Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 37 : Jebakan.


__ADS_3

...Jangan lupa....


...Klik 👍 sebelum membaca dan klik 💜 untuk menjadikan Qu Liwey di daftar favoritmu....


...Audhikim...


...🤓...


...___________...


Liwey baru saja menelan potongan terakhir dari pangsit yang kedalam mulutnya saat Ailin berjalan ke meja nya. Menaikkan sebelah alis, Liwey menatap penuh selidik pada wanita yang tak pernah akur dengan dirinya itu.


"Ada-apa?!" tanya Liwey tanpa tedeng aling aling. Dia sudah yakin, jika seorang Ailin menemuinya pasti akan ada masalah yang di ciptakan oleh wanita itu untuknya.


"Ah, anda sangat tidak sabaran Putri Jing, bahkan anda tidak mempersilahkan saya untuk memberi hormat."


"Sejak kapan?" Liwey menatap Ailin dari atas kebawah. Sementara Ailin mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Liwey.


Sejak kapan? apa maksudnya. Ailin bingung.


Liwey memutar bola matanya malas. "Dasar bodoh," umpatnya. "Sejak kapan putri Ailin memberi hormat untukku, apa dunia akan kiamat, eh? Sehingga kau bersikap baik padaku." Liwey berujar sinis, iris amber miliknya tak henti menatap tajam Ailin yang masih berdiri di hadapannya.


Jika ini bukan karena untuk melancarkan jalannya rencana, maka Ailin sudah menampar mulut kurang ajar Liwey dihadapan banyak orang sekarang. Tapi, Ailin harus sabar, sedikit kesalahan kecil mungkin akan membuat rencana yang sudah ia persiapkan matang-matang menjadi gagal total.


Mengambil nafas lalu mengeluarkan perlahan, Ailin berusaha senatural mungkin menunjukkan senyumnya. "Saya hanya ingin berbaikan dengan anda, Putri Jing. Seperti katamu, bersaing secara baik. Maka saya akan memulainya dengan memulai hubungan baik dengan dirimu."


Liwey memajukan bibir bawahnya, sedikit tak percaya akan perkataan Ailin. "Apakah itu benar? Atau jangan-jangan kau sedang menyiapkan perangkap di balik ini," ujar Liwey curiga. Dia masih ingat kelakuan Ailin yang dengan liciknya membayar orang untuk melecehkan dirinya dahulu. Jadi dirinya harus sedikit berhati-hati.


Ailin menelan ludahnya susah payah, sedikit terintimidasi akan pandangan menyelidik dari Liwey. Tidak, dia tidak boleh terlihat gugup, dia harus terlihat senatural mungkin untuk terlihat biasa-biasa saja sekarang. "Ah ... anda sangat tidak percaya sekali pada saya, Putri. Hati ini sakit mendengarnya."


Liwey memutar bola matanya malas, "Maafkan aku. Kalau begitu, ayo duduk di sini, kita makan bersama," ajaknya. Dirinya mungkin sudah keterlaluan dengan menuduh yang macam-macam akan Ailin, namun tetap saja dirinya tetap memasang mode siaga saat bersama wanita licik ini.


"Tidak. Saya hendak mengajak Putri Jing untuk berkeliling istana, pesta ini membuat saya pusing." Liwey kembali menatap curiga pada Ailin.


Ailin terkekeh kecil. "Anda tak perlu risau Putri, saya tidak akan menjebakmu lagi, saya sudah benar-benar ingin berteman dengamu," jelas Ailin. Liwey mengangguk kecil, kemudian mulai beranjak berdiri. Ailin dengan sigap membantu juga membetulkan letak jubah Jing Xuan di tubuh Liwey.


"Terima kasih," ucap Liwey. Iris amber miliknya melirik kesekeliling, berusaha mencari Jiali.


"Apa yang anda cari, Putri." Liwey mengalihkan atensinya kepada Ailin.


"Ah, aku mencari Jiali, dia tidak terlihat, kemana dia?" Liwey masih meneliti setiap kepala yang berada di sana, namun sosok Jiali juga tak kunjung terlihat.


"Hah, kemana dia?" Liwey mengerucutkan bibir, iris ambernya bertubrukan dengan iris coklat Ailin. "Sudahlah, kita pergi saja. Mungkin anak itu sedang berjalan-jalan sekarang."


Ailin mengangguk, kemudian mulai menarik pelan pergelangan tangan Liwey mengikuti dirinya. "Aku dengar taman belakang istana selalu dipenuhi kunang-kunang jika malam."


Liwey tertarik dengan perkataan Ailin. "Benarkah? Kau pernah melihatnya?"


Ailin tersenyum kemudian mengangguk. "Aku sering melihatnya bersama ibu suri jika mengunjungi istana pusat."


"Wah, aku selalu melihat kunang kunang di TV, tak sabar rasanya untuk melihatnya secara langsung." Ailin mengangguk, walau sebenarnya dirinya tak mengerti akan maksud Liwey mengatakan melihat kunang kunang di TV, apa itu nama sebuah tempat? Tapi di negri Dong Yuo apa ada tempat bernama TV.


Ailin menggeleng kecil, kemudian kembali menuntun Liwey berjalan menuju taman belakang, lebih tepatnya ke pojok belakang dekat gudang istana. Satu langkah lebih dekat menuju lancarnya rencana, Ailin tersenyum sinis menatap punggung Liwey yang berjalan beberapa langkah di depannya.

__ADS_1


Ailin melirik kesekiling, tatapannya beradu dengan iris kelabu dari pilar yang berada tak jauh dari mereka.


Yanzhi, sedang apa dia disana?


Ailin semakin heran saat Yanzhi melambaikan tangannya, kode agar Ailin segera mendekati dirinya. Ailin melirik kearah Liwey yang kini berjalan semakin jauh darinya.


"Kau lama sekali." Tangan Ailin ditarik Yanzhi mendekat kearahnya.


"Apa apaan kau ini, kenapa malah disini?! bagaimana dengan wanita jal*ng itu."


"Shhhht, tenanglah." Yanzhi mengunci pergerakan Liwey di antara pilar. "Aku sudah menyuruh orang untuk melakukan tugasku."


Ailin mengerutkan kening, tak mengerti maksud dari perkataan pria yang tengah mengekangnya. Yanzhi terkekeh pelan, kepalanya mendekat kearah leher Ailin, menghirup aroma mawar dari tubuh wanita yang tengah ia kungkung. "Aku tak ingin melakukan itu dengan Liwey, aku menyuruh orang lain mengantikanku."


Mata Ailin membola, di dorongnya bahu Yanzhi agar menjauh darinya. Matanya menatap lekat iris kelabu milik Yanzhi. "Kau gila?! aku sudah pernah melakukan itu dan wanita itu selamat."


"Shhht." Yanzhi meletakkan jari telunjuknya di bibir Liwey. "Kau tenang saja, aku tengah mendayung perahu untuk melewati dua pulau sekaligus. Lagi pula, swaktu itu ada Jing Xuan yang menyelamatkannya, tapi sekarang aku yakin nasib wanita itu tengah di ujung tanduk." Yanzhi tersenyum miring, dapat ia lihat Ailin tengah memasang ekspresi protes mendengar ucapannya.


Namun, Yanzhi harus bergerak cepat dirinya sudah tak kuat untuk bertahan sedikit lebih lama lagi. Segera di angkatnya tubuh Ailin keatas bahu membawa wanita itu menuju kamarnya.


"Hei?! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku."


"Tenanglah, kau tidak ingin aku melakukannya di sini 'kan. Kau ingin para pelayan melihat pergumulan panas kita."


...°♡°♡°♡°...


Liwey sudah menduga ini akan terjadi, bagaimana mungkin Ailin akan berniat baik padanya. Kunang kunang apanya?! Sejauh mata memandang, Liwey hanya mendapati bangunan tua dengan banyak debu dimana-mana. Ia yakin dirinya sudah terjebak ke area gudang penyimpanan kerajaan, dan juga kemana perginya wanita licik itu?


Liwey baru saja melangkah untuk meninggalkan tempat itu sampai saat dimana mulutnya disekap dengan kain oleh seseorang dari belakang.


Langsung saja Liwey menahan nafas dan berpura-pura pingsan. Adegan seperti ini sudah sering ia lihat di film ataupun drama. Kain ini pasti sudah diberi obat agar membuatnya pingsan, jadi daripadaa dia pingsan betulan, maka mari berpura-pura.


Baiklah, ayo kita perlihatkan akting seorang Qu Liwey.


Brak.


Liwey yakin suara kayu di banting itu adalah pintu yang ditutup mereka secara paksa. Ah apa Liwey sudah masuk kedalam gudang? Dan juga sampai kapan kain ini dilepaskan dari mulutnya?! Ayolah, kalau begini terus Liwey bukan lagi pingsan, tapi mati kehabisan nafas.


Seseorang yang menutup mulut Liwey langsung menjatuhkan tubuh wanita itu diatas lantai kayu ruangan. Suara keras akibat dentuman yang kuat antara tubuhnya yang beradu dengan lantai hampir membuat Liwey berteriak. Sungguh ini sakit, dan seakan dejavù Liwey mengingat kejadian ini saat dimana ia tersesat dan berakhir di tangan para penjahat kelamin suruhan Ailin.


Argh, sepertinya pinggangnya kembali bergeser.


"Tak salah kita menuruti perintah Putra Mahkota, Putri Ailin sungguh cantik dan berhasil membuatku ingin segera menyetub*hinya."


"Kau benar, kita lakukan bergantian bagaimana, selagi dirinya sedang tak sadarkan diri sekarang."


Liwey mengerutkan keningnya saat mendengar gelar Pangeran Mahkota dibawa-bawa dalam kasus kali ini. Apa jangan-jangan Ailin bersekutu dengan Putra Mahkota, dasar dua cecunguk itu. Ingatkan Liwey untuk memukul bokong mereka setelah ini.


"Bakilah aku duluan, aku sudah teg*ng sedari tadi." Suara pria pertama terdengar, suara kayu berderit semakin membuat Liwey waspada. Tinggal tunggu waktu yang pas, maka katakan selamat tinggal pada masa depanmu.


"Arghh ...." 'Kan sudah Liwey peringatkan.


Liwey bangkit berdiri saat sudah berhasil menendang telak organ tubuh kesayangan para pria itu dengan keras. Liwey sedikit meringis melihat pria yang baru saja ia tendang tengah meringkuk sambil memegang aset berharganya yang kini pasti berdenyut ngilu. Bahkan pria satu lagi juga terlihat meringis, seolah dirinya bisa merasakan sakit dari temannya itu.

__ADS_1


Liwey berjalan perlahan menuju pintu kayu, membukanya perlahan dan hati-hat ....


Krieett ...


Oh si*l. Liwey menoleh hati-hati kebelakang. Pria yang masa depannya masih aman-aman saja, menatap Liwey nyalang. Liwey cengengesan. "Maaf atas temanmu, aku harus pergi," ujar Liwey lalu membuka pintu kayu -- yang sialnya sangat berat -- dengan cepat, namun naas sepertinya takdir tak berpihak padanya. Tangan pria itu sudah menahan pergelangan tangan Liwey.


"Anda mau kemana Tuan Putri, anda harus pertanggung jawabkan perlakuan anda." Liwey menahan nafas gugup, dirinya tak berani menoleh sampai saat pria itu menarik kasar tubuhnya dan menghempaskannya keras ke dinding kayu.


Liwey meringis saat merasakan derak tulang punggungnya yang berciuman dengan dinding. Sakit. Liwey tidak dapat menahannya.


"Aku yang akan menghukum dirimu terlebih dahulu Putri." Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Liwey. "Tenanglah, ini akan sangat nikmat nantinya."


Liwey meludah tepat di wajah pria itu, sang pria sontak menjauh darinya. "Sial*n!!, kau ingin cara kasar rupanya." Pria itu dengan sigap menarik rambut Liwey --yang entah sejak kapan tergerai-- sampai mendongak.


"Pegang dia, aku akan buat pergitungan dengannya." Sebuah suara mengalihkan atensi pria itu, senyuman jahat terukir di bibirnya saat mendapati temannya tengah berjalan sedikit tertatih kearahnya.


"Dia benar-benat membuatku marah." Pria yang baru saja mendekat segera mencengkram dagu Liwey keras. Sakit, bahkan Liwey yakin dagunya akan membiru jika cengkraman pria itu terlepas.


"Le ... pas." Suara Liwey tercekat, tangannya berusaha menggapai leher pria yang posisinya berdiri dihadapannya, namun apa daya. Pria yang masih menarik rambutnya itu memelintir tangan Liwey sampai bunyi derak tulang bergeser terdengar.


Liwey menjerit hebat, air matanya bahkan sudah mengalir semakin deras. Dia tak sanggup menerima rasa sakit ini. Dia merasa rugi saat tak mengikuti kelas bela diri dengan serius saat SMA dulu.


"Ingin melawan jal*ng?!" Pria dihadapannya semakin mencengkram kuat dagu Liwey. "Wanita lemah sepertimu jangan berharap apa-apa, kau hanya perlu memenuhi nafsu kami," bisik pria itu ditelinganya.


"Kalian a ... kan ... mati," ujar Liwey terbata. Liwey merasa ada sesuatu didalam dirinya ingin keluar dan membunuh para pria bejat ini.


"Haha, dia mengancam. Apa dia bilang? Mati?! Kau yang akan mati." Pria dihadapannya tertawa riang, kemudian mendekatkan kepalanya ke telinga Liwey. "Setelah kau memuaskan kami tentunya."


Plak


Sebuah tamparan mengenai wajah Liwey sampai membuatnya terdorong kesamping. Pria yang menjambak rambutnya kini melempar tubuh kecil Liwey tidak berperasaan di lantai.


"Baiklah, apa kita akan melakukannya bergantian atau bersamaan?" Pria yang menjambak liwey bertanya pada temannya.


"Sepertinya memainkannya secara bersamaan lebih nikmat." Setelahnya kedua pria itu tertawa hebat.


Liwey meringis kecil, kedua tangannya terkepal hebat. "Kalian ... akan menyesal."


...°♡°♡°...


Tbc ...


Hiyaaaaa ....


Ada yang kaget dapat notif dari Qu Liwey malam-malam.


Kagak ada yak ...


Hehe, tapi tak pe lah.


Semoga kalian suka chapter ini.


So Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2