Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 50 : Hamil


__ADS_3

"Istriku, kau sudah bangun?!" Jing Xuan tersenyum penuh arti saat iris beda warna miliknya mendapati pergerakan samar di balik kelopak mata yang perlahan terbuka itu.


Iris amber layaknya emas mengerjab perlahan, menyesuaikan cahaya yang menerobos masuk tanpa izin kedalam retina. Tangan kekar Jing Xuan menggenggam perlahan tangan istrinya. "Kau kenapa? Aku begitu mengkhawatirkanmu?"


Liwey menoleh pelan ke kiri, menatap iris beda warna Jing Xuan yang entah kenapa terlihat sayu. Tak ada cahaya pongah keluar dari iris itu. Pikirannya sontak melayang pada kejadian lalu, kilasan-kilasan mengerikan tentang kematian dirinya dan juga Jing Xuan, dan itu disebabkan oleh satu orang. Apakah itu Hongli, sang dewa yang dikutuk namun memiliki dendam akan dunia atas dan juga Liancheng serta Tan'er?


Entahlah.


Tapi, hanya nama itu yang menjurus kepada sosok hitam dengan iris merah yang ada di sana.


"Istriku, kau tak apa?" Suara Jing Xuan mengalihkan atensi Liwey dari segala macam kesembrawutan pikirannya. Di tatapnya iris beda warna sang suami. Dapat ia lihat, raut khawatir tercetak kentara dari balik bola mata beda warna itu.


Tangan Liwey bergerak perlahan, terulur menyentuh lembut rahang Jing Xuan. "Aku tak apa? Hanya sedikit pusing."


"Benarkah?" Kedua bola mata Jing Xuan membelalak lebar, kembali sorot penuh khawatir tercipta di sana. "Bersabarlah, tabib akan segera datang."


Liwey hanya tersenyum menatap sang suami yang jelas sekali menampilkan raut khawatir yang sangat kentara.


Tak lama, suara derit pintu yang dibuka perlahan mengalihkan atensi sepasang suami istri itu. Seorang pria paruh baya memasuki ruangan sembari menunduk dalam. "Ampun, yang mulia. Hamba tabib yang bekerja di kuil ini."


Jing Xuan mengangguk. Kemudian perlahan bergeser bangkit dari duduknya dan mempersilahkan sang tabib memeriksa keadaan sang istri.


Selembar kain tipis menjadi penghalang kulit Liwey dan sang tabib bersentuhan. Memejamkan mata, sang tabib terlihat begitu fokus dalam membaca denyut nadi dari tangan Liwey.


Sang tabib tersenyum, mata sayu penuh kerutan miliknya menatap Jing Xuan penuh binar. "Selamat Yang Mulia, Anda akan segera menjadi ayah."


Sontak Jing Xuan serta Liwey tersentak. Bahkan Jing Xuan masih tidak mengerti akan apa yang dikatakan oleh sang tabib padanya.


"Apa maksud Anda?"


"Ampun Yang Mulia, Istri anda tengah mengandung."

__ADS_1


"Benarkah." Seakan di timpa oleh ribuan kelopak mawar yang jatuh dari langit, Jing Xuan sontak berjalan mendekat kearah Liwey. Memeluk erat sang istri penuh rasa kebahagiaan.


"Kau dengar sayang, aku akan menjadi ayah dan kau akan menjadi ibu. Kita akan menjadi orang tua. Haha." Jing Xuan tersenyum lebar, dilepasnya pelukan dari tubuh Liwey. Kini kecupan-kecupan singkat namun lembut mendarat di seluruh wajah Liwey dan berhenti tepat di bibir ranum yang selalu menjadi candu bagi dirinya.


Sang tabib tersenyum melihat kebahagiaan itu, perlahan namun pasti, sang tabib meninggalkan ruangan tempat dua orang yang tengah berbahagia akan kehadiran sosok baru yang akan menyempurnakan keluarga mereka.


Jing Xuan melepas pangutannya dari bibir Liwey, dahi keduanya bertemu. Nafas hangat keduanya bersatu. Sungguh, Jing Xuan sangat bahagia akan kabar ini. Dia akan menjadi ayah, kita tegaskan DIA AKAN MENJADI AYAH. Ini adalah hal yang paling membahagiakan bagi dirinya


Senyum tak pernah lepas terpatri dari bibir Jing Xuan, perlahan kembali Jing Xuan mendaratkan bibirnya di bibir Liwey. Mencecap bibir manis sang istri lembut, menjilat atas dan bawah penuh perasaan bahagia.


Liwey tak kalah sama, dirinya bahagia. Dia tidak menyangka, kehidupannya di dunia antah berantah begitu komplex. Menjadi anak yang selalu di tindas, menikah dengan Jing Xuan bahkan dirinya sempat memikirkan segala macam cara  agar dapat berpisah dengan sosok pria arogan tak memiliki ekpresi wajah yang sedang menciumnya penuh nikmat, lalu fakta bahwa dirinya adalah reinkernasi dari sosok dewi dunia atas, juga kebenaran akan dirinya yang pasti mati di tangan sosok hitam bermata merah bernama Hongli.


Perlahan tangan Liwey bergerak mengelus perutnya yang masih rata. Namun tak dapat di pungkiri, jika ada satu nyawa di dalam sana. Buah cinta antara dirinya dan sang suami--Jing Xuan-- kilasan kejadian dimana sosok yang amat mirip dengan dirinya selalu berakhir meregang nyawa saat sedang mengandung membuat rasa takut menjalar naik ke ubun-ubun. Dan tanpa sadar, Liwey menggigit pelan bibir Jing Xuan yang masih setia mengulum bibir manisnya.


"Ada apa, sayang? Apa ada yang sakit?" Jing Xuan melepas pangutan mereka, kini iris beda warna miliknya menatap iris amber Liwey lekat.


"Tidak ada, aku hanya takut tak dapat menjaga anak kita dengan baik, aku ..."


"Benarkah?"


"Hm ... aku akan melindungimu."


Liwey kembali menubruk dada bidang Jing Xuan, menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Aku mengharapkan perlindunganmu."


********


"Oww, kenapa aku harus datang saat dirimu sedang bersenggama, ck." Decakan yang tidak asing di telinga Yanzhi membuatnya menghela nafas pelan. Ah ... ayolah dirinya belum mencapai kenikmatan dan sosok itu dengan seenak jidat datang lalu membuat wanita yang tengah ia gagahi tertidur. Apa dia tidak tahu betapa tersiksanya Yanzhi di saat-saat seperti ini.


"Jangan pedulikan aku, lanjutkan kegiatanmu. Aku tak ingin kau menjadi tidak fokus hanya karena nafsu hewanmu belum terpenuhi."

__ADS_1


"Kau yang membuatku begini, sialan!" Yanzhi mengumpat. Tidak memikirkan sosok yang kini tengah duduk bersila di atas karpet kulit harimau dan menatap dirinya tajam. Yanzhi kembali menggerakkan pinggulnya brutal, persetan dengan Ailin yang sudah tak sadarkan diri di bawahnya. Yang dirinya butuhkan adalah kepuasan bercinta.


Suara punyi penyatuan kedua kelamin dan juga kulit yang saling bersentuhan menggema di seluruh ruangan, erangan dan geraman tertahan dari mulut Yanzhi.


Hongli menggeleng pelan menatap perlakuan Yanzhi yang sungguh brutal, nafsu birahi pria satu itu memang sangat parah. Ah ... mendadak Hongli jadi teringat akan Tan'er, apa dewi sok suci itu sudah bersenggama dengan suami bodohnya. Argh ... memikirkan itu membuat Hongli menggeram menahan amarah.


"Arghhh ...." Hongli mengalihkan tatapannya kearah ranjang kayu tempat Yanzhi dan juga jalangnya tengah bergumul. Dapat dilihatnya pinggul Yanzhi menghentak kuat. Ah, apa pria itu sudah mendapat kepuasannya.


"Apa kau sudah selesai? Ouh, apa kau tidak tahu, kau sudah menyiksaku dengan pertunjukan gila itu."


Yanzhi menatap tajam sosok hitam yang kini tengah menyeringai. "Aku tak menyuruhmu untuk datang di saat yang tidak tepat," ketusnya.


"Yah ... setidaknya carikan aku satu wanita untuk ku gagahi malam ini." Hongli berujar malas. Perlahan dirinya berdiri dari posisi duduk.


"Kau harus menyiapkan diri untuk berperang."


Yanzhi mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"


"Rencana pertama akan kita layangkan. Dalam seminggu ini, aku pastikan kerjaan Dong Yuo dalam masa kritis." Setelahnya, asap hitam menyelimuti tubuh Hongli membawa sosok dirinya menghilang dari dalam kamar.


"Dia akan menyerang Dong Yuo? Ah ... untuk apa kupikirkan, toh diriku akan tetap menjadi raja."


Yanzhi menatap tubuh wanita di bawah kungkungannya yang tengah bergerak gelisah. "Ahh ... jangan bergerak, kau tau kau membuatku menginginkannya kembali."


********


Tbc ...


Xixi ...


Audhi comeback ... ada yang menunggu cerita ini kah?

__ADS_1


Absen di kolom komentar bagi yang sudah baca ...


__ADS_2