Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 14 : Aksi Jambak.


__ADS_3

Jangan lupa tekan 👍 sebelum baca, dan tekan 💜 buat masukin cerita Qu Liwey ke list daftar favorite kamu ...


Happy reading🤓🤓🤓🤓


\=\=\=\=\=\=\=\=


"APA KAU BILANG!! AKU DAYANG !! MAU MATI?!!" Liwey berteriak keras. Oh ... ayolah, Liwey sudah sangat kesal terhadap Jing Xuan yang sudah semena-mena memberikan dirinya hukuman yang setara layaknya kerja Rodi, dan kini datang manusia antah berantah dengan gaun hijau yang sudah menyerupai ratu pantai selatan!! Oke ... Liwey berterima kasih akan ingatannya, dia sedikit paham akan lagenda Indonesia walaupun selama ini ia hidup di negri orang. Oke Lupakan, kembali ke topik.


Diliriknya gadis berhanfu hijau yang tak diketahui namanya ini dari atas kebawah. Yah ... Liwey akui dia memiliki aura layaknya bangsawan dengan hanfu glamour dan juga hiasan kepala yang ... ukghh pasti berat.


"Lepaskan aku, aku sedang bersama kakak ipar kenapa kau mencapnya sebagai seorang dayang." Suara imut Liang Jie terdengar, kini gadis kecil itu sudah berdiri di hadapan Liwey sembari merentangkan tangan berniat membela.


Liwey tersenyum, aksi gadis imut didepannya ini sanggup meredakan emosinya yang sudah bergejolak sedari tadi dan semakin bertambah saat gadis hijau ini hadir.


"Apa? kau bercanda Jie'er? orang ini Putri Jing? bagaimana mungkin." Gadis itu memutari Liwey yang masih berdiri ditempatnya, jangan lupakan tatapan remeh yang ia perlihatkan pada Liwey. Ouh, ingin sekali Liwey mencakar wajah menornya itu.


"Dari segi apapun, aku lebih baik dari dirimu. Benarkan dayang?"


"Benar, Putri Wu Ailin lebih berhak mendapatkan posisi putri Jing." Dayang yang sedari tadi mengikutinya berujar.


Kening Liwey berkerut, apa maksud dari alien jaman dahulu ini, ingin menjadi pelakor, heh.


"Kau dengar, ternyata rumor bahwa kau itu bodoh dan juga tak berguna benar adanya." Ailin menyunggingkan senyum smirk, "berdandan saja tak becus, ingin menjadi pendamping pangeran ke-4, eoh? kau tak layak."


Jadi menurutmu kau layak begitu? dengan mulut seperti mak lampir itu kau mencap dirimu layak? bibit pelakor unggul jaman kerajaan.


"Apa kau sudah mendapat malam penyatuan dengan pangeran ke-4, eoh? aku rasa belum. Kau ingin rekomendasi dimana tempat untuk menyalurkan hasrat berset*buhmu, hm?"


Wah ... dia tak sadar kalau di sini ada anak kecil? kenapa ucapannya sangat vulgar. ck ck ck.


"Rumah bordir sangat cocok untuk jal*ang sepertimu," bisik Ailin tepat di telinga Liwey. Okey, ini sudah kelewatan batas. Ingat bukan Liwey paling anti dengan kata Jal*ang. Cari mati rupanya.


Liwey menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, Liang Jie sedari tadi dapat merasakan amarah dari kakak iparnya. Bagaimana tidak marah, Ailin sudah keterlaluan saat ini.


"Jie'er, kau tau apa kedudukan kakak ipar disini?" Liang Jie menoleh keatas, menatap wajah Liwey yang tersenyum padanya.


Liang Jie mengangguk, "kau adalah kakak iparku, dan istri dari kak Jing Xuan."


"Bagus." Liwey menepuk lembut puncak kepala Liang Jie yang dibalas senyuman manis dan menggemaskan dari gadis itu. Uhh, ingin rasanya Liwey mencubit gemas pipi Liang Jie yang sedikit berisi, tapi ini bukan saat yang tepat. Ini waktu untuk memberi pelajaran Ailin 'kan?


"Sekarang, boleh kakak ipar meminta sesuatu padamu?" Liang Jie mengangguk, "berikan kakak ipar ini waktu berdua untuk sedikit bermain dengan tamu kita." Liwey menekan kata sedikit yang langsung dipahami Liang Jie, ya dia akui bahwa rumor yang mengatakan Liwey tak berguna itu sepertinya salah. Lihat wajah dengan senyum liciknya ini.


Mematuhi perkataan Liwey, Liang Jie langsung berlari keluar dari halaman belakang. Melewati Jiali dan juga kasim Tang yang tengah mengantikan tugas Liwey sekarang.


Liwey menepuk rok hanfu putihnya yang lumayan kotor akibat hukuman dari Jing Xuan. Ditatapnya Ailin dari atas kebawah, lalu menyeringai sembari melipat kedua tangan didepan dada.


"Kau menghawatirkan malam penyatuan antara aku dan pangeran Jing Xuan, hm?" Liwey menaikkan salah satu alisnya. "Tak perlu repot mencari tempat untuk menyalurkan nafsu, jika dikediaman ini nafsu diriku terpenuhi." Liwey maju satu langkah.


"Dan apa kau ingin tau bagaimana rasanya?" Kali ini Liwey menaikkan dua alisnya. Kembali ia maju lebih dekat dengan Ailin yang masih berdiri dengan wajah songong seakan tak percaya akan ucapan Liwey, kemudian berbisik, "sangat nikmat."


Ailin segera mendorong tubuh Liwey menjauh darinya, "jangan mendekat, kau itu kotor." Liwey mengerutkan kening.


"Kau bilang aku kotor karena sudah diperawani oleh suamiku sendiri? wah ... kau perlu belajar sopan santun putri Wu Ailin?"


Ailin menggeram, kedua tangannya sudah terkepal kuat. Kembali Liwey mendekatkan bibirnya tepat di depan kuping Ailin. "Kau tahu, hal paling nikmat adalah ...." Liwey sengaja mengantungkan perkataannya seolah menunggu reaksi dari Ailin.


"sangat memuaskan saat pangeran Jing Xuan mendesahkan namaku di antara pelepasannya dan itu sungguh nikmat." Kali ini Ailin mendorong Liwey cukup kuat, dan hampir membuat Liwey tersungkur jatuh kalau dia tidak sigap.


Jiali dan kasim Tang yang baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka datang menghampiri Liwey, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Liwey didorong oleh orang yang tak mereka kenali. Baru saja Jiali hendak melerai, suara gadis yang tak dikenali mereka menghentikan langkah mereka seketika.


"Kau pasti berbohong!! aku tak percaya itu."


Liwey terkekeh pelan, siapa yang menyuruh mu untuk mempercayainya bodoh. Jangankan bercinta, tidur dengan si heterocromia itu saja aku tak pernah. Ya kau benar aku berbohong. Karena itu sangat mudah bukan?


Liwey masih asyik dengan pikirannya saat Ailin menampar kuat pipi kirinya. Jiali menjerit tertahan, serta Kasim Tang yang tak tahu ingin berbuat apa. Hendak melerai, dia takut dirinya dijadikan bahan pelampiasan, kalau tidak dilerai ia takut akan terjadi keributan. Dia bingung.


"Hishh ..." Liwey meringis saat dirasa pipi kirinya memanas dan juga suara dengungan keras dari dalam telinganya. Tangannya perlahan mengusap area pipinya yang memanas, lalu menatap Ailin yang berdiri sembari bernafas tak teratur seakan tengah meredam emosi.


Liwey menghembuskan napas keras, disingsingkannya kedua lengan hanfu ke bahu dan tanpa ba bi bu.

__ADS_1


plakkk....


Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Ailin, bahkan sakingkan kerasnya Ailin sampai jatuh di atas lantai yang segera di bantu berdiri oleh para dayangnya.


"Kekerasan di balas dengan kekerasan. Itu prinsipku, ingat itu." Liwey berujar dingin menatap Ailin yang masih meringis menahan sakit di pipi kanannya.


Baru saja Liwey hendak melangkah keluar dari gazebo, ia langsung tertarik kebelakang saat rambut tergerainya di jambak kuat oleh Ailin.


Wah ... mau bermain seperti seorang istri menciduk pelakor? baiklah.


Tak tinggal diam, Liwey pun ikut menarik rambut Ailin, dan aksi tarik-tarikan tak bisa di hindari. Seketika halaman belakang ribut. Jiali sudah menangis sedari tadi, dayang yang mengikuti Ailin sibuk melerai namun malah kena batunya. Dan Kasim Tang, sudah lari meninggalkan taman belakang entah kemana.


"KAU MEMBUAT RAMBUTKU RONTOK!!!" Ailin.


"DAN KAU MEMBUAT EMOSIKU NAIK!! DASAR PELAKOR!!" Liwey.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jing Xuan kembali berkutat dengan perkamen yang entah ke berapa saat ibu suri datang mengganggunya. Tak cukupkah penolakan Jing Xuan dalam tiga hari ini, kenapa wanita tua itu tetap bersikeras. Dasar keras kepala.


Jing Xuan masih asik dengan perkamennya saat Ibu suri tiba-tiba menyangkut pautkan Liang Jie dalam obrolannya.


"Kau tahu, Liang Jie itu sangat susah untuk dekat dengan orang lain?" Jing Xuan menoleh sekilas lalu kembali dengan kesibukannya.


"Dia sudah seminggu berkenalan dengan Ailin, aku merasa dirinya akan sangat senang jika kau menikahi Ailin karena mereka sudah dekat." Ibu Suri tersenyum saat mengatakan kalimat itu.


Jing Xuan masa bodoh, ia masih ingat beberapa waktu yang lalu Liang Jie menyerukan ketidaksenangannya pada Ailin saat penyambutan tadi. Apa wanita tua ini ingin mencoba berdalih agar Jing Xuan mau menerima tawarannya? Heh ... sudah cukup, Jing Xuan tak akan pernah menerima tawaran itu walaupun harus mempertaruhkan kedudukannya sekarang.


"Apa kau tidak ingin berkenalan lebih jauh dengan Ailin, cucuku? Dia akan sa ...."


"Tidak ... dan terima kasih." Jing Xuan berseru dingin, membuat Ibu Suri terdiam saat perkataannya di potong oleh Jing Xuan.


Yubo yang sedari tadi berdiri disamping Jing Xuan sudah menggeleng samar. Tekad Ibu Suri sangat kuat untuk menikahkan Jing Xuan dengan anak asuhnya Ailin. Padahal ia tahu, kalau pernikahan antara Jing Xuan dan Liwey belum lama terjadi, dan Ibu Suri sangat kekeh dengan keputusannya.


Sangat terobsesi ternyata.


"Sudah cukup telinga dan otakku sakit diakibatkan tiga wanita di kediaman ini, jangan tambah satu lagi." Jing Xuan berujar dingin.


"Tapi dia akan sangat penurut, Ailin anak yang baik dan berhati lembut." Ibu Suri masih tetap kekeh dengan pendiriannya. Hingga pintu ruang kerja Jing Xuan di buka paksa membuat semua orang yang ada di sana sontak menatap kearah si pelaku.


Kasim Tang berdiri sambil mengatur napas susah payah, ia sudah berlari dari halaman belakang menuju ruang kerja Jing Xuan. Membuat jantung dan paru-paru terpaksa memompa darah dan menyalurkan oksigen lebih cepat dari biasanya.


"Sungguh tak sopan memasuki ruang kerja Pangeran seperti itu, Kasim Tang. Apa sudah bosan hidup, eoh?"


Itu Ibu Suri yang berkata, siapa yang akan senang jika seseorang masuk kedalam kediamannya dengan membanting pintu dengan keras?


"Maafkan kelancangan saya Yang Mulia Ibu Suri ... hosh ... hosh ... kondisi halaman belakang ... hosh ... hosh ... sedang kacau." Kasim Tang berucap dengan napas yang belum beraturan.


Jing Xuan sontak menaikkan sebelah alisnya. Dia ingat, kalau dia menugaskan Kasim Tang untuk mengawasi kerja Liwey dalam hukumannya kali ini. Kenapa malah Kasim Tang kemari dan berkata kalau halaman belakang sedang kacau? Apa jangan-jangan Liwey berbuat masalah lagi?


"Berbicara pelan-pelan! Apa yang terjadi di halaman belakang?" Ibu Suri kembali bertanya.


Kasim Tang menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, mencoba untuk rileks. Kasim Tang kini sudah berlutut di hadapan meja kerja Jing Xuan.


"Sebelumnya ampuni hamba Yang Mulia Ibu Suri dan Yang Mulia Pangeran ke-4, hanya saja kondisi halaman belakang sedang tidak kondusif. putri Liwey dan putri Ailin ...."


"Kenapa dengan Ailin." Mendengar nama Ailin disebutkan sontak Ibu Suri langsung memotong perkataan Kasim Tang.


"Dia belum selesai berbicara Ibu Suri, jangan memotong perkataannya." Jing Xuan menoleh malas kearah Ibu Suri yang kini sudah memasang sikap tenang saat mendapat teguran langsung oleh Jing Xuan, walaupun hatinya seolah berontak hendak tahu lebih dalam apa yang ingin Kasim Tang sampaikan.


"Lanjutkan Kasim Tang." Perintah Jing Xuan.


Sang Kasim mengangguk, "putri Liwey dan putri Ailin tengah terlibat pertengkaran Yang Mulia Pangeran. Dan sekarang tengah beradu aksi jambak-jambakan."


"Apa!!" Sontak Ibu Suri langsung bangkit dari duduknya, sangat syok saat mengetahui anak kesayangannya tengah beradu jambak dengan Putri Jing selaku permaisuri kediaman ini.


Sedangkan Jing Xuan langsung memijat pelan pangkal hidungnya saat mendengar penuturan dari Kasim Tang, dia sudah yakin jika Liwey akan berulah. Tapi tetap saja dia tak menyangka, kalau Liwey akan berbuat kelewatan dengan mengajak bertengkar anak asuh Ibu Suri yang notabene adalah tamu di kediaman mereka. Sungguh gadis yang tak bisa ditebak.


"Apa yang dilakukan Putri Jing, begitukah caranya menyambut tamu?" Perkataan yang terlontar dari mulut Ibu Suri membuat Jing Xuan sontak mengalihkan atensi kepadanya.

__ADS_1


"Aku harus melihatnya," ucap Ibu Suri lalu tanpa pikir panjang ia langsung melangkah keluar dari ruang kerja Jing Xuan menuju kehalaman belakang.


Jing Xuan menghelas napas lelah, di gulungnya perkamen terakhir yang ia periksa dengan cepat setelahnya langsung beranjak pergi meninggalkan ruang kerjanya. Bahkan Jing Xuan tak memperdulikan Yubo akan mengikutinya atau tidak.


"Kau yakin putri Jing dan putri Ailin sedang adu jambak sekarang?" tanya Yubo yang dijawab anggukan oleh Kasim Tang.


"Pertunjukan menarik, aku akan menyusul Yang Mulia pangeran dan kau susun kembali perkamen itu." Yubo segera melesat meninggalkan Kasim Tang sendirian di ruang kerja Jing Xuan.


Dia tidak tahu hal apa yang akan menimpa putri Liwey setelah ini. Namun kalau boleh jujur, Kasim Tang sedikit terhibur dengan segala kehebohan yang di ciptakan oleh putri Liwey seharian ini. Setidaknya, kediaman ini sedikit berwarna sejak delapan tahun yang lalu kehilangan warna.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Masih dengan aksi jambak-jambakan antara Liwey dan Ailin. Para dayang yang berada di sana tak berani mendekat, mereka hanya melerai dari kejauhan karena tak ingin menjadi lemparan kekesalan dua orang Putri tersebut.


Sementara Jiali, gadis dayang yang selalu mengepang dua rambutnya sedari tadi sudah berusaha menghentikan pertikaian antara Liwey dan Ailin dengan cara meneriakkan bahkan mendekat kepada keduanya, namun apa daya. Dua orang Putri itu seakan tak ingin aksi mereka di sudahi. Bahkan kini mereka sudah berguling di lantai sembari masih adu jambak, cakar bahkan pukul.


Dan kalau kalian tahu, siapa yang mendominasi? Sudah pasti Qu Liwey.


"Aaaa ... kau mencakar wajahku! ibu suri, wajah anakmu telah rusak." Ailin meronta di bawah kungkungan Liwey yang masih asik menjambak rambutnya.


"Ini karena kau yang memulainya." Liwey tanpa ampun memukul bahu Ailin dengan keras, "dan ini juga karena mulut tak pernah diajar itu menghinaku." Kali ini Liwey menampar pipi Ailin yang sudah jelas sekali bengkak dan kemerahan. Bahkan air mata Ailin sudah tak berhenti keluar.


"Dan ini untuk otak udangmu." Liwey menarik keras rambut Ailin bahkan menyebabkan beberapa helai rambutnya rontok karena tangan Liwey.


"Hwaaa ... kau membuat rambutku rontok lagi." Seakan tak peduli dengan rengekan Ailin Liwey masih asik menjambaki rambutnya. Dia sudah benar-benar emosi sekarang, dan merasa senang saat ada tempat untuk melampiaskannya kepada Wu Ailin. Dan itu membuatnya susah berhenti.


"Hei ... hentikan." Ibu suri datang dengan tergopoh-gopoh.


"Hentikan," jeritnya namun tak digubris Liwey. Ailin yang menyadari kedatangan Ibu Suri sontak kembali merengek bahkan sampai menangis keras.


"Ibu Suri, dia membuat wajahku jelek," regek Ailin.


"Itu pantas untukmu," ucap Liwey yang kembali asik dengan aksinya menjambaki rambut Ailin.


"Hentikan Putri Jing, itu sangat tidak sopan." Jerit Ibu suri kembali.


"Persetan dengan itu semua, dia membuatku marah." Kini Liwey kembali menampar bahkan menjambak Ailin dengan lebih keras, membuat si penderita semakin menangis histeris karena tak berdaya.


Ailin bukannya tak melawan, gadis itu juga sudah berupaya untuk menjatuhkan Liwey yang tengah mengungkungnya dari atas. Hanya saja Liwey selalu menepisnya dan mendominasi pertengkaran yang terjadi diantara mereka.


"Putri Jing." Suara dingin dari Jing Xuan sontak membuat Liwey terdiam dari aksi brutalnya, di tatapnya sekilas Ailin yang sudah menangis dengan wajah memerah bengkak dan rambut awut-awutan sembari tersenyum miring, lalu mulai beranjak berdiri dari atas tubuh Ailin dengan sedikitpun tak memiliki rasa bersalah.


Jing Xuan menggelengkan kepala melihat kekacauan yang di timbulkan oleh istri kecilnya satu ini, sungguh diluar praduga. Istrinya sangat kejam ternyata. Sontak Jing Xuan kembali memijit pangkal hidungnya.


Sementara Ailin yang baru saja lolos dari kungkungan Liwey segera berlari menuju Ibu suri lalu menangis sesenggukan dipelukan Ibu Suri.


Sedangkan Yubo yang datang bersamaan dengan Jing Xuan, menutup mulutnya dengan tangan akibat syok melihat pemandangan yang jarang ia temukan di kediaman ini.


Putri Liwey yang terkenal bodoh dan tak berdaya bisa menjadi semengerikan ini jika saat marah. Ah ... dia ingat, bahkan Liwey tak segan-segan menantang Jing Xuan saat makan siang tadi, jadi apa susahnya bagi dirinya untuk menghajar orang seperti ini.


Putri Liwey ini benar-benar spesies gadis yang unik menurutnya. Entah kenapa, dia jadi bersyukur dengan keberadaan Liwey di kediaman ini.


"Ke ruangan kerja, Sekarang." Jing Xuan berujar sembari menekan kata sekarang pada kalimatnya, dan setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan kerumunan yang lumayan membuatnya malu sekaligus tak menyangka.


\=\=\=\=\=\=


Tbc ....


AudhiKim


Sedikit curhat boleh?


Jadi tuh ya, Audhi tuh kan lagi sakit gigi nih, nah jadi di suruh mamak deh kan yak buat makan obat anti ngilu yang ecerannya cuman seribuan satu, ehh ... ternyata tuh obat kagak bisa dimakan sama orang yang punya riwayat alergi, jadinya Audhi sempat gatal-gatal nih badannya. Dan yang paling parah tuh di bagian tangan. Sempat down sih mau lanjutin ni chapter ato enggak ... tapi menurut audhi kan ini nanggung, jadi audi lanjutin aja gitu... dan akhirnya selesai ... walau pun gatalnya tetap kagak ilang sih ...


tapi audhi senang aja ni chapter bisa selesai ...


udah itu aja, semoga suka sama chapter ini...


salam dari istrinya Kim Taehyung.

__ADS_1


__ADS_2