Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 18 : Rencana Ailin.


__ADS_3

Jangan lupa tekan 👍 sebelum membaca dan tekan 💜 agar menjadikan Qu Liwey di list favoritmu.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Ailin membanting pintu kuat. Kedua tangannya terkepal, dadanya naik turun dengan cepat, nafasnya tak teratur. Dalam sekejab, guci porselen berisi rangkaian bunga melayang kesudut ruangan. Menciptakan suara nyaring memekakkan telinga serta hamparan porselen berserakan di lantai.


Ailin marah dengan apa yang ia lihat. Menurutnya Liwey sudah kelewatan dalam menarik perhatian Jing Xuan, ia bahkan tak peduli akan apa kedudukan Liwey di sisi Jing Xuan.


Bagi dirinya, Jing Xuan hanya untuknya. Tidak boleh ada gadis lain yang mendapatkan hati Jing Xuan selain dirinya. Sudah cukup ia menderita saat tahu Jing Xuan mengangkat dua orang selir untuk mengisi kediaman dan juga sudah cukup bagi Ailin menangis terisak saat mengetahui Jing Xuannya menikahi gadis dengan rumor bodoh yang tak terelakkan. Kali ini, Ailin tak ingin untuk menyesal dan merugi lagi.


Dia harus mendapatkan hati Jing Xuan bagaimana pun caranya, bahkan jika itu mempertaruhkan kehormatan serta pertumpahan darah. Ailin akan tetap bergerak, sudah cukup ia menderita selama ini. Sekarang adalah waktu bagi kebahagian Wu Ailin.


Tersenyum menyeringai, Ailin sudah tahu apa hal yang akan ia lakukan sekarang.


"Qu Liwey, lihatlah sampai mana kau dapat bertahan."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Suara jangkrik beradu lembut di malam gelap tak berbintang saat itu. Liwey baru saja terbangun dari tidurnya, mendapati Jing Xuan yang juga berbaring di samping dirinya hampir membuat Liwey berteriak karena terkejut.


Namun urung ia lakukan saat mendapati wajah damai Jing Xuan ditengah tidurnya. Liwey mengubah posisinya menjadi berbaring terlentang, matanya menatap lekat kearah langit-langit kamar. Ingatan akan dirinya yang berubah melankolis sore tadi menyambangi otaknya.


Dan juga keinginan bodohnya dengan meminta Jing Xuan untuk menjadi temannya dan memulai semuanya dari awal. Sontak saja Liwey memukul dahinya pelan, merutuki kebodohan kata-katanya. Apa dia mabuk saat berkata seperti itu?


Tidak.


Liwey sangat ingat kalau ia sadar saat mengatakan itu. Apa mungkin ini keputusan yang tepat. Lagipula, bukankah Liwey memang butuh teman untuk berbagi didunia ini. Bukan berarti ia tak menganggap Jiali tak cocok diajak untuk berbagi. Hanya saja, pertanyaan yang banyak bercokol di kepalanya sekarang ini pasti di luar nalar Jiali yang sedari kecil mengabdikan diri sebagai dayang.


Jadi, apa keputusan mengajak Jing Xuan sebagai teman sudah benar? Sepertinya Iya.


Dengan perlahan Liwey menyibak selimut yang membalut dirinya serta Jing Xuan didalamnya. Duduk dipinggir ranjang, Liwey menyambar jubah Jing Xuan yang diperkirakan dapat membuat dirinya hangat di malam dingin ini.


Berjalan perlahan, Liwey memutari kediaman seorang diri ditengah malam. Suara jangkrik yang saling sahut-sahutan, dan juga katak seolah tak ingin kalah memulai aksi dengan mengeluarkan suara khasnya.


Sesekali suara burung hantu juga ikut terdengar. Serta, hembusan angin yang lumayan kencang membuat dedaunan saling bergesekan, dan menciptakan suara alam yang disukai Liwey akhir-akhir ini.


Jika dulu di dunia modern, Liwey sangat menyukai musik K-pop. Mungkin disini Liwey sangat menyukai simfoni alam. Alunan lembut sang alam bagaikan obat penenang baginya.


"Apa yang kau lakukan diluar saat malam seperti ini, Putri Jing." Suara Jing Xuan mengalihkan atensi Liwey yang sedari tadi menatap langit gelap tanpa bintang teralih.


Sejak kapan ia terbangun?


Liwey tersenyum tipis, sebelum melanjutkan jalannya. Meninggalkan Jing Xuan dibelakang tanpa kata.


"Kau sangat tidak sopan, Putri Jing." Jing Xuan berujar, sembari mengikuti langkah kecil Liwey dari belakang.


"Aku hanya sedang tak ingin bersuara," jawab Liwey.


"Barusan kau bersuara?"


"Itu karena kau memancingku, Xuanxuan."


Jing Xuan diam saja mendengar jawaban dari Liwey. Nama panggilan Xuanxuan yang diberi Liwey untuknya tak terdengar buruk, hanya saja jika dihadapan orang lain pasti akan sangat berbeda jika Liwey tetap memanggil dirinya tanpa rasa hormat seperti itu.


"Putri Jing, apa kau bisa mengabulkan satu permintaanku?"


"Hmm."


Jing Xuan kini sudah berjalan bersisian dengan Liwey. "Bisakah kau memanggilku dengan sopan saat sedang bersama yang lainnya."


Liwey menghentikan jalannya, ia jadi teringat akan kejadian dimana ia dihukum membersihkan halaman belakang. Liwey juga ingat, pengakuan si kecil Jie'er bahwa Jing Xuan tak suka direndahkan. Apa lagi dihadapan banyak orang.


Liwey sadar dirinya sudah terlalu kelewatan.


"Baiklah, dan ... maafkan atas kesalahanku dahulu."


Jing Xuan mengusap puncak kepala Liwey pelan.


"Aku sudah memaafkanmu, lebih baik kau lanjutkan istirahat. Angin malam tak baik untuk dirimu."


Liwey tersenyum kecil mendapat perhatian dari Jing Xuan, "aku sudah terbiasa mendapat serangan dingin dari dirimu, angin malam tidak ada apa-apanya bagiku."


"Terimakasih sudah mengkhawatirkanku." Lanjut Liwey, lalu tanpa kata pamit. Liwey berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Jing Xuan yang tengah menatap punggung yang ditutupi jubah kebesaran itu dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Mungkin, Jing Xuan sudah terpikat akan pesona seorang Qu Liwey.

__ADS_1


Ah ... dia sudah terpikat dari lama, hanya saja Jing Xuan itu pria paling tak peka di dunia.


\=\=\=\=\=\=\=


Pagi menyapa, alunan suara burung yang bersahut-sahutan serta kokokan ayam melengkapi harmoni pagi ini.


Liwey, sejak terbangun di malam tadi tidak melanjutkan tidurnya. Gadis itu hanya duduk didepan jendela sembari membaca buku yang ia pinjam dua minggu terakhir dari perpustakaan pribadi Jing Xuan. Ah ... lebih tepatnya, Liwey mencuri buku itu.


Pintu kamar terbuka, menampilkan Jiali yang masuk dengan peralatan pagi di atas nampan yang ia bawa. Seharusnya Jiali tidak perlu repot untuk pagi ini, karena sebenarnya Liwey sudah bersiap-siap sedari subuh.


"Ah ... Nona, anda sudah bersiap?" Jiali dengan cepat meletakkan nampan yang ia bawa keatas nakas disamping ranjang. "Maafkan Jiali Nona, Jiali terlambat untuk membantu anda bersiap," ujar Jiali bersimpuh di lantai.


Liwey tersenyum tipis. "Tak apa, aku saja yang terlalu cepat bangun hari ini."


Jiali masih tetap menunduk, "Hmm ... aku akan izin kepasar hari ini, kau mau menemaniku Jiali?"


Jiali sontak mendongak, dengan cepat gadis yang hari-harinya berkepang itu langsung mengangguk mengiyakan ajakan Liwey.


"Tapi, apa gerangan anda hendak pergi ke pasar, Nona?"


"Aku hanya ingin jalan-jalan saja, ah ... dan juga aku ingin makan jajanan di pasar tentunya." Jiali mengangguk paham.


"Apa ada yang anda perlukan lagi pagi ini, Nona?"


"Tak ada, kau boleh pergi."


Jiali mengangguk, lalu berjalan mundur kearah pintu kamar.


Liwey menutup buku bacaannya saat Jiali sudah benar-benar keluar dari ruangan. Setelah merenggangkan otot tangan dan betisnya yang tiba-tiba kaku, Liwey langsung berjalan menuju meja rias miliknya.


Ditatap dirinya dari pantulan cermin tembaga. Hanfu berwarna merah muda dengan corak bunga mawar merah kecil dibagian bawah dan juga ujung lengan. Membuat Liwey tampak anggun hari itu.


Liwey kemudian duduk di kursi meja rias, menyapukan bedak tipis diwajah dan juga pemerah bibir. Liwey juga mengatur rambut panjangnya menjadi model kelabang lalu menyanggulnya dengan menjadikan tusuk konde bermodel kupu-kupu berwarna pink dengan tambahan kristal biru sebagai penyangga.


Liwey merapikan poni, lalu mulai beranjak dari kursi. Sekali lagi diperhatikannya fashion dirinya pagi ini. Dan semuanya sempurna, Liwey siap menjalani pagi ini dengan mulai makan bersama.


"Siap menjalani hari, Qu Liwey."


\=\=\=\=\=\=\=


Liwey berdandan sederhana pagi ini, tapi kesederhanaan itulah yang menjadi daya tarik dari dirinya.


Jing Xuan bahkan bangkit dari duduknya untuk menyambut Liwey. Membuat dua selir melotot tak suka, dan Ailin ... gadis itu sudah mengepalkan tangan geram, melihat perhatian yang ditujukan Jing Xuan terhadap Liwey.


Liwey tersenyum saat menyambut tangan Jing Xuan, "kenapa kau repot-repot menjembutku?"


"Karena kau adalah istriku."


"Hmm ... tapi kau temanku, bukan suamiku."


"Setidaknya secara hukum aku adalah suamimu." Nada suara Jing Xuan berubah saat berkata, dan itu membuat Liwey terkekeh kecil.


Bagi Liwey, Jing Xuan hanya teman.


Memang benar, secara hukum Jing Xuan adalah suaminya. Tapi Liwey belum bisa mengakui itu untuk sekarang. Semuanya terasa susah tanpa cinta, menurutnya.


Liwey sudah sampai ditempatnya biasa. Liang Jie bahkan sudah heboh memainkah ujung lengan hanfu milik Liwey.


"Anda sangat cantik, kakak ipar," seru Liang Jie girang.


Liwey tersenyum, lalu mengusap pelan puncak kepala Liang Jie penuh sayang. "Kau juga sangat imut, sayang."


"Baiklah, karena anggota keluarga sudah berkumpul, mari mulai sarapannya." Liwey menoleh kearah Ibu Suri yang baru saja berkata. Lalu tak lama langsung menatap makanan yang terhidang di meja.


Seperti biasa, Liwey harus memakan semua makanan rebusan. Kali ini menu yang disajikan adalah ikan gurami yang di kukus kematangan tanpa adanya siraman saus sebagai penyedap.


Juga asparagus yang direbus bersamaan dengan tulang sapi yang menjadi penyedap kaldu. Ingin rasanya Liwey menuangkan bakat memasaknya di dunia ini, namun apa daya. Jing Xuan menolak dirinya untuk masuk kedapur.


Lalu dengan terpaksa, Liwey harus ikut memakan makanan yang mereka hidangkan. Diambilnya sumpit, lalu mengambil daging ikan dan mencelupkannya kedalam kuah kaldu sapi asparagus.


Ah ... setidaknya, kuah kaldu ini lebih berasa.


Baru tiga suapan yang masuk kedalam mulutnya, Liwey memilih berhenti. Matanya menatap kesekiling, semua orang terlihat menikmati sarapan pagi kali ini. Bahkan Liang Jie sudah menghabiskan potongan besar ikan gurami dan menyisakan tulang di atas piring.

__ADS_1


"Apa anda sakit kakak ipar? kenapa anda tidak memakan sarapan anda?"


Liwey menatap Liang Jie sembari mengusap pipi gadis itu yang terlihat belepotan oleh kuah dari kaldu asparagus.


"Kakak sudah merasa kenyang," ucap Liwey sembari masih membersihkan sisa kuah di pipi Liang Jie.


"Benarkah kak? Anda menyisakan banyak makanan hari ini."


Liwey hanya mengangguk menanggapi Liang Jie.


"Sangat tidak bagus menyisakan makanan, apa Jie'er boleh memakan milikmu?"


"Tentu saja sayang." Liwey terkekeh kecil melihat keimutan didepannya ini.


Liang Jie yang merasa mendapat kartu as segera menyambar ikan dipiring Liwey. Dengan lahap gadis kecil itu memakan ikannya.


Liwey sedikit meringis melihat itu, dilidahnya ikan itu sungguh tak memiliki rasa. Tapi kenapa Liang Jie begitu lahap memakannya.


"Kau memiliki masalah?" Suara Jing Xuan mengintrupsi Liwey. Sontak Liwey langsung menoleh kearah Jing Xuan kemudian menggeleng.


"Apa kau tidak berselera makan?"


"Mungkin," jawab Liwey sekenanya. Atensinya kembali menatap Liang Jie yang masih asik dengan ikannya.


"Apa kau ingin dimasakkan sesuatu yang lain?"


Aku ingin, diriku yang memasak. Ingin rasanya Liwey menyerukan kata hatinya. Habis bagaimana, seorang Qu Liwey. Gadis yang bersekolah di tempat yang isinya mengajarkan tentang cara memasak dan menciptakan masakan yang enak, malah tak dapat meluangkan bakatnya disini.


Lalu seakan teringat sesuatu, Liwey spontan berbalik menatap Jing Xuan.


"Xuanxu ... eh, Suamiku bolehkan Putri ini keluar kepasar siang ini?"


Jing Xuan langsung menoleh menatap Liwey dengan dahi berkerut. Apa Jing Xuan tak salah dengar. Qu Liwey memanggilnya suami? Baru beberapa menit saat dimana Liwey berkata kalau Jing Xuan adalah temannya, kenapa sekarang ada pengakuan kalau Jing Xuan adalah suaminya.


Liwey benar-benar tak teguh pendirian.


"Apa kau menganggapku suami sekarang?" Bukannya menjawab pertanyaan Liwey, Jing Xuan malah bertanya kembali seolah ingin memperjelas apa yang ia dengar.


"Tidak, itu hanya formalitas."


Bahu Jing Xuan sontak surut saat mendengar pernyataan Liwey. Melihat reaksi Jing Xuan, Liwey menaikkan sebelah alis, bersiap menggoda Jing Xuan.


"Apa kau berharap aku menganggapmu suami?" Jing Xuan langsung menegakkan bahunya kembali.


"Tidak." Jing Xuan berusaha mengelak. Liwey hanya terkekeh kecil, lalu mendekatkan bibirnya ketelinga Jing Xuan.


"Kau hanya perlu membuatku mencintaimu," bisik Liwey yang sontak membuat Jing Xuan mematung di tempat.


"Ouh ya, Putri ini akan pergi kepasar bersama Jiali," ucap Liwey sebelum ia mengecup sekilas pipi Jing Xuan dan hal itu semakin membuat Jing Xuan terpaku ditempatnya.


"Aku jadikan ke-diamanmu sebagai kata Iya." Kembali Liwey berbisik, lalu tak lama ia keluar dari ruang makan karena dirinya sudah menyelesaikan sarapan sedari tadi.


\=\=\=\=\=\=\=


Ailin sudah mengepalkan tangannya sedari tadi, adegan didepannya sungguh membuat dirinya muak. Menurutnya Liwey sudah kelewatan, tidak ada waktu menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan rencananya.


Siang ini Liwey akan kepasar bersama dengan dayangnya, itu yang berhasil ditangkap oleh Ailin. Dan mungkin, ini akan menjadi waktu dimana Ailin melancarkan rencananya.


"Lihat saja, Qu Liwey. Riwayatmu akan tamat setelah ini."


\=\=\=\=\=


Tbc ....


Hallo ...


Audhi comeback manteman.


semoga masih ada yang baca cerita Audhi yang ini ya ... Audhi bakalan berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan cerita ini.


Jadi bagi kalian yang suka dengan cerita ini, beri dukungan untuk Audhi manteman.


Salam dari Istri Kim Taehyung.

__ADS_1


__ADS_2