
...Klik 👍 sebelum membaca dan klik 💜 untuk menjadikan Qu Liwey di list favoritmu....
...Audhikim...
...🤓...
...___________...
Liwey mematut dirinya di cermin tembaga besar yang menyatu dengan meja rias. Hanfu merah dengan bordiran emas disekitaran pinggang, leher dan juga bawah rok menyelimuti tubuhnya. Wajah putihnya di poles make up natural, serta rambut panjangnya di gulung ke atas dengan tusuk konde perak sebagai penyangga.
Liwey tengah merapikan poni tipis di dahinya, kemudian berkacak pinggang sembari menatap lekat-lekat pantulan dirinya di dalam cermin.
"Wah ... bagaimana bisa aku secantik ini," gumam Liwey narsis. Jiali hanya tersenyum kecil mendengarnya.
"Anda memang selalu cantik, Nyonya."
"Uh, benarkah? Kau tidak sedang menipuku bukan?" Jiali terkekeh, kemudian menarik pelan pergelangan tangan Liwey agar mendekat kearahnya.
"Anda cantik dan selalu cantik." Jiali tersenyum kemudian menuntun Liwey untuk segera ke aula pesta, karena menurutnya Liwey sudah terlalu lama di dalam kamar sementara acara sudah akan di mulai.
Mereka berdua berjalan bersisian. Beberapa pelayan menyapa mereka yang dibalas dengan anggukan kecil dan senyuman dari Liwey. Iris amber Liwey segera berbinar saat mendapati aula pesta sudah dipenuhi dengan banyak orang dari berbagai kalangan yang sudah menepati meja masing-masing.
Kembali Liwey di tuntun oleh Jiali untuk ke meja yang sudah disediakan untuk dirinya. Dapat Liwey lihat Jing Xuan sudah duduk sembari menyeruput teh. Pandangan Liwey tak lepas dari sosok putih yang sudah menjadi suaminya itu. Hanfu putih dengan bordiran benang perak berukiran pheonix melekat di tubuh kekar Jing Xuan. Jubah abu-abu yang juga di hiasi dengan bordiran benang perak tersampir di bahu Jing Xuan. Liwey terpana, akan penampilan sosok yang selalu menenangkan namun mengerikan di saat bersamaan.
Merasa di perhatikan, Jing Xuan menoleh sesaat setelah meletakkan cawan di atas meja. Iris beda warna miliknya menatap tepat kearah Liwey dengan hanfu merah yang membalut tubuh. Jing Xuan tersenyum, kemudian beralih berdiri mendekati Liwey.
"Kau cantik," ucapnya. Tangan kekar Jing Xuan mengambil alih tangan Liwey dari Jiali kemudian menuntun istrinya itu untuk duduk di sebelahnya.
"Kupikir kau tidak akan datang." Jing Xuan masih menatap wajah Liwey lekat. Sudah cukup seharian ini dirinya melihat Liwey dari kejauhan.
"Kau gila! Mana mungkin aku melewatkan pesta dengan banyak makanan seperti ini." Liwey tersenyum yang langsung menular kepada Jing Xuan.
Menepuk kepala Liwey pelan, Jing Xuan mengambil satu buah pangsit dan menyuapkannya ke mulut istrinya itu. "Kau suka pangsit kan?" Liwey mengangguk. Mulutnya masih asik mengunyah pangsit yang diberikan Jing Xuan padanya.
Jing Xuan tersenyum geli, tangannya bergerak untuk mengusap sudut bibir Liwey. "Aku merindukanmu," ujarnya lirih. Iya, Jing Xuan merindukan Liwey yang ada saat ini, Liwey yang ia kenal. Bukan Liwey yang tadi pagi, yang membuat hati Liwey sakit karena beberapa kata yang keluar dari mulut mungil istrinya itu.
Liwey terdiam, kuyahan terakhir pangsit di mulutnya terasa sulit untuk di telan. Perkataan Jing Xuan membuat hati Liwey bergetar aneh. Jika boleh Liwey jujur, seharian ini dirinya berjalan sendirian keseluruh penjuru istana, hatinya merasa kosong. Seolah-olah, hatinya menginginkan seseorang untuk mengisinya dengan cara menemaninya. Bersyukurlah Liwey saat bertemu dengan pangeran ke-8 dan kakaknya waktu itu. Setidaknya Liwey tidak merasa kesepian.
Tapi, apa kekosongan yang tercipta di hatinya itu karena Jing Xuan?
"Aku ingin pangsit lagi, berikan!" Liwey mengalihkan topik agar tak canggung. Jing Xuan tersenyum, kemudian mulai mengambil pangsit dan memasukkannya ke mulut Liwey.
"Makanlah," ucap Jing Xuan kemudian membenarkan posisi duduknya menghadap kedepan, menatap para wanita tengah menari dengan melenggak lenggokkan tubuh mereka.
__ADS_1
Huh. Jing Xuan mendengus. Ini yang dirinya tidak sukai saat pesta. Wanita-wanita yang menari dengan tabuhan gendang dan juga kecapi, wajah memuakkan dari para pejabat tua mesum yang seolah tak pernah puas akan hasrat gairah mereka.
Dasar pria tua tidak bermoral.
"Xuanxuan." Liwey menarik pelan lengan baju Jing Xuan yang mengakibatkan atensi pria itu teralih padanya.
Jing Xuan tersenyum kecil. "Ada apa?"
"Kau tak suka pesta?" tanya Liwey. Bukan tanpa alasan Liwey menanyakan perihal itu, hanya saja sedari tadi telinganya mendengar Jing Xuan mendengus sembari menatap malas para penari yang tengah melenggak lenggokkan tubuhnya di sana.
"Tidak," jawab Jing Xuan singkat. Kini pria itu kembali menyesap teh dari dalam cawan. "Aku tak suka melihat wajah-wajah pejabat tua itu, sangat memuakkan. Dan juga aku tak suka keramaian."
Liwey menatap kehadapan, ekspresi wajahnya sontak berubah saat mendapati wajah-wajah para pejabat tua kurang belaian itu.
"Apa mereka tidak mempunyai istri di kediaman mereka? Bagaimana bisa mereka menunjukkan wajah-wajah kurang belaian seperti itu." Liwey berseru jijik.
Jing Xuan terkekeh kecil mendengarnya. "Mau keluar dari pesta ini," ajak Jing Xuan.
Liwey menatap wajah Jing Xuan sekilas lalu kembali menatap makanan yang terhidang di meja jamuan mereka. "Tapi aku masih ingin makan," balas Liwey lirih.
Jing Xuan kembali terkekeh, tangannya terulur mengusap puncak kepala Liwey penuh sayang. "Baiklah, aku akan menunggumu untuk menghabiskan makanan ini."
"Tidak," seru Liwey cepat, dapat dilihatnya Jing Xuan menaikkan sebelah alisnya. "Kau duluan saja, kita bertemu di kolam ikan dengan kamarku. Aku ingin makan ini lebih dulu."
"Kau tak apa ku tinggal."
Jing Xuan kembali tersenyum, "baiklah." Ditepuknya pelan puncak kepala Liwey kemudian menyampirkan jubah yang ia kenakan di tubuh Liwey.
"Agar kau tak kedinginan," ucapnya, mengecup sekilas dahi Liwey lalu setelahnya Jing Xuan beranjak pergi meninggalkan Liwey.
Liwey tersenyum kecil, tangan kirinya yang bebas dari makanan bergerak perlahan ke dahi yang baru saja di kecup Jing Xuan. Perasaan aneh itu semakin dan semakin menjadi saat Jing Xuan selalu menunjukkan perhatian-perhatian kecil seperti mengecup dan memeluk Liwey. Dan, Liwey menyukai hal itu. Apa mungkin perasaan aneh yang ada di hati Liwey adalah perasaan suka? Atau mungkin, hanya sekedar perasaan nyaman karena merasa terlindungi?
Ah, Liwey masih tak memahaminya.
...°♡°♡°♡°...
Ailin menatap nyalang kedekatan Jing Xuan dan Liwey dari meja seberang. Tangannya sudah mengepal kuat menahan gejolak cemburu yang semakin kuat setiap harinya.
Yanzhi memutar bola mata malas melihat reaksi wanita yang duduk disampingnya itu. Memilih menyesap teh, Yanzhi menikmati tiap aliran teh hangat yang melewati tenggorokannya.
"Kapan kau melakukan rencanamu, Putra Mahkota." Ailin menepuk punggung Yanzhi, membuat pria itu tersedak dan berakhir dengan air teh yang seharusnya mengalir lurus di tenggorokannya malah berbelok dan keluar dari hidung.
Argh ... hidung Yanzhi panas sekarang.
__ADS_1
"Kau mengagetkanku!" seru Yanzhi. Ailin mengerucutkan bibirnya, matanya masih menatap nyalang dua pasangan yang tengah asik berbicara di depan sana.
Matanya melotot saat mendapati Jing Xuan mengecup dahi Liwey setelah menyampirkan jubah sebelumnya. "Liwey sudah kelewatan, kita harus cepat bergerak Putra Mahkota."
Yanzhi mengerutkan kening, dia juga melihat perlakuan manis Jing Xuan terhadap Liwey barusan. Ia heran, sejak kapan adik yang terkenal tak tersentuh itu menjadi lembut di hadapan Liwey.
"Mereka suami istri, jadi tak apa kalau Jing Xuan mencium Liwey bukan."
"Ish, tapi aku tak suka itu. Seharusnya ciuman itu hanya untukku." Yanzhi menatap datar Ailin yang duduk di sampingnya.
Wanita ini posesif juga.
"Ah, Jing Xuan sudah pergi, ayo lancarkan rencananya." Ailin sudah bersiap hendak bangkit, namun tangan Yanzhi segera mencekalnya.
"Ada apa?!"
"Kau tak lupa 'kan, malam ini aku menginginkanmu." Yanzhi tersenyum licik. Ailin memutar bola matanya, kemudian kembali duduk mendekati Yanzhi.
"Aku akan lakukan jika kau berhasil menjebak Liwey Pangeran Mahkota." Ailin sengaja berbisik, bahkan tangan nakalnya sudah membelai dada bidang Yanzhi lalu turun dan semakin turun ke perut bawahnya.
Yanzhi menggeram, sentuhan Ailin membuat dirinya ingin menerkam gadis itu segera.
Ailin kembali berdiri, menatap Yanzhi dengan senyum licik di wajahnya. "Kau mudah sekali tergoda, Pangeran. Aku akan mengajak Liwey untuk ikut denganku, setelahnya lancarkan rencanaku." Setelah mengatakan itu, Ailin pergi menuju meja Liwey yang berada di seberang. Baginya, rencana kali ini harus berhasil.
Pandangan mata Yanzhi menatap punggung Ailin penuh gairah.
"Kau sudah siap bertemu dengan ku, Pangeran Mahkota."
Yanzhi tersentak, matanya menatap kesekeliling. Semua orang masih asik dengan aktifitas mereka masing-masing.
"Hanya kau yang dapat mendengar suaraku," ujar sosok tak kasat mata itu.
"Saatnya kau membebaskanku Pangeran. Bawa pria itu untuk mengantikan dirimu, lalu kau boleh bersenang-senang dengan wanita itu. Gairahmu sudah tak terkendali bukan?" Sosok tak kasat mata itu tertawa keras, suara tawa sosok itu semakin dan semakin kecil tiap detiknya. Yanzhi tahu, jika sosok itu sudah pergi.
Kembali menyesap teh, Yanzhi tersenyum sinis, matanya menatap sosok Ailin yang kini sudah berhasil membawa Liwey keluar dari acara pesta. "Ahh, aku sudah tak sabar," gumamnya, kemudian ikut beranjak keluar dari acara pesta.
...°♤°♤°...
TBC ...
Yuhuu ...
Sebentar lagi sosok tak dikenal bakal keluar manteman, dan juga tujuan Liwey akan segera terkuak.
__ADS_1
So, nantikan chapter selanjutnya.
Salam Audhikim.