Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 7 : Reinkarnasi.


__ADS_3

Jing Xuan, meletakkan Liwey perlahan diatas tempat tidur. Air wajahnya terlihat panik, dapat dilihatnya wajah pucat dan bibir sedikit bergetar dari wajah Liwey. Terbersit rasa bersalah dan panik dihatinya, entahlah. Entah kenapa dia dapat merasakan kepanikan yang kentara di relung hatinya. Dia tidak tahu, perasaan ini begitu saja hadir saat melihat Liwey terduduk lemas akibat terlalu banyak menyerap aura dingin tubuhnya.


Ini lah yang membuat Jing Xuan membenci dirinya sendiri. Aura tubuhnya, dia tidak dapat mengendalikan suhu yang tiba-tiba berubah dingin saat emosinya membuncah. Karena itu juga dia mengatai dirinya sendiri terkena kutukan, mulai dari warna matanya yang beda dengan manusia lainnya serta aura dingin yang menusuk tulang menguar saat kemarahannya tersulut.


Tapi hari ini dia merasa dirinya bagai monster, bukan hanya aura dingin yang menguar dari tubuhnya, namun dapat menciptakan jejak es kecil membeku didekat keberadaannya. Serta petir yang menyambar keras, menyebabkan halaman depan kediamannya terlihat hancur berantakan, dan juga Yubo yang mengalami luka serius karena terpental jauh akibat petir yang dihasilkan.


"Maafkan atas keterlambatan saya pangeran." Seorang tabib istana menunduk takut saat memasuki kamar permaisuri, aura dingin tak terlalu kuat dapat dirasakannya menguar dari tubuh Jing Xuan.


"Segera periksa istriku." Pintanya datar, Jing Xuan bangkit dari duduknya ditepi ranjang. Berdiri menjulang dengan pandangan mata masih memaku kearah wajah cantik istrinya yang bodohnya baru ia ketahui sekarang.


Tabib istana berjalan mendekat, memeriksa nadi Liwey yang tengah terbaring lemas dengan bibir bergetar. Mata tabib itu membola cemas. Seumur hidupnya baru kali ini ia merasakan suhu tubuh yang begitu tinggi dari pasiennya.


Sang tabib menunduk kearah Jing Xuan. "Ampun yang mulia, kondisi Putri Jing saat ini sangat serius. Suhu tubuhnya sangat tinggi dan dia mengidap kedinginan fatal."


Jing Xuan mengepalkan tangannya, kembali suhu udara disekitar kamar menjadi dingin dan semakin dingin. Jing Xuan marah, istrinya sakit karena dirinya. Karena tubuh penuh kutukannya.


Sang tabib bergidik merasakan suhu ruangan. Ditatap kembali Liwey dengan bibir dan seluruh tubuh bergetar kedinginan, bahkan tabib itu dapat melihat uap tipis keluar bersama hembusan nafasnya.


"Ampun pangeran, Putri Jing sedang kedinginan. Mohon anda kontrol kekuatan anda." Jing Xuan tercekat, dia melupakan kalau Liwey masih berada diruangan yang sama dengan dirinya.


Tatapan matanya membola, saat melihat Liwey semakin meringkuk didalam selimut, mengeratkan selimut keseluruh tubuhnya. Sayup-sayup Jing Xuan mendengar gumaman kata dingin terucap dibibir pucat sang istri.


"Saya akan membuat ramuan penghangat tubuh untuk Putri Jing, mohon pangeran untuk tetap stabil dan jangan menguarkan suhu dingin kembali," Ujar tabib itu tegas, lalu beranjak meninggalkan Jing Xuan dan Liwey berdua.


Segera Jing Xuan duduk di sisi ranjang, tangannya menggenggam tangan dingin Liwey penuh perasaan. "Kenapa kau memelukku?" ujarnya lirih. Perlahan tangan kirinya merapikan anak rambut Liwey, menyisipkan kesamping telinganya.


"Kau tahu... kau gadis yang berhasil memporak-porandakan hatiku saat ini. Kenapa?" Jing Xuan bertanya. "Kau seharusnya ku benci, karena kau bodoh dan akan menghancurkan reputasiku, tapi kenapa dari awal kau sudah sah menjadi permaisuriku aku merasakan perasaan aneh yang aku sendiri tak tahu perasaan apa itu." Jing Xuan meletakkan tangan dingin Liwey dipipinya.


"Kau membuatku bingung Qu Liwey."


~♡~


Deru hembusan angin terdengar sangat jelas saat menerpa wajah Liwey. Ini sudah yang keberapa kali dia masuk kedalam ruangan dibalik pintu gerbang yang terbuka. Dia tidak tahu apa yang membuatnya sampai masuk kesini. Terduduk malas, Liwey mengubek air di dalam kolam yang tepinya menjadi kursi dadakan untuknya.


"Aku tak habis pikir dengan caramu meredakan emosi Jing Xuan." Suara bariton yang baru-baru ini membuatnya kesal terdengar. Liwey mendongak, menatap pria yang mirip suaminya berdiri menjulang dihadapannya.


"Hiss... kembalikan aku keduniaku, kenapa aku harus terjebak disini saat tak sadarkan diri sih?" Liwey menggerutu. Tangannya semakin keras mengubek air jernih didepannya. Tak peduli cipratan air ini akan mengenai tubuh orang didepannya. Dia kesal.


"Kau harus sadar terlebih dahulu baru dapat keluar," kata pria putih yang kini sudah mendudukkan dirinya dipinggiran kolam tempat Liwey berada.


"Kami juga bingung kenapa kau bisa datang ketempat ini... kami tidak memanggilmu."


"Jadi menurutmu aku datang sendiri begitu." Pria itu mengangguk. Liwey semakin mendengus, air kolam ditepuk menggunakan kepalan tangan membuat isi air bercipratan dimana mana, bahkan membasahi hanfu yang dikenakannya.


"Mana wanita cantik itu?" Liwey bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari air.


"Heh... tanpa sadar kau memuji dirimu sendiri cantik," decakan keluar dari mulut pria didepannya.


"Aku serius..." Liwey menatap pria didepannya garang.


"Aihh... wanita itu istriku, seorang dewi yang mengatur bulan. Dia sedang bertugas sekarang." Liwey menaikkan sebelah alisnya, kedua sudut bibirnya tertarik kebawah sembari kembali mengubek air.


"Ekspresi apa itu? kau tak percaya padaku?"


"Kau pikir siapa yang bakalan percaya." Liwey menoleh menatap pria didepannya lekat.


"Dengar ya, dewa tidak pernah menunjukkan wujudnya dihadapan manusia biasa. Kau jangan menipuku aku bukan anak kecil," ucap Liwey sinis sembari menyilangkan dua tangannya didepan dada.


"Jadi kau pikir apa kekuatanku hari itu, eoh?" Liwey kembali menatap tanpa minat pria didepannya. "Aku adalah dewa petir yang dapat mengendalikan petir serta es da..."


"Suamiku juga punya kekuatan seperti itu." Liwey menyela perkataan pria didepannya. "Bahkan dia lebih kuat darimu, jadi menurutmu dia juga dewa."


Pria putih itu menatap datar Liwey, menghembuskan nafas lalu memposisikan duduknya menghadap Liwey.


"Percaya atau tidak. Suamimu, Mo Jing Xuan adalah aku dan aku adalah suamimu. Kami orang yang sama, bisa dibilang Mo Jing Xuan adalah reinkarnasi kehidupanku." Pria itu berhenti sejenak.


"Ku dengar dari istriku kau tidak mempercayai adanya reinkarnasi..." Liwey mengangguk. "Hmm aku mengerti itu, bagaimana pun kau adalah gadis modern yang tersesat ke dunia yang jauh dari peradaban mu."


"Kau tahu aku manusia modern," Kata Liwey tak percaya. Pupil matanya membesar menanggapi perkataan pria di depannya.


"Sudah kukatakan kalau aku dewa, aku mengetahui jati dirimu yang sebenarnya."


"Tapi yang kutahu dari novel dan drama maupun komik, reinkarnasi itu adalah arwah seseorang yang sudah mati lalu dilahirkan kembali, sementara kau tidak mati." Sebelah tangan Liwey terlipat didepan dada, dan tangan lainnya digunakan untuk menyangga dagunya.


"Bisa dibilang Mo Jing Xuan itu setengah dari diriku," ucap pria didepan Liwey dengan nada ragu. Liwey melepaskan dagunya dari tumpuan kepalan tangannya. Menatap pria didepannya datar dan tanpa minat.


"Jangan bercerita jika kau sendiri tidak tahu," ketus Liwey.


"Yah... memang seharusnya aku tidak bercerita sekarang." Pria putih itu menatap Liwey, "apa kau sudah melihat kilasannya?"


"Apa lagi itu?" Liwey mendengus kesal. Dia muak sudah mendengar cerita hal konyol plus tak masuk akal dari pria putih yang sangat mirip dengan suaminya ini.

__ADS_1


"Berarti kau belum melihatnya ya." Pria itu menunduk lesu.


"Aku melihat apa memangnya?" Liwey geram sendiri, kedua kakinya sudah menghentak tanah melampiaskan emosinya pada tanah berumput pendek yang menjadi pijakannya bertumpu sekarang.


Huft...


Liwey menghela nafas. "Baiklah... sekarang perkenalkan siapa namamu?"


"Buat apa?" Baiklah, emosi Liwey tersulut sekarang.


"Tentu saja agar aku mudah memanggilmu, apa kau ingin aku memanggilmu hantu mata perban, eoh? Atau hantu gagal operasi?"


"Nama itu buruk, panggil aku Liancheng."


"Chengcheng,"gumam Liwey yang masih dapat didengar oleh pria disampingnya.


"Hei... itu panggilan istriku, kau tak boleh menggunakannya?"


"Bukankah aku mirip dengan istrimu?"


"Walaupun kau adalah reikarnasinya, tapi kau terlalu kasar untuk disamakan dengan wanita ayu dan anggun seperti istriku." Liwey kembali mendengus, ingin rasanya gadis itu menonjok pria didepannya.


"Lebih baik kau pulang, suamimu sangat mengkhawatirkanmu."


"Hah..."


Belum sempat Liwey mengaplikasikan keterkejutannya. Kembali ia merasa berputar-putar menuju ketitik putih diujung, lalu diangkat paksa keatas dan menjatuhkannya dengan kencang kebawah.


~♡~


"Shh..." Liwey mendesis saat dirasakannya kepala nya kembali berdenyit sakit, "dasar dewa tak berperasaan, apa dia tak bisa memberikan efek lembut untuk memulangkanku," gerutu Liwey sembari memijit kepalanya pelan.


Retina ambernya menatap sekeliling, tidak ada orang kecuali dirinya dan wadah sedang berisi air serta kain katun tipis seperti digunakan untuk menjadi kompres disamping kanan ranjangnya.


"Mana katanya 'suamimu mengkhawatirkanmu' . Batang hidungnya saja tak terlihat disini," gerutunya sembari meremas selimut yang ia kenakan. Eh... Liwey tersadar. Apa maksud perkataannya barusan? Apa itu tandanya dia secara tak langsung mengharapkan suaminya itu untuk menghawatirkannya. Segera Liwey menggeleng cepat sembari memukul pelan kepalanya. Menghilangkan pikiran nyeleneh tak masuk akal di otaknya.


Ada-ada saja' pikirnya. Bagaimanapun juga Liwey masih harus mencari alasan agar dapat keluar dari kediaman ini dengan secarik kertas berisi pernyataan cerai dari Mo Jing Xuan si heterochromia mengerikan itu.


Huftt... Liwey menghembuskan nafas panjang, beranjak keluar dari selimut lalu melangkah kedepan menuju pintu. Mungkin dengan menghirup udara malam yang segar dan tak tercemar dari kontaminasi polusi asap kendaraan dan pabrik cukup bagus. Apalagi sembari melihat bulan dan ribuan bintang yang berkerlip indah diatas sana.


Kini Liwey sudah berdiri di pendopo paviliun lotus salju. Pagar kayu kokoh yang mengelilingi sekitaran pendopo dijadikan kursi dadakan oleh Liwey. Matanya menatap pantulan dirinya dan juga bulan yang tengah dalam fase penuh dari atas air kolam yang terletak tepat dibawah pendopo. Mungkin kolam itu dibuat khusus untuk memperindah desain interior pendopo disini.


Hembusan angin sejuk membuat Liwey sedikit mengigil, namun tak terlihat gerak-gerik Liwey akan meninggalkan tempat. Ingatannya kembali teringat akan perkataan Liancheng dimimpinya barusan.


Liwey bingung. Sebagian dari dirinya mengatakan kalau yang dibicarakan oleh Liancheng akan suaminya adalah reinkernasi dirinya benar adanya. Karena Liwey bahkan melihat dengan sendirinya kekuatan petir dan angin dingin yang diciptakan Jing Xuan saat makan siang tadi, itu sudah cukup menjelaskan semuanya. Apalagi ditambah dengan paras mereka yang sangat mirip.


Namun disisi lain Liwey juga tidak percaya, karena Liancheng sendiri tak tahu bagian dari reinkernasi mana Mo Jing Xuan itu.


Kembali Liwey menatap bulan dipantulan air, cahaya terang yang dihasilkan oleh benda angkasa berbentuk bulat itu memendar cantik dipermukaan air yang bergelombang kecil.


Hap...


Liwey tersentak saat dirasanya sebuah kain yang lumayan hangat tersampir dibahunya. Diliriknya kebawah tubuhnya, mengambil bagian kain yang terurai panjang menutupi seluruh tubuh kecilnya. Liwey tersenyum tanpa sadar, bahan kain ini adalah sutra murni, dan sangat hangat. Liwey semakin mengeratkan kain berbentuk jubah itu ketubuhnya, mencoba menyalurkan kehangatan yang dibawa oleh kain tersebut tanpa memikirkan siapa pemiliknya.


"Kau masih sakit, kenapa keluar." Suara datar yang berasal dari belakang tubuhnya, membuat Liwey sontak membalikkan tubuh. Karena tak hati-hati, Liwey tersandung kakinya sendiri membuat tubuh kecilnya terhuyung kedepan mengenai Mo Jing Xuan yang berdiri disana.


"Waaaa..." Teriakan Liwey terdengar saat tubuhnya menubruk dada Jing Xuan. Menutup mata rapat. Liwey merasa bodoh dan dia sudah sangat malu sekarang. Ouh... lihatlah posisi mereka. Liwey terjatuh dengan posisi berlutut diantara sebelah kaki Jing Xuan yang terjulur. Tangan kirinya menempel didada Jing Xuan dengan sedikit cengkraman dan tangan kanannya memegang kaki kiri Jing Xuan yang ditekuk sebagai penyangga.


Jarak wajah mereka hanya berbatas satu jari, bahkan Liwey sendiri dapat merasakan aroma mint bercampur siwak dari deru nafas Jing Xuan.


"Sa... sampai kapan kau akan tetap pada posisi ini?" Jing Xuan berucap terbata, telinganya sudah memerah pias saat mengetahui posisi mereka yang dapat dikategorikan intim. Ouh... ayolah, Jing Xuan juga pria normal. Dia takut nanti akan terjadi hal yang tak diinginkan setelah ini.


Liwey membuka matanya lebar, pandangannya tertuju pada satu titik dimana tangan kanannya menekan dan sedikit meremas dada kiri Jing Xuan. Dengan segera Liwey berdiri, berdehem berusaha menghilangkan suasana canggung diantara mereka berdua.


"Kau mengangetkan ku," ucap Liwey dengan nada gugup yang masih kentara. Jing Xuan bangkit dari duduknya, menepuk belakang bajunya dengan tangan.


"Kau sendiri mudah terkejut." Jing Xuan membalas dengan nada datar khasnya. Terkadang Liwey bingung dengan kepribadian Jing Xuan, waktu hari lamaran dirinya masih bisa mengingat Jing Xuan berujar dengan nada sombong dan rada mengucilkan. Intinya kalau didunia modern. Mirip dengan Abby yang suka sekali terang-terangan merendahkan orang.


Saat nama Abby terlintas diotaknya, Liwey kembali mendengus saat ingatannya buram akan teman dan keluarganya disana. Di dunia tempat seharusnya dia berada.


Keduanya diam sembari menatap pantulan bulan di atas air. Baik Liwey maupun Jing Xuan, keduanya lebih memilih diam dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Masuklah! di sini dingin, kau belum sepenuhnya sembuh." Jing Xuan berujar mematahkan kesunyian yang terjadi diantara mereka berdua.


Liwey menoleh kearah Jing Xuan sekilas lalu kembali menatap kearah pantulan cahaya bulan diatas air yang berhiaskan bunga lotus salju belum mekar.


"Apa kau percaya reinkarnasi?" tanya Liwey tanpa memperdulikan perintah dari Jing Xuan. Pandangannya masih belum teralihkan dari air.


Jing Xuan menoleh saat mendengar pertanyaan Liwey, berdehem sekali Jing Xuan melipat tangannya dibelakang punggung.


"Entahlah, tapi... ibuku sangat percaya akan reikarnasi. Bahkan sebelum kematian dia berkata akan menjadi ibuku lagi di kehidupan selanjutnya." Jing Xuan menghembuskan nafas sesak, dirinya masih tak bisa merelakan ibunya yang wafat dikarenakan keterlambatan pengobatan. Liwey merasakan aura dingin kembali menguar dari tubuh Jing Xuan saat pria itu mengatakan tentang ibunya. Hingga Liwey memilih untuk bertanya kembali.

__ADS_1


"Dan apa kau pernah melihat wujud dewa? Apa mereka sama seperti kita?" Kali ini Liwey mengalihkan fokusnya sepenuhnya menghadap Jing Xuan yang masih menatap pantulan bulan.


"Aku tak pernah melihat dewa. Kalau dari buku yang ditulis oleh para tetua akan dewa mereka melukiskan gambaran seorang dewa sama seperti manusia." Jing Xuan mangut-mangut sembari mengusap dagu lancipnya dengan sebelah tangannya.


"Apa dewa juga bisa bereinkarnasi?"


Jing Xuan kini mengalihkan atensi sepenuhnya menghadap Liwey yang kini tengah menunduk sembari memilin bagian jubah milik Jing Xuan yang terlihat kebesaran dibadannya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Jing Xuan yang masih juga menatap Liwey intens.


Liwey menggeleng, "Aku hanya penasaran," ujarnya lirih.


"Yasudah, kalau kau sebegitu penasarannya. Akan kubawa kau ke kuil untuk sekedar bertanya pada biksu disana." Liwey langsung mendongak dengan mata berbinar.


"Benarkah." Seperti kebiasaan Liwey sebelumnya, gadis itu kini sudah mencengkram ujung lengan hanfu yang dikenakan Jing Xuan.


Jing Xuan menatap lengan bajunya yang dicengkram oleh Liwey. Membuat Liwey langsung melepas sembari menyengir menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi.


Jing Xuan tertegun, melihat Liwey tengah tersenyum seperti itu mengingatkannya akan kejadian kemarin malam. Suhu panas tubuh Jing Xuan seolah teralir seluruhnya kebagian wajah, membuat wajah putih milik Jing Xuan memerah.


"Ehh... kau blushing, wah imutnya." Liwey menoel pipi Jing Xuan gemas. Membuat semburat merah dipipi Jing Xuan semakin bertambah hingga memenuhi seluruh wajahnya.


Jing Xuan berdeham. "Apa itu blu... busing."


Liwey semakin terkekeh, "yang kau maksud Blushing, itu artinya pipimu sedang merah. Kau tau kau lucu saat seperti itu."


"Jangan menggodaku Liwey," ucap Jing Xuan mengalihkan pandangannya kearah lain.


Liwey kembali terkekeh, ingin sekali Liwey menggoda Jing Xuan yang menurutnya lucu. Ia sedikit tidak menyangka. Sebenarnya Jing Xuan ini memiliki berapa sifat? terkadang dingin, menyeramkan, menyebalkan, angkuh dan juga menggemaskan seperti ini.


"Sudah lah, aku kembali kekamarku. Bye Xuanxuan." Liwey melambaikan tangannya, lalu melangkah keluar dari pendopo menuju kedalam bilik kamarnya.


Jing Xuan menatap punggung Liwey yang kini sudah menghilang dimakan tikungan. Menghela nafas, tangan Jing Xuan menekan kuat dada kirinya. Merasakan debaran jantung yang bertalu cepat didalam sana.


"Ouh Tuhan... perasaan apa ini."


~♡~


Hmm...


hmmm...


hmmmm....


Jing Xuan : Terus aja hm hm thor, udah kayak nisa sabyan.


Audhi : 😑 abaikan orang iri diatas.


Jing Xuan : 🙄


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Oke guyss... udah chapter 7...


jangan lupa tinggalin jejak ya readers tercintanya Audhi.


Like


vote


and coment


terus beri rating juga karya Audhi...


jangan jadi siders sayang...

__ADS_1


siders dosa loh..


oke salam Audhi.


__ADS_2