
Angin ribut sudah mengisi tempat itu, gadis dengan dress putih terlihat terbiasa akan perubahan alam disekitarnya. Ia masih terlihat santai berjalan menuju sungai yang kini tengah menciptakan sebuah pusaran didalamnya, terlihat sangat cepat dan menakutkan.
Tan'er menempatkan sebelah tangannya didepan mata, berusaha menghalau debu berserakan yang tercipta akibat hembusan angin yang tak biasa. Jarak pandangnya menipis, gadis berdress putih tak lagi dapat dilihat dihadapannya. Menghalau. Tan'er menggunakan cahayanya agar dapat melihat keadaan. Samar terlihat punggung kecil putih tak jauh darinya. Mencoba melawan arus angin. Tan'er berjalan mendekat, sedikit kesulitan tapi dia tetap gigih.
Diraihnya kerah belakang dress sang gadis. Pergerakan lambat itu sontak terhenti, dan secara ajaib keributan disana pun terhenti. Debu-debu menghilang, batu-batu kecil yang terbawa angin berjatuhan mengikut gravitasi. Pusaran air disungai pun mulai mereda dan kemudian menghilang secara permanen, meninggalkan air sungai yang keruh dengan banyak ikan mengambang telah mati.
Ternyata sangat mudah menghilangkan sihir gelap didalam ilusi 'pikir Tan'er. Mambalikkan tubuh sang gadis, matanya melotot. Tumpuan pandangannya jatuh pada dahi si gadis. Ada tanda mawar hitam disana, mawar hitam yang melambangkan keindahan serta kekelaman dalam bersamaan. Tanda sang kegelapan, ternyata benar dugaannya. Kegelapan sudah berani menyentuh gadis pilihannya.
Tan'er tertawa sumbang, segera diletakkannya jari telunjuknya tepat di dahi sang gadis, menyalurkan cahaya putih yang penuh energi positif nan hangat. Mancoba membersihkan pikiran jiwa yang sempat terhipnotis.
Senyum diwajah cantiknya mengembang, saat mata itu yang awalnya gelap mendapatkan kembali cahayanya. Iris amber mengerjap tiga kali, menatap sendu kearah Tan'er yang masih setia menyunggingkan senyum terbaik dibibirnya.
"Dewi." Suara itu serak dan lirih. Titik fokus sang amber masih terpaut dengan iris sama dihadapannya. Secepat kilat, bulir bening jatuh ketanah tanpa membasahi pipi. Sang gadis langsung berhambur kedalam pelukan Tan'er. Badannya bergetar hebat, airmata banyak berjatuhan, bibirnya bergetar menahan isakan.
Tan'er mengusap pelan surai kecoklatan sebahu milik sang gadis, membisikkan alunan syair indah dan memabukkan. Menenangkan sang gadis dipelukannya. Dilepaskannya pelukan. Tatapannya melembut menubruk iris amber yang sama dengan miliknya. Jari lentik miliknya mengait diantara jari sang gadis, sambil tersenyum Tan'er berkata, "Liwey, ayo kita kembali."
Setelahnya, cahaya putih bergerak spiral dari bawah kaki mereka, merambat hingga ke kepala. Setelahnya tempat itu sunyi, sang kegelapan telah kalah akan ilusi yang ia cipta. Tempat indah namun menyimpan sejuta kejahatan dan ketakutan hancur lebur, menyisakan siluet hitam yang perlahan menghilang.
♡
Tan'er berhasil dalam misinya, wanita itu berdiri dan tersenyum senang dengan mata yang masih asik memandangi Liwey. Liancheng yang berdiri disampingnya juga melakukan hal yang sama, sebersit kebahagian terlihat diiris berbeda matanya.
"Kau berhasil menyelamatkannya." Liancheng masih terpaku pada sosok gadis di pembaringan saat dia berujar.
"Hm... kegelapan masih sangat lemah namun itu tadi juga sangat berbahaya." Tan'er mendesah. Perlahan ia mulai menuju pembaringan dimana Liwey masih asik dengan tidurnya.
__ADS_1
"Kenapa dia belum juga mendapatkan penglihatan itu?" Tan'er bertanya, yang hanya dijawab gelengan oleh Liancheng.
"Aku tidak tahu, hanya takdir yang menentukan itu." Tan'er kembali mendesah, tangannya terulur mengusap dahi Liwey pelan, sebuah senyum terukir dibibirnya.
"Aku tahu kau pasti bisa, Liwey. Aku percaya padamu." Setelah mengatakan itu, baik Tan'er maupun Liancheng berbias menjadi cahanya lalu melesat di udara.
♡
Fajar sudah menyingsing, para dayang sudah memulai kembali aktifitasnya bahkan Jiali kini tengah menyiapkan peralatan pagi nonanya yang ia harapkan akan terbangun hari ini.
Seakan mukzijat sedang berbaik hati pada Liwey, perlahan mata gadis itu membuka. Tanggannya bergerak menggaruk pipi kanannya yang entah kenapa terasa gatal. Mungkin digigit nyamuk.
Perlahan tapi pasti dia mulai bangkit dari berbaringnya. Dia berteriak kecil saat dirasakannya lehernya yang kaku, seolah-olah sudah tertidur dalam posisi yang sama dalam waktu lama.
Jiali yang mendengar suara teriakan nonanya, segera tersadar dan langsung berlutut di samping kiri sang nona.
Ahh... ya seminggu APA!! SEMINGGU. Liwey dengan cepat memutar lehernya kerah Jiali yang masih bersimpuh dengan mata berkaca-kaca karena haru.
"Aku kenapa? Bagaimana bisa aku tertidur selama itu? Apa aku koma? Aku di opname?" Jiali mengerutkan kening saat mendengar ucapan nonanya yang terdengar aneh. Tapi dia tak terlalu memikirkannya, yang penting kesadaran nonanya sudah menjadi berita baik untuk dirinya.
"Apapun itu, yang penting Jiali senang, nona sudah sadar." Liwey menelengkan kepalanya ke kiri, sepertinya sudah banyak yang ia lewati. Terakhir yang diingatnya ia bersama Jing Xuan menghadiri jamuan di kediaman Qu pada acara lamaran putra mahkota. Acara lamaran!!. Seolah mendapat ilham, Liwey menoleh cepat kearah Jiali, membuat bunyi berderak di bagian lehernya dan itu sukses membuat Liwey tak sanggup menggerakkan kepala.
"Ahh... ini sangat... sa...sakit..." Liwey meringis masih pada posisi leher yang menghadap ke kiri. Dengan paksa ditariknya dagu dan pipinya kearah kanan, menimbulkan suara 'krak' yang lumayan kuat, membuat Jiali seketika meringis.
"Astaga leherku, itu tadi benar-benar menyakitkan," gumamnya.
__ADS_1
"Pangeran ke-4 memasuki ruangan."
Liwey mendengarnya, tapi dia tak begitu memperdulikan. Dirinya masih menatap Jiali yang kini sudah berdiri lalu memberi hormat pada pangeran.
"Eh... bagaimana acara lamarannya? Apa mereka akan menikah dari waktu dekat ini?"
"Lamaran dibatalkan."
"Eh..." Liwey menoleh, menatap pria dengan iris heterocromia yang kini tengah berdiri anggun dengan hanfu sutra berwarna biru laut melekat ditubuhnya.
Jing Xuan, tersenyum tipis, bahkan sangat tipis sampai Liwey tak dapat melihatnya. Sungguh jantungnya sudah berdegup kencang sejak mata miliknya mendapati seorang gadis, lebih tepatnya gadisnya, wanitanya sudah sadar dari tidur panjangnya. Ingin rasanya Jing Xuan memeluk erat tubuh mungil gadisnya. Tapi ia urungkan. Dia terlalu malu untuk menunjukkan ketertarikan secara gamblang. Padahal dahulunya dia merasa menyesal menikah dengan purti bungsu keluarga Qu.
"Bagaimana bisa dibatalkan? Apa aku yang berbuat ulah kemarin?" Liwey menatap wajah datar Jing Xuan yang mengangguk kepadanya.
"Apa yang kulakukan?" Liwey tertunduk, dahinya berkerut memikirkan apa saja yang terjadi pada hari lamaran itu. Dia tak ingat apapun, kecuali...
"Wahh... kau harus tanggung jawab Xuanxuan, kau membuat ku kedinginan waktu itu dan bahkan aku hampir terkena hipotermia." Liwey berseru, "wahh... kalau sampai aku terkena hipotermia, bisa bahaya. Kan disini alat kedokteran gak lengkap."
Jing Xuan serta Jiali yang berada di ruangan hanya berkerut kening melihat tingkah Liwey. Apalagi itu hipotermia?
"Jiali, aku ingin mandi, siapkan peralatannya." Perintah Liwey lalu mulai berjalan santai menuju bilik mandi, mungkin dengan berendam di dalam air hangat dapat membantunya untuk berfikir jernih. Ahh... dia merindukan bat thup porselen dirumahnya.
Sementara Jing Xuan yang sudah meluangkan waktu untuk menbezuk keadaan Liwey malah diacuhkan. Jing Xuan mengepalkan kedua tangannya geram, terkadang dia berfikir. Apa benar dia mulai menyukai Qu Liwey, gadis itu bahkan tidak memiliki sopan santun sedikitpun.
TBC.
__ADS_1
Audhikim12😊