Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 29 : Tak Terkendali.


__ADS_3

Suara desau angin menemani acara bersantai sorenya. Gadis dengan hanfu hijau lembut menatap lurus kehadapan, tangannya memegang secawan teh jasmine yang setia menemani waktu bersantainya. Sudah sebulan dirinya berada di kediaman Jing Xuan, dan selama itu pula rencana-rencana yang ia susun agar menjadikan Jing Xuan miliknya selalu gagal.


Ailin mendegus, diangkatnya cawan berisi teh jasmine yang sudah mendingin lalu meneguknya hingga tandas. Ingatannya kembali berkelana saat semua rencana yang ia lakukan berakhir gagal. Mulai dari mengajak Jing Xuan dengan baik untuk ikut dengannya bersantai sembari minum teh hingga melakukan tindakan keji dengan membayar orang untuk melecehkan Liwey.


Namun semuanya gagal.


Kebencian Ailin terhadap Liwey semakin dan semakin besar setiap harinya. Apalagi saat dimana mata kepalanya mendapati perhatian yang ditujukan Jing Xuan kepada Liwey akhir akhir ini. Dan itu sungguh membuat Ailin semakin benci dan ingin segera menyingkirkan Liwey dari sisi Jing Xuan.


Kembali dituangnya teh jasmine kedalam cawan giok putih, lalu menyesap teh didalamnya perlahan. Ailin menyeringai. Ia tahu, siapa yang akan membantunya. Ia memiliki satu orang yang pasti selalu menuruti keinginannya. Walaupun sudah terhitung lama dia tidak mengunjungi bahkan berkirim kabar kepada seseorang itu. Tapi, jika dilihat dari kasih sayang orang itu kepadanya, Ailin yakin orang itu bisa diajak bekerja sama.


Senyum sinis menghiasi wajah cantiknya.


"Berikan aku kuas dan juga kertas, aku ingin berkirim surat pada Putra Mahkota," ujarnya pada pelayan yang berada didekatnya. Pelayan itu mengangguk lalu pamit undur diri untuk mengambil pesanan Nonanya.


Ailin kembali menyesap teh jasmine dari dalam cawan, pandangannya menatap lurus kehadapan. Menyeringai, Ailin terkekeh pelan. Menurutnya, rencana kali ini tidak akan gagal.


...°♡°...


Liwey baru saja selesai dengan kegitannya menyiram biji bunga matahari yang ia tanam beberapa hari yang lalu. Senyum cerah terbit di wajahnya. Dia lihat, dari dalam tanah muncul tunas hijau yang bakal menjadi bunga indah nantinya. Segala usaha yang ia lakukan untuk memulai belajar bercocok tanam sejauh ini membuahkan hasil yang cukup bagus.


Liwey menepuk-nepuk bagian bawah rok hanfunya. Cipratan air dan tanah mengenai roknya, membuat hanfu yang awalnya sewarna langit cerah kini malah memendung. Liwey terkekeh. Selama ia memilih untuk belajar bercocok tanam, ia tidak pernah sekotor ini.


"Nyonya, apa yang Anda lakukan. Lihatlah pakaian anda." Jiali berujar sembari menggelengkan kepala. Dia heran, kenapa Liwey sangat suka sekali mengotori diri.


"Ah ... kau benar Jiali, pakaianku sangat kotor. Kalau begitu, mari berganti pakaian." Liwey mulai berjalan mendahulu Jiali. Senyum masih setia mengembang di bibirnya sebelum tiba-tiba ada sesuatu yang dingin melingkupi tubuhnya. Liwey tersentak. Dia sangat hafal siapa orang yang mempunyai suhu tubuh yang dingin, tapi tidak sedingin ini.


Berbalik, Liwey sontak membulatkan matanya saat mendapati Jing Xuan tengah menunduk sembari memegangi pinggangnya. Tangan Jing Xuan dingin, bahkan menusuk tulang. Namun itu tidak menjadi titik fokus Liwey, melainkan wajah pucat Jing Xuan yang semakin pucat warna bibir yang awalnya merah kini perlahan membiru dan Liwey tidak buta untuk tidak bisa melihat pola pentagram berbentuk bintang biru bercahaya terang di tengah dahi Jing Xuan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padamu." Liwey panik, tangannya sudah menangkup keseluruhan wajah Jing Xuan. Bibir pria itu bergetar. Kenapa?


Jing Xuan menatap Liwey dengan tatapan sayunya, kemudian menjatuhkan kepalanya di leher Liwey. Hembusan nafas dingin Jing Xuan menggelitik leher wanita itu.


"Xuanxuan, kau kenapa?" Kembali Liwey bertanya. Jing Xuan diam, pria itu masih memeluknya bahkan semakin erat, tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan Liwey.


"Hei, Jing Xuan." Liwey mendorong tubuh pria yang memeluknya, mencengkram bahu lebar Jing Xuan lumayan keras. "Jawab aku?!" Suara Liwey naik beberapa oktaf.


Jing Xuan menoleh, menatap manik amber Liwey sendu. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis sebelum tubuhnya ambruk dan menimpa Liwey.


"Hei, kau kenapa?!" Liwey panik diliriknya sekeliling, sampai tatapannya mendapati Jiali yang berdiri jauh darinya. Liwey sadar, aura dingin Jing Xuan pasti membuat Jiali kedinginan sehingga memilih menjauh. Bahkan dirinya sendiri juga merasakannya.


"Jiali, panggil siapapun, tolong Jing Xuan," teriak Liwey. Di ujung sana Jiali terlihat panik.


"Tunggu apalagi, panggil seseorang." Liwey sudah tak kuasa menahan tangisnya sekarang. Jing Xuan yang seperti ini membuatnya khawatir. Sejauh yang ia tahu, Jing Xuan adalah sosok kuat yang mampu mengintimidasi lawannya hanya dengan tatapan mata. Tapi, melihat sisi seperti ini keluar dari seorang Jing Xuan membuat Liwey sedikit panik. Apalagi saat ingatannya memutar saat dimana Jing Xuan menatap dirinya dengan tatapan sayu dan sendu. Seolah dirinya sudah tak punya kekuatan lain untuk bertahan, membuat hati Liwey sakit.


...°♡°...


Suhu kamar yang seharusnya hangat --karena mengingat musim ini belum berganti ke musim dingin, tiba-tiba saja turun drastis. Semuanya berasal dari sosok yang tengah terbaring di ranjang, bahkan kaki ranjang yang ia tiduri sudah diselimuti oleh es.


"Apa yang terjadi pada pangeran ke-4 Yang Mulia Putri." Liwey diam, matanya masih menatap lurus kearah tubuh Jing Xuan. Bibir pria itu bergetar dan juga dadanya bergerak naik turun walaupun pelan, entah kenapa Liwey jadi sedikit berterima kasih setidaknya Jing Xuan masih hidup. Tapi, tetap saja. Kondisi Jing Xuan yang seperti ini membuatnya khawatir.


"Hamba tidak sanggup untuk memeriksa Pangeran ke-4 Putri, Hamba tak sanggup." Suara lirih dari tabib membuat Liwey mengangguk pelan, kelopak matanya menutup. Ruangan kamar itu sunyi, hanya ada dirinya, Jing Xuan dan sang tabib disana. Suhu tubuh Jing Xuan yang menurun membuat orang-orang tak tahan meskipun hanya berdiri di luar ruangan menjaga pintu kamar saja.


Bahkan Yubo yang mengatakan akan selalu di sisi Jing Xuan sudah Liwey usir, karena pria itu sudah terlihat pucat karena keras kepala ingin melawan suhu tubuh Jing Xuan.


Membuka mata, Liwey menatap tabib yang sudah sepuh itu sembari tersenyum. "Kau pulanglah, kondisi Jing Xuan memang tidak bisa disembuhkan olehmu," ucap Liwey lirih.

__ADS_1


Sang tabib hanya menunduk, "maafkan atas ketidak bergunaan saya Yang Mulia Putri."


Liwey kembali memaksakan senyum, "keluarlah, aku tidak ingin kau ikut sakit karena terlalu lama berada di sini." Sang tabib menatap Liwey seolah berkata bagaimana dengan anda. Namun Liwey hanya mengangguk kemudian mengalihkan pandangan kearah pintu, mengatakan kepada sang tabib agar segera keluar.


Setelah kepergian tabib dari ruangan itu, tinggal Liwey sendirian disana. Matanya masih menatap Jing Xuan, dan tanpa bisa dicegah bulir bening jatuh dari sudut matanya. Liwey menangis. Menangis karena tak bisa melakukan apa-apa terhadap Jing Xuan.


Kembali ditatapnya sosok yang tengah terbaring dengan selimut tebal yang menutupinya --berharap benda itu dapat menghagatkannya. Namun apa daya, selimut pun seolah menyerah akan suhu Jing Xuan. Tiap sisi dari selimut sudah dipenuhi dengan bunga-bunga es tipis, tinggal menunggu waktu sampai selimut itu beku seutuhnya.


Liwey jatuh berlutut. Kakinya mendadak bergetar akibat suhu dingin yang teramat ekstrem, bahkan jubah kebesaran Jing Xuan tak mampu untuk menghangatkan tubuh kecilnya.


"Apa yang harus kulakukan," lirih Liwey, dia tidak ingin menyerah namun situasi seolah memintanya untuk menyerah. Liwey kembali menangis bahkan kini isakannya terdengar jelas bergema keseluruh ruangan.


...°♡°♡°...


Tbc ...


Yuhuu ... Audhi comeback ...


Ada yang kangen, kayaknya kagak ada, hehe.


Btw Jing Xuan sakit teman-teman.


Kasih pelukan gih biar Jing Xuan cepat sembuh.


Big Hug buat Jing Xuan.


Btw ... maaf semalam Audhi gak update ... karena semalam adalah jadwal Audhi untuk ikut serta dalam kegiatan organisasi, jadi Audhi gak sempat ngetik ...

__ADS_1


Baiklah, Happy Reading manteman.


__ADS_2