Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 42 : Perasaan di Awasi II


__ADS_3

...Jangan lupa....


...Like and komentnya...


...Terus tekan 💜...


...Audhi sayang kalian...


...🤓...


...________________...


Dengan perlahan Liwey membuka pintu kamar milik Jing Xuan. Awalnya, Liwey sudah hendak berbaring di ranjang kamarnya. Tapi, perasaan diawasi itu terus berlanjut. Dia heran, jika yang mengawasinya adalah pengawal bayangan, maka tidak akan lancang dengan memasuki kamarnya bukan?


Liwey menjadi yakin, jika perasaan diawasi yang sudah seminggu ini menghantuinya bukan dari pengawal bayangan suruhan Jing Xuan, melainkan sosok lain yang tak kasat mata. Dan hal itulah yang membuat Liwey tak betah berada di kamarnya.


Melangkah masuk semakin dalam, Liwey mendapati Jing Xuan tengah fokus berkutat dengan banyaknya gulungan perkamen diatas meja. Sehingga tidak menyadari akan kedatangan dirinya. Liwey berdehem keras, kemudian berjalan menuju ranjang yang tak jauh dari tempat Jing Xuan berada.


"Oh ... kau datang," ucap Jing Xuan. Pria itu segera membereskan gulungan perkamen tepat ke sudut meja setelahnya berjalan menuju ranjang. "Ada apa? Kenapa kau datang kemari?"


Liwey tersenyum tipis. Dibaringkannya tubuhnya diatas ranjang dan menjadikan paha Jing Xuan sebagai bantalan. "Aku tak nyaman berada di dalam kamarku," jawab Liwey jujur. Karena memang sejatinya, Liwey tak nyaman akan perasaan diawasi yang terus mengikutinya seminggu ini.


"Boleh aku menginap di sini satu malam?" tanya Liwey. Jing Xuan tersenyum, tangan kekar miliknya terulur menyentuh kepala Liwey, mengelus surai coklat istrinya itu lembut.


"Tentu saja, kamar ini kamarmu juga." Kini Jing Xuan memainkan surai coklat Liwey dengan menggulungkannya kepergelangan tangan. "Tapi, kenapa tiba-tiba kau ingin tidur di kamarku?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Jing Xuan. Dia sedikit heran, selama hampir setengah tahun hidup bersama dengan Liwey. Wanita itu tak pernah mau jika diajak untuk bermalam di kamar milik Jing Xuan, dan itu pula yang membuat Jing Xuan harus ke kamar istrinya itu jika tengah rindu akan pelukan sang istri. Kenapa tiba-tiba seperti ini?

__ADS_1


Liwey menatap Jing Xuan yang juga tengah menunduk menatapnya, iris amber miliknya bertubrukan langsung dengan iris beda warna milik Jing Xuan yang telah menjadi favorit Liwey sejak awal. Wanita itu tersenyum lembut, tangannya terulur mengelus rahang tegas sang suami.


"Aku merasa di awasi akhir-akhir ini?" Liwey mendapati Jing Xuan mengerutkan kening, hingga hampir membuat alis pria itu menyatu. Dengan gemas Liwey mencubit pangkal hidung Jing Xuan kemudian terkekeh kecil. Entahlah, semenjak kejadian seminggu lalu, Liwey sangat suka bermanja-manja bersama Jing Xuan bahkan wanita itu juga tak segan-segan mencubit pipi atau hidung Jing Xuan kala gemas.


Jing Xuan terkekeh kecil akan ulah istrinya itu. Dirinya suka akan Liwey yang seperti ini, dan itu yang menambah rasa cinta Jing Xuan tiap hari semakin bertumbuh, bertunas dan kini mekar. Ah, Jing Xuan berharap bunga cinta mereka tidak akan layu dalam waktu dekat. Jing Xuan ingin hidup lama dengan Liwey.


"Apa kau terbebani dengan pengawal bayangan yang aku siapkan untuk menjagamu?" Liwey sontak menggeleng mendengar pertanyaan Jing Xuan.


Kini wanita itu bangkit dari berbaringnya untuk dapat duduk di pangkuan Jing Xuan. "Ada orang lain yang mengawasiku," jawabnya sembari menyandarkan punggung belakangnya di dada bidang Jing Xuan.


"Siapa?" Jing Xuan melingkarkan tangannya keperut Liwey, mendekap wanita itu agar lebih dekat dengan dirinya. Pria itu mendadak cemas saat mendengar penuturan Liwey. Siapa orang yang telah mengawasi Liwey selain pengawal bayangan? Apa Liwey hanya salah menduga?


Diletakkannya kepalanya di ceruk leher Liwey, mencari kesempatan mencuri kecupan di leher jenjang istrinya itu dan meninggalkan tanda kepemilikannya disana.


Liwey sedikit melenguh akan perlakuan Jing Xuan. Tiap sentuhan Jing Xuan memang membawa respon baik bagi tubuhnya. Tapi, untuk sekarang Liwey tidak ingin melakukan itu. Ayolah, sudah cukup selama seminggu ini mereka tanpa absen melakukannya. Ah ... memikirkan itu Liwey jadi malu sendiri, mengaingat betapa agresif dan candunya dia akan sentuhan Jing Xuan.


Jing Xuan sontak menghentikan kegiatannya, ditatapnya lekat wajah sang istri dari samping, seolah berkata 'lanjutkan ucapanmu'


"Dia punya aura mirip dengan putra mahkota, tapi ini lebih pekat." Tanpa sadar Jing Xuan bergetar mendengar penuturan Liwey. Tangannya tergerak semakin mendekap Liwey erat, seakan jika longgar sedikit maka Liwey akan pergi jauh darinya.


Entah mengapa, perasaan takut menyambangi hati Jing Xuan. Dirinya seolah punya firasat buruk akan kehidupan mereka kedepannya. Tidak, itu tidak akan terjadi, Jing Xuan menggeleng menyalahkan pemikirannya. Kehidupan Jing Xuan dimasa mendatang akan bahagia. Dirinya dan Liwey akan hidup bersama dengan anak-anaknya kelak.


"Sudahlah, mungkin itu hanya perasaanmu saja." Jing Xuan melepas pelukannya dari Liwey, menuntun wanita itu untuk berbaring di sampingnya. Kembali tangan kekar miliknya melingkari pinggang sang istri, membawa kepala istrinya itu untuk bersandar di dadanya.


"Kau ingin punya anak berapa?" tanya Jing Xuan, dia berharap dengan perubahan topik pembahasan dirinya dan juga Liwey akan merasa lebih baik dan tidak dibayang-banyangi ketakutan tak mendasar kembali.

__ADS_1


Liwey mengerutkan dahi didalam pelukan Jing Xuan, wanita itu mendongak. "Apa kau sudah berbicara dengan Jie'er?"


Jie'er? Jing Xuan kontan menggeleng, karena memang seharian ini dirinya tidak bertemu siapapun selain Yubo yang menyampaikan perkembangan penyelidikan atas keterlibatan Ailin dan Putra Mahkota dalam kasus seminggu lalu.


Bicara akan kejadian yang menimpa Liwey seminggu yang lalu, Jing Xuan sudah ingin menjerumuskan Ailin dan juga Putra Mahkota kedalam penjara. Namun apa daya, akibat kekurangan bukti dan juga orang yang dibayar untuk mencelakai Liwey mati di tangan wanita itu sendiri, membuat Jing Xuan sedikit kesulitan dalam mengungkap kebenaran yang sebenarnya.


"Adikmu itu, dia menanyakan hal ini juga tadi." Mendadak suara Liwey menyendu, pandangan wanita itu sudah tak menatap Jing Xuan lagi melainkan kearah perut rata miliknya. "Dia ingin keponakan untuk bermain dengannya bersama Bobo, tapi aku tak kunjung hamil."


Jing Xuan paham. Didekapnya tubuh sang istri semakin dalam kedalam pelukannya. "Mungkin belum saatnya, bersabarlah. Kau akan hamil jika kita berusaha keras." Senyum nakal terbit di sudut bibit Jing Xuan, dengan cepat dibaliknya tubuh Liwey untuk menindih wanita itu. "Apa kita melakukannya malam ini?"


Liwey memutar bola mata malas. Suaminya ini sangat mesum. "Tidak! Aku tak ingin melakukannya hari ini."


"Yah ..." Jing Xuan berseru kecewa, bibirnya mengerucut kedepan membuat dirinya bagai anak bayi imut nan polos. "Tapi, besok boleh kita melakukannya?"


Ah, Liwey menyesal mengatakan Jing Xuan polos, karena faktanya pria ini adalah pria paling mesum yang Liwey kenal. "Tidak." Liwey menekan kata tidak dalam ucapannya, memukul pelan bahu pria itu lalu menyamankan diri didalam pelukan suaminya .


Jing Xuan tersenyum, pria itu ikutan mengeratkan pelukan keduanya. Ditemani suara jangkring yang sayup-sayup terdengar pada malam itu. Jing Xuan dan Liwey kini sudah mengarungi alam mimpi bersama.


...°♡°♡°♡°...


Tbc ...


Maaf Audhi telat, ini baru part dua untuk triple update hari ini ...


Seharusnya tadi sore sudah Audhi up, akibat ada acara yang tak dapat di tunda, Audhi gak sempat buat ngetik. Alhasil Audhi bisanya up jam segini, dan mungkin part ketiganya akan audhi up tengah malam nanti ...

__ADS_1


Maaf atas keterlambatannya ...


Happy Reading teman-teman.


__ADS_2