
Klik 👍 sebelum baca, dan tekan 💜 untuk menempatkan Qu Liwey di daftar favoritmu.
So ... Happy Reading.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jing Xuan menghela napas keras saat menatap pemandangan yang ada di depannya. Liwey dengan pakaian kotor dan juga kusut akibat perkelahian yang baru saja ia lakukan, Ailin yang kini sudah menangis kencang di pelukan Ibu Suri yang berusaha untuk menengkannya namun tak berhasil.
Jiali yang kini sedang membantu menyisir rambut panjang Liwey yang kini sedang tergerai dan Yubo yang sedari tadi menahan tawa di samping kirinya.
"Apa yang lucu? Kenapa sedari tadi kau menahan tawamu?"
Yubo sontak terkesiap, bagaimana Jing Xuan tahu kalau dia menahan tawa? Ah ... memang tingkat kepekaan terhadap lingkuangan sekitar Jing Xuan sangat tajam rupanya.
Tapi ... apa dia akan peka juga terhadap perempuan?
"Tidak ada Pangeran, hamba hanya ingin." Jawab Yubo yang hanya ditanggapi oleh dengusan kesal Jing Xuan.
"Cucuku, kejadian ini harus ditindak lanjuti. Aku merasa kasihan terhadap anakku Ailin yang sudah tak berdaya seperti ini." Ibu suri berujar.
Liwey yang kini rambutnya sudah tersisir rapi dan dibiarkan tergerai menutupi punggung, melirik sedikit kearah Ibu Suri yang ternyata juga sudah menatapnya sinis.
Ck, wanita tua ini.
"Tenanglah, aku tahu apa yang akan aku lakukan," ucap Jing Xuan yang sudah menempatkan atensinya kepada Liwey.
"Apa yang terjadi Putri Jing? Mengapa kau mengajak berkelahi seorang tamu?"
Liwey menoleh kearah Jing Xuan sekilas, lalu menatap Ailin yang masih saja menangis dipelukan Ibu suri. Cih dasar cengeng.
"Aku ingin bertanya Xuanxuan? Apa pantas seorang tamu menjelekkan tuan rumah yang ia datangi?"
"Itu karena Putri Jing berpakaian kotor ... hiks" Ailin berteriak menimpali, "putri ini hanya bertanya apa Putri Jing seorang dayang atau tidak, tapi Putri Jing malah marah dan memukuli saya."
Ck ... mau berdalih.
Liwey memutar bola mata malas, selain berbakat menjadi pelakor jaman kerajaan ternyata dia juga pantas menjadi penjilat.
"Benar begitu Putri Jing?" Jing Xuan bertanya untuk memastikan.
"Itu sudah jelas benar cucuku, lihatlah wajah indah Ailin sudah rusak olehnya." Ibu Suri menimpali. "Sudah aku katakan, Putri Jing ini memang tidak berguna. Dia bahkan berani memukul Ailin hanya karena Ailin bertanya, bagaimana nanti dia menangani Jie'er? mungkin dia akan membunuhnya."
__ADS_1
"Jaga mulutmu wanita tua. Apa kau ingin menjadi seperti dia." Liwey menunjuk Ailin yang tengah dipeluk Ibu suri.
"Lihatlah, betapa lancangnya Putri Jing ini."
"Karena kau dengan seenak jidat menuduhku sebagai seorang pembunuh, dasar kep*rat."
Jing Xuan memijit pelan pangkal hidungnya mendengar perdebatan antar Ibu Suri dan Liwey. Tak bisakah mereka tenang dan membiarkan Jing Xuan menyelesaikan masalah ini.
"Diamlah." Jing Xuan berujar dingin. Ditatapnya satu persatu sosok yang tengah berdiri dihadapannya dan kembali Jing Xuan menghela napas.
"Puti Jing, benar yang dikatakan Putri Ailin?"
"Tidak," ucap Liwey dingin sembari masih menatap Ailin yang berada di pelukan Ibu suri. "Dia seorang penjilat, mudah baginya untuk memutar balikkan fakta."
"Apa yang kau katakan, kau yang terlebih dahulu menamparku dan kau mengatakanku seorang penjilat," ucap Ailin yang kini sudah tak memperdulikan sopan santun kepada Liwey yang kedudukannya diatas dia. Ailin sudah teramat kesal dengan Liwey.
"Aku memiliki saksi." Liwey menatap dua dayang yang mengikuti Ailin dengan pandangan dingin, "mereka yang menyaksikan bagaimana Putri Ailin merendahkanku?" Liwey menekan kata putri Ailin dalam ucapannya.
Dua dayang itu sontak bergetar takut, sedangkan Ailin sudah keluar dari dalam dekapan Ibu Suri.
Jika tadi ia takut akan Jing Xuan melihat wajahnya yang tengah dalam kondisi buruk dan lebih memilih bersembunyi dipelukan Ibu Suri, sekarang ia sudah tak perduli.
Ailin takut sekarang, ia sudah tak dapat mengelak. Dan jika Jing Xuan tau akan kelakuannya, ia takut Jing Xuan tak akan menoleh bahkan sedikitpun kepadanya.
"Kenapa Putri Ailin? Kau takut hal yang sebenarnya terjadi terbongkar?" Liwey tersenyum miring. Dan itu sontak membuat kemarahan Ailin makin memuncak.
"Kau ...." Geram. Ailin bahkan tak perduli ia ada dimana sekarang. Dengan cepat Ailin menarik rambut panjang Liwey kuat dan membuat Liwey sontak menjerit tertahan akibat tarikan yang begitu kuat di kepalanya. Jika terus dilanjutkan, Liwey khawatir rambut beserta kulit kepalanya akan tercabut. Ihh ... memikirkan itu membuat Liwey bergidik ngeri.
Kondisi ruangan semakin tak kondusif. Aksi Ailin yang menjambak rambut Liwey tengah dilerai oleh Yubo. Namun apa daya, tenaga perempuan yang sedang marah bisa lebih besar daripada tenaga laki-laki, dan Yubo malah berakhir berguling dilantai saat masa depannya dengan keras di tendang oleh Ailin.
Bahkan Liwey sempat membulatkan matanya saat melihat kejadian itu. Ukhh itu pasti sangat sakit.
"HENTIKAN." Jing Xuan mengeprak meja kerjanya. Dan ajaib, itu berhasil. Ailin kini sudah melepaskan jambakannya dari rambut Liwey sembari menunduk dalam, antara malu dan juga takut. Sedangkan Liwey mulai disibukkan dengan aktifitas mengusap kepalanya kuat sembari menyisir rambutnya dengan jari tangan, dan Yubo. Walaupun masa depannya masih berdenyut sakit, ia tetap melangkah dan berdiri di samping Jing Xuan.
"Aku sudah mendapat jawaban dari masalah ini." Jing Xuan mengitari pandang keseluruh penjuru ruangan. "Dan kalian berdua dinyatakan bersalah." Lanjutnya.
Liwey tak setuju, ia hendak mengajukan banding tapi tangan Jing Xuan menghentikannya.
"Baik Putri Jing dan juga Putri Ailin, kalian dihukum menyalin kitab tata krama sebanyak seratus salinan dalam seminggu."
"Apa? kau ingin mematahkan jariku." Liwey protes namun tak digubris oleh Jing Xuan.
__ADS_1
Pria itu malah bangkit dari duduknya dan berjalan hendak keluar, tapi ia berhenti sebentar di dekat Ibu Suri dan juga Ailin berada. "Baik dan berhati lembut, ck." Jing Xuan berdecak lalu kembali melanjutkan langkah keluar dari ruang kerjanya.
"Ini semua karenamu, bajing*n sia*an." Liwey berujar geram lalu melangkah keluar, mengikuti jejak Jing Xuan.
Sementara Ailin kembali masuk kedalam dekapan Ibu suri dan kembali menangis, kini lebih keras.
"Ibu, pangeran Jing Xuan tidak akan pernah melirikku," ucap Ailin dalam sedu sedannya.
Ibu Suri tak dapat berlaku apa lagi, dia sendiri sudah bingung bagaimana cara untuk bisa mempersatukan Ailin dan juga Jing Xuan. Semua rencananya hancur sudah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Liwey membanting pintu kamarnya kuat sampai membuat Jiali yang memang belum masuk kedalam kamar tersentak kaget. Membanting tubuh keranjang, menenggelamkan wajah didalam bantal lalu berteriak sekerasnya.
Liwey geram, sangat geram. Manusia jelmaan siluman itu selalu saja menghukumnya tanpa alasan. Yah ... walaupun Liwey tahu kali ini Jing Xuan menghukumnya karena dirinya berbuat onar, tapi tak bisakah Jing Xuan menyelidiki masalah itu lebih lanjut? Ini semua bukan kesalahan Liwey. Awas kau ular hijau.
Menghela nafas panjang, Liwey bangkit dari berbaringnya, duduk di atas ranjang sembari menatap kitab tata krama yang tebalnya sudah seperti novel dengan halaman 360.
"Dia benar-benar ingin membuat jariku patah, eoh?" Liwey mengerang geram. "Seratus salinan! Dia pikir itu sedikit apa? Bajing*n g*la"
"Nona, kenapa membanting pintu begitu keras? Jiali hampir terkena serangan jantung," ucap Jiali yang datang dengan nampan berisi teh kedalam ruangan. Liwey bangkit berdiri mendekati Jiali, mengambil satu cawan teh yang masih mengepulkan asap lalu menenggaknya hingga tak bersisa.
"Nona, Jiali akan membantu Nona menyelasikan hukuman ...."
"Tidak, aku tidak akan menyelesaikan hukuman itu."
"Tapi Nona ...."
"Sudahlah, aku ingin tidur. Kau keluarlah." Jiali mengangguk lalu berjalan mundur meninggalkan Liwey sendirian di dalam kamar.
"Argghhh ... dasar," umpatnya sebelum benar-benar menjatuhkan tubuh keatas ranjang dan terlelap di dalam mimpi.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Tbc ...
Audhikim.
Pendek? Iya, audhi tahu ...
emang Audhi sengaja ...
__ADS_1
untuk Chapter berikutnya mungkin akan lebih panjang dari ini.
Salam dari Istri Kim Taehyung.