Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 46 : Hujan.


__ADS_3

...Jangan jadi siders...


...Like and koment terus ♡ nya manteman....


...Salam...


...AudhiKim...


...🤓...


...__________...


Yanzhi terjatuh dari duduk bersilanya. Terbatuk, mulutnya mengeluarkan darah, Yanzhi menekan keras dadanya yang terasa panas bak dibakar api. Matanya menatap nyalang kearah kolam kecil dihadapannya. Orang-orang yang telah ia jadikan boneka telah mati terbunuh ditangan Liwey.


Liwey.


Mengingat nama itu membuat kedua tangan Yanzhi mengepal erat hingga buku-buku jarinya tampak memutih.


"Wanita itu tak bisa diangkap remeh." Sebuah suara mengalihkan perhatian Yanzhi, dapat dilihatnya Hongli tengah duduk di kursi tepat didepannya tengah menyilangkan kaki.


Iris semerah darah pria itu juga menatap lekat kearah kolam yang menampilkan gambaran Jing Xuan dan pasukannya.


Hm, dewi terkuat memiliki reinkernasi yang kuat juga.


Hongli tersenyum sinis, tatapan matanya semakin menusuk tajam kearah kolam. Pupil matanya mengecil memperhatikan sosok Liwey yang tengah tertawa di dalam pelukan Jing Xuan.


Ingatannya berkelana, melihat Liwey dan Jing Xuan, membuat dirinya kembali mengingat kenangan menyakitkan yang telah ditorehkan Tan'er pada nya. Tan'er memilih Liancheng, dan mencampakkan cinta suci yang ia miliki dengan mengatakannya hanya sebatas obsesi. Sejak saat itulah, Hongli bersumpah akan membunuh tiap reinkernasi cerminan dua dewa itu hingga tak bersisa.


"Kau benar, dia sudah membunuh dua orang suruhanku dalam sekejap dan tak meninggalkan bekas sama sekali." Hongli tersadar dari lamunannya.


Menaikkan sudut bibir kiri, Hongli perlahan bangkit dari duduknya, berjalan menuju jendela, menatap tiap derai hujan yang jatuh beribu dari atas langit.


"Untuk sekarang jangan terlalu pikirkan wanita itu. Fokuslah ketujuanmu untuk menggulingkan kaisar," sela Hongli.


"Tapi, aku tidak punya dukungan kuat. Aku telah membatalkan pernikahan dengan putri kedua keluarga Qu da ..."

__ADS_1


"Apa yang kau harapkan dari keluarga itu." Hongli berbalik menatap nyalang Yanzhi. "Aku punya rencana lebih baik." Lanjutnya sembari menyeringai kejam.


Dengan rencananya, mungkin tugasnya membalaskan dendam dapat terjadi lebih mudah.


Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.


...°●°●°●°...


Hujan mengguyur saat kaki kuda yang membawa keduanya memasuki halaman kuil. Dua biksu muda menyambut kedatangan mereka dengan hangat, kuda yang mereka tunggangi di bawa ke bangsal kuda tepat di belakang kuil dan juga menggiring mereka untuk ke salah satu kamar yang ada di bagian barat kuil tersebut.


Liwey membuka jendela kamar, menikmati tepias hujan yang jatuh menghampiri wajahnya. Jing Xuan sejak sampai, hanya mengantar Liwey ke kamar dan menyuruh istrinya itu untuk beristirahat. Dan sekarang, Liwey tak tahu dimana keberadaan suaminya itu. Menggendikkan bahu, Liwey kini sudah mengulurkan tangannya menggapai tetes hujan. Memanyunkan bibir, Liwey lumayan kesal karena air hujan tak mengenai tangannya.


Genteng kamar di kuil ini sangat jauh dari jendela, itu yang membuat tangan Liwey batal terkena air hujan. Kini Liwey sudah duduk di kusen jendela, masih menatap hamparan ribuan air yang mengguyur bumi.


Ingatannya langsung berkelana akan para prajuritnya, apa yang terjadi pada prajuritnya dan Jiali sekarang. Mereka terluka, dan malam ini hujan, dimana mereka berteduh?


Pikiran Liwey kalut, satu hal yang selalu membuatnya kebingungan adalah kekuatannya. Keistimewaan yang ditimpakan untuk dirinya, bagaimana Liwey tidak bingung. Dua kali ia membunuh orang, Liwey selalu terkejut akan kekuatannya yang keluar bersamaan dengan emosinya yang menggebu. Tapi tadi, dia dapat mengendalikannya. Bagiamana bisa? Bukankah Liwey tak pernah melatih dirinya untuk mengeluarkan keistimewaan itu, tapi kenapa tadi bisa sangat mudah mengeluarkannya?


Liwey mendesah pelan, suara derit pintu bergeser membuat atensi Liwey teralih. Disana berdiri Jing Xuan dengan nampan berisi makanan yang ia bawa. Surai putih Jing Xuan berkibar diterpa angin yang masuk dari jendela.


"Kenapa belum istirahat? Dan, kenapa pula jendelanya di buka? Angin malam tidak bagus buatmu, ditambah sekarang sedang hujan, istriku," ujar Jing Xuan lembut sembari meletakkan nampan keatas meja bundar yang terletak di tengah kamar.


"Kau demam?" Jing Xuan segera berjalan cepat menuju Liwey yang duduk di kusen jendela. Menyingkap poni tipis Liwey lalu meletakkan telapak tangannya tepat di kening Liwey. Jing Xuan tidak merasakan panas, tapi dingin. Menghela nafas, Jing Xuan menarik tangannya dari dahi Liwey kemudian mengenggam tangan istrinya itu yang juga dingin.


"Hujan, jendelanya di tutup ya?" Pinta Jing Xuan pelan dan penuh kelembutan. Liwey hanya mengangguk pelan sebagai jawaban barulah Jing Xuan bergerak untuk menutup jendela.


Ditariknya Liwey perlahan menuju kearah meja bundar yang sudah di isi dengan teh dan juga makanan. Liwey menatap berbinar pangsit kukus yang tersedia di atas meja. Tanpa mempersilahkan Jing Xuan untuk duduk lebih awal, Liwey malah duduk lebih dahulu dan mulai mencomot satu potong pangsit dengan sumpit.


"Hmm." Liwey menggeleng nikmat, saat sepotong pangsit sudah memenuhi mulutnya. Pangsit ini adalah pangsit terenak yang pernah ia makan di dunia ini, bahkan pangsit yang disedikan di kediaman Jing Xuan maupun kekaisaran dapat dikalahkan oleh pangsit ini. Walaupun, jika Liwey diperbolehkan Jing Xuan untuk memasak, maka pangsit buatannya bisa lebih enak. Tapi apa daya, usahanya dalam mengembangkan bakat memasak selama tiga tahun itu sia-sia hanya karena Jing Xuan tak mengizinkannya bereksperimen di dapur.


Jing Xuan ikut memakan sepotong pangsit sembari menahan senyum. Liwey sungguh menggemaskan di matanya. Uh, betapa Jing Xuan sangat mencintai wanitanya satu ini. Andai saja Liwey juga mencintainya, maka kebahagian Jing Xuan akan berkali-kali lipat dari sekarang.


Iya, sudah berapa kali Jing Xuan mengatakan jika dirinya mencintai Liwey. Namun wanita itu hanya tersenyum sebagai tanggapan, tak pernah sekalipun Jing Xuan mendengar kata balasan cinta dari mulut istrinya ini.


Menelan potongan terakhir pangsit untuk membiarkannya terproses oleh alat pencernaan. Jing Xuan menuangkan teh krisan ke dalam cawan giok untuk dirinya dan juga Liwey. Jing Xuan menyodorkan cawan teh itu yang diterima Liwey dengan senang hati.

__ADS_1


Liwey menyesap teh hangat dari dalam cawan perlahan, merasakan sensasi hangat teh memasuki tubuhnya. Memang benar kata orang, saat hujan paling enak untuk makan cemilan dan juga menikmati teh hangat.


"Kau sangat suka makan ya?" tanya Jing Xuan saat mendapati Liwey kembali mencomot potongan pangsit dan memasukkannya kedalam mulut.


Liwey mengangguk, dengan cepat dikuyahnya potongan pangsit kemudian menelannya. "Itu sebabnya saat SMA aku mengambil jurusan tata boga karena sangat menyukai makanan," jawab Liwey kelepasan.


Jing Xuan mengerutkan kening tak mengerti akan apa yang dikatakan istrinya ini. "SMA? Tata boga?" Jing Xuan menelengkan kepala ke kiri.


Mata Liwey membola seketika begitu mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Jing Xuan. Matanya bergerak liar, jemari tangannya saling membelit abstrak. Liwey tak sadar akan apa yang ia katakan, dirinya terlalu bahagia sampai-sampai dirinya keceplosan. Bagaimana jika Jing Xuan tahu jika dirinya bukanlah Liwey yang asli, melainkan arwah penasaran yang tak sengaja masuk kedalam tubuh ini. Apa Jing Xuan akan membuangnya? Tidak ... Liwey tak mau itu terjadi.


Mengambil nafas dalam dalam lalu mengeluarkannya perlahan, Liwey menatap kearah Jing Xuan yang kini sudah berdiri tegak menatapnya dengan pandangan menyelidik.


"Em ... SMA itu ...." Liwey memutar otak dengan cepat. "saat masa anak-anak, iyah ... saat masa anak-anak, masa kecil." Jawab Liwey cepat, semoga apa yang ia katakan membuat pria di hadapannya ini dapat percaya, jika tidak ... Ah, Liwey tak sanggup membayangkannya.


Jing Xuan mengangguk kecil, SMA? Saat masa anak-anak? benar juga.


"Jadi kau sudah suka makan sejak kecil, keluarga Qu pasti sangat memanjakanmu."


"Iya." Liwey mengangguk sembari terkekeh bodoh.


"Lalu tata boga?"


Sial.


Liwey mengumpat. Bagaimana pun pasti akan sangat sulit untuk menghadapi rasa penasaran pria pintar dihadapannya ini. Liwey menghela nafas berkali-kali, berusaha untuk menenangkan diri. Otaknya juga tak tinggal diam, organ tubuh dengan ribuan saraf itu tengah berputar-putar mencari jawaban.


"Tata boga ... tata boga ..." Liwey mendadak pusing, otaknya tak dapat diajak kompromi sekarang.


Jing Xuan ikutan menghela nafas, raut kebingungan dari wanitanya itu sudah memperjelas spekulasi dirinya. Bahwa benar, apa yang menjadi pertanyaannya saat Tan'er mengatakan jika dia membawa jiwa Liwey kemari. Itu artinya, Liwey yang asli sudah pergi namun jiwa Liwey yang barulah yang mengisi tubuh Liwey yang asli.


Jing Xuan tidak tahu jiwa yang menempati Liwey itu berasal dari daerah atau dimensi mana. Yang jelas, hanya satu hal. Jing Xuan mencintai jiwa Liwey yang sekarang, jiwa yang tengah masuk kedalam tubuh Liwey.


"Sudahlah, ini sudah larut ayo tidur," ajak Jing Xuan yang sudah berdiri hendak menuju ranjang, Liwey mengikut, walaupun sebenarnya dirinya ingin lebih lama lagi menikmati cemilan diatas meja yang tersisa beberapa. Liwey berbaring disamping Jing Xuan, memeluk erat tubuh kekar suminya itu, menenggelamkan kepalanya kedada Jing Xuan, mencari posisi ternyaman. Ah ... dada Jing Xuan adalah salah satu favoritnya.


Jing Xuan terkekeh kecil, diusapnya pelan surai coklat Liwey kemudian menutup mata. Memulai waktu untuk mengarungi dunia mimpi tak berbatas keduanya. Derai hujan yang jatuh keras diatas genteng tak mengusik tidur keduanya.

__ADS_1


...°♡°♡°...


...tbc...


__ADS_2