Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 45 : Perjalanan.


__ADS_3

...Tolong jangan jadi siders...


...Klik 👍 sebelum membaca sebagai bentuk apresiasi kalian...


...Dan klik 💜 agar kalian mendapat notif Qu Liwey jika update....


...Hehe...


...Salam...


...AudhiKim...


...🤓...


...____________________...


Pagi menyapa, matahari sudah memancarkan sinarnya di balik bukit timur Dong You. Suara ayam, cicitan burung yang saling bersautan, juga desau angin yang mengalun lembut menghantarkan rasa sejuk menenangkan di pagi itu.


Liwey berdiri di depan gerbang kediaman. Surai kecoklatan miliknya melambai lembut di terpa angin yang bertiup lumayan kencang pagi ini. Mengeratkan jubah milik Jing Xuan yang melekat di tubuhnya, Liwey berjalan menuju kereta yang baru saja datang.


Hari ini, dirinya dan Jing Xuan akan pergi ke kuil mengikuti perkataan Tan'er dan Liancheng. Liwey sempat mendengar perkataan kusir kereta yang mengatakan kalau perjalanan menuju ke kuil yang berada di bagian timur Dong Yuo memakan waktu satu hari perjalanan dengan menggunakan kereta kuda. Itu jugalah yang membuat Jing Xuan memilih untuk berangkat pagi agar saat tiba disana mereka bisa langsung beristirahat. Jing Xuan juga memutuskan untuk menginap selama tiga hari disana, sebelum itu dirinya juga sudah menyelasaikan segala macam kerjaannya untuk tiga hari kedepan.


Liwey baru saja hendak masuk saat tiba-tiba sebuah tangan menepuk pelan bahunya. Dapat dilihatnya Jing Xuan tengah berdiri di belakangnya. Liwey berbalik, kemudian tersenyum menatap Jing Xuan yang juga menatapnya.


Tangan Liwey terulur menyapu lembut rahang Jing Xuan. "Kau akan membawa kuda sendiri?" tanyanya.


Jing Xuan menutup matanya menikmati sentuhan tangan Liwey di wajahnya kemudian mengangguk menjawab pertanyaan Liwey. "Akan lebih mudah bagiku untuk menyelamatkanmu, jika saja terjadi penyerangan di tengah jalan. Jarak tempuh untuk ke kuil itu sangat jauh, jadi aku harus bersiaga."


Liwey menurunkan tangannya dari wajah Jing Xuan. "Baiklah, kalau begitu bolehkah aku masuk sekarang?" Jing Xuan terkekeh kecil kemudian menepuk pelan kepala Liwey.


"Masuklah!" Setelah mengatakan itu Jing Xuan segera meninggalkan Liwey dan langsung menaiki kudanya. Melihat itu, Liwey pun segera masuk kedalam kereta di ikuti dengan Jiali yang duduk di samping kusir yang akan membawa mereka.


Liwey membuka jendela kecil di kiri kereta, iris amber miliknya mengamati setiap jalan yang mereka lewati. Pikirannya Liwey berkecamuk, ini adalah hari dimana dirinya akan pergi ke kuil dan juga hari dimana dirinya akan mengetahui tujuannya yang sebenarnya di dunia ini. Spekulasi terbesar yang kini bersarang di otaknya mengenai tujuan dia yang sebenarnya adalah membunuh Hongli. Tapi, kenapa dia harus membunuh? Dirinya sudah membunuh tiga orang selama berada di dunia ini, dan dia tidak ingin membunuh lagi. Apalagi kali ini dia harus dengan sengaja untuk membunuh Hongli. Dia tidak ingin di cap sebagai pembunuh. Lagi.


Menatap telapak tangannya yang entah kenapa bergetar, Liwey menghela nafas berat. Dirinya takut, namun entah karena apa. Firasatnya mengatakan kalau perjalanan ini tidak akan baik-baik saja. Apa karena firasat itu yang membuat dirinya takut? Atau karena hal lain. Liwey tak tahu.


Jiali membuka tirai yang menjadi sekat antara ruang dalam kereta dengan tempat kusir. Melongokkan kepala, Jiali tersenyum lebar. "Apa aku boleh masuh, Nyonya?" tanyanya.


Liwey mengangguk, mungkin dengan adanya orang yang bisa diajak mengobrol maka ketakutan tak berdasarnya ini dapat sedikit berkurang untuk saat ini. Setidaknya dirinya akan lebih nyaman dan menikmati perjalanan ini.


Jiali merangkak hati-hati untuk masuk ke dalam. Duduk bersila dihadapan Liwey, Jiali tersenyum. Gadis itu kini menyatukan rambutnya menjadi satu ikatan, tidak dipisah dan di kepang dua seperti biasanya.


"Apa anda bosan, Nyonya?" tanya Jiali basa-basi. Selama dirinya hidup bersama dengan Liwey dia sudah dapat mengetahui apa saja kebiasaan sang junjungan. Biasanya Liwey jika sedang didalam perjalanan seperti ini akan mudah bosan jika tidak ada teman mengobrol.


"Sedikit, itu sebabnya aku membuka jendela ini. Setidaknya melihat pemandangan akan membuat rasa bosanku hilang." Jiali mengangguk. Kedua terdiam, sama-sama terpaku dengan pemandangan dari luar kereta.


Robongan mereka sudah berhasil keluar dari pusat kota Dong Yuo, dan sekarang tengah berbelok ke kanan memasuki jalan setapak dengan banyaknya pohon maple dan pinus di kiri kanannya. Liwey masih asik menatap kearah luar jendela termasuk Jiali. Mereka berdua menikmati tiap hembusan angin yang menerobos masuk kedalam kereta.


"Berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya Liwey memecah suasana. Jiali menoleh kearah Liwey sebentar kemudian mengerutkan dahi seolah berfikir. Mereka sudah berhasil keluar dari pusat kota, sesuai pengalaman Jiali sewaktu kabur membawa Liwey kepasar yang tak jauh dari pusat kota mereka menghabiskan waktu setengah hari perjalanan dengan berjalan kaki. Dan kini mereka menggunakan kereta, berarti kecepatan mereka untuk sampai bertambah dua kali lipat. Dilihat dari mereka yang baru keluar dari pusat kota dan juga sinar matahari yang tampak terik dari luar membuat Jiali dapat berspekulasi jika mereka sudah melakukan perjalanan selama setengah hari perjalanan. Dapat dilihat dari matahari yang sudah naik ke tengah.


"Hm ... mungkin setengah hari perjalanan, Nyonya," jawab Jiali setelah sebelumnya mengeluarkan kepalanya kearah pintu masuk kereta sekedar melihat matahari.


"Hm, berarti kita memiliki waktu sampai matahari tenggelam untuk sampai kesana bukan?"


Jiali mengangguk cepat, "kurang lebih seperti itu, jika tidak ada gangguan di perjalanan."


Ah, gangguan ya ... Liwey paham, mereka sudah memasuki kawasan hutan. Jadi sangat memungkinkan jika ada penyamun yang akan menghadang perjalan mereka untuk mencuri kuda dan juga barang kereta. Di dunia ini dan dunianya yang asli kurang lebih sama, baik penyamun dan begal tetap saja ada.


Ckiiittt ...

__ADS_1


Kereta berhenti mendadak. Jiali dengan cepat menutup jendela, kemudian sedikit mengintip untuk melihat keadaan di luar dari balik pintu. Matanya sontak membulat saat mendapati ada lebih dari sepuluh orang berpakaian hitam dengan penutup mulut tengah menghadang mereka.


Tiap masing-masing orang membawa senjata. Baik itu pedang, celurit, bahkan gada berduri. Jiali kemudian dengan sigap menutup pintu kayu kereta. Nafasnya terengah-engah pertanda jika dirinya sedang kalut saat ini.


Liwey mengeryit melihat penampilan Jiali, bagaimana bisa gadis itu yang hanya mengintip dari balik pintu bisa sesak nafas seperti ini? Apa ada yang salah.


Deg.


Liwey sontak menatap lurus kearah pintu kereta yang sudah ditutup rapat oleh Jiali. Aura pekat ini sudah sering Liwey rasakan, pertama dari Yanzhi, kedua dari sosok tak kasat mata yang selalu mengawasinya dan juga saat ini. Firasat Liwey benar-benar buruk sekarang, dia harus melihat secara langsung. Tanda bahaya telah berdengung di otaknya, ini tidak bisa dibiarkan.


Liwey baru saja hendak merangkak membuka pintu kereta untuk melihat keadaan di luar, namun segara dihalangi Jiali. "Tidak, Nyonya. Di luar berbahaya, ada sepuluh sampai lima belas orang tengah menghalangi jalan kita di depan sana."


Jantung Liwey makin bertalu cepat, dia merasa orang yang tengah menghalau perjalanan mereka bukanlah orang biasa, tapi ada sesuatu dari dalam diri mereka yang sangat berbahaya. Dan Liwey harus segera melihatnya.


"Tidak, izinkan aku untuk melihatnya Jiali, aku punya firasat buruk akan ini, mereka bukan orang biasa." Liwey kini sudah membuka jendela, baru saja dirinya hendak mengintip dari sana Jiali dengan cepat menutup jendela itu.


"Nyonya, sudah pasti mereka bukan orang biasa. Mereka itu penyamun, Nyonya. Nyawa anda akan dalam bahaya jika anda nekat." Jiali meremas kedua bahu Liwey pelan, gadis itu berusaha untuk menenangkan Liwey yang kelihatan sangat gelisah sekarang.


"Percayalah, Pangeran Jing Xuan pasti bisa mengatasinya." Lanjut Jiali, kini gadis itu sudah membawa Liwey masuk kedalam pelukannya, mengelus pelan punggung wanita junjungnnya itu agar lebih tenang.


Brak ...


"Aku tidak bisa berdiam diri disini."


...°☆°☆°☆°☆°...


Jing Xuan menghentikan laju kudanya saat iris heterocromia miliknya menatap kurang lebih lima belas orang berapakaian hitam tengah berdiri dihadapan menghadang mereka.


Penyamun.


Huh. Jing Xuan mendengus kesal, ditatapnya satu persatu orang yang ada disana, meneliti dari atas ke bawah. Para prajurit yang ikut dalam perjalanan sudah siaga mengacungkan pedang dan tombak mereka, bahkan para prajurit bayangan juga sudah siaga di balik pohon dengan menarik tali busur. Bersiap melepaskan anak panah jika sosok yang menghadang perjalanan mereka mulai bergerak.


Jing Xuan kini sudah turun dari kudanya, aura dingin sengaja ia keluarkan agar para penyamun ini terintimidasi dan pergi tanpa perlawanan. Tapi, ada yang aneh. Jing Xuan mengerutkan keningnya saat sudah berada satu meter dari para penyamun itu, dapat Jing Xuan tangkap mata mereka berwarna hitam pekat keseluruhannya.


"Siapa kalian?" lirih Jing Xuan, matanya memicing tajam saat orang-orang yang berada di tengah berjalan perlahan dan gontai menghampirinya.


Benar, mereka di pengaruhi sihir.


Orang itu berhenti tepat lima langkah dari posisi Jing Xuan, mengangkat pedangnya keatas langit lalu mulai mengayunkannya kearah Jing xuan yang berhasil mengelak.


Setelah satu serangan dari orang yang Jing Xuan yakini sebagai pemimpin penyamun itu, penyamun yang lain juga mulai bergerak dan dihadang olah para prajurit dan juga Yubo. Panah-panah dari balik pohon besar meluncur ketubuh para penyamun itu. Darah mengucur, tapi para penyamun itu masih kuat bergerak dan lihai mengayunkan pedang, gada dan juga celurit yang menjadi senjata mereka.


Jing Xuan berhasil menggoreskan ujung tajam pedangnya ke leher sang pemimpin penyamun, darah segar mengucur banyak dari luka dalam di sana. Mata Jing Xuan membola, sungguh kuat pengaruh sihir yang mempengaruhi mereka. Bahkan saat mendapatkan luka serius di leher, penyamun itu masih bisa bergerak lincah bahkan raut kesakitan tak tampak dari wajahnya.


Jing Xuan menahan serangan sang pemimpin penyamun dengan pedangnya.


Sial, penyamun ini sudah kehilangan banyak darah tapi mengapa kekuatannya masih stabil.


Jing Xuan menarik pedangnya dan menendang penyamun itu tepat di bagian perut cukup keras, mengakibatkan si penyamun terlempar cukup jauh dari dirinya.


Mereka tak bisa mati, seolah-olah mereka adalah boneka yang tengah dimainkan oleh seseorang.


Jing Xuan menatap Yubo yang terlihat kewalahan dalam mengatasi dua penyamun sekaligus. Jing Xuan mengelurkan jarum es dari tangannya dan membidik tepat kearah leher salah satu penyamun.


Slap.


Jarum es tertancap, tapi si penyamun tak beraksi apa-apa. Penyamun itu masih terus mengayunkan gada dengan banyak duri kearah Yubo dan menahannya dengan pedang.


Jing Xuan terkejut. Penyihir kejam mana yang menjadikan manusia sebagai boneka tali untuk bermain. Jing Xuan yakin para penyamun itu pasti sudah mati, namun karena ada tangan tak kasat mata yang memainkan tali untuk mengerakkan mereka, itu sebabnya para penyamun itu masih bisa bergerak lincah padahal darah sudah terkuras habis dari tubuh.

__ADS_1


Jing Xuan menoleh cepat kebelakang, dirinya lengah. Penyamun yang awalnya sudah ia tendang jauh kini malah menendang dirinya.


Brak.


Jing Xuan meringis, punggungnya sakit akibat menabrak pintu kereta yang di dalamnya Liwey berada. Jing Xuan terduduk, matanya menatap lurus kearah penyamun yang kini tengah mengambil ancang-ancang untuk mengayunkan pedang kearahnya.


Jing Xuan tak boleh pasrah namun juga tak dapat menyerang. Pedang miliknya tertinggal di tempat awal. Hanya ada satu cara, Jing Xuan mengumpulkan tenaganya ke telapak tangan, merasakan aura dingin mengalir dan berkumpul di sana. Dengan sekali ayunan, Jing Xuan membuat penyamun itu beku.


Hah. Jing Xuan menghela nafas lega, tapi terkejut setelahnya. Penyamun itu berhasil mematahkan kekuatannya, dan sepersekian detik mengayunkan pedang tepat kearah Jing Xuan.


Tringg ...


Jing Xuan membelalak, pedang yang seharusnya membelah dirinya terjatuh tepat di antara kakinya yang mengangkang. Ah, serangan kali ini sungguh membuat Jing xuan kewalahan, yang dirinya lawan kali ini bukanlah manusia biasa.


Tapi, tunggu, kemana perginya penyamun itu.


"Nyonya!!!" Teriakan Jiali membuat Jing xuan tersentak, dengan cepat dirinya bangkit berdiri dan mendapati Liwey tengah mengeluarkan sulur cahaya dari jemarinya dan melilit para penyamun itu hingga menjadi asap hitam dan perlahan terbang menghilang di udara.


Liwey terengah-engah. Tenaganya benar-benar terkuras saat menghabisi lima belas orang sekaligus, dirinya masih belum terbiasa menggunakan keistimewaan yang ia dapat ini. Karena memang sejatinya Liwey tak ingin memakai keistimewaan ini lagi, karena dia tidak ingin membunuh. Tapi kali ini, entah kenapa dia tak merasa bersalah saat membunuh para penyamun itu. Karena Liwey sadar, penyamun itu bukan manusia, melainkan boneka yang dibuat semirip mungkin dengan manusia untuk mencelakai mereka. Itu sebabnya mereka tak dapat kehabisan tenaga, walaupun sudah terluka parah dan banyak mengeluarkan banyak darah.


Liwey masih mengatur deru nafasnya saat berjalan mendekat kearah Jing Xuan. Kuda yang di siapkan untuk menarik kereta sudah jatuh tak bernyawa akibat terkena serangan dari para penyamun. Sementara kuda Jing Xuan masih aman.


Liwey menghembuskan nafas lega saat mendapati tak ada satupun luka di tubuh Jing Xuan, tak seperti Yubo, pria itu mendapati luka gores cukup dalam di bahu kirinya yang kini tengah di balut kain oleh Jiali.


"Ternyata benar kau monster dalam berperang. Kau tak terluka walaupun sosok yang menjali lawanmu bukan manusia biasa."


Jing Xuan menggeleng. "Tapi aku terluka di bagian punggung. Aku rasa tulang punggungku retak sekarang," jawab Jing Xuan sembari terkekeh, sebenarnya rasa sakit di bagian punggungnya tak seberapa, dirinya hanya ingin memberikan lelucon pada Liwey.


Sementara Liwey menggeleng, dia paham apa maksud suaminya ini. Jujur, Liwey mengakui jika lelucon Jing Xuan itu garing. Pria itu memang tidak pandai membuat lelucon, tapi Liwey masih menghargai karena Jing Xuan sudah berusaha untuk membuat lelucon walau tidak lucu sama sekali.


"Bagaimana kita akan kesana? Kudanya sudah mati." Liwey menatap kuda berwarna coklat yang sudah terbaring dengan darah mengucur dibagian leher yang terbelah.


Jing Xuan menutup mata Liwey dengan tangannya yang dingin, tak membiarkan Liwey menatap kondisi mengenaskan kuda itu. "Kita masih punya satu kuda. Kita akan pergi dengan kuda itu."


"Lalu bagaimana dengan yang lain?" Liwey melepas tangan Jing Xuan dari matanya, menatap kearah para prajurit mereka yang terluka. "Mereka terluka."


"Tak apa, Putri Jing. Kami akan menyusul setelahnya. Kalian berjalanlah duluan," saut Yubo yang kini tangannya sudah dibebat kain putih.


"Tapi ..."


"Tak apa, Putri Jing. Kami akan menyusul," timpal Jiali mantap dan di setujui para prajurit lain dengan menganggukkan kepala mereka. Para prajurit serta Yubo dan Jiali harus mengutamakan dua orang junjungannya itu. Lagipula, jika ada bahaya di depan sana, dua orang itu pasti dapat melawan. Bahkan para prajurit serta Yubo dan Jiali masih terkejut akan kekuatan yang dikeluarkan oleh Liwey.


Sungguh pasangan kuat dan fenomenal. Seperti itulah yang ada dipikiran mereka sekarang.


Liwey menatap Jing Xuan sekejap lalu kembali menatap kearah depan dimana Yubo, Jiali serta para prajurit lain. Dirinya masih tak tega jika meninggalkan para rombongannya. Apalagi banyak diantara mereka yang terluka.


"Kita harus segera sampai untuk mendapatkan jawabannya Liwey," ujar Jing Xuan yang membuat Liwey menoleh kearahnya. "Kau tak perlu khawatir, aku sudah memerintahkan salah satu penjaga bayangan untuk meminta bantuan. Sekarang ayo!" Jing Xuan mengenggam tangan Liwey, membawa wanita itu menuju kuda miliknya.


Jing Xuan naik lebih dulu, setelahnya baru membantu Liwey untuk naik didepannya.


Liwey menatap kearah rombongannya, kemudian tersenyum miris. Dia sungguh tak tega untuk meninggalkan mereka, tapi benar kata Jing Xuan, dirinya harus segera sampai untuk mendapatkan jawaban akan tujuannya yang sebenarnya. Alhasil Liwey hanya bisa pasrah, kaki kuda yang membawa mereka berjalan perlahan masuk semakin dalam. Membawa dirinya dan Jing Xuan kebagian timur untuk segera sampai ke tempat tujuan.


...°♡°♡°♡°♡°...


Tbc ....


jangan lupa like and komennya ya guyss ...


tinggalin jejak manteman, jangan jadi siders.

__ADS_1


Salam


Audhikim🤓


__ADS_2