
...Klik 👍 sebelum membaca dan klik 💜 dan jadikan Qu Liwey di list favoritmu....
...________...
Barisan prajurit menyambut Jing Xuan ketika keluar dari kereta yang membawanya. Tatapannya datar dan tajam, menyapu prajurit yang tengah membungkuk hormat. Menoleh kesamping kiri, Jing Xuan tersenyum sinis saat mendapati seseorang dengan hanfu hitam berbordir emas tengah berjalan angkuh mendekatinya. Dia Putra Mahkota, Mo Yanzhi.
"Kau tidak terlambat saudaraku." Yanzhi berhenti saat jarak antara dirinya juga Jing Xuan hanya beberapa langkah saja. Matanya menelisik saudara beda ibu itu dengan detail.
"Masih sama, menyukai pakaian cerah, eoh." Yanzhi tersenyum miring. Kesan nakal tercipta dibalik seringaiannya.
"Kau juga, masih suka dengan yang gelap," kata Jing Xuan dingin. Yanzhi menaikkan sebelah alis mendengar nada bicara Jing Xuan.
"Ouh, saudaraku. Kau masih sama ternyata." Yanzhi terkekeh pelan, "masih dingin terhadapku, benci karena aku mendapatkan posisi itu, Pangeran Mahkota." Yanzhi mengeja kata pangeran mahkota dalam ucapannya. Jing Xuan masih mempertahankan ekpresi tenangnya dan menatap Yanzhi datar.
Yanzhi pun sama. Ekspresi jenaka yang sedari tadi di tampilkan olehnya berubah datar dan dingin. Iris kelabu miliknya menatap tepat kedalam iris unik saudaranya itu. Menelisik semakin kedalam, seolah berusaha mengacak-ngacak pikiran saudaranya hanya dengan ditatap saja. Yanzhi mendengus, selalu seperti ini. Disaat dirinya ingin mengetahui perasaan bahkan pikiran dari orang yang sedang ia tatap, selalu saja ada tembok penghalang yang kokoh yang membatasi jalannya untuk masuk lebih dalam.
Jing Xuan tersenyum miring mendapati kekesalan tak mendasar pada wajah Yanzhi.
"Masih mau mencoba," ujar Jing Xuan. Pria itu berjalan selangkah lebih dekat kearah Yanzhi.
"Auramu juga masih sama Pangeran Mahkota, belum terlepas dari penyihir itu," bisik Jing Xuan lirih namun masih dapat didengar oleh Yanzhi. Mengepalkan tangan. Yanzhi menatap tajam Jing Xuan, ia menggeram menyadari hal itu.
Jing Xuan, hanya manusia satu ini yang tahu jika dirinya mendapatkan kelebihan setelah bekerja sama dengan seorang penyihir beraliran hitam. Itu semua ia lakukan karena keiriannya terhadap Jing Xuan. Dewa begitu menyukai satu saudaranya ini, hingga memberkati Jing Xuan, sampai memberikan kelebihan pada saudaranya itu.
Jing Xuan tersenyum maklum, dia mengerti apa yang membuat saudaranya seperti ini. Bekerja sama dengan penyihir aliran hitam yang entah dimana keberadaannya, semua itu karena Jing Xuan. Yanzhi ingin lebih kuat dari Jing Xuan.
"Sudah berapa gadis yang kau perawani untuk mempertahankan kekuatan itu," ujar Jing Xuan tanpa tedeng aling aling. Yanzhi menggeram sampai mengeluarkan aura pekat dan membuat sekitaran mereka dikelilingi aura tak mengenakkan. Para prajurit yang berada tak jauh dari mereka merasakannya. Sungguh tak nyaman dan menyesakkan.
__ADS_1
Jing Xuan masih tenang, walau sebenarnya jauh di lubuk hatinya ia tengah menahan rasa tak mengenakkan yang keluar dari tubuh Yanzhi.
"Itu bukan urusanmu," geram Yanzhi sembari menatap Jing Xuan tajam. Dia teramat marah hingga rasanya akan ada api yang keluar dari ubun-ubunnya. Tingkat didih kemarahannya sudah mencapai batas. Menurutnya Jing Xuan sudah keterlaluan, dan terlalu ikut campur akan kehidupannya. Walaupun ia tak tahu bagaimana bisa Jing Xuan mengetahui jika dirinya harus tidur bersama gadis perawan untuk memperkuat kekuatannya, namun satu hal menyadari Yanzhi.
Jing Xuan, saudaranya itu ternyata tengah mematainya. "Sudah berapa banyak yang kau tahu?" tanyanya geram, aura yang ia keluarkan semakin pekat.
Jujur, Jing Xuan sudah sesak akan perlakuan Yanzhi. Jing Xuan tidak bisa menekan aura itu lebih lama lagi. Khawatir dirinya terluka, Jing Xuan ikut mengumbar auranya. Suhu disekitar mereka yang sudah dingin menjadi dingin akibat Jing Xuan. Bahkan panas matahari di tengah teriknya tidak dapat menghilangkan rasa dingin di sekitaran mereka. Para prajurit yang sudah tak tahan memilih menjauh perlahan-lahan. Mereka tak ingin mati beku.
Bagi anggota kerajaan dan penduduk istana. Keistimewaan dua orang yang saling berhadapan ini sudah tak menjadi rahasia lagi. Mereka menganggap keduanya memiliki berkat dewa sehingga menjadi tak terkalahkan.
"Sudah terlalu banyak." Jing Xuan menatap Yanzhi dengan sorot datarnya. "Termasuk ...." Jing Xuan memilih tak melanjutkan perkataannya. Ditatapnya kesekiling. Para prajurit yang menyambut dirinya sudah menjauh, meninggalkan dirinya dan Yanzhi berada di tengah pekarangan depan istana.
"Termasuk?" Yanzhi menekan kata-katanya. Aura yang ia keluarkan semakin pekat, ia ingin mendengar kelanjutan kata itu. Jing Xuan diam, menatap wajah Yanzhi lamat. Tersirat jelas kemarahan di balik iris kelabu itu. Jing Xuan terkekeh. Di redamnya aura yang sempat ia keluarkan lalu berjalan meninggalkan Yanzhi menuju pintu utama yang menghubungkan dengan ruang parlemen kerajaan.
"APA YANG KAU KETAHUI?!!" Suara Yanzhi menggelegar, seolah ada petir yang menyambar dari nadanya. Jing Xuan berhenti melangkah, melirik Yanzhi dari sudut bahunya.
"Kau akan kubalas, Jing Xuan."
...°♡°♡°...
Membuka pintu ruang parlemen perlahan, Jing Xuan langsung dihadapkan dengan beberapa mentri dan juga Kaisar Mo yang tengah bersandar angkuh di singgasananya. Wajah berkeriput Kaisar Mo menatap Jing Xuan teduh. Sungguh betapa dia merindukan putra yang selalu ia perlakukan tidak adil selama ini. Ya ... Kaisar Mo menyadari setiap perilaku yang ia berikan kepasa Jing Xuan tidak adil, selalu saja bertimpang sebelah dari Yanzhi dan putra putranya yang lain. Padahal sejauh pantauannya, Jing Xuan yang paling berpengaruh dalam ekspansi wilayah Dong Yuo hingga sampai sebesar sekarang.
"Masuklah anakku," pinta sang Kaisar. Jing Xuan mengangguk kecil di ambang pintu lalu berjalan pelan menuju singgasana kaisar. Jing Xuan berhenti saat langkahnya sudah berada dekat dengan kursi kebanggaian sang Kaisar. Menunduk sembari melipat tangannya di depan kepala, Jing Xuan memberi hormat.
"Berdirilah," pinta Kaisar dan diikuti Jing Xuan. Iris beda warna unik milik Jing Xuan menatap datar kearah Kaisar Mo, membuat perasaan sang Kaisar tercubit. Kaisar itu tahu, tingkah anaknya dingin terhadap siapapun itu diakibatkan oleh dirinya juga. Secara tak langsung, dirinya menanamkan sikap tak berperasaan pada putra yang terlahir dari rahim permaisuri terdahulu.
"Apa yang membuat Yang Mulia ini dengan repot memanggil saya," ucap Jing Xuan tenang, air wajahnya masih sama tetap datar walaupun yang berdiri di hadapannya adalah dewa sekalipun.
__ADS_1
"Aku ingin memintamu menyiapkan pesta ulang tahunku, Nak." Jing Xuan menatap tepat pada manik hitam sang Kaisar. Terkekeh, Kaisar itu mulai bangkit dari singgasananya berjalan pelan kearah Jing Xuan. Tangannya menepuk pelan pundak putra berbakatnya itu. Dingin, selalu seperti itu.
"Aku menginginkan putra putriku mengurus pesta untukku." Kaisar Mo tersenyum menatap kearah manik Jing Xuan.
Jing Xuan mengangguk skeptis, kemudian menatap Kaisar Mo lekat. "Apa Anda kekurangan pelayan Yang Mulia?" Tanya Jing Xuan datar. Sontak semua mentri yang berada di ruangan itu menahan nafas mendengar penuturan Jing Xuan. Kaisar Mo sudah melepaskan tangannya dari pundak Jing Xuan, sedikit syok akan pertanyaan yang dilontarkan oleh putranya ini.
"Tentu saya tidak kekurangan pelayan."
"Kalau begitu pintalah pelayan mempersiapkan pesta Anda, Yang Mulia." Kembali Kaisar Mo terdiam, perkataannya dipotong oleh Jing Xuan. "Pangeran ini tidak ingin merepotkan diri dengan acara tidak penting seperti itu," lanjutnya.
Kaisar Mo hanya terkekeh canggung, tangan kanan menyapu tengkuknya yang entah kenapa tiba-tiba dingin. Dia sudah menduga ini, sikap keras kepala Jing Xuan mendominasi sekarang. Dan Kaisar Mo tidak mampu melawan, melihat pengaruh Jing Xuan terhadap Ekspansi wilayah serta kepercayaan para anggota kerjaan dan juga rakyat membuat Kaisar Mo tidak berkutik walaupun Jing Xuan telah meruntuhkan harga dirinya sekalipun.
"Bersyukurlah aku hadir di acara membosankan itu, jangan memaksaku untuk ikut andil Yang Mulia. Aku bukan pesuruhmu." Jing Xuan menekan kata pesuruh pada kalimatnya. Matanya masih menatap datar kearah pria paruh baya yang kini tengah berdiri di hadapannya.
Kaisar Mo tersenyum canggung, kemudian berbalik menuju kesinggasananya. "Pergilah, aku ingin bicara padamu empat mata. Datanglah keruanganku setelah makan siang." Jing Xuan mengangguk, kembali pria bersurai putih itu menunduk dengan melipat kedua tangannya di depan kepala. Memberi hormat, setelahnya pergi tanpa kata meninggalkan ruang parlemen.
"Yang Mulia, Pengeran ke-4 sudah keterlaluan terhadap Anda," ucap salah seorang mentri yang diangguki oleh mentri yang lain. Kaisar Mo tersenyum miris.
"Aku pantas mendapatkannya." Jawaban dari Kaisar Mo membuat seluruh mentri yang berada di sana seolah tersambat petir. Kaisar yang mereka kenal sangat gila kehormatan dapat di runtuhkan oleh darah dagingnya sendiri?
"Baiklah, lanjutkan pembahasan yang tertunda."
...°♡°♡°...
Tbc ....
Jangan lupa lika and komennya.
__ADS_1
Salam Audhi kim.