
...Jangan lupakan rutinitas utama, Klik 👍 sebelum membaca dan klik 💜 untuk menjadikan Qu Liwey dalam daftar favoritmu....
..._______________...
Mo Yanzhi tengah berjalan menuju kediamannya saat tiba-tiba seorang kurir menghentikan laju langkahnya. Menaikkan sebelah alis, dia menatap kurir itu seolah berkata 'ada apa? kenapa kau menghentikanku?'
"Ampun Yang Mulia, Putra Mahkota. Ada surat untuk anda." Kini kedua alis Yanzhi saling bertaut menatap sebuah surat dengan amplop merah yang tengah di sodorkan kepadanya. Mengambil alih benda yang terbuat dari kertas itu dari tangan sang kusir. Yanzhi melambaikan tangan kanannya kearah sang kusir agar segera pergi meninggalkannya.
Sembari berjalan, Yanzhi membuka amplop dan mendapati kertas putih yang sudah dihiasi oleh tinta hitam. Kembali diperiksanya amplop tempat surat itu berada, nama Ailin tertera jelas di sudut bawah amplop. Itu tandanya, Ailin lah yang mengiriminya surat.
Tapi, untuk apa. Apa anak angkat ibu suri itu rindu dengan dirinya? Mengendikkan bahu, Yanzhi perlahan membuka kertas itu lebar, kemudian menggulirkan iris kelabunya di tiap-tiap kata yang tertulis di atas kertas itu.
Senyum sinis mengembang di wajah Yanzhi. Ternyata gadis ini ingin meminta bantuannya. Hei, walaupun mereka dekat sekalipun, Yanzhi tak akan memberikan bantuan secara percuma.
Coba di ingat, bulan ini dirinya belum mendapatkan sosok gadis untuk memuaskan hasrat dan juga syarat untuk mempertahankan kekuatannya. Apa dia harus meminta Ailin melakukan itu dengannya. Sepertinya tidak buruk juga.
Yanzhi segera berbalik, berjalan berlawanan arah dari kediamannya. Sekarang tujuannya adalah kandang kuda, ia ingin menemui Ailin dan mendapatkan keinginannya sesegera mungkin.
Ah, Yanzhi sudah tak tahan berlama-lama di sini. Dia harus cepat, agar dapat menyentuh gadis itu dan memuaskan hasratnya.
"Salam Yang Mulia, Putra Mahkota." Salah seorang pelayan yang bertugas menjaga dan merawat kuda membungkuk memberi hormat saat melihat kedatangannya.
Yanzhi tak meperdulikan itu, dengan segera dikeluarkannya kuda dengan warna sehitam malam, lalu segera menaikinya. Dia suda tidak sabar sekarang.
...________...
Yanzhi memelankan langkah kuda yang ia tunggangi saat sudah sampai di tempat tujuan. Sebuah danau menghijau terhampar luas dihadapan. Sejauh mata memandang, Yanzhi hanya mendapati kilauan air yang diterpa cahaya matahari.
Kini Yanzhi mngedarkan pandang, berusaha mencari sosok yang sudah membuatnya tak sabar untuk bertemu. Bibirnya menyeringai saat dari balik pohon keluar sosok gadis cantik dengan hanfu merah muda melekat di tubuhnya. Wajah tirus dan bibir merah merekah yang ditunjukan Ailin saat ini benar-benar membuat hasrat gairah Yanzhi semakin dan semakin besar.
Menuruni kuda, Yanzhi berjalan mendekati Ailin yang sudah berada beberapa meter darinya. Langkah Yanzhi terlihat santai --tidak terburu-buru, walau sebenarnya gairahnya semakin meningkat dan meminta untuk di tuntaskan secepatnya.
"Ada apa adik angkat kaisar ini ingin menjumpai Pangeran Mahkota." Yanzhi tersenyum lebar sembari mengangkat dagu.
Ailin terkekeh pelan. "Kau seperti tidak biasa saja terhadapku, Pangeran."
Arghh ... Yanzhi sungguh ingin menerkam gadis dihadapannya sekarang. Tapi tidak sekarang, Yanzhi harus sabar dia tidak ingin melakukan hal yang disukainya dengan keterpaksaan sebelah pihak. Sungguh, Yanzhi tak mendapatkan kepuasan jika seperti itu.
Sekarang, Yanzhi hanya memutuskan agar gadis yang kini tengah tersenyum dengan senang hati memberikan tubuhnya pada Yanzhi.
"Baiklah, apa tujuanmu memintaku datang kesini?" Tanya Yanzhi langsung, tanpa tedeng aling aling. Sungguh dia ingin percakapan ini selesai secepatnya.
"Aku ingin kau membantuku, Pangeran." Dapat Yanzhi lihat seringai tipis tercipta di bibir merah gadis itu. Dan sialnya, semakin Yanzhi melihatnya maka saat itu pula gairahnya semakin bertambah saja. Bagian intinya sudah tidak tahan sekarang.
"Apa?" Suara Yanzhi sudah terdengar serak, gairahnya benar-benar sudah di ujung. Ailin sedikit mengerutkan kening mendengar nada suara Yanzhi. Namun ia tak terlalu memikirkan itu. Perlahan gadis itu mendekat kearah Yanzhi kemudian membisikkan hal yang harus Yanzhi kerjakan untuk membantunya.
Setiap deru nafas Ailin mengenai kulit leher dan kupingnya. Yanzhi semakin tak kuasa. Di dekapnya tubuh mungil Ailin merapat pada tubuhnya.
Ailin tersentak, gadis itu berusaha memberontak --sedikit tak nyaman saat berada sedekat ini dengan seorang pria. Apalagi kini tubuh bawah mereka sudah menempel sempurna dan dapat Ailin rasakan ada benda keras yang menyentuh perutnya.
__ADS_1
"Aku bisa membantumu, gadis manis. Tapi ada syaratnya." Yanzhi semakin gila, kepalanya ia miringkan ke lekuk leher Ailin. Menghirup aroma mawar segar dari kulit gadis yang sedang ia peluk.
Ailin sedikit gemetar saat merasakan rasa yang tak biasa baginya saat ini. "A--apa." Bahkan suara Ailin ikut bergetar dan terbata akibat rasa baru ini.
"Cukup jadi milikku dalam semalam." Yanzhi berbisik tepat ditelinga Ailin, bahkan dengan kurang ajarnya pria itu menggingit kecil cuping telinga Ailin membuat gadis itu tanpa sadar menger*ng kecil.
Arghh ... Yanzhi ingin segera menjatuhkan tubuh gadis ini dan melah*pnya.
Ailin membulatkan mata mendengar er*ngan yang keluar dari mulutnya. Dia tak tahu kenapa ia menger*ng, hanya saja perlakuan Yanzhi kepadanya membuat perasaan meletup-letup meliputi tubuh Ailin.
Ia sadar dan mengerti apa yang dimaksud Yanzhi tentang menjadi miliknya dalam semalam, namun Ailin masih waras --walau sebenarnya dirinya juga sudah terbuai. Ailin sudah berjanji, keper*wanannya hanya untuk Jing Xuan seorang. Tidak orang lain.
Perlahan Ailin mendorong kepala Yanzhi yang kini tengah mengecup mesra tiap lekuk lehernya. "Maaf, tapi ini tidak benar."
"Ini akan menjadi benar jika kau meminta pertolonganku." Iris kelabu Yanzhi sudah ditutupi kabut gairah.
"Tapi, bukan seperti ini ...."
"Baiklah, maka aku tidak akan membantumu."
Ailin tersentak, sudah sejauh ini dan hanya inilah rencana terakhir yang ada dalam otak Ailin. Dia tidak mungkin mundur untuk seketika. Namun Ailin juga tak ingin memberikan keperaw*nannya.
Hah. Ailin menghela nafas bimbang.
Yanzhi masih menatap raut wajah Ailin, kembali dirapatkan tubuh keduanya kemudian berbisik di telinga Ailin. "Bagaimana, sayang? Mau menjadi milikku dalam semalam dan aku membantu rencana licikmu, atau tidak sama sekali."
Baiklah, jika itu berarti dia harus menerima syarat dari Yanzhi. Maka akan ia ikuti. Membuka mata, iris coklat Ailin bertubrukan langsung dengan iris kelabu Yanzhi yang kini berkabutkan gairah.
"Apa kita akan melakukannya disini?" Yanzhi menyeringai mendengar penuturan Ailin. Itu pertanda, jika Ailin pasrah untuk menjadi pemuas gairahnya saat ini.
Yanzhi semakin menekan tubuh Ailin pada tubuhnya. Membiarkan inti tubuhnya menekan perut Ailin dari balik pakaian yang mereka kenakan. "Tidak ada siapa-siapa disini, sayang." Yanzhi mendekatkan wajahnya pada wajah Ailin, membiarkan deru nafas mereka menerpa wajah masing-masing. "Lagi pula aku sudah tak tahan lagi." Dan tanpa aba-aba, Yanzhi sudah ******* bibir merekah Ailin, menekan tengkuk gadis itu agar semakin memperdalam ciuman mereka.
Hari itu, matahari yang bersinar cerah entah mengapa menggelap. Desau angin semakin keras terdengar namun tak mampu menghentikan pergulatan panas dua sosok di sana. Suara desau angin, disamarkan oleh suara des*han keduanya saat mencapai pelep*san kenikmat*n tiada tara.
...°♡°♡°...
Masih dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya, Yanzhi berjalan menuju kamar kediamannya di sisi kiri istana. Kegiatan panas yang ia lakukan beberapa waktu yang lalu masih membekas di ingatannya. Cara Ailin mendes*hkan namanya saat mencapai pelep*san sungguh membuat gairah Yanzhi terpuaskan.
Tidak salah dia memilih Ailin untuk menjadi tumbalnya pemu*s nafsunya bulan ini.
Membuka pintu kayu, langkah Yanzhi langsung menggema di seluruh penjuru kamar. Mendudukkan diri di atas ranjang, Yanzhi mulai memfokuskan tatapannya pada guci porselen diatas meja. Dan sepersekian detik berikutnya, guci itu pecah berkeping-keping.
Lumayan sempurna untuk bulan ini.
Yanzhi merebahkan tubuhnya di atas ranjang bersprei merah, pergulatan panas yang ia lakukan beberapa waktu lalu membuat tubuh Yanzhi sedikit pegal. Baru saja dirinya hendak menutup mata sebuah suara yang akhir-akhir ini selalu mengusiknya kembali hadir.
"Sudah puas bersenang-senang dengan seoarang gadis, Putra Mahkota yang terhormat," ucap suara yang menggema keseluruh penjuru ruang kamar Yanzhi.
Hah. Yanzhi menghela nafas keras, beranjak duduk dari berbaringnya. Yanzhi menyilangkan kaki. "Apa lagi yang kau inginkan hari ini, jika kau memintaku untuk bergabung denganmu, maka jawabannya tidak."
__ADS_1
Sontak tawa menggelegar menggema kesuluruh kamar. Yanzhi memutarkan bola mata. Ia jengah juga dengan suara yang selalu menganggu dirinya.
"Kau yakin, kau tidak ingin mengalahkan si bodoh pangeran ke-4 yang sudah mengetahui segala hal akan keburukanmu." Suara itu kembali terdengar.
Yanzhi mengepalkan tangannya kuat dikedua sisi tubuhnya. Kenapa suara misterius ini selalu saja mengerti akan segala kegundahannya. "Kau siapa sebenarnya?"
Kembali suara tawa terdengar. "Kau akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu denganku jika waktunya telah datang...." suara itu menghentikan ucapannya. ".... setelah kau bekerja sama denganku."
Yanzhi berdecak sebal. Memangnya apa untungnya jika harus bekerja sama dengan makhluk tanpa raga satu itu. Sudah cukup dia menyesal saat bersekongkol dengan penyihir ras hitam dan mengharuskan dirinya menyet*buhi gadis perawan tiap sebulan sekali. Tidak lagi dengan yang lain --walau sebenarnya dirinya juga suka kegiatan itu. Namun jika berkelanjutan maka akan mebahayakan dirinya sendiri.
"Kau akan kulepaskan dari pengaruh penyihir hitam itu, Mo Yanzhi." Secepat kilat Yanzhi mendongak, "kau merasa menyesal bukan telah membuat perjanjian dengan penyihir hitam itu. Padahal persyaratannya menguntungkan dirimu." Terdengar suara decakan dari sosok tak kasat mata itu. Yanzhi yakin, jika sosok itu berwujud pasti kini tengah menggelengkan kepala kearahnya.
"Bagiamana kau tahu, kau bisa membaca fikiranku."
"Aku dapat melakukan apa saja, termasuk memberikan kekuatan tanpa batas terhadapmu Pangeran Mahkota." Setelahnya suara tawa kembali menggelegar. Yanzhi sedikit was-was akan suara itu. Ia takut orang di luar akan mendengarnya.
"Kau tak tertarik Putra Mahkota?" Dahi Yanzhi mengkerut dalam. Sedikit tidaknya perkataan sosok tak kasat mata itu ada benarnya juga. Jika dirinya tetap pada pengaruh penyihir hitam itu, maka kemungkinan besar kelakuannya yang selalu menyetub*hi gadis perawan tiap sebulan sekali akan terbongkar. Dan selamat tinggal gelar Putra Mahkota. Tapi, apa dengan bersekongkol dengan makhluk tak kasat mata itu adalah hal yang bagus?
"Jangan terlalu banyak berfikir, katakan iya atau tidak." Suara itu terdengar malas.
"Baiklah, aku akan mengikat perjanjian dengan dirimu." Kembali, suara tawa menggelegar meliputi tiap sudut ruang kamar Yanzhi.
"Bagus, kau hanya perlu memastikan satu hal jika ingin bertatap muka denganku ...." suara itu mengantung ucapannya." .... buat Qu Liwey membunuh seorang pria yang berniat buruk padanya."
Hm. Memastikan Qu Liwey membu ....
Tunggu, Qu Liwey? Istri Jing Xuan, Putri Jing.
Dahi Yanzhi kembali berkerut dalam, "Apa maksudmu?"
Semenit.
Dua menit.
Hingga matahari kembali berpulang keperaduannya, suara tak kasat mata itu tak terdengar lagi.
Yanzhi mengurut pelipisnya perlahan. Kenapa dia harus menghasut Liwey untuk membunuh orang. Apa maksudnya.
...°♡°♡°...
Tbc ....
Tdu tdu tdu tdu ...
Audhi comeback ...
Oh ya, happy reading guys ...
Jangan lupa like dan komentnya.
__ADS_1