Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 8 : Kediaman Qu.


__ADS_3

Semburat cahaya jingga yang terpancar dari mentari pagi yang masih malu-malu keluar dari balik bukit di ujung timur Dong Yue. Membuat aktifitas harian kembali berjalan seperti biasa. Para pedagang di pasar mulai merapikan tata letak barang dagangannya. Para pemilik kedai juga ikut turut menyambut pagi dengan membuka kedai, menyusun letak kursi dan meja serta membersihkannya dari abu yang menempel. Para ibu rumah tangga mulai beraksi mengerumuni ikan, sayuran dan bahan-bahan lainnya. Para kepala keluarga juga memulai aktifitas dengan bekerja seperti biasanya.


Berbeda dengan keadaan diluar sana, didalam kediaman pangeran ke-4, lebih tepatnya dipaviliun lotus salju. Liwey masih asik bergelung dengan selimut tebalnya. Tadi malam dia tertidur cukup larut karena harus bergadang sambil menulis seratus lembar aturan wanita sebagai hukuman yang diberikan Jing Xuan saat Liwey dengan tanpa sengaja membakar dapur kediaman saat mencoba untuk menghidupkan api. Membuat segala barang dan bahan makanan hangus sebagian, dan dirinya hanya diam mematung menelan ludah menatap pemandangan didepannya. Bahkan baju bagian depannya yang sudah terbakar hingga bawah lutut dan memperlihatkan betis jenjangnya yang putih bagaikan porselen tidak ia hiraukan.


Dan yang membuat Liwey dihukum bukan karena ulahnya membakar dapur tapi karena betisnya terlihat jelas. Justru saat menerima hukuman Liwey menggerutu, bahkan didunia modern tidak ada halangan bagi gadis yang memakai dress atas lutut, nah disini. Liwey menggeleng.


Jiali yang sedari sudah menyiapkan segala keperluan bangun tidur nonanya, sedang menunggu sampai mata amber keemasan milik nonanya terbuka. Namun, saat sebuah ingatan masuk kedalam otaknya membuat Jiali segera mendekat kearah nonanya. Mengguncang pelan bahu nonanya berharap nonanya akan sadar secepatnya.


Jiali mendesah lega, saat lenguhan kecil keluar dari bibir mungil milik nonanya. Perlahan iris amber miliknya terbuka, dan sesekali mengerjab menyesuaikan cahaya yang menerobos masuk kedalam retinanya.


"Kenapa kau membangunkanku." Liwey beranjak duduk. "Aku masih sangat mengantuk, pria putih itu begitu senang membuatku kesal sekaligus kelelahan semalam." Liwey berujar sembari menguap didepan Jiali.


"Maafkan hamba, nona," ucap Jiali menunduk takut. Melihatnya, Liwey mendesah lelah. Dengan segera ia beranjak turun dari ranjang melangkah kedepan meja yang sudah dipenuhi dengan segala macam perlengkapan paginya.


Dengan segera Liwey membasuh wajahnya dengan air didalam wadah yang ditaburi dengan kelopak bunga mawar.


"Bantu aku berpakaian, aku mau berjalan-jalan dulu."


"Baik nona."


~♡~


Semilir angin sejuk menerpa Qu Liwey yang sedang berjalan dihalaman belakang kediaman, matanya tak pernah berhenti berbinar saat mendapati hal indah yang tak pernah ia temui di dunianya sebelumnya.


Pohon sakura yang berjejer rapi dengan disisi kanan taman, menjorok lurus kedepan hingga mentok di dinding paling belakang kediaman, sungai kecil yang mengalir tenang dengan beberapa jenis ikan koi yang berenang lincah. Menggoda Liwey untuk mencelupkan tangannya seraya mengobok air sungai dengan gemas.


Kali ini tatapan matanya menangkap bunga teratai berdaun lebar yang mengambang ditengah sungai. Warna putih gradasi merah muda yang berbenang sari berwarna hijau muda dengan titik-titik kuning ditengahnya. Kembali mengalihkan atensi Liwey untuk menatapnya.


Berjongkok dipinggir sungai, Liwey menopang dagu kecilnya dengan dua telapak tangan yang bertumpu pada lutut. Matanya tak henti menatap teratai dan ikan yang berenang didekat sang bunga. Bahkan seseorang yang sedari tadi menatapnya dengan kerutan bingung didahi tak ia hiraukan walau ia merasakan kehadirannya.


Seakan tak perduli dengan hanfu kuning cerah yang ia kenakan akan menjadi kotor dan basah, Liwey duduk dipinggir sungai mini buatan itu seraya mencelupkan kaki hingga betisnya kedalam air.


Menikmati setiap rasa geli yang diciptakan para ikan yang mengerumuni kakinya.


"Apa putri Jing tidak merasa rendah duduk ditanah secara langsung." Ucapan dengan nada mencemooh dari seorang perempuan segera mengalihkan atensi Liwey.


Liwey memutar tubuhnya 180 derajat agar bisa melihat siapa orang yang berbicara padanya. Sebelah alis Liwey menukik saat matanya menangkap sosok seorang wanita dengan hanfu hijau berdiri bersedekap dada.


"Ada apa selir Lian Ji," ucap Liwey berusaha sopan. Bagaimanapun setelah seminggu Liwey menapaki kediaman Mo Jing Xuan dia tidak pernah sekalipun berkenalan dengan para selir suaminya.


Ah... mengingat satu minggu, Liwey mendesah pelan saat surat cerai belum ditangan. Dia sendiri bahkan tak pernah membuat ulah yang segaja diperuntukkan agar Mo Jing Xuan jengah dengan dirinya. Satu-satunya kerusakan yang dibuat olehnya adalah kebakaran dapur kediaman, itupun karena tidak sengaja bukan disengaja.


"Heh... entah kenapa, aku merasa gelar selir tak cocok untukku." Liwey mengerjap mendengar perkataan itu, matanya membola menatap wanita yang tengah berdiri pongah dengan ekspresi melongo tak percaya. Percaya diri sekali wanita ini' pikir Liwey.


"Kenapa?" Selir Lian Ji berjalan mendekat kearah Liwey. "Aku hanya cocok menempati posisi putri Jing, bukan orang lemah, bodoh dan ceroboh seperti dirimu."


Ah... apakah ini salah satu bullying' pikir Liwey. Kedua alis Liwey menukik keatas, bibirnya tertarik, menyeringai sinis dihadapan wanita yang tengah mengoloknya sekarang. Bukan Liwey namanya jika tidak melawan.


"Apa kau cemburu dengan posisiku? kau iri? Kau ingin punya kedudukan yang sama denganku?" Liwey melipat tangannya didepan.


Berjalan perlahan mendekati Lian Ji, bibir Liwey ia posisikan sangat dekat didepan telinga wanita hijau itu.


"Kalau begitu hebatlah diranjang," bisik Liwey.


"Kau tau bagaimana reaksi Xuanxuan saat mendapatkan pelepasan didalamku? Dia mengerang nikmat menyebut namaku dan bersumpah aku adalah wanita satu-satunya yang ia miliki." Lanjutnya.


Jujur Liwey sendiri mual dengan apa yang dikatakannya, merasakan sensani saat bercinta saja dia tidak pernah tapi kenapa mulutnya sangat lancar mengatakan kata-kata menjijikkan seperti itu? Aihh... entahlah.


Lian Ji menggeram dengan cepat dijauhkannya tubuh Liwey dari dekatnya, dengan mendorongnya cukup kuat.


Badan Liwey terdorong kebelakang, membuatnya tercebur kedalam sungai akibat tak dapat mengimbangi beban tubuhnya.


Hanfu kuningnya basah, membentuk lekukan ramping tubuh miliknya. Matanya membola, kini Liwey tengah berdiri ditengah aliran air yang tak terlalu cepat. Lian Ji tersenyum puas, berhasil menceburkan Liwey kedalam sungai, yah walaupun sungai itu tak dalam hanya sepinggang pria dewasa tapi untuk Liwey itu bisa mencapai bawah dadanya.


Liwey tersenyum cerah, "wah terima kasih, aku jadi ingin berenang... Ahh kenapa tak sedari tadi terpikir untuk menceburkan diri ke kolam ya?"


Lian Ji sukses menjatuhkan rahangnya, apa-apaan ini? Ini bukan hal yang diinginkannya. Dia ingin melihat bagaimana seorang Qu Liwey yang terkenal lemah itu akan menangis dan meminta pertolongannya. Tapi ini?


"Qu Liwey." Sebuah suara dingin, datar dan tajam. Mampu membuat tubuh Liwey tersentak. Dia tau pemilik suara ini. Orang yang sama dengan yang menghukumnya sampai tidur jam 4 pagi semalam.


Liwey menelan susah payah salivanya, kepalanya perlahan berbalik kekanan. Menangkap iris beda warna tengah menatapnya datar. Liwey meringis, digaruknya tengkuknya yang tak gatal lalu berjalan perlahan naik keatas.


Jing Xuan melotot, saat matanya mendapati tubuh gadisnya tercetak jelas dibalik hanfu kuning tipis akibat terkena air. Telinganya sontak memerah. Kenapa gadis ini suka sekali menguji imanku' pikirnya menggeram.


Melirik ke kiri. Kedua tangan Jing Xuan terkepal saat mendapati mata dari dua orang mentri suruhan kaisar menatap penuh minat tubuh kecil gadisnya.


"Masuk," suruhnya tanpa intonasi. Liwey berjengit, hawa dingin menjalar ketengkuknya membuat gadis itu sedikit merinding. Daripada berlama-lama, Liwey memilih untuk segera berlari meninggalkan selir Lian Ji bersama suaminya dan dua kakek tua menuju kamar.


"Jaga pandangan kalian sebelum mata itu tak berada lagi ditempatnya." Hawa dingin langsung melingkupi halaman belakang kediaman. Kedua mentri yang berhadir sontak menunduk hormat sembari mengulang kata maaf, sementara Lian Ji, wanita hijau itu mengikuti langkah Liwey pergi.


"Katakan pada kaisar, aku tidak ingin lagi terlibat dengan urusan yang satu itu," ujar Jing Xuan dingin kemudian melangkah melewati jembatan kecil ditengah sungai menuju kekamarnya.


~♡~


"Jiali... Jiali..." Liwey menjerit memanggil nama Jiali berulang ulang. Terdengar suara derap langkah dari luar dengan tergesa-gesa. Lalu terlihatlah gadis berkepang dengan hanfu coklat khas seorang pelayan memasuki kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa nona, maaf Jiali terlambat karena harus memasak makanan kesukaan nona." Jiali menjawab sembari tertunduk dalam.


Liwey menghela nafas, "Bantu aku berpakaian, aku ingin jalan-jalan diluar istana."


"Maaf nona, tapi hari ini anda harus datang ke kediaman Qu untuk menghadiri undangan lamaran," jelas Jiali masih menundukkan kepalanya.


"Ah... benarkah, siapa yang akan menikah? Tidak mungkin aku 'kan?"


Jiali tersenyum mendengar penuturan nonanya.


"Menurut undangan, Putri Qu Yimin akan menikah dengan putra mahkota."


"Apa..." Tanpa sadar Liwey yang sedari tadi terduduk didepan meja hias mengebrak tangannya diatas meja, terkejut. Sedetik kemudian dia bertepuk tangan girang membuat Jiali hanya bisa menyatukan alis bingung.


"Beruntung sekali gadis kasar itu dapat menikah dengan putra mahkota," ujar Liwey dengan mata berbinar, namun seperti semula sedetik kemudian ekspresinya berubah dengan raut penasaran yang kentara diwajahnya. Jiali hanya bisa menggeleng dengan tingkah laku nonanya yang banyak berubah.


"Hmm... Jiali." Liwey mengalihkan pandangannya menatap Jiali, "bagaimana wajah pangeran mahkota? apa dia tampan? apa dia seperti artis korea yang bermain drama sejarah?" Liwey berujar dengan tatapan binar yang kentara. Jiali tidak terlalu mengerti dengan apa yang dikatakan oleh nonanya, namun ia tetap menjawab.


"Jiali tidak tahu nona, tapi menurut berita yang beredar pangeran mahkota orang yang sangat tampan." Mendengar penjelasan Jiali, sontak otak kecil miliknya langsung membayangkan wajah Lee minho di drama the lagend of the blue sea saat scene jaman dahulu, walaupun disana Lee Minho hanya menjadi walikota, namun tak kalah tampan dari putra mahkota.


"Pasti sangat menyenangkan dapat menikahi pemuda yang sudah jelas masa depannya seperti pangeran mahkota, tidak seperti Xuanxuan..." Liwey mengerucutkan bibir, "sudah seminggu menikah namun aku masih tidak tau pekerjaannya apa. Aihh... sungguh malang nasib mu Qu Liwey?"


"Apa kau tidak senang menikah dengan pangeran Mo Jing Xuan?" Sebuah suara bariton dapat ditangkap jelas oleh pendengaran Liwey.


"Tentu saja aku... tidak senang." Liwey berujar santai lalu kembali mematut diri dihadapan cermin. "Pria itu menyebalkan, diktator, dingin, datar, pemarah dan sedikit menggemaskan. Bisa dibilang pria itu paket complete dan spesies kepribadian yang terancam punah."


Jing Xuan menaikkan dua alis keatas. Otaknya sibuk mengartikan kalimat gamblang yang diucapkan Liwey namun tak dimengerti olehnya. Namun, dapat Jing Xuan simpulkan. Jika apa yang keluar dari mulut gadis kecilnya ini adalah hal yang buruk tentang dirinya.


"Kau tau cowok, aku yang sudah seminggu menjadi istrinya saja tidak tahu apa pekerjaannya. Apa itu dapat dikatakan suami yang baik?" Liwey kembali menggerutu tanpa memikirkan siapa gerangan pria bersuara bass nan maskulin itu. Bahkan kepergian Jiali saja dia tidak menyadarinya.


"Oh ya, tapi... apakah istri yang belum memuaskan suaminya diranjang padahal sudah seminggu menikah itu dikatakan istri yang baik?" Jing Xuan membalikkan perkataan Liwey, membuat Liwey segera menoleh keasal suara.


Memelotot, Liwey menutup mulutnya yang ternganga dengan dua tangan. Matanya bertubrukan dengan dua iris beda warna yang sangat ia kenali siapa pemiliknya.


Jing Xuan, berdiri bersedekap dada. Menatap lurus tanpa ekspresi kearah Liwey, membuat gadis itu menelan saliva susah payah.


"Bagaimana menurutmu, Qu Liwey?" Jing Xuan berjalan mendekat hingga jarak antara dirinya dan Liwey terpaut sejengkal saja.


"Bagaimana menurutku kau pasti sudah tahu jawabannya." Liwey berujar ketus.


Jing Xuan menukik alisnya keatas, dia tahu apa maksud gadis kecil dihadapannya. Alasan Liwey tak pernah ingin disentuh lebih jauh oleh Jing Xuan karena dia tidak menyukai Jing Xuan. Heh... tapi lihat saja nanti, Jing Xuan akan membuat Liwey bertekuk lutut dihadapnnya.


"Ah... aku tahu." Jing Xuan menarik pinggang ramping Liwey kearahnya, membuat tubuh Liwey jatuh di dada bidangnya tertempel sempurna.


Sementara Liwey membolakan matanya mendapat ciuman dari Jing Xuan, dia tidak bergerak dan tidak berontak. Yang dia rasakan hanyalah dengup jantung miliknya berdegup sangat kencang sekarang.


Dapat Liwey rasakan Jing Xuan semakin merapatkan Liwey ketubuhnya. Pagutan yang awalnya lembut dan terkesan lamban kini sudah kasar dan menuntut. Jing Xuan memagut bibir atas dan bawah Liwey bergantian, lidahnya ia gunakan menyapu garis lurus bibir Liwey yang kini masih juga tertutup.


Merasa geram Liwey tak kunjung membalas, Jing Xuan menggigit bibir bawah Liwey, membuat gadis itu mengerang pelan yang sontak membuat adrenalin Jing Xuan semakin memuncak. Dengan gesit di masukkannya lidah kedalam mulut Liwey, membelit benda kenyal didalam mulut Liwey penuh nafsu. Decapan-decapan kuat berasal dari bibir mereka menghiasi ruangan. Liwey sedikit melenguh saat dirasakannya gelenyar aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya merambati tubuhnya.


Dan itu membuat Jing Xuan semakin beringas, kini bibir Jing Xuan sudah berpindah tempat keleher Liwey, menciumnya lembut membuat Liwey merasakan kembali gelenyar aneh yang terasa sangat nikmat. Hingga lenguhan Liwey kembali terdengar saat Jing Xuan mengecup, mengulum dan menggigit kecil telinga Liwey.


Namun seakan sadar Liwey segera mendorong dada Jing Xuan, hingga aksi yang baru saja dilakukan pria yang berstatus suaminya itu terhenti.


"Kenapa?" Jing Xuan bertanya dengan suara serak yang sangat kentara. Mata Jing Xuan menggelap menahan gairah ditubuhnya yang sedang bergejolak akibat gadis didepannya.


"Kau keterlaluan. Aku tidak ingin melakukan itu denganmu. Kenapa kau memaksa?" Ucapan Liwey membuat Jing Xuan tersentak, matanya menatap Liwey tepat di iris amber gadis itu yang kini berkilat marah. Jing Xuan menggeram, apa kali ini ia akan mandi air dingin lagi?


"Baiklah." Jing Xuan berujar dingin, "ganti pakaianmu kita akan pergi kekediaman Qu sekarang." Setelah mengucapkan itu, Jing Xuan melangkah keluar meninggalkan Liwey yang masih berdiri dikamarnya.


Tanpa sadar Liwey menghembuskan nafas lega, untung saja dia dapat menahan Jing Xuan melakukan lebih, karena kalau tidak dia takut akan terbuai dengan tiap sentuhan Jing Xuan. Karena kalo boleh jujur Liwey juga menikmati permainan Jing Xuan, hanya saja egonya terlalu kuat. Baginya tak ada bercinta sebelum mencinta. Itu adalah slogannya di jaman modern yang ia bawa kemari.


~♡~


Kedua bola mata Liwey tak henti-hentinya menatap kearah luar jendela. Bibirnya terbuka sembari mengungkapkan 'waw' pada apa yang ia lihat sekarang, banyak orang yang menjajakan makanan dan juga perhiasan. Ahh... dia semakin tak sabar ingin berjalan-jalan sendiri mengelilingi kota Dong Yue ini.


"Tutup jendelanya." Perintah dengan nada suara dingin itu sontak membuat Liwey berdecak geram. Moodnya dalam mengangumi tiap jalan yang mereka lewati hilang seketika. Ditutupnya jendela asal, menekuk wajah sembari menatap Jing Xuan kesal.


"Kenapa kau melihatku seperti itu? Sudah jatuh hati?" seriangaian sinis tercipta dibibir Jing Xuan membuat Liwey mendadak ingin muntah.


"Dasar narsis," lirih Liwey, dia tak terlalu ingin berdebat. Tujuannya sekarang adalah menjauhi pria putih itu agar kejadian tadi pagi tak terulang lagi. Sontak memikirkan itu wajah Liwey memerah sempurna. Bagaimanapun Liwey juga menyukainya, dia tidak akan munafik. Gelenyar aneh yang ia rasakan disaat bibir lembut dan hangat Jing Xuan menyapu lehernya membuat Liwey terbuai. Wajah Liwey memanas sempurna bisa dipastikan wajah miliknya sudah semerah kepiting rebus sekarang. Dan itu tak luput dari perhatian pria yang duduk berhadapan dengannya.


"Kenapa wajahmu memerah? memikirkan kejadian tadi?" Binggo, Liwey segera menoleh dengan bola mata melotot lebar. Bagaimana bisa pria ini menebaknya' pikir Liwey.


"Jika kau menginginkannya, kita akan lakukan nanti malam."


"Ha..." Liwey menggeleng tak percaya, "kau terlalu percaya diri, tuan. Siapa juga yang memikirkan adegan menjijikkan seperti tadi." Liwey berujar dengan menekan kata menjijikkan pada kalimatnya.


"Asal kau tau, aku hanya sedang menghayalkan wajah pangeran mahkota yang tampan itu." Liwey tidak sepenuhnya berbohong, karena memang dia sempat memikirkan seberapa jauh ketampanan pangeran mahkota itu, apa mungkin setampan Kim Sohyun yang memerankan drama the love from the star.


Air wajah Jing Xuan berubah datar, tanpa sadar udara dingin menusuk tulang ia keluarkan mengisi ruangan kereta kuda yang dinaiki olehnya dan Liwey.


Merasa merinding, Liwey menatap dengan alis hampir menyatu menatap Jing Xuan yang kini berekspresi datar sembari menguarkan aura dingin tubuhnya yang dapat membekukan dalam satu jam.


"Hei.." Liwey memukul lengan Jing Xuan lumayan keras, namun tak digubris pemuda itu. Bahkan air wajah Jing Xuan tak berubah sedikitpun, masih sama 'dingin dan datar'

__ADS_1


"Wahh... kau ingin membuatku menjadi ikan beku, eoh? hilangkan aura dinginmu itu," ucap Liwey sembari mengusap kedua bahunya yang terasa sangat dingin. Dan reaksi Jing Xuan masih sama, pria itu tetap tak menghiraukan ucapan Liwey. Entah kenapa, mendengar Liwey memikirkan pria lain membuatnya naik pitam, hingga tak tanggung-tanggung mengeluarkan aura dingin di tubuhnya.


Liwey menggeleng pelan melihat ulah pria sensitif didepannya ini. Menoleh kekiri, matanya membola sempurna saat dilihatnya bagian belakang kereta sudah dirambati es.


"Xuanxuan, hentikan! Kau benar-benar ingin membuatku beku?" Liwey semakin memeluk tubuhnya sendiri berusaha menghalau aura dingin itu.


"Xuanxuan ini... dingin." Mendengar penuturan Liwey dengan nada sedikit bergetar menahan dingin membuat Jing Xuan menghentikan aksinya. Suhu di dalam kereta berubah drastis dari dingin menjadi hangat. Membuat Liwey tanpa sadar mengehembuskan nafas lega, dan menjatuhkan kepalanya tepat dipaha Jing Xuan.


"Aihh... aku benci dingin, itu akan membuatku mati," ucap Liwey lirih dengan mata terpejam.


Jing Xuan menatap Liwey yang tengah membaringkan kepalanya di pahanya lekat. Perasaan bersalah kembali menghinggapi hatinya, menampik perasaan cemburu yang tidak ia akui sudah bersarang dihatinya. Kilasan kejadian saat dia lepas kendali dan menyebabkan Liwey terkena penyakit kedingingan parah terngiang diotaknya.


Kereta kuda rombongan Jing Xuan dan Liwey memasuki gerbang bercat emas yang terbuka seiring datangnya mereka dan tertutup saat mereka sudah memasuki halaman kediaman.


Liwey segera turun, menginjakkan kakinya direrumputan basah dibawahnya. Matanya mengedar keseluruh penjuru halaman depan kediaman, tidak ada yang berubah. Masih sama seperti dulu. Hingga sebuah pukulan dipundaknya membuat Liwey sedikit tersentak lalu membalikkan badannya kebelakang.


Alis sebelah kiri Liwey terangkat, otaknya mencoba mengingat siapa pria cantik dihadapannya sekarang. Ahh... baiklah, Liwey ingat sekarang. Pemuda ini adalah Qu Zhuting, Tuan Muda keluarga Qu, yang sekarang memiliki jabatan sebagai pengawal pribadi pangeran ke delapan yang dikabarkan sakit-sakitan.


"Akhirnya, adik kedua datang juga." Senyum mengembang dibibir Zhuting, perlahan pria itu mendekatkan wajahnya di depan telinga Liwey.


"Dan bagaimana pengalaman malam pertama mu? Kuharap kau tidak keberatan menceritakan kepada kakak tersayangmu ini."


Brakk...


Liwey berhasil mendaratkan kakinya tepat ketulang kering Zhuting, membuat pria yang dikenal handal dalam berpedang dan menyusun strategi perang itu meringis sembari memegang kaki kanannya yang terasa berdenyut.


Bahkan Yubo yang ditugaskan untuk mengikuti tuan putri mereka selagi Jing Xuan pergi sebentar, menaikkan alis melihat betapa kesakitannya Zhuting akibat tendangan Qu Liwey.


"Otakmu itu kosong ya?" Liwey menyedekap dada. Yubo menaikkan sebelah alisnya mendengar penuturan Liwey, bagimana mungkin pria terjenius nomor dua di kekaisaran Dong Yue ini memiliki otak kosong.


"Menikahlah, agar kau dapat merasakannya sendiri." Tukas Liwey lalu kembali menendang kaki kiri Zhuting lalu berjalan meninggalkan pria cantik mesum yang tengah menjerit-jerit dihalaman.


"Hei... aku disuruh untuk menjemputmu dan adik ipar, adik kedua." Langkah Liwey terhenti mendengar ucapan Zhuting. Berbalik, Liwey menatap tajam Zhuting membuat pria itu sedikit tersentak.


"Aku tak mengizinkan orang seperti mu menjemputku. Dasar otak kosong."


Zhuting mengerjabkan matanya menatap punggung mungil adik kedua yang ia ingat sangat penurut dan sayang padanya, bahkan saat Zhuting terluka sewaktu berlatih pedang masih dapat ia lihat bagaimana adiknya itu menangis melihatnya kesakitan. Tapi kenapa sekarang malah adiknya yang menendangnya.


Apa setiap perempuan akan berubah menjadi semenyeramkan Liwey saat sudah menikah.


Kalau begini Zhuting tidak mau menikah. Biar lah dia menjadi pelajang tua daripada tiap hari harus mendapat amukan dari wanita yang berubah menyeramkan sejak ia nikahi.


Liwey mendengus kesal, mendengar penuturan pria cantik itu. Apa urat malu pria itu putus? Ahh.. mungkin saja. Pertanyaan gila tadi memang sungguh membuat Liwey ingin menenggelamkan Zhuting kelaut antartika agar beku dan menjadi makanan pinguin.


Didombraknya pintu besar aula ruangan tempat acara lamaran diadakan. Iris ambernya menatap kesekeliling, dimulai dari dua orang pasangan setengah baya yang duduk di tempat mereka. Siapa lagi kalau bukan ayahnya Qu Wenhua dan selir kurang ajar Huangli.


Menoleh sedikit kekiri dapat dilihatnya Yimin tengah menunduk dari balik tirai tipis yang digunakan sebagai hijab untuk menutupi wajah nya agar tak langsung terlihat oleh pria yang akan melamarnya. Di sebelah Yimin terdapat meja kosong yang dia yakini akan menjadi tempat duduknya dan Jing Xuan nanti.


Mengalih kearah kanan, Liwey mendapati seorang pria dewasa dengan rambut coklat sepinggang yang bagian atasnya digelung lalu ditutupi oleh mahkota emas kecil lalu tusuk rambu emas dengan pola peoniks menancap antara mahkota dan rambutnya. Garis rahang tegas milik pria itu terpahat sempurna saat dilihat dari samping, ahh pasti akan sangat asik jika dapat memengangnya' pikir Liwey. Kini perhatian Liwey mendapati hidung bangir pria itu yang dipahat sempurna, ah... Liwey jadi tidak sabar untuk menatap wajah itu dari depan.


Pria itu menoleh kearah Liwey. Sejenak Liwey tertegun dengan iris coklat yang tengah menatapnya tajam. Liwey terpesona. Lee min ho dan Kim Sohyun kalah tampan dengan pria yang ditatapya sekarang. Tapi ada yang aneh. Kenapa Liwey merasa aura aneh menguar dari tubuh pria itu. Masih menatap lekat, Liwey ingin mencari tahu aura tak biasa yang ia temui dari tubuh pemuda itu. Ini adalah perpaduan antara aura kelam dan juga ambisi kuat. Eh... Liwey menggeleng, matanya membola saat otaknya memikirkan bagaimana bisa dia merasakan aura orang yang ditatapnya. Pengecualian, bukan semua orang, melainkan aura Jing Xuan dan aura pria ini saja.


"Putri Jing..."


.


~♡~


hwaa... 3000 kata lebih...


waw rekor terbaru audhi...


dan maaf sebelumnya audhi lama update karena memang ada masalah jaringan di tempat audhi terua audhi juga masih harus mengurus masalah kuliah.


Jadi audhi minta maaf sebelumnya.


setelah ini insya allah audhi bakal rajin update.


so... seperti biasa.


jangan lupa


vote


coment


and like


jangan jadi siders... oke...


asal kalian tahu... setiap kali membaca koment dari kalian membangkitkan semangat audhi untuk kembali menulis.


jadi jangan lupa komen ya...


audhi suka baca koment kalian.

__ADS_1


__ADS_2