukku, tidak melakukan hal lain," jelas Jing Xuan. Liwey menyilangkan tangan didepan dada. Memajukan bibir bawah, Liwey menatap Jing Xuan kesal.
"Ish ... kau seolah mengatakan aku perempuan mesum, kau tahu?!"
Jing Xuan terkekeh, ternyata mengerjai Liwey sangat menyenangkan. "Apa benar kau bukan perempuan mesum?!" 'kan, entah kenapa Jing Xuan jadi ingin mencari masalah pada Liwey pagi ini.
"Hei ... kau ingin ku bunuh?! keluar dari kamarku, sekarang!!"
Ouh ... wajah kesal Liwey sangat imut dipandangan Jing Xuan. Ingin sekali Jing Xuan mengecup pipinya. Bolehkan? Toh mereka sudah menikah.
Satu kecupan mendarat di pipi kanan Liwey, "kau sungguh mengemaskan." Jing Xuan juga mencubit pelan pipi kanan Liwey.
Liwey menepis tangan Jing Xuan," Ish ... sekarang siapa yang mesum?!"
Jing Xuan terkekeh, "mesum pada istri sendiri tak apa 'kan."
"Arghh ... KELUAR DARI KAMARKU, SEKARANG!!!" Kesabaran Liwey benar-benar di uji pagi ini.
Bukannya menuruti kemauan Liwey, Jing Xuan malah mendekap istrinya itu membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
"Jangan mengusirku, hatiku sakit saat kau mengusirku."
Apa ini? Liwey membatu, deru nafas Jing Xuan terasa menggelitik leher Liwey.
"A-- apa yang ka--kau lakukan?" Liwey berujar gagap, perlakuan Jing Xuan sungguh membuatnya tak dapat berpikir jernih. Ouh, jangan lupakan deru nafas Jing Xuan yang menerpa kulit leher Liwey. Itu sungguh membawa perasaan kupu-kupu terbang di perut Liwey.
"Biarkan seperti ini, akan sangat nyaman jika berada di pelukanmu. Ahh ... aku ingin memelukkumu selamanya."
Loh!? Kenapa Jing Xuan berubah manja begini. Liwey tak mengerti, rasanya baru saja Liwey melihat sisi menyebalkan dari pria yang sedang memeluknya ini. Kenapa sekarang malah berubah jadi manja seperti ini, 'kan Liwey jadi gemes sendiri.
Menarik nafas lalu menghembuskannya, Liwey berusaha rileks. "Kau kenapa? tiba-tiba berubah jadi manja padahal tadi kau sangat menyebalkan," gerutu Liwey.
"Aku tak tahu, aku hanya ingin seperti ini denganmu." 'Kan Liwey jadi pengen nyium. Gemes deh. Menggeleng, Liwey memukul pelan kepalanya agar otaknya kembali benar. Apa-apaan pemikiran pengen mencium Jing Xuan.
Tidak.
Liwey tidak akan pernah melakukan itu.
__ADS_1
"Lepaskan." Liwey mendorong Jing Xuan pelan, dipandanginya iris beda warna milik Jing Xuan lekat.
Ahh ... kenapa dia imut sekali saat manja begini.
"Lebih baik kau pergi ke kamarmu, kau harus mandi bukan?"
"Aku akan mandi jika di mandikan olehmu." Ahh ... Liwey menyesali pujiannya pada Jing Xuan. Pria ini tetap saja menyebalkan.
"Kau kira kau masih bayi, hah?!"
"Aku 'kan bayi besarmu."
Baiklah, Liwey sudah benar-benar geram dan stok kesabarannya sudah di ujung tanduk. Memaksa senyum, Liwey memegang kedua bahu Jing Xuan. "Kalau ku bilang keluar, maka harus keluar."
Brak ...
Berhasil, Liwey menjatuhkan Jing Xuan dari atas ranjang.
"Hei, kau ..."
"Apa?!"
Huh ... Jing Xuan mendengus. Segera pria itu beranjak berdiri. Kehormatannya sebagai laki-laki paling di takuti di negri Dong Yuo jatuh di tangan sang istri. Marah?
Tidak.
Jing Xuan tidak marah. Entah kenapa jika Liwey yang melakukannya Jing Xuan memilih tidak marah, bahkan bisa dibilang dia sedikit senang. Namun jika orang lain, Jing Xuan tidak akan segan-segan memenggal kepalanya.
Haihh ... seorang pria yang dianggap tiran di suatu negri juga akan tunduk jika dihadapkan dengan gadis yang dicintainya bukan? Apalagi Jing Xuan.
Tersenyum, Jing Xuan mendekati Liwey.
"Kau kasar sekali, Putri Jing. Tapi aku suka." Mengecup sekilas bibir Liwey, Jing Xuan keluar dari kamar Liwey. Meninggalkan gadis itu yang tengah mematung, akibat kecupan singkat yang diberikan Jing Xuan padanya.
"Jing Xuan DASAR MESUM!!!"
...°♡°...
TBC ...
tdu tdu tdu tdu
Hallo ... Audhi back ...
sekilas bocoran, mungkin dari chapter ini hingga 3 atau 5 chapter kedepan, akan diisi dengan keuwuan dua pasangan fenomenal kita. Jadi bagi yang jomblo, siapin hati yah ...
Soalnya kita sama, Audhi yang nulis juga jomblo. Tega banget tuh dua orang umbar kemesraan di hadapan jomblowers.
Jing Xuan : Cari pasangan sana?!!
Aihh ... untung masih sayang sama Jing Xuan, kalo enggak udah di depak juga nih tokoh ke segitiga bermuda.
Baiklah lupakan.
Jangan lupa like and koment nya ya ...
salam Audhi Kim.🤓🤓
__ADS_1