Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 22 : Jing Xuan Kenapa??


__ADS_3

...Klik 👍 sebelum membaca dan klik 💜 untuk menjadikan Qu Liwey di list favoritmu....


...________...


Kelopak mata itu membuka, memperlihatkan iris sepekat merah darah menatap tajam kehadapan. Senyum miring tersungging di bibirnya. Tak lama tawa menggelegar keluar, menggema ke seluruh ruangan.


Bersandar pada singgasananya yang terbuat dari tulang tengkorak manusia.


"Uhh ... apa itu tadi." Senyum menyeringai terbit di sudut kiri bibirnya, "gadis itu hanya perlu membunuh pria itu dan aku akan bebas. Tapi kalian menggagalkannya. Pengecut kalian." Dia sudah tertawa keras. Bahkan lebih keras dari sebelumnya.


Sedetik kemudian, dia terdiam. Raut wajah yang awalnya penuh dengan kegelian berubah datar dengan sorot tajam menatap kehadapan.


Braakk ...


Dia memukulkan tangannya keras di pegangan kursi singgasana yang ia duduki, meremas kuat. Tercetak jelas amarah di wajahnya. "Kalian memberikan keistimewaan pada gadis itu untuk membunuhku, bahkan kaisar langit juga memberkatinya." Dia berdecak.


"Baiklah, akan kubuktikan jika gadis itu akan mati di tanganku. Kehidupan abadi kalian juga akan berakhir. Camkan itu!!."


...******...


Liwey bergerak gelisah saat dirasakannya benda berat menindih perutnya. Membuka mata, Liwey mendapati tubuh seseorang. Lebih tepatnya tubuh Jing Xuan yang tengah tidur berbaring menyamping sembari memeluk dirinya erat.


Menghela nafas, Liwey menatap lekat wajah tidur Jing Xuan. Terlihat damai dan polos. Tidak ada kesan kaku di sana, tidak ada raut datar dan tatapan tajam. Mengangkat tangan. Jari jemari Liwey bergerak menyusuri tiap lekuk wajah Jing Xuan. Sudah lama Liwey menginginkan ini, Jing Xuan itu tampan bahkan sangat tampan. Gadis mana yang tak akan tergoda untuk melihat bahkan menyentuhnya.


Liwey tidak mau munafik, walau di awal menikah ia ingin surat cerai dari Jing Xuan. Tapi tetap saja, pada pandangan pertama ia tertarik dengan pria yang berbaring memeluknya kini. Hanya saja, Liwey tidak menyukai perkataan Jing Xuan yang seolah meremehkan dirinya saat itu. Dan hal itulah yang membuat Liwey sedikit geram juga benci pada Jing Xuan.


Tapi ... apa sekarang Liwey masih juga benci dengan Jing Xuan? Entahlah. Liwey merasa semakin kesini, dia merasa biasa saja terhadap Jing Xuan.


Cinta?


Liwey bahkan tak kepikiran kesana.


Merasakan pergerakan kecil dari seseorang yang sedang ia peluk. Jing Xuan perlahan membuka matanya, iris beda warna miliknya bertubrukan dengan iris Amber Liwey. Mereka saling tatap lama, mencari kenyamanan di tiap detik mereka saling pandang.


"Kau sudah bangun?" Tanya Jing Xuan dengan suara serak khas bangun tidurnya. Bohong jika Liwey mengatakan dirinya tidak terpesona. Suara serak Jing Xuan sangat sexi menurutnya dan juga tatapan polos dari Jing Xuan juga sempat mengetarkan hati Liwey sesaat.


Liwey mengangguk, "iya."


"Kau mengingatnya?" Jing Xuan mengeratkan pelukannya, membenamkan wajah Liwey di dada.


Liwey mengangguk. Ia ingat. Bahkan sangat ingat. Apa yang menyebabkan dirinya bisa berada di ranjang kamarnya padahal dirinya seharusnya berada di pasar.


Dua lelaki yang ingin melecehkannya, Liwey ingat. Bagaimana cahaya keluar dari jarinya, Liwey ingat. Bahkan bagaimana cara dirinya membuat seorang manusia menjadi debu yang terbang di bawa angin, Liwey juga ingat.


"Aku mengingatnya, aku membunuh orang dengan menggunakan jariku." Liwey menatap jari-jarinya lamat.


Jing Xuan tersenyum, "Tak apa? hal lumrah membunuh orang yang berniat mencelakakanmu."

__ADS_1


"Ailin," lirih Liwey sembari menatap Jing Xuan. "Ailin harus mendapatkan balasannya."


Jing Xuan mengerutkan kening, kenapa dengan Putri Ailin, pikirnya.


"Dia yang membayar dua orang itu untuk melecehkanku." Jing Xuan membelalakkan mata mendengar penuturan Liwey.


"Dia terobsesi untuk menikahimu, dan menjebakku agar kau membenciku lalu menikahi dirinya," ucap Liwey dingin. Namun matanya berkata lain, ada sirat kesedihan di dalamnya.


"Dia membenciku, dan ingin menjauhkanku darimu." Liwey kembali menyurukkan wajahnya di dada bidang Jing Xuan.


"Kita akan menghukumnya."


"Bukan kita, tapi aku. Aku yang akan menetapkan hukumannya."


"Baiklah." Mengelus rambut Liwey, Jing Xuan semakin mengeratkan pelukan mereka.


"Kenapa kau memelukku?"


"Aku suamimu, sudah pantas bukan?"


"Tapi aku sesak."


"Benarkah." Jing Xuan melonggarkan pelukannya, "apakah aku memelukmu begitu erat?" Liwey mengangguk.


"Maafkan aku." Jing Xuan beranjak bangkit dari berbaringnya menjadi duduk, lalu ikut mendudukkan Liwey perlahan. "Mandilah, dan dandan yang cantik." Jing Xuan mengembangkan senyum. Mengacak pelan rambut Liwey yang tergerai lalu mengecup singkat puncak kepalanya.


Jing Xuan kenapa?


...*****...


Liwey tengah duduk menghadap meja rias. Sedari tadi Jiali sudah membantunya berdandan, dan selama itu pula Jiali selalu mengoceh bagaimana khawatirnya dirinya saat mengetahui Liwey hilang dari pandangannya waktu itu.


"Nona sangat jahat membiarkan Jiali khawatir. Asal Nona tahu, Jiali berkeliling sampai gelap mencari Nona. Tapi Nona tidak ditemukan. Setelah pulang, eh ... ternyata Nona sudah ada di kamar bersama Pangeran Ke-4. Anda sangat berhasil membuat Jiali khawatir seharian, Nona." Kurang lebih seperti itulah yang diucapkan oleh Jiali.


"Ingin model rambut seperti apa, Nona?" Tanya Jiali.


"Seperti biasa."


Jiali mengangguk, ia sudah mengerti akan model rambut yang disukai oleh Liwey. Rambut panjang Liwey awalnya ia sisir rapi, lalu mengambil sebagian rambut untuk ia satukan dan sebagian lagi ia biarkan tergerai.


Setelah menyatukan rambut dengan pita kain berwarna biru muda, Jiali menambahkan aksesoris jepit rambut dengan bentuk kupu-kupu yang terbuat dari batu rubi.


"Nah ... selesai." Jiali mengakhiri kegiatannya menghias Liwey. Menatap pantulan dirinya di cermin, Liwey tersenyum.


Poni tipis menutupi dahi, lalu model rambut sederhana membuat Liwey terkesan manis hari ini. Hanfu dengan atasan berwarna biru muda dan bawahan berwarna putih melekat di tubuh Liwey, ikat pinggang brokat melingkar di pinggang rampingnya.


Baiklah, Liwey siap menjalani hari.

__ADS_1


"Antar aku keruang makan!" perintah Liwey yang dituruti Jiali. Mereka berdua keluar dari kamar lalu berjalan kearah timur menuju ruang makan.


Tak sampai lima menit, Liwey dan Jiali sudah berdiri di depan pintu.


"Permaisuri Jing memasuki ruangan." Suara kasim menggema, diikuti dengan pintu ruang makan yang terbuka.


Liwey mengedarkan pandang, selalu sama. Ruang makan selalu diisi dengan orang-orang yang sama. Pandangan matanya berhenti ke arah Ailin. Gadis yang mengenakan hanfu merah muda itu tak berani menatap Liwey, bahkan melirikpun tidak. Ailin malah menyibukkan diri dengan menatap makanan yang terhidang di meja.


"Putri Jing, masuk dan duduklah," ucap Jing Xuan yang diikuti Liwey. Berjalan perlahan, Liwey mendudukkan dirinya tepat di samping kiri Jing Xuan.


"Baiklah mari kita mulai makannya!" seru Jing Xuan.


Menoleh ke kiri Jing Xuan mengambil daging lalu meletakkannya di atas mangkok nasi Liwey. "Makanlah yang banyak."


Liwey mwngangguk, "baiklah."


"Kau harus makan sayur." Jing Xuan meletakkan sayur di atas mangkok nasi Liwey. "Makan yang banyak." Jing Xuan tersenyum, lalu mengusap pelan puncak kepala Liwey.


"Terima kasih karena telah berdandan cantik," ucap Jing Xuan lalu mengecup singkat dahi Liwey.


Semua orang yang berada di sana membelalakkan mata, bahkan Yubo sudah terbatuk, tersedak udara yang ia hirup sendiri. Perlakuan Jing Xuan terhadap Liwey sungguh membuat semua orang yang berada di sana terkejut.


Ini bukan Jing Xuan biasanya.


"Kak Jing Xuan, disini ada anak kecil." Liang Jie mengerucutkan bibir menatap kearah Jing Xuan.


Terkekeh, Jing Xuan mengacak puncak kepala adiknya lembut. "Makanlah."


Kembali menatap Liwey, Jing Xuan tersenyum manis. Meletakkan kembali daging kedalam mangkok Liwey, lalu mengelus pelan puncak kepalanya.


Liwey heran, ada apa dengan Jing Xuan? Kenapa perlakuannya menjadi manis sejak bangun tadi?


Namun tak dipungkiri, Liwey tersipu. Jing Xuan memperlakukan Liwey sangat manis seperti ini membuat hati Liwey berdesir nyaman.


Jing Xuan kenapa?


...*******...


Tbc ...


Hallo ... Audhi comeback ...


Sorry late post ...


real life Audhi tengah disibukkan dengan berbagai masalah ...


juga kerjaan yang tak bisa di tinggalkan ...

__ADS_1


maafkan Audhi kalau lama update ...


__ADS_2