
...Hallo...
...Jangan lupa Klik 👍 sebelum membaca dan Klik 💜 untuk menjadikan Qu Liwey di list favoritmu....
...Audhikim...
...🤓...
...______________...
Jing Xuan duduk di tepi kolam sembari masih menatap keatas langit yang dipenuhi oleh gemerlap bintang yang berkedip-kedip. Menarik nafas dengan tenang lalu mengeluarkannya perlahan, tidak terburu-buru. Jing Xuan menyukai susanan ini, tidak ada keributan dan jauh dari keramaian.
Tapi, kemana Liwey, apa istrinya itu masih menikmati makanan yang terhidang di meja jamuan. Ah, Jing Xuan terkekeh memikirkannya. Istrinya itu memang selalu heboh jika berurusan dengan makanan. Masih dengan senyum mengembang di sudut bibir, Jing Xuan menggerakkan kakinya untuk menendang kerikil-kerikil kecil yang bertaburan didekat kolam
"Apa yang kau lakukan di sini Anakku? Apa masih tidak menyukai pesta?" Suara berat khas seorang pria membuat senyum yang terpatri di wajah Jing Xuan luruh seketika. Ia tahu siapa sosok yang sedang menemuinya sekarang.
"Apa pesta panjang umur anda sudah berakhir Yang Mulia, hingga membuat si pemilik pesta kabur dari keberlangsungan acara?" tanya Jing Xuan dingin, pria yang awalnya terduduk di pinggiran kolam kini sudah berdiri dan menghadap kearah sosok pria paruh baya dihadapannya.
"Aku tak melihatmu, itu sebabnya aku mencarimu kemari. Kau selalu sama, Nak. Tak menyukai keramaian." Jing Xuan hanya berdehem pelan menanggapi. Kemudian keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku minta maaf." Jing Xuan sontak menatap wajah pria dihadapannya sedikit terkejut. Apa dia tidak salah dengar, seorang Kaisar yang gila hormat dan sulit mengucapkan kata maaf kini meminta maaf padanya? Oh, apa ini, suatu keajaiban dunia?
Jing Xuan menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa? Kau tidak pernah melakukan kesalahan."
"Aku banyak salah terhadapmu, Nak."
"Contohnya?" Jing Xuan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tatapan matanya menatap lurus kedepan. Tepat menusuk manik gelap sang Kaisar.
"Aku telah menikahkanmu den ..."
"Aku tidak menganggap itu kesalahan."
"Aku telah menurunkan jabatannya menjadi mentri dari posisi put ..."
"Aku tak menginginkan kedudukan itu."
"Aku telah memanfaatkanmu."
Jing Xuan terkekeh, matanya menatap dingin sosok sang Kaisar. "Ku pikir kau akan melupakan bagian itu."
"Maafkan aku, Nak. Aku terlalu banyak bersalah padamu." Kaisar menatap memohon kepada Jing Xuan, namun pria itu tetap tak tersentuh. Baginya rasa sakit yang telah ditorehkan oleh Kaisar padanya selama ini sungguh tak bisa dibayar hanya dengan kata maaf, dan juga kekuasaan. Jing Xuan hanya ingin, wajah orang yang memberikannya rasa sakit itu hilang dari hadapannya.
"Kau tak ingin memaafkanku?" Jing Xuan diam tak bergeming, matanya menatap lurus keiris hitam sang Kaisar. Dapat dilihat olehnya rasa penyesalan yang teramat sangat dari balik mata pria itu, namun Jing Xuan masih tak terusik, hati nurani pria itu sudah tertutup sejak saat dimana dirinya tak mendapatkan belaan dari sosok yang tengah memohon dihadapannya ini.
Jing Xuan menorehkan wajah kearah kiri, keningnya langsung mengerut saat mendapati gadis berkepang yang selalu saja mengikuti istrinya kini tengah berjalan sendirian dan terlihat tergesa, juga ekspresi wajah yang panik. Jing Xuan memiliki firasat buruk akan itu.
Sang Kaisar yang melihat perubahan raut wajah anaknya langsung mengikuti arah pandang Jing Xuan. "Ada apa, Nak?"
Jing Xuan tak menjawab, pria itu malah berlari mendekati Jiali dengan cepat. Entah kenapa, perasaannya tidak enak akan Liwey. Semoga saja perasaan itu hanya kegelisahan sesaat karena dirinya tak kunjung melihat Liwey mendatangi dirinya.
"Jiali, apa yang kau lakukan? Kenapa mondar mandir malam-malam begini? Dan, kemana Putri Jing?"
Jiali tersentak mendengar pertanyaan Jing Xuan, apa dia katakan saja jika Nyonya-nya itu telah hilang dari pengawasannya. Tapi, Jiali takut di hukum. Ia sadar bahwa dirinya lalai. Dia pergi untuk sesaat tanpa memberitahu Liwey sebelumnya, dan sekarang Nyonya-nya itu tak terlihat batang hidungnya, bahkan di kamar yang ditempatinya sekalipun.
Jing Xuan mengerutkan alis saat mendapati wajah panik Jiali, apa jangan-jangan ... tidak, Jing Xuan tidak boleh berspekulasi berlebihan sekarang.
"Katakan padaku dimana Putri Jing?" Jing Xuan menekan tiap kata yang keluar dari mulutnya. Jiali semakin gemetaran, apa ia harus mengatakannya.
__ADS_1
"Ada apa, Nak? Kenapa dengan istrimu?"
Jing Xuan tak menghiraukan tanya dari Kaisar yang ternyata mengikuti langkahnya. "JAWAB AKU!!" teriak Jing Xuan yang sontak membuat Jiali menitikkan air mata.
"Hiks, maafkan Jiali, Tuan. Jiali lalai."
"Jangan bertele-tele, cepat katakan." Argh, Jing Xuan menjambak rambutnya frustasi.
"Put ... putri Jing me ... menghilang," jawab Jiali lirih yang masih mampu di dengar oleh Jing Xuan.
"S*al," umpatnya lalu segera berlari meninggalkan dua orang itu untuk mencari istrinya. Semoga Liwey baik-baik saja. Jing Xuan merapalkan doa di tiap langkah kakinya.
"Apa sebenarnya yang terjadi? Kemana Putri Jing?"
"Hamba tidak tahu, Yang Mulia Kaisar. Hamba lengah dan hamba kehilangan jejak Putri Jing."
Hah. Kaisar menghembuskan nafas berat, di panggilnya salah satu prajurit yang lewat dari sana. Kemudian menyuruh mereka untuk segera mencari keberadaan posisi Liwey sekarang.
"Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba pantas mati." Jiali bersujud, meratapi kesalahannya.
"Ssshht, diamlah. Sekarang lebih baik kau juga ikut membantu mencari Putri Jing."
Jiali berdiri lalu mengangguk kemudian meninggalkan Kaisar hendak mencari posisi Liwey dan memberi hormat sebelumnya.
Kaisar menatap lurus kearah kolam ikan tempat dirinya memperhatikan putra ke-4 nya itu. Hah, kembali sang Kaisar menghela nafas lelah.
"Semoga putri Jing baik-baik saja, dia telah membawa perubahan pada Jing Xuan."
...°♡°♡°♡°...
Dua pria yang sedari tadi masih asik tertawa terkejut saat mendapati Liwey sudah berdiri dengan di kelilingi oleh sulur cahaya kerlap kerlib di tubuhnya. Rambut panjangnya berkibar, awan mendung menghiasi langit berbintang. Menutupi keindahan gemerlapnya.
Liwey membuka matanya, iris amber keemasan wanita itu bercahaya menatap tepat pada dua lelaki yang sudah menampakkan tampang ketakutan disana.
"Aku sudah peringatkan." Suara Liwey beralun
rendah, menciptakan aura mencekam yang membuat tubuh kedua pria itu bergetar.
"Di ... dia penyihir?"
"Ku ... kurasa dia beneran penyihir."
Liwey tertawa nyaring saat mendengar ucapan dua pria di sana. "Sudah diambang maut, kalian masih bisa-bisanya menyebutku penyihir?" Liwey menaikkan alis mata kirinya. Kepalanya miring kekanan.
"Aku harus mulai dari yang mana? Kau atau kau." Liwey menunjuk satu persatu pria yang tengah berdiri di hadapannya. "Sepertinya aku harus melakukannya secara langsung, mungkin aku bisa menikmati tiap teriakan dari kalian berdua dan mempercepat waktu kematian kalian," ucap Liwey dengan mengutip dari perkataan pria itu barusan.
"Benar kan." Liwey tersenyum miring, iris ambernya menatap tajam dua orang di sana. Kedua tangannya terulur kedepan dan dengan cepat sulur-sulur cahaya keluar dan melilit tubuh dua pria disana.
Menjerit, kedua pria itu menjerit. Rasa panas yang ditimbulkan dari sulur cahaya itu terasa berkali-kali lipat dari api yang digunakan untuk melebur besi. Bau danging terpanggang masuk keindra penciuman mereka. Dua pria itu yakin, jika tubuh mereka sekarang sudah melepuh hebat.
Liwey tertawa sinis mendengar teriakan demi teriakan dari dua pria di sana. Tangannya masih terulur dan masih mengeluarkan sulur cahaya. Liwey benar-benar melilit mereka dari bawah keatas. Hingga kini sulur cahaya itu sudah melilit tepat di tengah leher keduanya.
"Putri Jing, mohon ampuni kami, kami tidak akan melakukan hal seperti itu lagi."
"Benar Putri Jing, tolong lepaskan kami."
Liwey memutar bola mata malas. "Kalian pikir aku akan melepaskan kalian setelah apa yang kalian lakukan padaku?" Liwey terkekeh pelan. "Jangan kalian berpikir aku sosok wanita lembut yang akan luluh dengan permohonan dan air mata," lanjut Liwey sarkas. Kini sulur yang ia lepaskan mulai merambati kepala dua pria itu. Teriakan nyaring kembali terdengar saat Liwey mulai mengepalkan kedua tangannya yang terulur.
__ADS_1
"Mati kalian."
...°♡°♡°♡°...
Jing Xuan semakin mempercepat langkahnya saat mendengar suara teriakan nyaring dari arah jalan menuju gudang penyimpanan kerajaan, langkahnya semakin cepat saat mendapati cahaya terang berasal dari sana.
Sontak kejadian lalu menyambangi otak Jing Xuan, dimana dia melihat dengan mata kepala sendiri Liwey menghabisi seseorang dengan cahaya yang keluar dari jari jemari tangannya.
Dan dugaan Jing Xuan benar. Langkah kaki pria itu terhenti dua meter dibelakang Liwey. Matanya menyaksikan sulur cahaya mulai meliliti tubuh dua sosok yang Jing Xuan yakini adalah pria, jeritan pilu memekakkan telinga terdengar. Jing Xuan juga kembali menyaksikan dua sosok manusia itu perlahan-lahan berubah menjadi abu dan terbang di bawa angin.
Nafas Jing Xuan tercekat melihatnya. Bahkan Jing Xuan tidak menyadari ada suara langkah beberapa orang juga tengah menuju ketempatnya berada.
Jing Xuan masih menatap punggung mungil Liwey yang perlahan-lahan mulai berbalik. Jing Xuan semakin tercekat saat melihat air yang jatuh dari mata Liwey.
Setetes.
Dua tetes.
Dan berkelanjutan jatuh membasahi pipinya. Jing Xuan dapat melihat raut penyesalan di wajah Liwey. "Xuanxuan, aku pembunuh." Setelahnya Liwey terjatuh, untung Jing Xuan dengan sigap menyambar tubuh Liwey hingga tubuh wanita itu tak menimpa lantai.
Jing Xuan meneliti wajah Liwey, terdapat bekas kebiruan di sekitar dagu wanita itu, dan juga bercak darah mengering di sudut bibirnya.
Siapa orang yang berani melakukan ini terhadap wanitanya? Apa mungkin Ailin, jika memang benar, kali ini Jing Xuan tidak akan mengampuninya.
"Astaga, apa yang terjadi pada istrimu, Nak." Kaisar berseru kaget menatap kondisi Liwey dipangkuan Jing Xuan.
Jing Xuan diam, perlahan ia mulai bangkit dan mengendong Liwey dengan meletakkan satu tangan di lipatan lutut dan satu tangan lainnya di pinggang Liwey.
"Panggilkan tabib agar segera datang ke kamarku," ujar Jing Xuan dingin kemudian berlalu membawa tubuh lemah Liwey dalam gendongannya.
...°●°●°●°...
Cring.
Brak.
Sreet.
Kelopak mata itu membuka, iris merah darah miliknya menatap penuh minat pada pintu kayu yang terbuka lebar di hadapannya. Seringaian lebar tercipta di sudut bibirnya. Dan tanpa menunggu waktu, sosok itu tertawa keras. Bahkan suara tawanya menggema keseluruh ruangan.
Hari yang ia tunggu sejak ratusan tahun lalu telah tiba. Akhirnya dirinya bebas, dan siap membalaskan dendamnya.
"Ahh, selamat datang kebebasanku, hahaha."
...°♡°♡°♡°...
tbc ...
Salam AudhiKim,
Happy reading manteman.
Pukul 00:53 WIB.
Wah, ide Audhi mengalir di tengah malam. Dan Audhi mutusin buat ngetik terus update.
Semoga suka.
__ADS_1