
...Klik 👍 Sebelum membaca dan klik 💜 untuk menjadikan Qu Liwey dalam List favoritmu....
...@ùďhįĶīm...
...🤓...
...°♤°♤°...
Suara kaca pecah menggema di seluruh ruangan, di sudut kiri nampak bangkai vas porselen yang teronggok berserakan di lantai.
"Arghh ... sebenarnya siapa dirinya?! Kenapa dia bisa mempunyai kekuatan seperti itu?!" Yanzhi duduk diatas kursi panjang tak jauh dari jendela, dadanya naik turun pertanda nafasnya tak teratur. Ruangan kamarnya sudah bak kapal pecah, banyak pecahan kaca dan porselen dimana-mana. Bahkan ranjang yang awalnya rapi sudah tampak acak-acakan di buatnya.
Suara tawa familiar terdengar menggelegar ke seluruh ruangan. Yanzhi mendengus, kenapa sosok tak kasat mata ini selalu saja datang tanpa pemberitahuan.
"Jangan mengumpatku anak muda, dan aturlah emosimu."
"Kau gila, bagaimana bisa aku mengatur emosi?! Wanita itu bahkan lebih kuat dariku!" Yanzhi kembali mendengus, kembali satu guci porselen menjadi pelampiasan amarahnya. Suara benda pecah terdengar nyaring memekak-kan telinga.
Yanzhi dapat mendengar suara dengusan kasar dari sosok tak kasat mata tersebut. "Kau akan terus-terusan lemah jika selalu mengedepankan emosi." Sosok tak kasat mata itu berdecak. "Atur rasa marahmu, maka kau dapat melawannya. Berusahalah untuk tenang anak muda, bagaimana bisa kau menjalankan rencana dari wanita itu kalau kau begini."
Yanzhi menggeram lirih, ia ingat akan rencana yang sudah ia sepakati dengan Ailin. "Jadi aku harus bagaimana?"
Sekali lagi sosok tak kasat mata itu berdecak lidah. "Berusahalah tenang, kalau kau ingin mengalahkannya."
"Baiklah." Yanzhi menyilangkan kakinya bersandar di sandaran kursi lalu menatap lurus kehadapan. "Kenapa kau tak menampakkan wujudmu?"
Sosokntak kasat mata itu terkekeh, "untuk sekarang tidak bisa, kecuali ..."
"Kecuali?"
"Buat Liwey membunuh seorang pria yang berniat buruk padanya." suara sosok itu terdengar lirih dan mengerikan di telingan Yanzhi, bahkan tanpa sadar bulu kuduknya berdiri akibatnya. Aura mencekam seolah menyelimuti ruangan tempatnya berada.
__ADS_1
"Ke ... kenapa harus membunuh?" Sial, suara Yanzhi bahkan sudah bergetar akibat aura mencekam ini.
"Karena dia adalah kunci kebebasanku." Suara tawa dari sosok tak kasat mata menggelegar keseluruh penjuru ruangan, aura tak mengenakkan semakin pekat, membuat Yanzhi tak dapat bernafas.
"Aku akan pergi, kau bisa mati jika aku berlama-lama di sini." Setelah mengatakan itu tak ada lagi suara dari sosok tak kasat mata itu, bahkan aura pekat yang menyelimuti ruangan langsung hilang seketika.
Yanzhi menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Sungguh dadanya sesak, aura sosok tak kasat mata itu menekan dirinya kuat. "Siapa sebenarnya dia?" lirih Yanzhi, iris kelabunya menatap lantai kayu lekat.
"Dan apa maksudnya Liwey adalah kunci kebebasannya, apa dia dikurung? tapi bagaimana bisa?"
...°♡°♡°...
Liwey berhneti tepat di aula pesta istana besar Dong Yuo, matanya menatap takjub kesekeliling ruangan. Semuanya sudah tertata rapi. Meja-meja jamuan terletak di sini kanan kiri ruangan dengan bagian tengah yang dibiarkan kosong.
Mungkin itu akan menjadi tempat pertunjukan. Pikir Liwey.
Liwey tak akan melewatkan singgasana yang berada di hadapan. Dengan tiga kursi yang Liwey yakini akan di duduki oleh kaisar dan dua istrinya.
Liwey mengangguk kagum, dirinya seperti sedang melihat proses pembuatan film, hanya saja para kru nya memakai pakaian khas pelayan. Liwey terkekeh akan pemikirannya.
"Kenapa kau di sini sendirian kakak ipar, kemana kakak ke-4?" tanya pria cantik itu cepat, Liwey menggeleng pelan. Pandangannya menatap pada sosok sang kakak, seakan meminta penjelasan.
"Kau tak mengenalnya adikku? Dia pangeran ke-8, yang sekarang sedang ku jaga. Dan dia adik iparmu." Ah ... jadi ini adiknya Jing Xuan. Liwey mengembangkan senyum kearah pria cantik itu.
"Maaf karena aku tak mengenalimu, kalau begitu mari berkenalan. Aku Qu Liwey." Liwey tersenyum ramah sembari menjulurkan tangan ingin berjabat.
Pria cantik itu tersenyum lebar lalu membalas jabatan tangan Liwey. "Mo Xufing, aku pangeran ke-8."
Liwey mengerutkan kening, "sebenarnya kalian berapa bersaudara?" Jelas Liwey bertanya. Karena sejauh ini ia tinggal bersama Jing Xuan, dirinya hanya tahu jika Jing Xuan bersaudara dengan Pangeran Mahkota dan juga Mo Liang Jie, baru kali ini ia bertatap muka pada saudaranya satu lagi.
"Kami 9 bersaudara dari ibu berbeda, aku dan pangeran mahkota saudara serahim, begitu juga dengan pangeran ke-4 dan Liang Jie. Saudara yang lainnya mereka memutuskan untuk keluar dari istana dan hidup berdampingan dengan masyarakat biasa," jelas Xufing. Liwey hanya mengangguk-anggukkan kepala.
__ADS_1
"Ternyata begitu," lirihnya.
"Wei'er, kau membolehkan kakakmu ini untuk memelukmu?" tanya Zhuting yang sedari tadi memperhatikan interaksi antara adiknya dan juga Xufing. Dirinya sedari tadi menahan rindu yang menggebu untuk memeluk adik kesayangannya satu ini. Sudah lama sekali dirinya tak bertemu dengan adiknya ini.
"Tentu saja, kak." Liwey mengembangkan senyum serta tangannya.
"Ah .... adikku, aku sangat merindukanmu kau tahu?! Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau baik-baik saja? Pangeran Jing Xuan merawatmu dengan baik 'kan?" Tanya Zhuting bertubi pada Liwey. Wanita beriris amber itu hanya terkekeh pelan sembari mengelus punggung lebar sang kakak.
"Uh, kakak cantikku ini." Kalian tidak lupa kan, jika pertama kali Liwey bertemu dengan Zhuting di kediaman keluarga Qu, dia mengatakan Zhuting cantik. "Aku senang kau mengkhawatirkanku."
"Tentu saja aku mengkhawatirkanmu." Zhuting melepas pelukannya, kedua tangannya menggenggam bahu Liwey lembut. "Bagaimana malam pertamamu dengan Jing Xuan? Sudah berapa kali kau melakukannya?" Zhuting mengerling nakal kearah Liwey.
Mendengar ucapan Zhuting sontak Liwey memukul keras kepala-- yang diisi otak mesum -- kakak nya itu cukup keras. Matanya menatap hati-hati kearah Xufing yang berdiri didekat mereka. Ouh, kakaknya satu ini sudah mengotori otak suci anak kecil.
"Jaga bicaramu, bagaimana bisa kau mengatakan hal sepribadi itu dengan gamblang?" Liwey melirik sinis sang kakak yang masih mengusap kepalanya yang terasa panas akibat pukulan Liwey.
"Kau kan sudah menikah, seharusnya kau memberikan petuah buat diriku yang belum menikah ini, agar da ... arghh." Liwey menendang tepat di tulang kering Zhuting. Apa kesalahannya di kehidupan sebelumnya hingga mendapatkan kakak dengan otak super mesum satu ini.
"Hei, Qu Liwey. Kenapa kau kasar sekali pada kakakmu?" seru Zhuting sembari masih berguling di lantai dengan memegangi tulang betisnya yang di tendang oleh Liwey barusan.
"Salah sendiri! Kalau bicara di saring terlebih dahulu." Liwey menggeram marah, tatapannya menyorot tajam kearah Zhuting. Sementara Xufing yang sedari tadi memperhatikan interaksi kakak dan adik ini hanya tertawa kecil. Sedikit rasa iri tercipta di hatinya. Xufing jarang merasakan di pukul ataupun di sayang oleh kakaknya. Sangat jarang.
Akibat fisiknya yang lemah juga penyakit yang di deritanya, membuat semua orang akan selalu berhati-hati terhadap dirinya. Hah. Xufing menghela nafas, dirinya masih menghitung hari hingga saat ini. Menunggu sang malaikat maut datang untuk mencabut nyawanya.
"Adik Xufing, tolong jangan dengarkan apa yang dikatakan orang gila ini. Otaknya tak pernah beres."
"Hei, kau mengatai kakakmu ini gila?"
"Ya karena kau memang gila!"
Setelahnya, hanya terdengar teriakan antara Liwey dan Zhuting juga tawa yang keluar dari mulut Xufing. Walaupun dia tak pernah merasakan hal-hal seperti ini sebelumnya dengan para saudaranya. Setidaknya dengan melihat dua orang ini, Xufing merasa senang.
__ADS_1
...°♡°♡°...
tbc ...